Fikroh.com - Kabul – Ketegangan kembali mencuat setelah kelompok Taliban menanggapi pernyataan mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang mendesak agar pangkalan udara Bagram dikembalikan. Taliban menegaskan tidak akan tunduk pada desakan tersebut dan bahkan menyatakan kesiapannya menghadapi konfrontasi baru.
“Kami siap berperang selama 20 tahun lagi,” ujar juru bicara Taliban dalam sebuah pernyataan tegas yang dilansir media internasional.
Pernyataan itu bukan sekadar retorika. Afghanistan selama dua dekade terakhir telah menjadi saksi dari salah satu perang terpanjang dalam sejarah modern, dan Bagram adalah simbol utama dari kehadiran militer Amerika di sana.
Bagram: Simbol Dominasi Asing di Afghanistan
Pangkalan udara Bagram, yang terletak sekitar 50 kilometer di utara Kabul, awalnya dibangun oleh Uni Soviet pada 1950-an. Ketika Amerika Serikat melancarkan invasi ke Afghanistan pada Oktober 2001, Bagram segera menjadi pusat operasi militer terbesar mereka. Dari sini, pesawat tempur lepas landas, pasukan dilatih, dan misi intelijen dijalankan.
Selama hampir 20 tahun, Bagram berfungsi sebagai jantung operasi NATO di Afghanistan. Namun, bagi rakyat Afghanistan, pangkalan ini kerap dipandang sebagai simbol pendudukan asing—tempat yang tidak hanya menampung tentara, tetapi juga fasilitas penahanan yang penuh kontroversi.
Dari 9/11 ke Invasi 2001
Awal mula konflik ini berakar pada tragedi serangan 11 September 2001. Amerika menuduh Taliban melindungi Osama bin Laden dan jaringan Al-Qaeda, dalang di balik serangan tersebut. Dengan dalih “perang melawan teror”, Washington melancarkan invasi besar-besaran ke Afghanistan.
Dalam hitungan minggu, rezim Taliban tumbang. Namun, perang yang diperkirakan akan singkat berubah menjadi konflik panjang. Taliban perlahan bangkit kembali, menyusun strategi gerilya, dan memanfaatkan kondisi sosial-ekonomi Afghanistan yang rapuh.
Dua Dekade Perang yang Menguras Segalanya
Perang Afghanistan menjadi konflik yang melelahkan. Biaya yang dikeluarkan Amerika Serikat mencapai lebih dari 2 triliun dolar AS, dengan korban jiwa lebih dari 2.400 tentara Amerika dan puluhan ribu pasukan sekutu.
Di pihak Afghanistan, dampaknya jauh lebih besar. Menurut berbagai laporan, lebih dari 170 ribu warga sipil kehilangan nyawa, jutaan lainnya mengungsi, dan generasi muda tumbuh dalam bayang-bayang perang.
Bagi Taliban, dua dekade itu justru menjadi sekolah politik dan militer. Mereka bertahan di pedesaan, memperkuat jaringan, dan menunggu momen ketika kekuatan asing kelelahan.
Kesepakatan Doha dan Penarikan Pasukan
Momen itu datang pada Februari 2020 ketika pemerintahan Donald Trump menandatangani Perjanjian Doha dengan Taliban. Kesepakatan itu mengatur penarikan pasukan Amerika dengan syarat Taliban menghentikan serangan terhadap pasukan asing dan berkomitmen tidak lagi memberi tempat bagi kelompok teroris internasional.
Pada Agustus 2021, di bawah kepemimpinan Presiden Joe Biden, Amerika Serikat resmi menarik seluruh pasukannya. Taliban kembali merebut Kabul dalam tempo cepat tanpa perlawanan berarti. Bagram pun jatuh ke tangan mereka tanpa tembakan.
Bagi Taliban, momen itu menjadi simbol kemenangan besar—mengusir pasukan adidaya yang selama 20 tahun berusaha menundukkan mereka.
Trump, Retorika, dan Bagram
Kini, Donald Trump kembali menghidupkan wacana soal Bagram. Menurutnya, pangkalan itu terlalu strategis untuk dilepas begitu saja. Ia menilai Amerika kehilangan pijakan penting di jantung Asia Tengah, yang bisa digunakan untuk menghadapi Cina, Rusia, atau Iran.
Namun, Taliban menolak mentah-mentah. “Kami siap berperang 20 tahun lagi,” kata juru bicara mereka. Bagi Taliban, kedaulatan Afghanistan tidak bisa ditawar, dan Bagram adalah simbol utama kemenangan melawan dominasi asing.
Analisis Geopolitik: Bayangan Konflik Baru
Asia Tengah sebagai Kawasan Strategis
Bagram berada di kawasan yang dikepung kekuatan besar: Cina di timur, Rusia di utara, dan Iran di barat. Pangkalan ini bisa menjadi titik pengawasan militer penting jika masih dikuasai Amerika.
Persaingan Kekuatan Global
Jika Amerika mencoba merebut kembali pengaruh di Afghanistan, maka gesekan dengan Rusia dan Cina hampir tak terhindarkan. Keduanya kini semakin aktif menjalin hubungan diplomatik dengan Taliban, baik untuk stabilitas regional maupun kepentingan ekonomi.
Dunia Islam Terbelah
Retorika Taliban mungkin mendapat simpati dari sebagian kalangan yang melihatnya sebagai simbol perlawanan terhadap Barat. Namun, negara-negara Muslim juga khawatir jika konflik baru meletus, akan muncul kembali gelombang pengungsi, ekstremisme lintas batas, dan instabilitas regional.
Dampak Kemanusiaan
Afghanistan masih menghadapi krisis ekonomi, kelaparan, dan kemiskinan. Jika ketegangan memanas, bantuan internasional bisa terhenti, membuat rakyat Afghanistan kembali menjadi korban utama.
Kesimpulan: Pertarungan Narasi dan Masa Depan Afghanistan
Pernyataan Taliban yang siap berperang 20 tahun lagi bukan sekadar gertakan. Itu adalah refleksi dari keyakinan mereka bahwa Amerika tidak berhasil menaklukkan Afghanistan meski dengan kekuatan militer terbesar di dunia.
Namun, pertanyaan yang lebih besar adalah: apakah rakyat Afghanistan mampu bertahan jika konflik baru kembali membara?
Di tengah euforia kemenangan, Taliban menghadapi ujian terberat: membangun negara yang stabil, mengatasi krisis kemanusiaan, dan menghindari menjadi pion dalam permainan geopolitik global. Dunia Islam, sementara itu, menatap dengan cemas—antara mendukung simbol perlawanan atau menuntut lahirnya Afghanistan yang damai.
