Notification

×

Iklan

Iklan

Mengaku Tuhan Usai Disengat Kalajengking

Sabtu | September 13, 2025 WIB | 0 Views
Mengaku Tuhan Usai Disengat Kalajengking


Fikroh.com - Di sebuah desa kecil bernama Puttaparthi, India bagian selatan, tahun 1940 masih menyimpan suasana sunyi pedesaan. Di sana, seorang remaja bernama Sathyanarayana Raju, anak bungsu dari keluarga sederhana, dikenal lembut, pendiam, dan punya minat besar pada musik serta doa. Tidak ada yang menyangka bahwa hidupnya akan berubah selamanya hanya karena seekor kalajengking kecil.

Malam itu, ketika usianya baru menginjak empat belas tahun, Raju tersungkur. Seekor kalajengking hitam menyusup ke kamarnya, menyengat tubuh mungilnya. Seketika tubuhnya kejang, panas tinggi menyerangnya, dan ia jatuh dalam keadaan setengah sadar. Orang-orang kampung panik, keluarganya menangis. Dokter kampung tak berdaya. Semua mengira bocah itu akan mati.

Namun, sesuatu yang aneh terjadi. Selama beberapa hari, tubuhnya terbaring lemah, tapi tatapannya jauh, seakan menembus dimensi yang tak dimengerti. Ketika akhirnya ia sadar, yang bangun bukan lagi Raju yang sama.

Ia menatap ayah dan ibunya dengan suara tenang namun asing:

“Aku bukan lagi Sathya, aku adalah Sai Baba.”

Keluarganya terperanjat. Para tetangga menganggapnya kerasukan. Tapi sejak saat itu, Raju mulai menunjukkan perilaku yang tidak biasa. Ia berbicara dengan bahasa yang lebih halus, penuh otoritas, seakan seorang bijak tua bersemayam dalam tubuh remaja. Ia menolak makanan rumah, hanya ingin diberi sesaji sederhana seperti yang biasa dipersembahkan untuk orang suci.

Beberapa minggu setelah sembuh, kabar mulai menyebar: bocah itu mampu mengeluarkan abu suci dari tangannya, menyembuhkan orang sakit dengan sentuhan, dan mengetahui hal-hal yang tak seorang pun tahu. Satu demi satu, orang dari desa-desa sekitar berdatangan, penasaran akan “anak yang disengat kalajengking lalu berubah jadi suci.”

Ayahnya kebingungan, ibunya menangis antara bahagia dan takut. “Anakku, kau ini siapa sebenarnya?” tanya ibunya. Raju menatapnya dalam-dalam, lalu menjawab dengan mantap:

“Aku adalah reinkarnasi Shirdi Sai Baba.”

Nama itu mengejutkan semua orang. Shirdi Sai Baba adalah seorang sufi-yogi suci yang wafat puluhan tahun sebelumnya, dihormati oleh Hindu dan Muslim. Bagaimana mungkin seorang bocah dari desa terpencil mengaku sebagai penjelmaan dirinya?

Namun, semakin hari, semakin banyak keanehan yang menguatkan pengakuan itu. Raju menunjukkan kesaktian: menurunkan bunga dari udara, menggandakan permen untuk anak-anak, hingga memanggil cahaya terang dalam kegelapan malam. Orang-orang terpesona, sebagian sujud, sebagian meragukan.

Kisah bocah kalajengking ini cepat menyebar keluar Puttaparthi. Para peziarah mulai berdatangan. Mereka memanggilnya Sathya Sai Baba, “Kebenaran Sang Sai Baba.” Desa kecil itu perlahan berubah menjadi pusat ziarah.

Tapi perubahan ini tak selalu mudah. Ada yang menuduhnya penipu, ada pula yang menganggapnya titisan Tuhan. Para pemuka agama Hindu membandingkan dirinya dengan awatara, perwujudan ilahi. Pengikutnya mulai menyebutnya Bhagavan, Tuhan yang hidup.

Raju—yang kini dipanggil Sai Baba—tidak lagi sekadar anak lelaki biasa. Sengatan kalajengking yang hampir merenggut nyawanya justru menjadi titik balik: dari remaja pendiam, ia menjelma menjadi figur yang memancarkan kharisma luar biasa.

Tahun demi tahun berlalu, pengaruhnya semakin meluas. Sekolah, rumah sakit, hingga pusat-pusat amal berdiri atas namanya. Jutaan orang dari India hingga mancanegara menyebutnya sebagai tuhan yang hidup di bumi. Tapi di sisi lain, skeptisisme juga tak pernah padam—ada yang menuding kesaktiannya hanya trik sulap, dan bahwa “tuhan” hanyalah gelar yang direkayasa.

Namun, apa pun kebenarannya, satu hal pasti: semua bermula dari malam ketika seekor kalajengking kecil menyengat tubuh seorang bocah bernama Sathyanarayana Raju. Sengatan itu seolah membuka pintu menuju babak baru—antara dunia fana dan mitos, antara manusia dan keilahian.

Bocah itu, yang kemudian dikenal sebagai Sathya Sai Baba, hidup sepanjang abad ke-20 hingga wafat pada 2011, meninggalkan warisan jutaan pengikut. Dan legenda kalajengking itu tetap dikenang sebagai awal kisah seorang manusia yang oleh sebagian dianggap nabi, oleh sebagian dituhankan, dan oleh sebagian lainnya sekadar manusia dengan karisma luar biasa.

Larangan Mengaku Sifat Ketuhanan


Islam tidak membenarkan kepada siapapun mengaku sebagai Tuhan atau mengaku memiliki sifat ketuhanan. Allah berfirman:

مَنَعَكَ اَنْ تَدَّعِيَ مَالَيْسَ لَكَ مِمَّا لِلْمَخْلُوْقِيْنَ اَفَيُبِيْحُ لَكَ اَنْ تَدَّعِيَ وَصْفَهُ وَهُوَ رَبُّ الْعَالَمِيْنَ٠

“Allah Swt melarang kalian mengakui sesuatu yang bukan hak kalian dari hak-hak para makhluk. Lalu mungkinkah Allah meridai bila kalian mengaku memiliki sifat-Nya, padahal Dia adalah Rabb semesta alam?”

Ayat dan penjelasan ini menjadi dalil tegas bahwa manusia tidak boleh bersikap seakan-akan memiliki sifat yang hanya layak bagi Allah. Mengangkat dirinya seolah-olah mempunyai kekuasaan luar biasa yang menyamai Allah, baik dengan sengaja maupun tidak, termasuk perbuatan dosa besar bahkan syirik. Itu adalah kejahatan lahir batin yang jelas menganiaya diri sendiri. Barang siapa berbuat demikian, berarti ia telah melanggar hak Allah, dan hukumnya haram.

Rasulullah Saw bersabda dalam hadis dari Ibnu Abbas, menyampaikan firman Allah Swt:
“Kesombongan adalah pakaian-Ku. Siapa yang hendak menyaingi-Ku dalam salah satu sifat-Ku, maka Aku akan campakkan ia ke dalam neraka.”

Merasa memiliki sifat yang hakikatnya milik Allah jelas bertentangan dengan hakikat seorang hamba. Allah tidak menyukai sikap berpura-pura meniru sifat-Nya. Dia tidak akan rida jika seorang hamba, baik secara terang-terangan maupun samar-samar, menyamakan dirinya dengan Allah. Ke-Esaan hanyalah milik Allah semata. Siapa yang menyekutukan-Nya dengan apa pun berarti telah memusuhi Allah dan berbuat aniaya.

Bahaya Menyamakan Makhluk dengan Allah


Segala bentuk keyakinan yang menyamakan makhluk dengan Allah, misalnya meyakini ada makhluk atau benda yang mempunyai kekuasaan seperti Allah, atau menganggap ada kekuatan lain di samping kekuasaan-Nya, semuanya termasuk syirik. Bahkan ketika seseorang sudah berharap pertolongan kepada Allah lalu masih menggantungkan harapannya kepada makhluk dengan menganggap kekuasaan makhluk itu setara dengan Allah, maka perbuatan tersebut termasuk menandingi Allah dengan ciptaan-Nya.

Allah Swt menegaskan dalam Al-Qur’an:


“Maka janganlah kamu menjadikan bagi Allah tandingan-tandingan (andād), padahal kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 22)

Tauhid Murni dan Peringatan dari Syirik


Setiap orang beriman telah mengetahui bahwa meng-Esakan Allah adalah inti tauhid, sifat khas orang saleh, dan tidak boleh dicampuri dengan hal-hal yang merusaknya. Tauhid murni tidak boleh dikotori dengan syirik, karena syirik adalah bentuk kezaliman terbesar.

Allah Swt berfirman dalam kisah Luqman:

“Sesungguhnya syirik adalah benar-benar kezaliman yang besar.” (QS. Luqman: 13)

Dengan demikian, jelaslah bahwa menjaga kemurnian tauhid dari segala bentuk syirik adalah kewajiban utama seorang mukmin. Menyandarkan sifat ketuhanan kepada diri sendiri atau makhluk lain sama saja dengan melanggar hak Allah dan termasuk dosa yang sangat besar.
×
Berita Terbaru Update