Notification

×

Iklan

Iklan

Hanya 5 Presiden RI yang Pernah Berbicara di Sidang Umum PBB Pasca Kemerdekaan

Senin | September 22, 2025 WIB | 0 Views
Jejak Sejarah 5 Presiden yang Berbicara di Sidang Umum PBB

Fikroh.com - Pidato di Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bukan sekadar agenda diplomatik, melainkan simbol eksistensi sebuah bangsa di hadapan dunia. Di forum inilah, para pemimpin dunia menyampaikan pandangan, sikap politik, serta visi mengenai arah peradaban global. Indonesia, sebagai negara besar dengan populasi muslim terbesar dan sejarah panjang perjuangan kemerdekaan, telah beberapa kali menorehkan jejak penting melalui para presiden yang berkesempatan berbicara di mimbar PBB.

Hingga tahun 2025, tercatat sudah lima Presiden Indonesia yang pernah berdiri gagah di podium Sidang Umum PBB. Mereka bukan hanya berbicara atas nama pemerintah, melainkan atas nama rakyat Indonesia yang bermartabat, sekaligus mempertegas posisi bangsa ini di tengah percaturan internasional.

1. Soekarno (Sidang Umum PBB ke-15, Tahun 1960)



Nama pertama tentu saja adalah Ir. Soekarno, Proklamator sekaligus Presiden pertama Republik Indonesia. Pada tahun 1960, Bung Karno tampil dalam Sidang Umum PBB ke-15. Kala itu, dunia tengah berada dalam ketegangan Perang Dingin antara blok Barat (dipimpin Amerika Serikat) dan blok Timur (dipimpin Uni Soviet).

Pidato Soekarno yang terkenal dengan judul “To Build the World Anew” (Membangun Dunia Kembali) menggema kuat di ruang sidang PBB. Dengan gaya orasi penuh wibawa, Bung Karno menyerukan pentingnya membangun tatanan dunia yang adil, damai, dan bebas dari penjajahan.

Dalam pidatonya, ia menegaskan bahwa kolonialisme, dalam bentuk apapun, adalah musuh umat manusia. Pesan ini sejalan dengan semangat Konferensi Asia-Afrika 1955 di Bandung yang menjadi tonggak lahirnya Gerakan Non-Blok. Bagi bangsa Indonesia, pidato Bung Karno di PBB adalah bukti bahwa negara baru merdeka sekalipun berhak dan wajib bersuara lantang untuk keadilan dunia.

Semangat Soekarno masih relevan hingga kini: bahwa Indonesia bukan bangsa kecil yang hanya menjadi penonton, tetapi bangsa besar yang harus turut menentukan arah sejarah dunia.
 

2. Soeharto (Sidang Umum PBB ke-47, Tahun 1995)


Tiga dekade kemudian, giliran Presiden kedua Indonesia, Soeharto, yang menyampaikan pidato di Sidang Umum PBB tahun 1995. Saat itu, Indonesia tengah dipercaya menjadi tuan rumah KTT Gerakan Non-Blok dan memainkan peran penting dalam isu-isu global, terutama mengenai pembangunan ekonomi negara-negara berkembang.

Dalam pidatonya, Soeharto menekankan pentingnya kerja sama internasional dalam menghadapi tantangan global, termasuk kesenjangan ekonomi antara negara maju dan negara berkembang. Ia berbicara mengenai keadilan ekonomi, penghapusan diskriminasi perdagangan, serta perlunya solidaritas antarbangsa.

Kehadiran Soeharto di forum dunia ini menunjukkan bagaimana Indonesia bertransformasi dari bangsa yang baru merdeka menjadi salah satu pemimpin penting di kawasan Asia dan dunia. Meski Orde Baru menuai kontroversi di dalam negeri, di panggung internasional Indonesia tetap diperhitungkan sebagai negara berdaulat yang berkomitmen pada stabilitas global.

Pesan inspiratif dari momentum ini adalah bahwa kekuatan sebuah bangsa bukan hanya diukur dari militernya, tetapi juga dari kontribusinya terhadap solusi permasalahan dunia.
 

3. Megawati Soekarnoputri (Sidang Umum PBB ke-58, Tahun 2003)


Presiden ketiga yang berkesempatan berbicara di Sidang Umum PBB adalah Megawati Soekarnoputri pada tahun 2003. Saat itu, dunia diguncang oleh perang dan teror, khususnya setelah peristiwa Tragedi 11 September 2001 di Amerika Serikat yang diikuti dengan perang di Afghanistan dan invasi Irak.

Megawati membawa suara Indonesia sebagai negara demokrasi terbesar di dunia muslim. Ia menyerukan pentingnya dialog antarperadaban, perdamaian, serta penolakan terhadap segala bentuk terorisme. Di sisi lain, ia juga menekankan agar dunia internasional tidak terjebak pada stigma yang mengaitkan Islam dengan kekerasan.

Pidato Megawati adalah cerminan wajah Indonesia sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar yang tetap menjunjung tinggi nilai toleransi dan perdamaian. Kehadirannya menegaskan bahwa Indonesia mampu menjadi jembatan antara dunia Barat dan dunia Islam.

Dari Megawati kita belajar bahwa keberanian seorang pemimpin perempuan berbicara di forum global bukan hanya sejarah, tetapi juga inspirasi bagi generasi muda, terutama kaum perempuan, untuk tampil sebagai pembawa suara kebenaran.
 

4. Susilo Bambang Yudhoyono (Sidang Umum PBB ke-62, 67, 69 | Tahun 2007, 2012, 2014)



Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) adalah satu-satunya presiden Indonesia yang beberapa kali menyampaikan pidato di Sidang Umum PBB. Ia hadir pada tahun 2007, 2012, dan 2014.

Dalam pidato-pidatonya, SBY konsisten menyuarakan isu-isu global seperti perubahan iklim, demokrasi, pembangunan berkelanjutan, dan perdamaian dunia. Bahkan, Indonesia di bawah kepemimpinannya menjadi salah satu negara yang gencar memperjuangkan agenda perubahan iklim, termasuk melalui forum Bali Road Map tahun 2007.

SBY mengingatkan bahwa dunia tidak bisa hanya berfokus pada keamanan politik, tetapi juga harus memperhatikan ancaman lingkungan yang bisa mengancam peradaban manusia. Ia pun mendorong dunia untuk bersatu mengatasi ketidakadilan global, baik dalam bidang ekonomi maupun politik.

Kehadiran SBY di PBB memperkuat citra Indonesia sebagai negara demokrasi yang matang dan aktif dalam diplomasi multilateral. Inspirasi yang bisa dipetik adalah bahwa pemimpin sejati harus berpikir jauh ke depan, bahkan hingga menyangkut kelangsungan hidup bumi.
 

5. Prabowo Subianto (Sidang Umum PBB ke-80, Tahun 2025)


Tahun 2025 menjadi babak baru sejarah diplomasi Indonesia di PBB. Presiden Prabowo Subianto berkesempatan menyampaikan pidato dalam Sidang Umum PBB ke-80.

Meski baru menjabat, Prabowo hadir dengan gaya tegas dan lugas. Ia menyampaikan pandangan Indonesia mengenai keamanan global, ketahanan pangan, dan pentingnya solidaritas dunia menghadapi krisis. Di tengah dinamika geopolitik yang makin kompleks—mulai dari konflik antarnegara, perubahan iklim, hingga kesenjangan global—Indonesia kembali menegaskan dirinya sebagai kekuatan moral dan strategis di Asia.

Pidato Prabowo di PBB memperlihatkan bahwa Indonesia tetap konsisten menjaga marwah sebagai negara yang cinta damai, tetapi juga siap berperan aktif dalam menyuarakan kepentingan dunia ketiga.

Dari momentum ini, generasi muda Indonesia bisa belajar bahwa nasionalisme tidak berarti menutup diri, melainkan justru tampil percaya diri di forum internasional sambil membawa nilai luhur bangsa.
 

Benang Merah dari Lima Presiden


Jika ditarik garis merah, pidato-pidato lima Presiden Indonesia di PBB memiliki benang merah yang sama: komitmen terhadap perdamaian, keadilan, dan solidaritas global.
Soekarno menegaskan anti-kolonialisme.
Soeharto menekankan keadilan ekonomi dunia.
Megawati menyerukan dialog antarperadaban.
SBY fokus pada perubahan iklim dan pembangunan berkelanjutan.
 
Prabowo mengingatkan pentingnya ketahanan global di era krisis.

Masing-masing membawa warna, gaya, dan isu yang berbeda, namun semuanya berpijak pada semangat yang sama: Indonesia adalah bangsa besar yang punya suara penting di dunia.
 

Inspirasi bagi Generasi Muda


Mengapa momen ini penting untuk kita renungkan? Karena pidato para presiden di forum dunia bukan hanya sejarah, tetapi juga pesan moral bagi generasi penerus.

Pertama, bahwa Indonesia bukan bangsa pinggiran. Kita memiliki potensi besar, baik dari segi sumber daya, budaya, maupun geopolitik, untuk turut menentukan arah dunia.

Kedua, bahwa pemimpin sejati harus berani bersuara. Dalam dunia yang penuh kepentingan, pemimpin yang diam hanya akan dilupakan. Para presiden kita telah membuktikan bahwa keberanian berbicara di mimbar dunia bisa mengangkat martabat bangsa.

Ketiga, bahwa diplomasi adalah senjata bangsa modern. Dalam era globalisasi, kekuatan militer saja tidak cukup. Yang dibutuhkan adalah diplomasi cerdas, visi kemanusiaan, dan kemampuan menjalin solidaritas global.
 

Penutup


Lima presiden Indonesia yang pernah berbicara di Sidang Umum PBB telah menorehkan sejarah. Mereka membawa suara bangsa ke forum tertinggi dunia, menyampaikan pesan keadilan, perdamaian, dan harapan bagi masa depan umat manusia.

Sejarah ini adalah pengingat sekaligus inspirasi: bahwa bangsa Indonesia harus terus percaya diri berdiri di panggung dunia. Generasi muda Indonesia perlu mewarisi semangat itu—semangat untuk tidak hanya berjuang bagi bangsa sendiri, tetapi juga bagi peradaban dunia.

Karena pada akhirnya, seperti yang pernah dikatakan Bung Karno di PBB tahun 1960: “Kita tidak ingin menjadi penonton dalam sejarah dunia, tetapi turut membentuk dan mengarahkannya.”
×
Berita Terbaru Update