Notification

×

Iklan

Iklan

Afghanistan dan Cermin Keteguhan Bangsa yang Membungkam Hegemoni Barat

Minggu | September 21, 2025 WIB | 0 Views
Afghanistan dan Cermin Keteguhan Bangsa yang Membungkam Hegemoni Barat

Fikroh.com - Ada negara yang baru seumur jagung dalam perjalanannya, namun tidak pernah merasa perlu menyombongkan “7000 tahun peradaban”, tidak menjual mimpi kosong tentang kejayaan palsu, dan tidak menutupi kelemahan dengan panggung media glamor. Negara itu adalah Afghanistan—sebuah bangsa yang lebih suka berbicara dengan tindakan daripada tenggelam dalam retorika.

Donald Trump, sang presiden berambisi besar, mencoba memperlakukan Afghanistan seperti ia memperlakukan dunia Arab: penuh gertakan, ancaman, dan ilusi dominasi. Katanya, pangkalan militer Bagram akan mereka kuasai, dan jika tidak diberikan, maka malapetaka akan terjadi. Namun, yang didapat bukan kunjungan ke Gedung Putih, bukan pula ritual cium tangan dan kaki, atau persembahan loyalitas memalukan. Afghanistan menjawab dengan cara yang tidak dikenal dunia Arab: tegas, tanpa basa-basi, dan berlandaskan harga diri.

Jenderal Qari Fasihuddin Fitrat dengan lantang menegaskan: “Kami tidak butuh siapa pun, kami tidak takut pada siapa pun. Bangsa Afghanistan tidak gentar pada tiran mana pun, dengan pertolongan Allah. Dua puluh tahun jihad melawan pendudukan Amerika adalah buktinya. Kami tidak akan menyerahkan sejengkal tanah Afghanistan.”

Lebih keras lagi, Menteri Pertahanan Muhammad Yaqub Mujahid, putra seorang legenda jihad, berbicara langsung pada Trump: “Dengar, Trump. Gua-gua tempat kami dulu bersembunyi masih ada. Lelaki kami masih siap tinggal di dalamnya. Dan kami siap melawan kalian dua puluh tahun lagi.” Itu bukan diplomasi manis, bukan kalimat penuh basa-basi layaknya pemimpin dunia Arab yang duduk nyaman di kursi, menjual harga diri demi legitimasi asing. Itu adalah suara lelaki yang tahu bahwa kekuasaan adalah amanah, bukan singgasana untuk dipuja.

Media Afghanistan pun berbeda. Tidak berperan sebagai corong propaganda kosong ala televisi istana, bukan pabrik kebohongan seperti media satelit Teluk, melainkan jendela yang menampilkan realitas: keras, getir, namun jujur.

Bangsa ini dididik dengan keyakinan bahwa dunia hanyalah persinggahan fana, sementara akhirat adalah kampung abadi. Karena itu, mereka tak gentar menghadapi Trump, tentaranya, bahkan negaranya yang disebut “superpower”. Siapa yang takut pada Allah, takkan pernah takut pada gempuran gabungan seluruh penguasa bumi.

Sejarah pun menjadi saksi: setiap penjajah yang mencoba menaklukkan Afghanistan akhirnya pulang dengan malu. India, Cina, Inggris, Rusia, hingga Amerika—semuanya menyeret kekalahan dari lembah dan gunungnya. Afghanistan menulis satu pelajaran yang jelas: siapa pun yang ingin menundukkannya akan patah di hadapan keteguhan iman dan keberanian.

Inilah bedanya antara bangsa yang dipimpin dengan syariat dan akidah, dengan bangsa yang menjual agama demi kursi rapuh. Afghanistan, meski miskin materi, telah kaya dengan kehormatan. Dan itu, bagi dunia yang terbiasa berlutut pada tiran, adalah tamparan paling keras.

Afghanistan bukanlah negeri sempurna. Masalah internal, perbedaan etnis, hingga tantangan pembangunan masih membelitnya. Namun satu hal yang tidak terbantahkan: bangsa ini menolak untuk dijajah, dengan harga berapa pun.

Dari Inggris, Rusia, hingga Amerika—semuanya keluar dari Afghanistan dengan kepala tertunduk. Tidak ada kekuatan yang mampu menguasainya untuk waktu lama. Negeri ini selalu menemukan cara untuk melawan, karena rakyatnya memahami arti kebebasan sejati: kebebasan yang berakar pada iman.

Pelajaran ini adalah tamparan bagi bangsa-bangsa Muslim yang menjual kedaulatannya demi kursi. Tamparan bagi para pemimpin yang lebih sibuk membangun citra di televisi daripada menegakkan kehormatan. Dan pelajaran bagi dunia bahwa iman, ketika benar-benar meresap dalam jiwa bangsa, lebih kuat daripada nuklir, lebih kokoh daripada tentara modern, dan lebih abadi daripada propaganda.

Penutup: Negeri yang Membungkam Hegemoni


Afghanistan telah menunjukkan kepada dunia bahwa kekuatan sejati bukanlah pada jumlah tank, kapal induk, atau satelit mata-mata. Kekuatan sejati ada pada bangsa yang hatinya tidak takut kecuali kepada Allah.

Inilah sebabnya setiap penjajah pergi dengan malu, menyeret ekor kekalahan dari gunung-gunung Hindu Kush. Inilah perbedaan antara bangsa yang memimpin dengan syariat dan akidah, dengan bangsa yang menjual agama demi kursi rapuh.

Afghanistan, negeri miskin yang kaya harga diri, telah membungkam hegemoni dunia. (Fikroh.com)
×
Berita Terbaru Update