Notification

×

Iklan

Iklan

Kesaksian Syaikh Salafi Asal Gaza Tentang Hamas

Selasa | Agustus 12, 2025 WIB | 0 Views

Kesaksian Syaikh Salafi Asal Gaza Tentang Hamas

Fikroh.com - Syaikh Majdi Al-Mughrabi adalah seorang da'i salafy asal Gaza yang sepanjang hidupnya tidak pernah meninggalkan wilayah tersebut. Hingga saat ini, ia masih berada di Gaza, aktif mengoordinasikan bantuan bagi para penyintas, serta mengelola kanal Telegram pribadinya.

Namanya sempat dikenal luas ketika ia merobek foto Qasim Sulaimani, sebuah tindakan yang berujung pada penangkapannya oleh pihak kepolisian Gaza. Sebelum peristiwa 7 Oktober 2023, Majdi Al-Mughrabi juga dikenal vokal dalam menyampaikan kritik terhadap kebijakan pemerintahan Gaza.

Meskipun demikian, ia secara terbuka memberikan kesaksian bahwa Hamas adalah gerakan Ahlus Sunnah.

Apabila terdapat pihak yang berprinsip seperti ungkapan, “Penduduk Mekkah lebih mengetahui jalan-jalan setapak di negerinya,” maka perlu ditegaskan bahwa individu ini adalah warga asli Gaza, yang hingga kini masih menetap di Gaza, bahkan pernah mengalami penangkapan oleh pihak Hamas. Ia bukan berasal dari Tepi Barat, sehingga merasakan secara langsung penderitaan yang dialami masyarakat Gaza.

Berikut ini kesaksian Syaikh Majdi Al-Mughrabi terhadap aqidah Hamas.


Gerakan Hamas, kami bersaksi sebagai ibadah kami kepada Allah bahwa mereka adalah kelompok Muslim Sunni yang berada di garda terdepan yang agung, di dalamnya banyak kebaikan dan orang-orang baik. Pada saat yang sama, mereka memiliki banyak kesalahan yang tidak dapat disangkal kecuali oleh orang bodoh, pengikut hawa nafsu, atau orang yang berlebihan. Kesalahan-kesalahan ini perlu diperbaiki, dan merupakan bagian dari agama bagi orang-orang yang mencintai mereka untuk menasihati mereka, dan tidak menipu mereka dengan meninggalkan nasihat.

Nasihat harus diberikan pada tempat, waktu, lokasi, dan ukurannya yang tepat. Semua ini diketahui oleh orang-orang yang ahli dalam nasihat dan penjelasan. Pembahasan di sini adalah tentang nasihat. Adapun memusuhi, menjatuhkan, dan melemahkan mereka demi kepentingan orang kafir dan munafik, maka ini tidak dibolehkan sama sekali, dan bukan merupakan bagian dari fikih atau agama sama sekali.

Pada saat ini, yaitu saat pertempuran dan konfrontasi, kita harus berpihak pada barisan para mujahidin, mendukung, dan membantu mereka dengan segala cara yang tersedia.

Adapun Syekh Utsman Al-Khamis, beliau adalah salah satu ulama umat. Saya tidak percaya bahwa apa yang dia katakan tentang Hamas adalah kesalahan lidah, tetapi dia mengatakan apa yang dia yakini dan percayai karena alasan yang dia sebutkan sebagian. Seharusnya Syekh - semoga Allah menjaganya - tidak mengatakan hal ini dan melemahkan semangat saudara-saudaranya di saat pertempuran - meskipun dia meyakini hal itu.

Pada saat yang sama, jangan lupakan bahwa Syekh telah menyerukan dukungan dan bantuan untuk mereka dalam pertempuran melawan Yahudi, dan ini diabaikan oleh banyak orang.

Dan barang siapa menuduh sang Syaikh (yakni: Syaikh ‘Utsman) bahwa beliau ridha terhadap pemerintah negerinya atau pemerintah lainnya, maka jika tuduhan itu benar, maka bukankah Hamas telah melangkah lebih jauh dari itu dalam hubungannya dengan rezim Suriah yang dipimpin oleh Assad? Padahal di dalam Hamas sendiri terdapat para ulama. Maka jika kita menerima bahwa ada kebutuhan mendesak yang membolehkan Hamas untuk menjalin hubungan dengan rezim kejam itu, maka seyogianya kita juga menerima bahwa mungkin ada kebutuhan-kebutuhan mendesak lain yang membuat Syaikh ‘Utsman dan selain beliau diam serta tidak bersuara terhadap pemerintah-pemerintah yang tidak sekejam rezim Assad.

Lalu mengapa permakluman selalu diberikan kepada sebagian ulama, bahkan ketika mereka memiliki sikap yang tidak bisa diterima dalam konteks realita dan jihad, seperti halnya Syaikh al-Qaradhawi – rahimahullah – yang tetap dimaklumi dan dihormati kedudukannya, sementara terhadap Syaikh (Utsman) banyak orang bersikap keras dengan cara yang bertentangan dengan metode memberi uzur (permakluman) yang mereka gunakan terhadap ulama lainnya, betapapun besarnya kesalahan.

Memberi uzur adalah metode yang dikenal dan digunakan terhadap kesalahan para ulama, bahkan sejak masa salafus shalih dan para pengikut mereka, bahkan dalam perkara-perkara yang menyangkut akidah dan tauhid sekalipun.

Barang siapa yang memikirkan dengan bijak dan mempertimbangkan maslahat, niscaya ia akan tahu bahwa mendekatkan sudut pandang dan memberi nasihat dengan cara yang baik lebih menyatukan umat yang telah tercerai-berai, dan lebih efektif dalam mengajarkan generasi penerus adab serta akhlak dalam perbedaan pendapat.

Adapun para penguasa hari ini, mereka tidak pernah menolong satu pun urusan umat Islam. Mereka berpaling ke Timur dan Barat dan hanya menjadi penonton. Mereka tidak hanya meninggalkan Gaza, tetapi juga meninggalkan setiap yang lemah dan tertindas di tengah umat Islam. Bahkan lebih dari itu, mereka menyiksa rakyat mereka sendiri, memperlakukan mereka dengan berbagai bentuk penindasan dan kekejaman. Jadi, bukan hanya Gaza yang menjadi korban, melainkan seluruh umat Islam adalah korban dari para penguasa zalim dan kriminal ini.

Karena itu, tidak adil jika Gaza menuntut sesuatu yang tidak dimiliki oleh orang lain—menuntutnya dari rakyat dan para ulama—dengan berkata: "Berilah kami dukungan dan lindungilah kami, maka kami akan meninggalkan Iran." Padahal yang mereka minta itu dari sesama korban para penguasa, yang tidak memiliki kekuatan dan kemampuan. Jika mereka mampu, tentu mereka tidak akan berpaling dan tidak akan pelit. Pada kenyataannya, Gaza meminta dari korban-korban lain yang senasib.

Pengkhianatan dan penelantaran itu tidak hanya menimpa Gaza, tapi juga terjadi pada mujahid Irak, Suriah, mereka yang tertindas di Turkistan, Suriah, Kashmir, Patani, dan lainnya.

Oleh karena itu, termasuk bentuk ketidakadilan terhadap para ulama—terutama yang tertindas di tengah umat—adalah dengan terus-menerus mencerca mereka siang dan malam dengan tuduhan tidak cukup mendukung Gaza dan para mujahidin, seolah-olah merekalah yang memegang kementerian pertahanan dan keuangan. Padahal para ulama, masyarakat umum, dan lembaga-lembaga Islam telah berusaha semampunya dalam mendukung Gaza dan para mujahidin sesuai kemampuan mereka.
×
Berita Terbaru Update