Fikroh.com - Bangsa Tartar (Mongol) di bawah kepemimpinan Genghis Khan dan penerusnya adalah kekuatan militer yang sangat ditakuti pada abad ke-13. Mereka menaklukkan wilayah luas dari Asia Tengah hingga Timur Tengah. Pada awal abad ke-14, di bawah pimpinan Ghazan Khan dan kemudian Mahmud Ghazan (yang secara nominal memeluk Islam), pasukan Tartar tetap melancarkan serangan besar ke negeri-negeri Islam, termasuk Suriah dan wilayah sekitar Damaskus.
Salah satu serangan terbesar terjadi pada tahun 699 H (1299 M) ketika pasukan Tartar bergerak dari Persia menuju Syam (Suriah). Mereka berhasil merebut beberapa kota, memicu ketakutan besar di tengah masyarakat Muslim, karena pengalaman sebelumnya menunjukkan bahwa serangan Mongol biasanya disertai pembantaian massal.
Peran Ibnu Taimiyah
Ibnu Taimiyah (661–728 H / 1263–1328 M) adalah ulama besar yang dikenal karena keberanian dan keteguhan pendirian. Pada masa invasi Tartar, beliau memainkan peran penting, baik secara moral, politik, maupun spiritual.
Dalam Kitab Afat Al-Ilmi, Tentang Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Muhammad bin Said bin Ruslan, hal. 21-24 dijelaskan:
Ketika Sultan Ghazan muncul di Damaskus, datanglah Raja Karj dan memberikan kepadanya banyak harta yang berlimpah dengan janji agar dapat membantunya membinasakan kaum Muslimin penduduk Damaskus. Kabar ini sampai kepada Syaikh Ibnu Taimiyah.
Syaikh segera bangkit, menyemangati kaum Muslimin, mendorong mereka untuk berani, dan menjanjikan kemenangan, keberhasilan, keamanan, serta hilangnya rasa takut. Dari mereka dipilihlah para tokoh, pemimpin, dan orang-orang yang berwawasan luas untuk menemui Sultan Ghazan.
Ketika Sultan Ghazan melihat Syaikh, Allah menanamkan rasa hormat yang besar di hatinya sehingga Sultan mendekatkan dan mempersilakannya duduk di dekatnya. Syaikh pun mulai berbicara menentang rencana Sultan untuk membiarkan Raja Karj menyerang kaum Muslimin. Ia mengingatkan larangan membunuh kaum Muslim, menasehati Sultan, dan memperingatkannya. Sultan pun menerima nasihat itu dengan sukarela, sehingga darah kaum Muslimin terjaga, keturunan mereka terlindungi, dan kehormatan mereka tetap aman.
Syaikh Kamiluddin bin Al-Anja berkata bahwa Ibnu Taimiyah pernah berkata:
“Seorang tidak akan takut kepada selain Allah kecuali karena ada penyakit di hatinya.”
Suatu ketika ada seorang yang mengeluh kepada Ahmad bin Hanbal tentang rasa takutnya kepada beberapa penguasa. Ahmad menjawab:
“Jika engkau sehat (dari penyakit hati), engkau tidak akan takut siapa pun.”
Hakim Abu Al-Abbas juga berkata:
“Ketika mereka hadir dalam majelis Sultan Ghazan, mereka disuguhkan makanan dan semuanya memakannya kecuali Ibnu Taimiyah. Ketika ditanya mengapa dia tidak makan, ia menjawab:
‘Bagaimana aku bisa makan dari makananmu yang semuanya berasal dari rampasan domba milik orang lain, yang kalian masak dengan kayu yang kalian ambil dari hutan milik mereka?’”
Kemudian Sultan Ghazan memintanya berdoa, dan dalam doanya Ibnu Taimiyah berdoa:
“Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa dia (Sultan Ghazan) berperang hanya agar kalimat Allah yang paling tinggi, dan ia berjihad di jalan-Mu, maka tolonglah dan menangkanlah dia. Namun jika dia berjuang demi kerajaan, dunia, dan keserakahan, maka lakukanlah apa yang Engkau kehendaki kepadanya.”
Ia mendoakan Sultan Ghazan, dan Sultan pun mengamininya. Mereka bahkan sampai mengumpulkan pakaian mereka karena takut bahwa darahnya akan tertumpah.
Pada tahun 700 Hijriyah, bahaya besar datang ke Syam dari bangsa Tartar yang sangat menakutkan. Penduduk Syam menjadi terpecah antara melarikan diri atau menyerah. Wakil Sultan dan para amir meminta Syaikh untuk segera naik kurir ke Mesir agar Sultan mengirim tentara menyelamatkan Syam.
Di Kairo, Syaikh berkata kepada Sultan:
“Jika kalian mengabaikan Syam dan tidak melindunginya, maka kami akan mendirikan penguasa yang akan menjaga dan melindunginya pada masa damai.”
Kemudian ia berkata:
“Seandainya kalian bukan penguasa dan raja Syam, dan penduduknya memohon pertolongan kepada kalian, maka kewajiban kalian adalah membantu mereka. Apalagi kalian adalah penguasa dan rajanya, serta mereka adalah rakyat kalian, dan kalian bertanggung jawab atas mereka!”
Ucapan ini membangkitkan semangat mereka dan menjamin kemenangan. Mereka pun berangkat ke Syam dan akhirnya menang serta beroleh kemenangan.
Kisah ini telah disebutkan dalam berbagai buku biografi Ibnu Taimiyah – rahimahullah –
- Al-‘Alam Al-‘Uliyyah fi Manaqib Ibnu Taimiyah, hal. 63, Umar Ali Al-Bazzar
- Ghayat al-Umami, Mahmoud Syukri Al-Alusi, jilid 2 hal. 168
- Afat al-‘Ilm, Muhammad Said Ruslan, hal. 71
Akhirnya Syeikhul Islam memerangi bangsa Tartar, Didukung oleh semua kelompok kaum muslimin. Termasuk kelompok yang tidak sehaluan
Ketika bangsa Tartar menyerang wilayah Syam pada abad ke-13 Masehi (sekitar tahun 700 H), situasinya sangat genting dan hampir membuat penduduk Syam putus asa. Dalam kondisi seperti itu, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah muncul sebagai pemimpin spiritual dan politik yang menggerakkan kaum Muslimin untuk bangkit melawan.
Ibnu Taimiyah, yang dikenal dengan pemikiran teologinya yang kritis dan tajam terutama terhadap bid’ah dan pemahaman yang dianggap menyimpang, ternyata mampu menyatukan berbagai kelompok Muslim yang sebelumnya berbeda pandangan, termasuk pengikut madzhab Asy'ari.
Kelompok Asy'ari yang dalam beberapa konteks teologis sering berbeda pendapat dengan Ibnu Taimiyah, dalam situasi krisis ini bersatu bersamanya karena adanya kesadaran bersama untuk mempertahankan umat Islam dan melindungi tanah air dari ancaman musuh besar, yaitu bangsa Tartar. Mereka mengesampingkan perbedaan doktrin demi tujuan besar bersama: menjaga keamanan dan keutuhan Syam serta mempertahankan kaum Muslimin dari penjajahan dan kehancuran.
Peran Ibnu Taimiyah sebagai tokoh ulama sekaligus pemimpin moral sangat penting dalam mempersatukan kaum Muslimin, termasuk kelompok Asy’ari, agar bersama-sama mendukung perjuangan militer melawan Tartar. Dengan karisma dan ketegasan dakwahnya, Ibnu Taimiyah mampu membangkitkan semangat jihad dan persatuan yang kuat, sehingga kemenangan dan keamanan akhirnya dapat diraih.
Referensi Fakta di atas:
1. Kitab Afat al-‘Ilm (Muhammad Said Ruslan)
Di buku ini disebutkan bahwa dalam menghadapi ancaman besar seperti invasi Tartar, Ibnu Taimiyah mampu menyatukan kaum Muslimin, termasuk yang berlatar belakang berbeda secara teologis seperti kelompok Asy’ari, demi mempertahankan keutuhan umat dan wilayah Islam.
Referensi: Halaman: 71
2. Kisah Persatuan Umat dalam Sejarah Islam (diambil dari beberapa karya sejarah dan biografi Ibnu Taimiyah)
Dalam masa krisis, persatuan umat Islam seringkali mengatasi perbedaan madzhab dan aliran. Ibnu Taimiyah yang dikenal kritis terhadap beberapa aspek pemikiran Asy’ari, dalam konteks perang justru mengajak dan berhasil menggalang dukungan dari berbagai kalangan, Asy’ari, untuk jihad melawan musuh bersama (Tartar).
Referensi umum: Al-‘Alam Al-‘Uliyyah fi Manaqib Ibnu Taimiyah (Umar Ali Al-Bazzar), hlm. 63
3. Narasi dalam buku-buku biografi Ibnu Taimiyah
Meski tidak secara eksplisit merinci “kelompok “Asy’ari” yang bergabung, buku-buku tersebut menggambarkan bagaimana Ibnu Taimiyah dengan karisma dan ketegasannya mengajak seluruh komponen umat Islam (yang tentunya termasuk kelompok Asy’ari sebagai bagian utama komunitas Muslim kala itu) untuk bersatu menghadapi ancaman eksternal.
Referensi: Al-‘Alam Al-‘Uliyyah, Ghayat al-Umami (Mahmoud Syukri Al-Alusi)