Ketika Sultan Qutuz Menolak Tawaran Kuda Saat Perang 'Ain Jalut

Fikroh.com - Dan ketika kuda tunggangan Sultan Saifuddin Qutuz mati ditengah berkecamuknya perang 'Ain Jalut, salah seorang pemimpin pasukan turun dari kudanya dan meminta Qutuz untuk menaiki kudanya, Qutuz menolak dan memilih berperang dengan berdiri tanpa kuda. Usai perang, penolakan Qutuz ini kemudian dikritik oleh sebagian pemimpin pasukan: 

"Wahai Sultan, kenapa engkau menolak menaiki kuda si Fulan? Seandainya musuh melihatmu dan mengenalimu sungguh mereka akan membunuhmu dan binasalah islam dengan kematianmu."

Qutuz menjawab: "Jika aku mati maka aku akan ke Surga, adapun agama ini maka ia punya Tuhan yang tak akan menyia-nyiakannya.

Qutuz atau anjing, itulah nama yang diberikan oleh pasukan Tatar/Mongol kepadanya ketika Mongol meluluhlantakkaan kerajaan pamannya di Khawarizmi Asia Tengah. Qutuz kecil kemudian dijadikan budak dan dijual di Damaskus. 

Mongol mungkin sama sekali tak menyangka bahwa bocah kecil yang sempat mereka pelihara ini dikemudian hari akan mengalahkan pasukan Tatar untuk pertama kalinya dalam sejarah sekaligus menghentikan tsunami kekejaman mereka yang meluluhlantakkan banyak kerajaan. Persis seperti Fira'un yang tak pernah tau bahwa bayi yang ia pelihara kelak akan menghancurkan kerajaannya. Tapi seperti itulah takdir Allah.

Ibnu Katsir menyebutkan bahwa Sultan Saifuddin Qutuz adalah seorang laki-laki yang sholih, banyak sholat berjamaah, Ia tak pernah menyentuh minuman keras dan hal-hal terlarang lain sebagaimana kebiasaan para raja di masa itu.

Masa kepemimpinannya hanya berlangsung selama 11 bulan 17 hari, kurang dari setahun. Sebelum kemudian ia dibunuh oleh salah seorang panglima pasukannya sendiri. Tapi begitulah sejarah menulis kegemilangannya dengan tinta emas dalam perang Ain Jalut.

Sesungguhnya keagungan seorang tokoh tidaklah dilihat dari seberapa lama mereka berkuasa dan seberapa banyak harta mereka, tapi dengan keteguhannya memegang prinsip-prinsip islam, perjuangan dan jihad mereka yang mengubah wajah sejarah.

Dan ketika berita kematian Qutuz sampai kepada Sultanul Ulama Imam Al-'Izz bin Abdissalam beliaupun menangisinya dengan perih dan berkata: "Semoga Allah merahmati masa mudanya, andai ia hidup lebih lama sungguh ia akan menjadi mujaddid islam."

Beliau melanjutkan: "Sesungguhnya tidak ada seorangpun yang diamanahkan urusan umat islam setelah Umar Bin Abdul Aziz yang lebih sholeh dan adil melebihi Sultan Saifuddin Qutuz." Rahimahumullah.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama