Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Selamat, Kiyai Afifuddin Muhajir Raih Gelar Doktor HC Bidang Ushul Fiqh

Selamat, Kiyai Afifuddin Muhajir Raih Gelar Doktor Hc Bidang Fiqh

Fikroh.com - Berita gembira, guru yang amat saya hormati, Kiai Afifuddin Muhajir Rabu esok akan mendapatkan gelar kehormatan (Dr. Hc) dari bidang fiqh-ushul fiqh UIN Walisongo Semarang. Gelar itu diberikan atas keahlian serta jasa-jasa beliau dalam penyebaran-pengembangan kedua ilmu ini selama berkiprah sebagai pendidik, dosen dan kiai.

Sebenarnya, ide penganugerahan sudah lama sekali. Saya sendiri pertama kali mendengar dari Prof. Sayyid Aqil Munawwar, ketika pertemuan Majelis Masyayikh di Ma’had Aly Situbondo tahun 2016 Silam. Bukan hanya sekali beliau meminta agar Kiai Afif segera mendapatkan gelar kehormatan ini. Hanya saja, kita tahu kiai-kiai kita begitu tawaduk. Kiai Afif tidak berkenan dan tidak begitu merespons permintaan itu. 

Berkali-kali dibujuk, berkali-kali pula beliau menolak. Namun, para santri dekatnya tak menyerah, mereka terus membujuk kiai Afif dan meyakinkan bahwa tujuan pemberian gelar itu bukan untuk kepentingan pribadi Kiai Afif tetapi untuk pengembangan ilmu pengetahuan. Dalam Bahasa lain, pemberian gelar itu bertujuan, agar “suara” Kiai Afifuddin Muhajir bisa makin didengar di khayalak luas. 

Kita tahu Kiai Afifuddin Muhajir adalah kiai “antik” yang kita miliki hari ini. Beliau adalah produk resmi pesantren Indonesia tapi diakui ulama-ulama dunia. Ulama-ulama kenamaan seperti Syaikh Wahbah al-Zuhaili, pakar fikih dari Damaskus Syuriah, Syaikh Ibrahim Shalah Hud-hud, mantan rektor al-Azhar Mesir dan sederet ulama lain pernah memuji kealiman Kiai Afif. Para Syaikh itu sehabis berdiskusi dengan Kiai Afif selalu bertanya, “Azhari?”, apakah anda lulusan al-Azhar?”. Kiai Afif hanya tersenyum menjawabnya. 

Semua karir dan kiprah pendidikan Kiai Afif dihabiskan di pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo. Menurut catatan, beliau “mondok” di Pesantren ini sejak usia 8 tahun. Bersama ibunda tercintanya, beliau hijrah dari Sampang-Madura. Sejak saat itu beliau belajar, mengajar hingga hari ini menjadi Wakil Pengasuh di Pesantren Sukorejo dan mengurusi Ma’had Aly di bawah naungan lembaga yang sama. 

Ketika santri baru dulu, saya tahu beliau dari kakak senior di kamar. Kata mereka, itu Kiai Afif, sang kamus berjalan. Kata kiasan atas kealiman beliau. Sebagai santri baru, yang mondok berbekal hafal doa wudu dan praktik salat, saya tak begitu paham masalah-masalah begituan. Yang pasti sejak saat itu, saya selalu membuntutinya ketika ia salat Jumat. Beliau istikamah salat di Mesjid bagian utara. 

Lambat laun, saya makin kagum kepada beliau. Cara beliau berjalan ketika menuju pengajian kitab kuning bakda Isya di Musalla pesantren, cara beliau berbicara ketika menjelaskan sesuatu benar-benar menghipnotis saya. Ia berjalan dengan pelan, merunduk dan tenang. Ketika berbicara suaranya halus, penuh senyum. Tampak sekali aura kealiman dan keteduhannya.

Saya mungkin adalah satu dari ribuan santri yang terus membuntuti beliau ketika ia berjalan menuju pengajian. Berdesakan untuk mencium tangan halusnya sehabis Jumatan. Ia benar-benar seperti sumber mata air yang mengalir bagi santri yang butuh keteduhan. 

Ketika masuk Ma’had Aly, saya merasa perjumpaan dengan beliau lebih mudah. Beliau cukup sering wira-wiri ke wilayah Ma’had Aly. Tiap minggu bisa 5 hari saya melihat beliau. Berbeda ketika masih di pondok Pusat yang baru leluasa melihat beliau ketika salat Jumat. Ke Ma’had Aly beliau memberi pengajian, rapat atau sekadar mengontrol proses pendidikan di lembaga terakhir yang didirikan Kiai As’ad itu. 

Kiai Afif, adalah satu dari tiga orang kiai yang dipasrahi untuk “ngopeni” Ma’had Aly oleh Kiai As’ad. Selain Kiai Afif ada Kiai Hasan Bashri dan Kiai Ach. Hariri. Dua nama yang terakhir sudah wafat dan sekarang praktis tinggal beliau sendirian. Oleh santri Ma’had Aly, ketiganya disebut bapak “tiga serangkai”. Punya karakter dan cara masing-masing dalam mengurusi santri. Cara mereka beda tapi dipertemukan dalam titik yang sama: sama-sama penyanyang. 

Di samping sibuk menjadi santri, di Ma’had Aly saya meneruskan bakat saya: belajar menulis dan sebagai reporter sebuah media yang dikelola santri. Berkat jalan itu, saya makin punya “alasan” untuk dekat dengan Kiai Afif. Ketika ada tugas dari media, saya yang wawancara pada beliau. Tiap momen, tiap kesempatan. Hingga lama-lama beliau mengenal saya. 

Ketika masuk jenjang Marhalah Tsaniyah atau setara Pascasarjana, saya dan beberapa kawan diamanati menjadi bagian media di Ma’had Aly. Kondisi ini makin mempermudah akses saya untuk berlama-lama dengan beliau. Jika ada persoalan krusial terjadi, saya ke beliau, bertanya, wawancara dan lain sebagainya. 

Tak pernah terbayangkan, sosok yang dulu saya buntuti dari kejauhan secara sembunyi-sembunyi kini saya bisa lebih intens berduaan. Jiwa kewartawanan saya selalu muncul ketika bersama beliau. Jadi saya bertanya banyak hal, dari yang serius sampai yang tidak serius. Pada beliau saya bertanya: kenapa Kiai Mufaraqah pasca Muktamar Jombang? Kenapa Kiai terlibat dukung-mendukung di Pilgub Jatim? Bagaimana sikap kiai terhadap kasus Ahok? Bagaimana sikap Kiai terhadap Habib R? Bagaimana sikap kiai terhadap kisruh sebuah persoalan? Dan semua hal saya tanyakan. [dan bahagianya saya rekam semua pertanyaan dan obrolan dengan beliau]

Semakin dekat dengan beliau semakin menambah kekaguman saya. Padahal lumrahnya, jika seseorang terlalu sering dengan kekasihnya, ia akan menemukan kekurangan dan cela. Tapi itu tidak berlaku bagi Kiai Afif. Kiai Afif tetaplah Kiai Afif yang dulu seperti pertama kali saya kenal. Ia sederhana, aura keilmuan dan keteduhan akhlaknya tak pernah pudar oleh perubahan masa dan cuaca.

ketika ada sebuah persoalan baik dalam tingkatan nasional atau internal lembaga, beliau lebih memilih untuk tidak terlibat di dalamnya. Beliau meninggalkan itu, dan lebih memilih memberikan hikmah-hikmah pelajaran. 

Untuk “merayakan” penganugerahan gelar ini, saya akan menulis enam esai serius tentang beliau? Tentu itu semua adalah pandangan subjektif saya sebagai santri akan tetapi sedari dulu saya berusaha bersikap objektif pada siapapun termasuk kepada beliau tapi se-objektif apapun, saya tak pernah bosan untuk menjadikan kIai Afifuddin Muhajir sebagai panutan.  

Selamat, Kiai semoga panjenengan sehat selalu dan panjang umur. Maafkan saya yang sering bertanya pada kiai, doakan semoga sedikit banyak prilaku dan ilmu panjenengan bisa saya tiru. Siapa saja yang mau baca tulisan saya itu? 

Oleh: Ahmad Husain Fahasbu