Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Makna Papadahan Urang Bahari dalam Adat Banjar

Makna Papadahan Urang Bahari dalam Adat Banjar

Fikroh.com - Baru saja saya melihat ada video orang yang menenggelamkan tanaman keladi, dengan harapan air segera surut. Katanya, berdasarkan "papadahan urang bahari", tidak boleh menanam keladi di depan rumah, karena akan mendatangkan banjir. Entah dari mana asal keyakinan ini, yang jelas ia lebih dekat pada khurafat.

Banjir di Kalsel saat ini, yang pertama tentu ia adalah taqdir dari Allah ta'ala (qaddarallah wa ma syaa-a fa'ala), kemudian jika kita meneliti sebabnya, ia disebabkan oleh ketamakan kapitalis yang mengeruk habis-habisan kekayaan alam Kalimantan dan menggunduli hutannya, sehingga kemampuan alam untuk menampung curah air hujan yang tinggi, melemah. Jadi bukan karena menanam tanaman keladi.

Namun, perlu dipahami, tidak semua "papadahan urang bahari" itu khurafat yang tidak berdasar. Bisa jadi ia memang khurafat, namun mungkin juga ia punya dasar dalam syariat, atau memiliki alasan yang logis.

Misal dulu, ada larangan potong kuku di malam hari. Ini hal yang sangat logis di masa lalu, yang penerangan di malam hari sangat terbatas. Jika memaksakan potong kuku di malam hari, sangat mungkin terpotong jari.

Tapi karena ini sesuatu yang logis, jika penyebab larangannya sudah tidak ada, maka larangannya juga perlu dihapus. Sekarang, rumah-rumah kita di malam hari cukup terang dengan lampu, sehingga kekhawatiran salah potong hampir tak ada lagi.

Kemudian, larangan main dan keluar rumah sejak menjelang terbenam matahari. Saya yakin ini dilandasi oleh Syariat Islam. Karena menjelang terbenam matahari, harusnya orang siap-siap untuk Shalat Maghrib, bukan malah main dan keluyuran. Apalagi waktu Shalat Maghrib lebih sempit dibandingkan waktu shalat lainnya, lebih-lebih jika mengikuti qaul jadid-nya Imam Asy-Syafi'i.

Jadi, "papadahan urang bahari" bisa kita ikuti, jika itu selaras dengan petunjuk Syariat, atau hal yang logis dan masih berlaku saat ini. Adapun hal yang logis di masa lalu, namun saat ini sudah tidak relevan lagi, tak perlu dipertahankan. Sedangkan jika itu sepenuhnya khurafat, wajib kita tinggalkan.