Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Islam di Nusantara: Proses Islamisasi Damai

Islam di Nusantara: Proses Islamisasi Damai

Fikroh.com - Penyebaran Islam di Nusantara dikenal berlangsung secara damai. Menurut Nazeer Ahmad, Islam telah masuk ke Nusantara secara bergelombang dimulai pasca  Hijrah  pada 622 hingga 1500. 

Namun, interaksi Nusantara dengan bangsa Arab sendiri telah dimulai pada era pra Islam. Para pedagang Yaman dan Teluk Persia mengikuti musim angin ke pantai Malabar di India, terus berlayar ke Sri Lanka, Sumatera hingga Jawa.

Pada era Abbasiyyah,  proses interaksi itu mencapai puncaknya. Dinasti Abbasiyyah di Baghdad mendorong perdagangan global. Para pedagang Muslim Arab dan Persia mengarungi Samudera Hindia dan berdagang dengan India, Afrika Timur, Indonesia dan China. Koloni para pedagang bertumbuhan di Gujarat, Malabar, Sri Lanka, Sumatera, Kanton dan sepanjang pantai timur Afrika. Koloni para pedagang di sepanjang Samudera Hindia bertumbuhan secara pesat antara 750-1100.

Menurut catatan Al Masudi, selama pemerintahan kaisar Hi-Tsung (877), koloni Muslim berpenduduk 200 ribu jiwa telah terbentuk di Kanton, China. Karena pemberontakan petani ( 887), para Muslim menyelematkan diri dan tinggal di Kheda (Kedah), pantai barat Malaysia. 

Latar sosial ekonomi ini yang menjelaskan mengapa proses transformasi Islam di Nusantara berlangsung damai. Proses yang telah berlangsung berabad-abad bahkan sejak pra Islam, namun semakin menguat setelah kedatangan Islam. 

Kejujuran dan integritas pedagang Muslim mendorong konversi agama penduduk  Malabar di India dan Melayu di Sumatera. Para imigran tidak memaksakan adat istiadat dan budayanya kepada penduduk lokal. Sebaliknya, mengadopsi budaya lokal dalam memperkenalkan doktrin Tauhid.

Di Jawa, proses transformasi Islam berjalan sublim.  Biasanya, konversi agama rakyat mengikuti agama penguasanya, Namun di Jawa, rakyat terlebih dahulu memeluk Islam dan raja mengikutinya.

Pada abad 14 dan 15, Jawa menjadi pusat kerajaan Majapahit. Kerajaan Hindu mengendalikan perdagangan di Jawa yang bersumber pada produk pertanian dan rempah-rempah. Para penguasa lokal mengendalikan pelabuhan-pelabuhan dan memberikan upeti kepada Majapahit sebagai bukti loyalitasnya. 

Ketika perdagangan dengan dunia Islam meningkat, para penguasa lokal berhubungan langsung dengan para pedagang Muslim dari India dan Asia Barat. Namun, seiring melemahnya Majapahit, satu demi satu penguasa lokal menerima Islam. Mereka bangga menjadi bagian dari persaudaraan internasional Islam, selain keuntungan perdagangan langsung dengan Muslim.  Pada 1450, Islam menjadi agama dominan di Jawa.

Di balik transfromasi itu, terdapat peran gigih para ulama, syaikh sufi dan sunan yang mendidik dan mengislamkan masyarakat Nusantara. Di antaranya, Syaikh Ishaq dari Pasai, Sunan Bonang, Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Derajat dan Sunan Kalijaga. 

Pada Pada 1451, Syaikh Rahmat atau lebih dikenal Sunan Ampel mengislamkan Raja Majapahit Kertajaya. Transisi kekuasaan relatif tidak menimbulkan gejolak karena perpindahan kekuasaan dari penduduk asli ke penduduk asli. Kerajaan Demak merefleksikan  Majapahit yang berwajah Islam. Berbeda dengan di India, para penguasa Hindustan selama berabad-abad adalah bangsa Turki, Moghul, Persia dan Afghan.  

Oleh: Ahmad Dzakirin