Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Bolehkah Jual Beli Kredit Dengan Harga Lebih Mahal Dari Tunai?

Bolehkah Jual Beli Kredit Dengan Harga Lebih Mahal Dari Tunai?

Fikroh.com - Pada sesi dialog tadi malam ada yang bertanya: “Apakah menjual dengan harga kredit lebih mahal dibandingkan harga tunai termasuk riba?

Maka saya jawab: BUKAN TERMASUK RIBA. meski riba secara bahasa adalah bertambah. Namun tidak semua tambahan itu adalah riba. Tambahan dalam hutang piutang adalah riba. Sedangkan tambahan harga dalam jual beli itu adalah keuntungan (الربح) yang dihalalkan. Allah berfirman

وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا

“Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba” (QS. Al-Baqarah: 275)

Selama ini banyak sekali yang salah memahami teks kitab madzhab Syafi’i sehingga menganggap praktik di atas haram karena termasuk larangan hadis berikut:

نَهَى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ بَيْعَتَيْنِ فِى بَيْعَةٍ

Rasululullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dua transaksi jual beli dalam satu transaksi jual beli. (HR. Turmudzi 1231, Ahmad 9834, dan Nasai 4649)

Dalam kitab-kitab madzhab Syafi’i praktik jual beli kredit dengan harga lebih mahal dari tunai memang banyak dicontohkan dengan “Saya jual barang ini dengan harga 1.000 kontan atau 1.500 kredit. Kemudian pembeli mengatakan ‘Saya terima’”. Dalam konteks ini jual beli tersebut dilarang karena pembeli hanya menyatakan menerima tanpa menentukan harga dan sistem mana yang diambil, apakah yang 1.000 tunai atau 1.500 kredit?. Oleh karena itulah imam Bujairami menjelaskan tentang alasan tidak sahnya praktik seperti itu dengan mengatakan

وَعَدَمُ الصِّحَّةِ فِيهِ لِلْجَهْلِ بِالْعِوَضِ

“Tidak sahnya praktik tersebut adalah karena ‘iwadh (harga) tidak diketahui (pembeli tidak menjelaskan harga mana yang dipilih)” (Bujairami ‘ala al-Manhaj: 2/209)

Berbeda ketika pembeli telah memilih salah satunya, maka hal tersebut diperbolehkan karena harganya sudah ditentukan dan diketahui. Oleh karena itu, Imam Turmudzi perawi hadis tersebut dengan tegas menyatakan

وَقَدْ فَسَّرَ بَعْضُ أَهْلِ العِلْمِ قَالُوا: بَيْعَتَيْنِ فِي بَيْعَةٍ أَنْ يَقُولَ: أَبِيعُكَ هَذَا الثَّوْبَ بِنَقْدٍ بِعَشَرَةٍ، وَبِنَسِيئَةٍ بِعِشْرِينَ، وَلَا يُفَارِقُهُ عَلَى أَحَدِ البَيْعَيْنِ، فَإِذَا فَارَقَهُ عَلَى أَحَدِهِمَا فَلَا بَأْسَ إِذَا كَانَتِ العُقْدَةُ عَلَى أَحَدٍ مِنْهُمَا

“Sebagian ulama’ menafsirkan hadis tersebut dengan “saya menjual baju ini dengan harga 10 kontan dan 20 kredit”. Ketidak sahan praktek tersebut terjadi ketika penjual dan pembeli berpisah dan tidak menentukan salah satu sistem dan harganya. Berbeda ketika telah ditentukan salah satunya maka diperbolehkan” (Sunan Turmudzi: 5/735)

Demikian penjelasan seputar Bolehkah jual beli kredit dengan harga lebih mahal dari tunai? Semoga jawaban atas pertanyaan ini bermanfaat. Aamiin.