Syarat Yang Harus Dipenuhi Agar Talaknya Sah

Fikroh.com - Agar talak yang dijatuhkan sah secara syariat, maka ada sejumlah syarat yang harus terpenuhi pada tiga belah pihak yang terlibat, yaitu pihak yang menjatuhkan talak (al-muthalliq), pihak yang ditalak (al-muthallaqah), dan redaksi kalimat talak (shigat ath-thalaq). In syaa Allah masing-masing akan dijelaskan dalam artikel yang berbeda.


Dan untuk kesempatan ini akan kita bahas syarat yang pertama, yaitu Syarat yang Berkaitan dengan Pentalak (Muthalliq). Apa saja syarat orang boleh/sah menjatuhkan talak?

1. Berstatus Sebagai Suami Sah.

Artinya, dia dan perempuan yang ingin dia talak harus terikat akad nikah yang sah. Seandainya sebelum menikahi fulanah, dia melontarkan perkataan bahwa jika dia sampai menikahi fulanah, maka fulanah itu telah tertalak, maka perkataannya itu tidak dianggap dan tidak berlaku berdasarkan hadits ‘Amru bin Syu‘aib dari ayahnya dari kakeknya yang berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لَا نَذْرَ لِابْنِ آدَمَ فِيمَا لَا يَمْلِكُ، وَلَا عِتْقَ لَهُ فِيمَا لَا يَمْلِكُ، وَلَا طَلَاقَ لَهُ فِيمَا لَا يَمْلِكُ

“Tidak ada nadzar bagi anak Adam terhadap sesuatu yang tidak dimilikinya, tidak ada hak memerdekakan bagi anak Adam terhadap budak yang tidak dimilikinya, dan tidak ada hak talak bagi anak Adam terhadap istri yang tidak dimilikinya.” [Shahih li ghairihi. Hadits Riwayat: at-Tirmidzi (1181), Abu Dawud (2190), dan Ibnu Majah (2047). Hadits ini memiliki banyak syahid (hadits penguat)]

Jadi, seorang laki-laki tidak memiliki hak menjatuhkan talak kecuali jika dia adalah seorang suami. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نَكَحْتُمُ الْمُؤْمِنَاتِ ثُمَّ طَلَّقْتُمُوهُنَّ

“Wahai orang-orang yang beriman, apabila kalian menikahi perempuan-perempuan yang beriman, kemudian kalian mentalak mereka ...” [Surat al-Ahzab:49]

Dalam ayat ini, Allah menyebut talak setelah menyebut pernikahan.

2. Baligh

Jumhur ulama berpendapat bahwa talak yang dijatuhkan oleh (seorang suami yang masih) anak kecil tidak berlaku, baik dia sudah mumayyiz (mampu membedakan yang baik dari yang buruk) maupun belum, karena talak adalah dharar mahdah (murni bahaya) sehingga anak kecil tidak boleh memilikinya dan demikian pula walinya. [Al-Mudawwanah (II/127), al-Umm (VI/258), Ibnu ‘Abidin (III/230), dan Mughni al-Muhtaj (III/279)]

Selain itu, mereka juga mendasarkannya pada hadits Aisyah radhiallahu ‘anha bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلَاثَةٍ: عَنِ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ، وَعَنِ الْمُبْتَلَى حَتَّى يَبْرَأَ، وَعَنِ الصَّبِيِّ حَتَّى يَكْبُرَ

“Pena (pencatat amal dan dosa) itu diangkat dari tiga golongan: (1) orang yang tidur hingga dia terbangun, (2) orang gila hingga dia waras, (3) dan anak kecil hingga dia balig.” [Shahih li ghairihi. Hadits Riwayat: Abu Dawud (4398) dan Ibnu Majah (2041)]

Karena anak kecil (dikatakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di sini) belum mukallaf, maka tentulah talaknya pun tidak berlaku.

Di pihak lain, ulama Hanabilah berpendapat bahwa jika anak kecil itu telah mumayyiz, mengetahui konsekuensi talak, mengerti bahwa dengan talak itu istrinya menjadi haram baginya, maka talaknya berlaku. Mereka berdalil dengan suatu hadits yang diriwayatkan secara marfu‘:

كُلُّ طَلَاقٍ جَائِزٌ، إِلَّا طَلَاقَ الْمَعْتُوهِ الْمَغْلُوبِ عَلَى عَقْلِهِ

“Setiap talak itu boleh (berlaku) kecuali talak orang yang kehilangan akalnya.” [Shahih secara mauquf. Dikeluarkan dengan redaksi yang mirip oleh Abdurrazzaq (VII/78), Sa‘id bin Manshur (1113), dan al-Baihaqi (VII/359)]

Dan berdasarkan riwayat dari Ali radhiallahu ‘anhu bahwa dia berkata, “Sembunyikanlah pernikahan dari anak kecil.” Maksudnya: Jangan beritahu mereka kalau mereka telah menikah/dinikahkan. -Pent- [Hadits ini Isnadnya dha‘if. Hadits Riwayat: Ibnu Abi Syaibah (IV/74)] Dari riwayat ini dapat dipahami bahwa tujuan larangan tersebut adalah agar si anak jangan sampai menjatuhkan talak, karena talaknya adalah talak orang yang berakal, jujur, dan layak mentalak sehingga akan berlaku jika dia mentalak sebagaimana berlakunya talak orang yang telah balig.

Pendapat ini juga dikemukakan oleh Ibnu al-Musayyab, ‘Atha’, al-Hasan, asy-Sya‘bi, dan Ishaq, serta tampaknya menjadi pilihan Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah saat dia berkata, “Akan tetapi, anak kecil yang telah mumayyiz dan orang gila yang kadang-kadang mumayyiz diakui (dianggap sah) ucapannya saat mumayyiz.” [Majmu‘ al-Fatawa (XXXIII/108). Lihat: al-Mughni (VII/116), Fath al-Bari (IX/393), dan Jami‘ Ahkam an-Nisa’ (IV/102-103)]

3. Berakal

Dengan syarat ini, talak yang dijatuhkan oleh orang gila dan orang ma‘tuh Yaitu orang yang daya pikirnya rendah, omongannya melantur, tindak-tanduknya tidak jelas, tetapi tidak sampai memukul dan mengumpat sehingga tidak seperti orang gila. Ibnu ‘Abidin (III/243) tidak sah karena yang pertama sama sekali tidak memiliki ahliyah al-ada’ (Kecakapan untuk melakukan tindakan secara hukum. -Pent) sementara yang kedua memilikinya tetapi tidak sempurna. Ini ditunjukkan oleh hadits yang telah disebutkan di atas.

رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلَاثَةٍ: ... وَعَنْ الْمَجْنُونِ حَتَّى يَعْقُلَ

“Pena (pencatat amal dan dosa) itu diangkat dari tiga golongan: ... dan orang gila hingga dia waras (berakal sehat).” [Shahih li ghairihi. Telah berlalu takhrij-nya]

Selain itu, di dalam hadits tentang Ma‘iz --setelah dia mengaku bahwa dia telah berzina-- disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadanya:

أَبِكَ جُنُونَ؟

“Apakah kamu gila?” [Shahih. Hadits Riwayat: Muslim (1695)]

Hadits ini menunjukkan bahwa pengakuan orang gila tidak sah, demikian pula semua tindakan dan ucapannya. [Nail al-Authar (VI/280) terbitan al-Hadits]

Ali bin Abu Thalib radhiallahu ‘anhu berkata, “Semua talak boleh, kecuali talak orangma‘tuh.” [Isnadnya shahih. Hadits Riwayat: Sa‘id bin Manshur (1113) dan Abdurrazzaq (VII/78)] Maksud ma‘tuh di sini adalah orang yang kurang akalnya (rendah daya pikirnya) sehingga termasuk di dalamnya anak kecil, orang gila, dan orang mabuk.

Ini untuk orang gila yang permanen. Adapun orang gila yang temporal, yang terkadang gila terkadang tidak, jika dia mentalak saat gilanya kambuh, maka tidak berlaku talaknya. Sedangkan jika dia mentalak saat sadar, maka talaknya berlaku karena pada saat itu dia memiliki kecakapan untuk bertindak secara hukum (ahliyyah al-ada’).

Ulama juga mengikutkan ke dalam hukum orang gila: orang tidur, orang pingsan, dan orang linglung (madhusy)-Madhusy adalah orang yang kehilangan kemampuannya untuk membedakan yang benar dan salah karena dikuasai oleh rasa amarah atau perasaan lainnya sehingga tidak sadar dengan apa yang dia ucapkan- karena hilangnya kecakapan mereka dan karena hadits di atas. Wallahu a'lam.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama