Manifestasi Jiwa yang Sehat Menurut Al-Balkhi

Fikroh.com - Manusia itu terbentuk dari dua komponen yang saling berkaitan antar satu dengan lainnya, yakni jiwa dan tubuh. Ibarat sepasang sepatu, keduanya harus dikenakan bersamaan. Jika hanya memakai satu sisi, tentu kita akan berjalan sambil terpincang-pincang. Ini menunjukkan bahwa keduanya mepunyai peran yang sama pentingnya dalam kehidupan. Tapi sayangnya, kerap terjadi ketimpangan dimana manusia hanya fokus dengan tubuhnya dan kerap abai dengan jiwanya. Yang mana dapat berkibat pada rusaknya keseimbangan dalam diri manusia. Ketidakpedulian akan kesehatan jiwa umumnya terjadi karena kurangnya pengetahuan akan urgensinya dalam kehidupan.

Padahal, sama halnya dengan tubuh, jiwa manusia itu bisa sehat bisa juga sakit. Masing-masing punya indikasi yang menunjukkan keadaannya. Tubuh yang sakit umumnya memiliki gejala seperti suhu tubuh yang tinggi, batuk, sakit kepala dan sebagainya. Gejala ini menunjukan adanya gangguan pada organ baik secara struktur maupun fungsi. Jiwa manusia pun begitu, bilamana sakit, ia akan menunjukkan gejala seperti gejolak emosional, depresi, panik, dan lainnya. Gejala ini timbul saat kita menerima stimulus negatif yang dari luar maupun dari dalam diri. Dan tanpa kita sadari, gejala-gejala ini justru jauh lebih sering termanifestasi dalam keseharian kita dibanding gejala yang timbul saat tubuh sakit.

Intinya, gangguan yang terjadi baik pada tubuh maupun jiwa manusia, keduanya sama-sama dapat mengganggu keseimbangan hidup kita. Karenanya, aspek fisikal manusia tidak akan terpenuhi bila aspek psikisnya terbaikan, begitu juga sebaliknya. Dalam artikel ini penulis sedikit banyak akan membahas beberapa ihwal mendasar mengenai kesehatan jiwa yang disampaikan oleh Abu Zayd Al-Balkhi, seorang psikolog muslim abad ke-9 dalam karya monumentalnya yang berjudul Masalih Al-Abdan wa Al-Anfus. Meliputi pembahasan tentang ciri jiwa yang sehat, berikut kiat untuk menjaga dan mencegahnya dari berbagai gangguan kejiwaan.

Al-Balkhi memandang bahwasannya jiwa sesorang dapat dikatakan sehat bilamana tidak menunjukan gejala-gejala gangguan sebagaimana telah disebutkan sebelumnya. Manifestasinya adalah ketenangan serta rasa aman dan tentram dalam hidup. Ketenangan inilah yang menjadi tolak ukur bahwa jiwa kita dalam keaadan baik dan seimbang. Sama seperti tubuh yang dikatakan sehat saat seluruh organnya, baik secara struktur maupun fungsinya dalam keadaan baik.

Namun, tentunya kondisi ini tidak selalu dapat dipertahankan, bahkan oleh manusia paling sempurna sekalipun. Itu karena manusia dalam hidup tentu tak terhindarkan dari berbagai problematika serta kejadian tak menyenangkan yang dapat memicu timbulnya gangguan kejiwaan. Karena itu, sangat penting adanya upaya konkret untuk menjaga jiwa kita tetap sehat. Sebab, mengobati jiwa yang sakit faktanya tak semudah mengobati tubuh yang sakit.

Kiat Menjaga Jiwa Agar Tetap Sehat ala Al-Balkhi

Menjaga jiwa agar tetap sehat sama halnya dengan menjaga kesehatan tubuh kita. Yakni harus dilakukan secara menyeluruh, luar dalam. Menjaga jiwa dari luar dilakukan dengan cara melindunginya dari paparan elemen-elemen negati yang dapat memicu gejolak emosi dari segala yang kita lihat, dengar dan rasakan. Seperti melihat adegan kekerasan, mendengar kabar yang menyedihkan dan semacamnya. Sedangakan untuk menjaganya dari dalam, dilakukan dengan menghindari pikiran-pikiran negatif yang biasanya timbul karena ketakutan akan hal-hal buruk yang mungkin terjadi di masa mendatang. Kemudian menggatinya dengan pikiran positif dan rasa optimis, cara ini ibarat sedia payung sebelum hujan, atau sedia obat sebelum sakit.

Lantas bagaimana kalau kita terlanjur terpapar elemen-elemen negatif tadi? Dalam hal ini, Al-Balkhi punya semacam pertolongan pertama saat kita mulai merasakan ketidakberesan pada jiwa kita. berikut 4 langkah pertolongan pertama pada gejala gangguan kejiwaan untuk mencegah timbulnya penyakit yang lebih serius:

1. Melakukan monolog (self-talk)

pilihlah saat dimana kita merasa cukup tenang dan nyaman. Kemudian katakanlah pada diri kita bahwa semua problematika serta pengalaman menyakitkan dalam hidup itu wajar adanya. Semuanya merupakan realitas dunia yang harus diterima. Karena tidak ada namanya kebahagiaan abadi di dunia ini.

2. Membiasakan diri dengan hal—hal menyakitkan

Dalam dunia psikologi modern, teknik ini dikenal dengan istilah reciprocal inhibition, salah satu teknik yang sering dilakukan dalam terapi perilaku (behaviour therapy). Caranya adalah dengan melatih diri kita untuk tidak berlebihan dalam merespon hal-hal yag kita rasa menyakitkan. Kemudian cobalah untuk menoleransi keberadaan hal-hal tersebut, sampai akhirnya kita akan terbiasa dengannya. Bahkan bila dihadapkan dengan sesuatu yang lebih besar dan lebih menyakitkan kita akan mampu menghadapinya.

3. Mengubah sudut pandang kita akan hal-hal tersebut

Atau lebih dikenal dengan rational cognitive therapy. Yang dilakukan dengan mengubah pola pikir dan sudut pandang kita akan hal-hal yang kita rasa menyakitkan.

4. Mengembalikan segalanya kepada Allah Swt.

Manusia itu dilahirkan dengan fitrah berupa keimanan akan wujud eksistensi Tuhan yang mengatur segala peristiwa di atas bumi ini. Maka sudah seyogianya setelah semua usaha yang dilakukan kita tak lupa untuk mengembalikannya kepada Yang Maha Pengatur. Sehingga kita bisa sepenuhnya ikhlas menerima segala bentuk takdir yang Dia tetapkan. Dalam dunia psikologi, ini disebut pendekatan spiritual kejiwaan (Pyscho-spiritual religious cognitive approach).

Tetapi penting dicatat, bahwa disamping usaha-usaha yang bisa kita lakukan untuk mengantisipasi berbagai elemen negatif sebagaimana telah disebutkan, tiap individu juga punya batas ketahanan dalam menghadapi masalah dan kesulitan dalam hidupnya. Ada hal-hal di luar batas kemampuan yang tidak bisa ditanggung. Katakanlah kesulitan dalam hidup itu dimulai dari tingkat satu sampai sepuluh. Beberapa orang mungkin mampu mengatasinya sampai tingkat tertinggi. Namun orang lain bisa jadi hanya mampu bertahan sampai tingkat ke lima, ataupun di tingkat-tingkat lainnya. Masing-masing orang punya kekuatan dan kelemahan yang berbeda-beda sesuai tugas yang diembannya dalam kehidupan. 

Maka dari itu sangatlah penting untuk mengetahui mana kesulitan atau masalah yang kiranya bisa dihadapi, dan mana yang sebaiknya dihindari. Karena jika kita memaksakan diri untuk melakuakan sesuatu di luar batas kemampuan yang kita miliki, perilaku ini justru akan membahayakan keselamatan jiwa dan raga kita. yang tadinya hanya mengalami gangguan kecemasan biasa, bisa jadi akan menimbulkan gangguan jiwa yang lebih serius bahkan bisa sampai menimbulkan gangguan pada organ tubuh. Bijak dalam melihat mana yang bisa ditanggung dan mana yang tidak, akan membuka jalan kepada kehidupan yang sejahtera, sehat, dan bahagia.

Oleh: Shabrina Nurul

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama