Kunci Menggapai Kemenangan Kaum Mukmin (Tafsir Surat Al-Anfal 64-65)

Fikroh.com - Orang-orang beriman adalah kelompok yang dijanjikan kemenangan oleh Alloh ta'ala. Seiring dengan meningkatnya kualitas keimanannya. Yakin dan percaya kemenangan pasti akan berpihak, tidak di dunia pasti di akhirat.

Alloh Menjanjikan Pertolongan

Alloh subhanahu wata'ala berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِىُّ حَسْبُكَ ٱللَّهُ وَمَنِ ٱتَّبَعَكَ مِنَ ٱلْمُؤْمِنِينَ يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ حَرِّضِ الْمُؤْمِنِينَ عَلَى الْقِتَالِ ۚ إِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ عِشْرُونَ صَابِرُونَ يَغْلِبُوا مِائَتَيْنِ ۚ وَإِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ مِائَةٌ يَغْلِبُوا أَلْفًا مِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَا يَفْقَهُونَ

"Wahai Nabi, cukuplah Allah menjadi penolong kamu dan penolong sebagian orang mukmin yang mengikuti kamu. Wahai Nabi, bangkitkanlah semangat kaum mukmin untuk berperang! Jika ada dua puluh orang mukmin yang sabar dalam menghadapi musuh, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang kafir. Dan jika ada seratus orang mukmin yang sabar, niscaya mereka akan dapat mengalahkan seribu orang kafir, karena kaum kafir adalah kaum yang tidak mau mengerti bahwa Allah Mahakuasa." (Al-Anfal: 64-64)

Allah menenangkan Rasul SAW berikut para sahabat radhiyallohu anhum dalam ayat ini. Allah-lah yang akan menjadi Wali atau Pelindung mereka. Ayat ini, menurut Sayyid Quthb, menekankan penggambaran sebuah kekuatan yang tak mungkin tertolak dan dihalangi. Sekaligus mengajak pembacanya untuk membandingkan kekuatan tersebut dengan kekuatan manusia yang sangat lemah dan tak memiliki kekuasaan apapun. 

Karenanya, masih dalam ungkapan Sayyid Quthb dalam Tafsir Dzilaalnya, peperangan ini adalah peperangan yang sudah pasti akibatnya, sudah diketahui hasil akhirnya. Hal ini terungkap dalam firman Allah, “Hai Nabi, cukuplah bagimu Allah dan orang-orang yang mengikutimu daripada orang-orang beriman. (QS. al-Anfaal : 64) Selanjutnya, Allah SWT memerintahkan Rasul-Nya untuk mengobarkan semangat juang kaum muslimin. Juga mencabut akar perasaan kalah sebelum berjuang, dan menghancurkan rasa kerdil dan kecil di hadapan kekuatan kuffar yang sesungguhnya lemah dan kecil. Segenap jiwa dan raga segera disiapkan dengan penuh kepercayaan dan keyakinan bahwa kemenangan pasti mereka raih.

“Wahai Nabi, bangkitkanlah semangat mereka. Ketahuilah, bahwa kondisi dan posisi mereka di hadapan musuh Allah adalah lebih kuat. Meskipun jumlah mereka sedikit, dan jumlah pasukan kuffar lebih banyak.” (Dzilaal, Sayyid Quthb, 3, 1549)

Allah SWT berfirman,

"Jika ada dari antara kamu dua puluh orang yang sabar tentu mereka akan bisa mengalahkan dua ratus orang. Dan jika ada di antara kamu seratus orang, tentu mereka dapat mengalahkan seritu orang-orang kafir…” (QS. al-Anfaal : 65)

Mudah Dilumpuhkan

Pasukan yang sedikit dan lemah, biasanya gampang dikalahkan. Tapi, aksioma itu tak berlaku bagi pasukan muslim. Mereka berhasil menghancurkan pasukan yang lebih besar dan kuat. Mengapa pasukan yang besar dan kuat itu mudah dilumpuhkan? Jawabnya, Karena mereka orang-orang yang tidak mengerti.” (QS. al-Anfaal : 65)

Ini salah satu keistimewaan ummat beriman. Mereka memiliki keutamaan di banding orang-orang kafir. Sebab mereka merupakan umat manusia yang benar-benar telah terbuka mata hatinya dan benar-benar mengetahui misinya. Mereka, kelompok manusia yang telah memiliki rasa percaya terhadap manhaj Allah, mengetahui hakikat keberadaan serta hakikat tujuan hidupnya. “Kelompok ini telah memahami hakikat konsep uluhiyah dan 'ubudiyah. Mereka yakin bahwa uluhiyah Allah harus dimiliki Allah semata dan harus dijunjung tinggi. Sedangkan 'ubudiyah harus diberikan kepada Allah SWT semata, tak ada yang menyekutuinya. Mereka yakin, bahwa mereka adalah umat yang dituntun oleh petunjuk Allah SWT, diutus di muka bumi dengan izin Allah untuk mengeluarkan manusia dari penghambaan manusia kepada penghambaan kepada Allah SWT. Mereka yakin, bahwa merekalah khalifah Allah di muka bumi yang bukan untuk berlaku sombong, tapi untuk meninggikan kalimat Allah SWT dan berjihad di jalan-Nya." (Dzilaal, 3, 1550)

Kunci Kemenangan

Rahasia kedua, juga disebutkan dalam ayat di atas, tentang karakter khusus kelompokberiman yang sedikit itu. Yakni sikap sabar.

“…Jika ada dari antara kamu dua puluh orang yang sabar tentu mereka akan bisa mengalahkan dua ratus orang.” (QS. al-Anfaal : 65).

Ibnul Qayyim -rahimahullahdalam kitab Madarijus Salikin mengungkapkan bahwa kata sabar ini bertebaran pada kurang lebih sembilan puluh tempat dalam al-Qur'an.

Di antara medan sabar menurut al-Qur'an adalah sabar atas beban da’wah ilallah. Da’wah menuntut pembebasan manusia dari hawa nafsu, merdeka dari perbudakan sesama manusia. Da’wah juga membebaskan manusia dari sesembahan kepada nenek moyang, tradisi jahiliyah, dan sebagainya.

Sudah tentu, para penghasung da’wah seperti ini akan menghadapi berbagai bentuk perlawanan yang menggunakan segala bentuk senjata, baik berupa harta, kekuasaan, kekuatan, kewibawaan, maupun pengaruh. Tak ada jalan lain bagi para da’i kecuali berpegang teguh dengan keyakinan bersenjatakan kesabaran dalam menghadapinya. Sabar dikatakan oleh Imam Ali ra, laksana pedang yang tak pernah tumpul dan cahaya yang tak kunjung redup. Dalam hadits shahih, Rasulullah SAW bersabda bahwa sabar itu adalah dhiya (cahaya).

Wasiat Luqman kepada anaknya dalam al-Qur‘an, juga mengaitkan sabar dengan amar ma'ruf nahyul mungkar,

“Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah manusia mengerjakan yang baik dan cegahlah manusia dari perbuatan mungkar, dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). ” (QS. Luqman : 17).

Ayat ini seolah mengisyaratkan bahwa dalam melakukan aktivitas da'wah, seorang da’i harus mempersiapkan diri untuk bersabar menanggung derita dan gangguan.

Sabar Dalam Berjuang (Dakwah)

Beban-beban da’wah ilallah wujudnya beraneka ragam, di antaranya :

Pertama, sabar dalam bentuk berpalingnya manusia dari da'wah. Hal ini merupakan sesuatu yang paling menyesakkan dada seorang juru da'wah. Dalam al-Qur‘an tertuang pengaduan dan ungkapan keprihatinan beberapa utusan Allah disebabkan kaum mereka yang berpaling dari da’wah. Seperti ungkapan Nabi Nuh as,

“Rabbi, sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang, tetapi seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran). Dan Sesungguhnya setiap aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (ke mukanya) dan mereka tetap (mengingkari) dan menyombongkan diri dengan sangat.” (QS. Nuh : 57).

Karena itu, Allah SWT berfirman kepada Rasulullah SAW,

“Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka.” (QS. an-Nahl :127).

Kedua, sabar dalam menghadapi gangguan manusia baik dengan ungkapan atau perbuatan. Tak ada sesuatu yang paling menyedihkan seorang da’i yang ikhlas dan mencintai kebaikan ummat, selain dari sikap manusia yang menyambut da'wahnya dengan lontaran fitnah dan tuduhan-tuduhan palsu. Atau bahkan membalas kebaikannya dengan kekerasan, kejahatan, siksaan, dan pembunuhan.

Inilah yang disumpahkan al-Qur‘an tentang kepastian terjadinya atas para da’i. Ketika hal ini terjadi, Allah SWT lagi-lagi mengajarkan kaum mu‘minin untuk mempersiapkan diri dengan senjata sabar.

Kamu sungguh-sungguh akan diuji menyangkut harta dan dirimu, dan kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi Kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertaqwa, maka sesungguhnya yang demikian itu urusan yang patut diutamakan.” (QS. Ali Imran)

Tentang bentuk sabar ini, para nabi telah mencontohkan secara baik. Allah SWT menceritakan ucapan mereka sebagai berikut, Dan kami sungguh-sungguh akan bersabar terhadap gangguangangguan yang kamu lakukan kepada kami..." (QS. Ibrahim : 12).

Ketiga, sabar terhadap panjangnya perjalanan dan lamanya kemenangan da’wah. Kemenangan da’wah memang sudah ditetapkan oleh Allah SWT. Namun itu tidak terwujud dalam sehari semalam. Matahari tidak akan terbit kecuali setelah melalui malam panjang yang penuh gelap, kesulitan, dan cobaan berat yang silih berganti. Dalam beberapa tempat, dan dengan gaya bahasa berlainan, al-Qur‘an menjelaskan kenyataan ini. Antara lain, Sehingga apabila para rasul itu tidak punya harapan lagi (tentang keimanan mereka), dan meyakini bahwa mereka telah didustakan, datanglah kepada Rasul itu pertolongan Kami. Lalu diselamatkanlah orang-orang yang Kami kehendaki…) (QS. Yusuf : 110).

Keempat, sabar ketika bertempur menghadapi lawan. Pada saat peperangan, mundur dan berpaling dari musuh dihitung sebagai dosa besar. Sebaliknya, teguh dan sabar menjadi keharusan. Sabar merupakan faktor utama dalam kemenangan dan tak mungkin ditinggalkan. Dalam surat al-Anfal ayat 45-46, Allah SWT memberikan enam syarat kemenangan. Di antaranya adalah keteguhan (tsabat) dan sabar.

Alloh berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِذَا لَقِيتُمۡ فِئَةٗ فَٱثۡبُتُواْ وَٱذۡكُرُواْ ٱللَّهَ كَثِيرٗا لَّعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ (45) وَأَطِيعُواْ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ وَلَا تَنَٰزَعُواْ فَتَفۡشَلُواْ وَتَذۡهَبَ رِيحُكُمۡۖ وَٱصۡبِرُوٓاْۚ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلصَّٰبِرِينَ (46) وَلَا تَكُونُواْ كَٱلَّذِينَ خَرَجُواْ مِن دِيَٰرِهِم بَطَرٗا وَرِئَآءَ ٱلنَّاسِ وَيَصُدُّونَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِۚ وَٱللَّهُ بِمَا يَعۡمَلُونَ مُحِيطٞ (47)

“Wahai kaum mukmin, jika kalian bertemu dengan pasukan musuh ketika berperang, maka teguhkanlah hati kalian, dan perbanyaklah mengingat Allah, supaya kalian beruntung. Wahai kaum mukmin, taatlah kalian kepada Allah dan Rasul-Nya. Janganlah kalian berselisih ketika memerangi musuh, karena kalian akan lemah dan hilang kewibawaan kalian. Bersabarlah kalian dalam menghadapi musuh. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar. Wahai kaum mukmin, janganlah kalian seperti orang-orang yang keluar dari kampung halaman mereka dengan congkak dan memamerkan kekuatannya kepada orang lain, serta menentang agama Allah. Allah Maha Mengetahui apa saja yang kalian lakukan." (QS. al-Anfaal : 45-47).

Kemenangan Pasukan Thalut

Sabar dalam peperangan itu perlu. Apalagi saat menyebarnya kelemahan serta menurunnya semangat pasukan karena kondisi genting, misalnya. Ini terjadi dalam Perang Badar dan Perang Uhud.

Bentuk kesabaran semacam ini juga terdapat dalam kisah pertarungan antara Thalut dan Jalut. Dalam sebuah riwayat dikatakan jumlah pasukan Thalut kala itu kurang lebih 300-an orang; sebagaimana jumlah pasukan Badar. Thalut menguji pasukannya untuk tidak minum kecuali satu cidukan tangan. Hanya sedikit kelompok yang lulus dalam ujian ini, sebagai bukti kesabaran. Mereka melanjutkan perjalanan bersama Thalut. Al-Qur‘an memuat do'a mereka,

“Wahai Rabb kami, tuangkanlah kesabaran kepada kami dan kukuhkanlah pendirian kami dan, tolonglah kami terhadap orangorang kafir.” (QS. al-Baqarah : 249-250).

Pertama kali, mereka meminta agar Allah memberi kesabaran, sebagai jalan menuju kemenangan. Permintaan itu dinyatakan dalam ungkapan yang baik. Mereka tidak meminta kesabaran dalam ukuran tertentu, tetapi meminta agar dituangkan kesabaran oleh Allah sebanyak-banyaknya, sebagaimana air untuk menyucikan dan memandikan mereka. Pada akhirnya, kelompok pasukan yang sedikit ini berhasil meraih kemenangan. Wallahu a'lam bi shawab.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama