Kisah Ketabahan Urwah bin Zubair dalam Menghadapi Ujian

Fikroh.com - ‘Urwah bin Zubair adalah seorang Tabi’in terkemuka. Beliau adalah putra salah seorang sahabat mulia, Zubair bin Awwam. Suatu hari kakinya cedera dan lambat laun membusuk, tulang di dalamnya remuk dan otot-ototnya terkoyak. Beberapa tabib memeriksanya, mereka memutuskan mengamputasi kakinya agar penyakit tidak menyebar ke bagian tubuhnya yang lain.

Ketika mereka hendak mengamputasi kakinya itu mereka membiusnya terlebih dahulu. Mulailah mereka mengamputasi kakinya. Mereka memiringkannya. Darah segar mengucur dengan keras. Mereka menggunakan sejenis minyak dan mengoleskannya pada pangkal kakinya sehingga darahpun berhenti. Kemudian mereka menyeka darah di kakinya dengan kain.

Mereka menunggunya siuman. Setelah sadar, dia melihat potongan kakinya di taruh di sebuah bejana. Dia bertasbih saat menyaksikan darahnya. Dia berkata, “Sungguh Alloh tahu, aku tidak pernah berjalan denganmu menuju perbuatan maksiat dalam keadaan aku menyadarinya.

Mulailah orang-orang masuk menjenguknya, memberikan semangat hidup karena telah kehilangan kakinya, menasihati untuk bersabar atas musibah yang menimpanya. Ketika mereka banyak berbicara di depannya, dia mengangkat pandangannya ke langit dan berkata, “Ya Alloh, aku mempunyai empat anggota gerak. Engkau mengambilnya satu dan menyisakan tiga, maka segala puji bagi-Mu tidak mengambil tiga dan menyisakan satu. Ya Alloh , jika Engkau memberikan ujian kepadaku, aku tak peduli selama Engkau tetap menyelamatkan aku. Jikalau Engkau mengambilnya dariku, aku tak peduli selama masih ada yang Engkau sisakan untukku.

Beliau mempunyai tujuh orang anak. Mereka yang mengurusi dan menghiburnya. Suatu hari salah seorang dari mereka masuk ke kandang kuda untuk satu keperluan. Dia berjalan dibelakang seekor kuda yang galak. Tiba-tiba kuda itu mengamuk dan menerjang anak itu. Kaki kuda itu tepat mengenai bagian bawah perutnya, lalu anak itupun meninggal. Orang-orang yang ada di sekitarnya terkejut. Merekapun segera mengangkat dan membawanya.

Ketika anak itu selesai dimandikan dan dikafani, datanglah ayahnya untuk menyolati. Beliau bersandar dengan tongkat di ketiaknya. Tatkala melihat jenazah anaknya, dia berkata, “Ya Alloh, aku mempunyai tujuh orang anak, Engkau mengambil satu dari mereka dan menyisakan enam lainnya. Maka segala puji bagi-Mu tidak mengambil enam dan menyisakan satu, Ya Alloh , jika Engkau memberikan ujian kepadaku, aku tak peduli selama Engkau tetap memberi keselamatan kepadaku. Jikalau Engkau mengambilnya dariku, aku tak peduli selama masih ada yang Engkau sisakan untukku”.

Berapa banyak orang-orang sekedar sakit perutnya, ia menjerit dan mengerang. Ia lupa kepala dan kakinya yang sehat.

Maka pujilah Alloh yang mengujimu dengan satu jenis penyakit saja, dan tidak mengujimu dengan sepuluh penyakit sekaligus. Tengoklah orang-orang sakit yang ada disekelilingmu. Maka pujilah Alloh yang telah menyelamatkanmu dari penyakit yang menimpa mereka, dan telah melebihkanmu dari kebanyakan makhluk-Nya dengan sebenar-benar kelebihan.

Tidak.. kami tidak menginginkan itu saja darimu, bahkan harapan kami kepadamu lebih besar dari itu. Kami ingin engkau adalah orang yang mendapat petunjuk sekaligus memberi petunjuk, orang yang bersabar sekaligus membuat orang lain bersabar. Tidaklah engkau melihat orang yang menderita karena sakit kecuali engkau menghiburnya. Tidaklah engkau melihat orang yang bersedih kecuali engkau membuatnya gembira. Dan tidaklah engkau melihat orang yang mengeluh kesakitan kecuali engkau memberikan nasehat kepadanya. Maka jadilah engkau menara kebaikan untuk orang lain sekalipun engkau sendiri sedang sakit.. dan engkau pantas untuk itu dengan seizin Alloh.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama