Mengharukan, Kisah Masuk Islamnya Seorang Wanita Swedia

Fikroh.com - Malam itu kami berkumpul, malam yang sangat berkesan di hatiku bersama hati orang-orang shalih, mengingatkan kami hari-hari yang indah, hari-hari dan malam dimana kami menghirup sejuknya udara Islam yang dibasahi dengan dzikir kepada Allah Ta’ala.

Salah seorang saudara kami, Syaikh Fauzi bin Ahmad As-Sabati Al-Ghamidi alhamdulillah telah keluar rumah sakit dalam keadaan sehat wa’lafiyat setelah menjalani operasi di bagian kepala. Yang mengoperasi beliau adalah saudara kami dokter konsultan bedah saraf, dr. Ahmad Ammar, seorang dokter yang bertugas di Divisi Kesehatan Tentara Malik Fahd yang berlokasi di Zahran.

Beliau dikenal oleh dunia internasional dalam spesialisasi ini, beliau diakui oleh dokter-dokter senior di berbagai rumah sakit besar. Aku mendengar dari saudaraku tercinta Yahya bin Ali Al-Ghazwani bahwa Mayor Jenderal Dr. Khalaf bi Radn al-Muthiri, direktur Rumah Sakit Tentara Riyadh, pernah memuji beliau dengan pujian yang sangat tinggi.

Aku kagum dengan sikap Syaikh Fauzi dan dengan akhlak beliau yang luhur, ketika aku tahu bahwa acara malam itu adalah dalam rangka tamah tamah dengan dokter yang mulia ini.

Syaikh membuka pertemuan malam itu dengan kalimat yang sangat bagus, ringkas namun maknanya sangat dalam. Beliau memuji Allah Ta’ala dan mengembalikan semua kabaikan kepada-Nya. “Dokter Ahmad hanyalah sebab, lewat tangan beliau Allah berikan kesembuhan.”

Inilah yang beliau katakan.

Beliau juga berkata, “Malam ini aku mengundang yang terhormat dr. Ahmad bukan karena beliau telah menyembuhkan aku, sesungguhnya yang menyembuhkan aku adalah Allah Ta’ala. Bukan juga karena beliau merawat dan menangani penyakitku karena itu sudah merupakan tugas dan kewajiban beliau. Beliau menangani penyakitku sebagaimana beliau menangani orang lain dan ini sudah tugas beliau. Namun aku mengundang beliau karena akhlak beliau yang agung, budi pekerti beliau yang luhur, perhatian serta nasehat-nasehat beliau yang baik kepadaku, sekalipun beliau terkadang membahayakan aku dengan memintaku latihan berjalan lebih awal sebelum aku bisa menjaga keseimbanganku.” kata Syaikh sambil bergurau.

Syaikh menutup sambutannya dengan memuji Allah ‘Azza wa Jalla. Beliau mendoakan dr. Ahmad agar diberi taufik dunia dan akhirat. Pada kesempatan itu pula beliau menyerahkan sebuah jas dokter sebagai kenang-kenangan.

Aku berkata dalam hati, “Seandainya dr. Ahmad sudi kiranya menyampaikan sepatah dua patah kata kepada kami walapun hanya 5 menit.” Aku terus berfikir seperti itu sampai dr. Ahmad berdehem dan berbicara dangan kata-kata yang aku rasa aku dengar dengan seluruh pori-pori kulitku, tidak hanya dengan kedua telingaku. Kata-kata yang memancar darinya akhlak yang agung, ketulusan yang murni, ketenangan dan kedamaian, kecemburuan terhadap Islam, dan akhlak-akhlak islami dari seorang dokter muslim.

Apakah anda sekalian mau aku ceritakan apa yang beliau katakan? Dengarkanlah…

Beliau berkata:

Alhamdulillah, shalawat dan salam semoga tercurah kepada baginda Rasulullah beserta keluarga dan shahabat-shahabat beliau semuanya. Aku berterimakasih kepada syaikh Fauzi atas upaya yang beliau lakukan.

Perhatianku tertuju kepada satu kalimat yang beliau sampaikan, “Sesungguhnya yang menyembuhkan adalah Allah.”

Saudara-saudara sekalian.. Aku mempelajari bedah saraf di Swedia pada tahun 1979 M, yaitu sekitar 26 tahun yang lalu. Suatu hari aku diminta oleh salah seorang dokter senior di sana, di rumah sakit tempat aku bekerja, untuk mengerjakan operasi mengangkat tumor otak dari seorang pasien perempuan berumur sekitar 40 tahun.

Aku berdoa memohon pertolongan kepada Allah, aku mengerjakan operasi itu dibantu oleh dokter senior tersebut. Kami mengerjakannya dalam waktu yang tidak sebentar, sampai kami berhasil mengangkat tumor tersebut, alhamdulillah. Atas karunia Allah wanita itupun sembuh dari penyakitnya.

Kemudian.. setelah sepuluh hari berlalu aku masuk ke masuk ke kamar dimana wanita tersebut dirawat untuk mengangkat jahitan di kepalanya. Ketika aku mulai mengangkat jahitan, tanpa sengaja aku menggerakan kedua siku lenganku sehingga menyenggol sebuah lukisan yang tergeletak disamping tubuhnya, lalu diapun meletakkan lukisan tersebut ke lantai.

Aku membungkuk untuk menyingkirkan lukisan tersebut, aku melihat itu adalah lukisan seekor anjing. Aku menyingkirkannya dengan raut tidak suka, dan aku melihat rona kemarahan tersirat di wajah wanita itu.

Aku berkata kepadanya, “Ini adalah anjing!!”

Ia berkata, “Benar, anjing inilah satu-satunya yang menunggu kepulanganku di rumah.”

Akupun tahu bahwa tidak ada seorangpun yang berbahagia atas kebahagiaannya atau bersedih atas kesedihannya kecuali anjing itu.

Dia bertanya kepadaku, “Darimana anda?”

“Dari Mesir, orang arab muslim,” jawabku.

Mulailah dia mengoceh kepadaku tentang rendahnya kedudukan wanita di sisi kami (orang islam) dan kebebasan mereka yang terkekang menurut persangkaannya.

Aku menjawabnya, “Sesungguhnya wanita di kalangan kami sangat dimuliakan dan dijaga, ia seperti mutiara mahal yang sangat berharga. Semua orang membantu dan melindunginya, dia dibantu dan dijaga oleh suaminya, ayahnya, saudara laki-lakinya, dan keponakannya. Mereka semua membantunya. Tidaklah ia keluar ke pasar atau untuk suatu keperluan kecuali bersama salah satu dari mereka itu untuk menjaganya.

Tidak ada keraguan kami padanya, tidak ada sama sekali..

Namun kami menginginkannya agar ia berada di tempatnya yang paling tinggi..

Bagai Bintang yang tak dapat digapai oleh manusia..

Engkau melihatnya terjaga dalam ketinggiannya..

Islam menjadikan untuknya kedudukan yang tidak diperoleh oleh wanita manapun di dunia ini. Kami menjaganya tidak lain karena tingginya harkat dan martabatnya di hati kami, bukan karena kami tidak percaya kepadanya, bahkan ia sangat dipercaya, ibarat mawar indah yang tidak boleh dicium oleh setiap orang sehingga layu. Apabila ia sakit, ia menemukan semua keluarganya ada di sekitarnya, mereka mengelilinginya dan memenuhi semua kebutuhannya, mereka menemani dan memperhatikannya dengan sebaik-baiknya, hampir-hampir ia tidak menemukan tempat memijakkan kaki karena saking banyaknya orang-orang yang datang memenuhi kebutuhannya dari karib kerabatnya. Apabila ia keluar dari rumah sakit maka sudah ada pasukan dari keluarganya yang telah menunggunya, mereka ikut bahagia atas kebahagianya dan ikut gembira atas kegembiraanya. Bukan anjing yang menunggunya seperti keadaanmu sekarang ini.

Dia sangat marah dan menuduhku sebagai orang yang terbelakang dan tidak punya trend peradaban modern sedikitpun. Aku tersenyum dan aku keluar dari kamarnya setelah menyelesaikan pekerjaanku.

Tak lama aku terkejut, perempuan itu ternyata melaporkan aku ke salah dokter senior dan meminta supaya aku tidak diizinkan masuk lagi ke kamarnya, bahkan dia ingin keluar segera dari rumah sakit.

Aku berkata, “Dia harus tetap di rumah sakit minimal dua hari lagi supaya aku bisa menuntaskan terapinya dan memulangkannya dalam kondisi yang baik.” Setelah itu aku memberi intruksi pulang, dan diapun pulang.

Aku sudah tidak ingat sama sekali dengan sikapnya itu. Itu bukan pertama kalinya aku mendengar orang bule berkata seperti itu dan bukan pula yang terakhir.

Suatu malam aku terkejut ditelpon oleh seorang dokter dari Instalasi Gawat Darurat, dia memberitahuku kondisi aneh yang tidak bisa dia tangani.

Aku bertanya, “Apa itu?”

Dia memberitahuku bahwa pasiennya adalah seorang wanita yang mengalami kejang dan keram terus-menerus yang timbul setiap lima menit sekali. Aku cepat-cepat berangkat ke rumah sakit. Waktu itu tengah malam.

Aku terkejut, ternyata pasiennya adalah wanita itu. Dan aku sudah lupa dengan sikapnya dulu. Aku langsung mamasukkannya ke ruang operasi, aku melakukan operasi di kepalanya dan menghabiskan waktu sangat lama, alhamdulillah operasinya selesai dan berjalan sukses.

Kemudian aku masuk menemuinya setelah ia siuman. Ia mengangkat kepala dan memandangku, ia mulai berbicara dengan suara berat: “Engkau yang telah mengoperasiku?”

“Ya.” jawabku.

“Engkau tidak tidur sepanjang malam di dekatku?”

“Benar, itu sudah tugasku.” jawabku.

“Berarti engkau yang telah menyembuhkan aku.”

“Bukan.” jawabku.

“Lalu siapa? Apakah ada orang lain bersamamu?”

“Ya, Dia adalah Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mulia, Dialah yang telah menyembuhkanmu. Adapun aku hanyalah sebagai sebab, aku sekedar menangani dan mengobatimu.” jawabku.

“Engkau masih saja primitif, percaya dengan tahayyul dan hal-hal konyol di luar nalar. Aku heran denganmu padahal engkau seorang dokter yang cerdas dan perpendidikan, bagaimana bisa engkau percaya dengan hal-hal semacam itu?”

“Aku juga sangat heran denganmu padahal engkau menganggap dirimu sebagai orang yang cerdas dan berpendidikan, bagaimana bisa engkau tidak membaca tentang Islam, lalu membiarkan dirimu sendiri menuduh kami dengan serampangan?” jawabku kesal.

Aku sangat marah dengan kata-katanya itu, namun aku masih menahan diri karena dia sedang sakit dan aku berangan-angan penyakitnya ini suatu saat membawanya mendapatkan hidayah.

Akupun berpaling meninggalkannya. Setelah beberap hari wanita itupun keluar dari rumah sakit.

Sekitar enam bulan kemudian, seorang petugas yang bekerja bersama kami memberitahuku bahwa seseorang menelpon ingin berbicara denganku.

Aku mengangkat gagang telepon, “Benar, dengan siapa ini?”

Ternyata wanita itu, intonasi suaranya telah berubah, namun ia meminta kepadaku permintaan yang sangat aneh.

“Aku ingin melihatmu, bisakah engkau meminta cuti dua hari dari pekerjaanmu dan menemuiku di London?” pintanya.

Aku tidak mau, karena pekerjaanku terus menerus tidak ada liburnya. Dia memaksaku namun aku tetap menolaknya, lalu dia meminta kepadaku satu permintaan yang sangat aneh.

“Siapa nama ibumu?” tanyanya.

Aku berkata dalam hati, “Mungkin ini pengaruh operasi yang aku lakukan padanya, jangan-jangan menyebabkan gangguan pada pola fikirnya?”

“Mengapa engkau menginginkan nama ibuku?” Tanyaku.

Dia menjawab dengan suara keras, ” Karena aku telah bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak di sembah selain Allah dan Muhammad adalah rasulullah.. Aku telah masuk islam dan aku telah mengetahui jalan kebenaran… Engkau punya hak atas diriku dan aku ingin menamai diriku dengan nama ibumu.. Engkaulah yang telah menunjuki aku jalan kebenaran… Dan termasuk hakmu adalah aku akan mengingatmu selamanya dalam kebaikan…!!!!!!”

Majelis kami bergema dengan suara takbir dan tahlil.

Dr. Ahmad melanjutkan, “Hampir-hampir gagang telpon itu jatuh dari tanganku.”

Tiba-tiba beliau terdiam. Aku melihat kedua mata beliau meneteskan air mata. Suara beliau mulai terbata-terbata, beliau menyelesaikan ceritanya dengan suara berat. Beliau berkata:

Aku pergi menemui pimpinan rumah sakit untuk meminta cuti dua hari. Beliau berkata, “Dr. Ahmad, anda satu-satunya dokter yang belum pernah cuti selama dua tahun ini, ambillah lebih banyak.”

“Tidak, dua hari saja cukup, ” jawabku.

Aku pergi menemuinya, aku mendapatinya bukan seperti ia sebelumnya yang mengagungkan gambar anjing di sebelah kepalanya sewaktu di rumah sakit, seorang wanita yang telah berubah, telah berubah segala sesuatu pada dirinya; gaya bicaranya, pandangan matanya, cara berpakaiannya, aku memandangnya dengan malu-malu.

Aku pergi bersamanya ke Mahkamah dengan ditemani dua orang temanku untuk menyaksikan ikrar keislamannya. Di sana, di aula mahkamah, ia melantunkan kalimat syahadat: “Asyhadu allaa illaha illallah… Wa asyhadu anna muhammadar rasululluh..” Lalu ia membaca surah Alfatihah, bacaan yang berarti pembersihan diri (dari kekafiran).

Mata kami bercucuran dengan air mata, jiwa kami terenyuh, dan kami menangis seperti anak kecil karena saking bahagianya. Bagaimana kami tidak bahagia menyaksikan hari kelahirannya yang sesungguhnya dan hari ia keluar dari kegelapan (kekafiran) menuju cahaya (islam)? Dan bagaimana aku tidak menangis bahagia padahal Allah telah menjadikan aku sebagai sebab keislamannya dan selamatnya ia dari api neraka?

Aku shalat dua rakaat bersama teman-temanku sebagai rasa syukur kepada Allah, dan ia pun ikut shalat di belakang kami.

Ia berkata kepadaku, “Dokter, Apakah anda ingat lukisan anjing itu? Aku hampir menulis surat wasiat atas seluruh kekayaanku untuknya.”

“Ya,” jawabku.

Ia berkata, “Aku telah merusak dan membuangnya, aku menginfakkan seluruh hartaku di jalan Allah, dengan harta itu aku telah membangun sebuah Markaz Islam di sana.”

***

Dokter Ahmad mengusapkan tangannya pada kedua bola matanya. Air mata beliau hampir jatuh di kedua pipi beliau. Terlihat beliau sangat tersentuh, lalu beliaupun mengakhiri cerita beliau.

***

Aku melihat kepada para hadirin, terpancar dari wajah-wajah mereka cahaya keimanan. Merekapun berdoa untuk dokter muslim ini yang tidak pernah melupakan agamanya di tempat yang paling gelap dari cahaya islam sekalipun, di negara barat, di ujung bumi. Inilah akhlak seorang dokter, ia menyukai hidayah untuk orang lain.

Malam itu, aku dapatkan contoh dan teladan dari seorang dokter yang bangga dengan agamanya. Adapun aku, tenggorokan terasa kelu. Aku memberanikan diri meminta izin kepada dr. Ahmad untuk menulis kisah ini, beliau mengizinkan aku. Inilah kisah beliau, aku tulis tanpa komentar.

Sumber : ibnuhanifah.wordpress.com

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama