Inilah Pendapat Yang Kuat Mengenai Hukum Shalat Berjama'ah Bagi Laki-laki

Fikroh.com - Mengenai hukum shalat berjamaah bagi laki-laki termasuk ranah khilafiyah mu'tabarah, dimana perselisihan akan hukumnya sudah terjadi semenjak masa ulama-ulama salaf. Oleh karenanya tulisan ini sebatas memuat kembali pendapat para ulama tentang hal ini beserta dalil yang dijadikan hujah dari masing-masing pendapat. Adapun penulis memberikan penilaian dari pendapat-pendapat yang dianggap lebih rajih. Wallahu a'lam.

Definisi Shalat Berjama'ah

Petama-tama perlu kita fahami apa yang dimaksud shalat berjamaah. Shalat jama’ah adalah shalat yang dikerjakan secara berjama’ah dengan minimal dua orang, satu imam dan satu ma'mum.

Urgensi, Keutamaan Dan Beberapa Faedahnya

Shalat jama’ah mempunyai keistimewaan yang besar, karena itu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam sangat menganjurkan shalat jama’ah yang diterangkan melalui hadits berikut:

Hadits Ibnu Umar radhiallahu 'anhuma, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda :

صَلاَةُ الْجَمَاعَةِ تَفْضُلُ صَلاَةَ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً.

“Shalat jama’ah lebih utama daripada shalat sendiri dengan (pahala) dua puluh tujuh derajat.” [Hadits Riwayat: Al-Bukhari (645), Muslim (650)]

Hadits Abu Sa’id Al-khudri radhiallahu 'anhu, nabi Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

الصَّلاَةُ فِى جَمَاعَةٍ تَعْدِلُ خَمْسًا وَعِشْرِينَ صَلاَةً فَإِذَا صَلاَّهَا فِى فَلاَةٍ فَأَتَمَّ رُكُوعَهَا وَسُجُودَهَا بَلَغَتْ خَمْسِينَ صَلاَةً.

“Shalat jama’ah sama seperti dua puluh lima kali shalat sendiri, apabila dikerjakan di lapangan dengan menyempurnakan ruku’ dan sujudnya maka sama seperti lima puluh kali shalat.” [Hadits Riwayat: Abu Daud (560), Ibnu Majah (788), Ahmad (1/67). Hasan]

Hadits Utsman bin Affan radhiallahu 'anhuma. Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

مَنْ تَوَضَّأَ لِلصَّلاَةِ فَأَسْبَغَ الْوُضُوءَ ثُمَّ مَشَى إِلَى الصَّلاَةِ الْمَكْتُوبَةِ فَصَلاَّهَا مَعَ النَّاسِ أَوْ مَعَ الْجَمَاعَةِ أَوْ فِى الْمَسْجِدِ غَفَرَ اللَّهُ لَهُ ذُنُوبَهُ.

“Siapa yang menyempurnakan wudhunya, lalu melaksanakan shalat berjama’ah di masjid maka di ampuni dosa-dosanya.” [Hadits Riwayat: Muslim (232), An-Nasa`i (2/111), Ahmad (1/67)]

Hadits Abu Hurairah radhiallahu 'anhu, nabi Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

إِذَا تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ ، ثُمَّ خَرَجَ إِلَى الْمَسْجِدِ لاَ يُخْرِجُهُ إِلاَّ الصَّلاَةُ ، لَمْ يَخْطُ خَطْوَةً إِلاَّ رُفِعَتْ لَهُ بِهَا دَرَجَةٌ ، وَحُطَّ عَنْهُ بِهَا خَطِيئَةٌ ، فَإِذَا صَلَّى لَمْ تَزَلِ الْمَلاَئِكَةُ تُصَلِّى عَلَيْهِ مَا دَامَ فِى مُصَلاَّهُ اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِ ، اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ . وَلاَ يَزَالُ أَحَدُكُمْ فِى صَلاَةٍ مَا انْتَظَرَ الصَّلاَةَ.

“Apabila seseorang menyempurnakan wudhu kemudian keluar menuju masjid dengan tujuan hanya mengerjakan shalat maka akan diangkat satu derajat dalam setiap langkahnya dan dihapus kesalahannya. Apabila mengerjakan shalat maka malaikat tidak henti-hentinya meminta ampun untuknya selama berada di mushalla sambil memohon dan berkata, “Ya Allah ampunilah dia, Ya Allah kasihanilah dia. Selama dia menunggu shalat maka dia seperti mengerjakan shalat tersebut.” [Hadits Riwayat: Al-Bukhari (647), Muslim (649)]

Hadits Abu Hurairah radhiallahu 'anhu, nabi Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda :

لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِى النِّدَاءِ وَالصَّفِّ الأَوَّلِ ، ثُمَّ لَمْ يَجِدُوا إِلاَّ أَنْ يَسْتَهِمُوا عَلَيْهِ لاَسْتَهَمُوا ، وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِى التَّهْجِيرِ لاَسْتَبَقُوا إِلَيْهِ ، وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِى الْعَتَمَةِ وَالصُّبْحِ لأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًاز.

“Seandainya manusia mengetahui keutamaan adzan dan berada di saf awal ketika shalat kemudian tidak bisa memperolehnya kecuali hanya dengan undian maka lakukanlah, seandainya mereka mengetahui keutamaan takbir maka mereka berlomba-lomba untuk mendapatkannya dan seandainya mereka tahu keutamaan shalat malam dan subuh maka mereka akan mengerjakannya walau dengan merangkak.” [Hadits Riwayat: Al-Bukhari (615), Muslim (437)]

Hadits Utsman radhiallahu 'anhu, nabi Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

مَنْ صَلَّى الْعِشَاءَ فِى جَمَاعَةٍ فَكَأَنَّمَا قَامَ نِصْفَ اللَّيْلِ وَمَنْ صَلَّى الصُّبْحَ فِى جَمَاعَةٍ فَكَأَنَّمَا صَلَّى اللَّيْلَ كُلَّهُ.

“Siapa yang mengerjakan shalat ‘isya berjama’ah maka seperti shalat selama separuh malam dan siapa yang shalat subuh berjama’ah maka seperti shalat semalam penuh.” [Hadits Riwayat: Muslim (656), Abu Daud (555), At-Tirmidzi (221), Ahmad (1/57)]

Shalat jama’ah adalah ruh agama dan syiar Islam. Apabila suatu penduduk kampung meninggalkanya maka mereka dipaksa untuk mengerjakannya. [Al Mughni (2/176), Al Majmu’ (4/193)]

Hukum Shalat Berjama’ah Bagi Laki-Laki

Para ulama berbeda pendapat tentang hukum shalat berjama’ah bagi laki-laki, diantaranya sebagai berikut:

Pertama: Fardhu ’ain bagi laki-laki kecuali ada ‘uzur

Pendapat ini diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud dan Abu Musa. Pendapat ini juga diikuti oleh Imam ‘Atha, Awza’i, Abu Tsaur, Mazhab Imam Ahmad, Ibnu Hazm dan menjadi pilihan Syaikhul Islam. Pendapat pertama ini juga mempunyai pandangan yang berbeda mengenai “Apakah berjama’ah termasuk syarat sah shalat atau tidak?”. [Al Mughni (2/176), Kasyaf Al-Qanna’ (1/454), Al Badai’ (1/155), Al Muhalla (4/188), Majmu’ al-Fatawa (23/239)] Dalil-dalil yang menguatkan pendapat ini adalah:

Firman Allah Subhanahu wata'ala :

وَإِذَا كُنْتَ فِيهِمْ فَأَقَمْتَ لَهُمُ الصَّلَاةَ

“Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak melaksanakan shalat bersama-sama mereka.” [Al-Qur`an Surat: An Nisaa’: 102]

Kelompok ini mengatakan bahwa Allah memerintahkan shalat jama’ah walaupun dalam keadaan takut, maka shalat jama’ah pada waktu aman lebih utama. Dalam prektek shalat khauf (dalam keadaan takut) banyak gerakan-gerakan yang diringkas disebabkan oleh shalat berjama’ah. Apabila shalat jama’ah tidak wajib maka shalat khauf tidak dilakukan dengan berjama’ah.

Firman Allah Subhanahu wata'ala :

وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ

“Dan ruku'lah beserta orang-orang yang ruku'.” [Al-Qur`an Surat: Al Baqarah: 43]

Ayat diatas menunjukan bahwa ruku’ dikerjakan secara berjama’ah sehingga perintah ini hanya bisa dikerjakan dengan shalat berjama’ah. Adanya kemutlakan perintah menunjukan wajib untuk dikerjakan.

Hadits Abu Hurairah radhiallahu 'anhu, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ آمُرَ بِحَطَبٍ فَيُحْطَبَ ، ثُمَّ آمُرَ بِالصَّلاَةِ فَيُؤَذَّنَ لَهَا ، ثُمَّ آمُرَ رَجُلاً فَيَؤُمَّ النَّاسَ ، ثُمَّ أُخَالِفَ إِلَى رِجَالٍ فَأُحَرِّقَ عَلَيْهِمْ بُيُوتَهُمْ ، وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لَوْ يَعْلَمُ أَحَدُهُمْ أَنَّهُ يَجِدُ عَرْقًا سَمِينًا أَوْ مِرْمَاتَيْنِ حَسَنَتَيْنِ لَشَهِدَ الْعِشَاءَ.

“Demi yang jiwaku berada di genggaman Allah, sungguh aku ingin memerintahkan untuk mengumpulkan kayu bakar kemudian aku perintahkan untuk adzan dan shalat berjama’ah. Aku akan mendatangi mereka yang tidak berjama’ah dan membakar rumahnya. Kalaulah seorang dari mereka tahu bahwa mereka akan mendapatkan unta yang gemuk, niscaya mereka menghadiri shalat isya`." [Hadits Riwayat: Al-Bukhari (644), Muslim (651)]

Golongan ini mengatakan bahwa secara zahir hukum shalat jama’ah adalah fardhu ‘ain. Sekiranya sunnah maka rasul tidak akan mengancam membakar rumah orang yang meninggalkan jama’ah. Dan apabila fardhu kifayah maka cukup dikerjakan oleh Rasulullah dan para pengikutnya.

Hukum fardhu ‘ain yang ditunjukan hadits diatas mendapat sanggahan dari mazhab lain diantaranya adalah yang di maksud orang yang meningalkan jama’ah adalah orang munafik bukan orang mukmin dan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam dalam hadits tersebut mempunyai niat tapi tidak melakukan, apabila shalat jama’ah wajib maka Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam tidak akan mengampuninya. Bantahan mazhab lain juga menyatakan bahwa yang di maksud dengan shalat dalam hadits tersebut adalah shalat jum’at bukan shalat jama’ah. Bantahan tersebut di jawab dalam pembahasan yang lebih luas dalam kitab lain. [Lihat kitab Fathul Bari (2/147-151), Ihkamul Ahkam milik Ibnu Daqiq Al ‘Ied (1/166) dan kitab Muhalla (4/191)]

Hadits Abu Hurairah radhiallahu 'anhu:

أَتَى النَّبِىَّ صلى الله عليه وسلم رَجُلٌ أَعْمَى فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ لَيْسَ لِى قَائِدٌ يَقُودُنِى إِلَى الْمَسْجِدِ. فَسَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَنْ يُرَخِّصَ لَهُ فَيُصَلِّىَ فِى بَيْتٍ فَرَخَّصَ لَهُ فَلَمَّا وَلَّى دَعَاهُ فَقَالَ « هَلْ تَسْمَعُ النِّدَاءَ بِالصَّلاَةِ؟ فقال: نعم قال: فأجب.

“Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam di datangi oleh seorang laki-laki buta kemudian ia berkata, “Wahai Rasulullah, tidak ada yang menuntunku menuju masjid.” Kemudian ia meminta keringanan untuk shalat di rumah, Rasulullah pun memberi keringanan padanya, tatkala ia beranjak pergi Rasulullah bertanya, “Apakah kamu mendengar suara adzan? “Ya” jawab laki-laki buta tersebut, kemudian Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam menyuruhnya shalat jama’ah.” [Hadits Riwayat: Muslim ( 653), An-Nasa`i (2/109) dan lainya]

Hadits Malik Bin Al Huwairits radhiallahu 'anhuma :

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam mengatakan kepada kami -aku datang bersama beberapa orang dari kaumku-

إِذَا حَضَرَتِ الصَّلاَةُ فَلْيُؤَذِّنْ أَحَدُكُمْ فَلْيَؤُمَّكُم أَكْبَرُكُم.

“Apabila waktu shalat telah tiba maka kumandangkanlah adzan dan hendaklah orang yang paling tua diantara kalian menjadi imam shalat.” [Hadits Riwayat: Al-Bukhari (631), Muslim (674)]

Hadits yang diriwayatkan dari Abu Darda` radhiallahu 'anhu, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

مَا مِنْ ثَلاَثَةٍ فِى قَرْيَةٍ وَلاَ بَدْوٍ لاَ تُقَامُ فِيهِمُ الصَّلاَةُ إِلاَّ قَدِ اسْتَحْوَذَ عَلَيْهِمُ الشَّيْطَانُ فَعَلَيْكَ بِالْجَمَاعَةِ فَإِنَّمَا يَأْكُلُ الذِّئْبُ الْقَاصِيَةَ.

“Apabila tiga orang di suatu kampung atau hutan tidak melaksanakan shalat jama’ah maka mereka benar-benar telah dikuasai oleh setan, maka wajib bagimu untuk berjama’ah. Sesungguhnya serigala hanya memakan kambing yang terpisah.” 

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiallahu 'anhuma bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

مَنْ سَمِعَ النِّدَاءَ فَلَمْ يجب فَلاَ صَلاَةَ لَهُ إِلاَّ مِنْ عُذْرٍ.

“Siapa yang mendengar adzan tetapi tidak menjawabnya maka ia dianggap tidak shalat kecuali ada uzur.” Hadits ini diriwayatkan secara mauquf. [Hadits Riwayat: Abu Daud (551), Ibnu Majah (793), Hakim (1/245), Al-Baihaqi (7/57,174), Haditsmauquf]

Diriwayatkan dari Abdullah Bin Mas’ud radhiallahu 'anhuma:

لَقَدْ رَأَيْتُنَا وَمَا يَتَخَلَّفُ عَنِ الصَّلاَةِ إِلاَّ مُنَافِقٌ قَدْ عُلِمَ نِفَاقُهُ أَوْ مَرِيضٌ إِنْ كَانَ الْمَرِيضُ لَيَمْشِى بَيْنَ رَجُلَيْنِ حَتَّى يَأْتِىَ الصَّلاَةَ. وَقَالَ: إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم عَلَّمَنَا سُنَنَ الْهُدَى وَإِنَّ مِنْ سُنَنِ الْهُدَى الصَّلاَةَ فِى الْمَسْجِدِ الَّذِى يُؤَذَّنُ فِيهِ.

“Sungguh engkau telah melihat kami dan tidak ada yang meninggalkan shalat kecuali orang munafik atau orang sakit. Apabila orang sakit tersebut berjalan di tuntun oleh dua orang maka hendaknya mengerjakan shalat. Ia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam mengajarkan kita Sunan Al-Huda dan diantaranya adalah shalat di masjid setelah adzan dikumandangkan.” [HR. Muslim (654), Abu Daud (550), An-Nasa`i (2/108), Ibnu Majah (777) dengan redaksi yang lebih panjang]

Dijawab: Ini adalah ucapan sahabat yang menceritakan kebiasaan shalat jama’ah dan tidak pernah melakukan shalat sendiri, hal ini tidak menunjukan kewajiban. Hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah radhiallahu 'anhu dikhususkan oleh dalil lain yang menyatakan bahwa orang yang mendapat ancaman pembakaran rumah adalah orang munafik.

Kedua: Hukum shalat jama’ah bukan fardhu ‘ain. 

Dan ini adalah mazhab mayoritas ulama diantaranya adalah Imam Abu Hanifah, Imam Malik dan Imam Syafi’i namun mereka berselisih pendapat tentang hukumnya, ada yang mengatakan sunnah, ada yang mengatakan sunnah muakkad dan ada juga yang mengatakan fardhu kifayah [Al Badai’ (1/155), Ibnu Abidin (1/371), Al Qowanin (69), Al Khurasyi (2/16), Al Majmu’ (4/184), Mughnil Muhtaj (1/229)] Mereka berdalil sebagai berikut:

Sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam:

“Shalat berjama’ah lebih utama daripada shalat sendiri dengan selisih 27 derajat dibandingkan shalat sendirian”

Dan juga berdalil dengan hadits lainnya. Kelompok ini menjelaskan bahwa adanya kesamaan antara shalat berjama’ah dan shalat sendiri dalam hal asal keistimewaan. Hal ini menunjukan hukum shalat jama’ah bukan fardhu ‘ain karena tidak ada anggapan bahwa melakukan kewajiban lebih utama daripada meninggalkanya dan tidak ada anggapan kalau kalimat af’al terkadang untuk menetapkan sifat pada salah satu posisi dan meniadakan pada posisi lain. Begitu juga dengan kalimat afdhal yang di sandarkan pada kalimat shalat sendirian. Hal ini hanya berlaku pada kalimat af’alyang mutlak tanpa di ikuti oleh huruf “min” Dalam hadits riwayat imam Muslim disebutkan “lebih utama dari shalat sendirian”. Hadits tersebut menerangkan bahwa shalat sendiri adalah sah. [Tharhu Tarstib Imam Iroqi]

Keterangan diatas dibantah oleh kelompok pertama bahwa perbandingan dalam hal keistimewaan hanya terjadi pada shalat yang terkena uzur dan bukan pada keistimewaan shalat jama’ah dengan menggabungkan dalil-dalil yang ada.

Hadits Yazid Bin Aswad radhiallahu 'anhuma :

Kisah dua orang laki-laki yang shalat di perjalanan dan sampai di suatu masjid namun tidak mengerjakan shalat, Nabi berkata pada keduanya:

لاَ تَفْعَلاَ إِذَا صَلَّيْتُمَا فِى رِحَالِكُمَا ثُمَّ أَتَيْتُمَا مَسْجِدَ جَمَاعَةٍ فَصَلِّيَا مَعَهُمْ فَإِنَّهَا لَكُمَا نَافِلَةٌ.

“Janganlah kalian lakukan apabila telah mengerjakan shalat di perjalanan, kemudian kalian mendatangi masjid dan shalat berjama’ah. Maka itu menjadi shalat sunnah bagi kalian.” [Shahih dan sudah disebutkan dalam bab “waktu-waktu yang dilarang shalat”]

Kelompok ini menjelaskan bahwa Nabi tidak menyalahkan dua laki-laki yang mengerjakan shalat di perjalanan. Hadits diatas mendapat tanggapan yang bertolak belakang yaitu dua laki-laki tersebut mungkin mempunyai uzur sehingga meninggalkan shalat jama’ah.

Hadits riwayat Abu Musa radhiallahu 'anhu, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

أَعْظَمُ النَّاسِ أَجْرًا فِى الصَّلاَةِ أَبْعَدُهُمْ فَأَبْعَدُهُمْ مَمْشًى ، وَالَّذِى يَنْتَظِرُ الصَّلاَةَ حَتَّى يُصَلِّيَهَا مَعَ الإِمَامِ أَعْظَمُ أَجْرًا مِنَ الَّذِى يُصَلِّى ثُمَّ يَنَامُ. وَفِى لفظ لمسلم:حَتَّى يُصَلِّيَهَا مَعَ الإِمَامِ فِى جَمَاعَةٍ....

“Pahala shalat yang paling besar adalah pahala yang diperoleh oleh orang yang paling jauh tempat tinggal dan perjalanannya. Orang yang menunggu shalat bersama imam lebih besar pahalanya daripada orang yang shalat kemudian tidur. Dalam riwayat imam Muslim: “sampai mengerjakan shalat berjama’ah bersama imam.” [Hadits Riwayat: Al-Bukhari (651), Muslim (662)]

Hadits di atas menjelaskan kesamaan shalat sendiri dan shalat berjamaah di lihat dari segi perolehan pahala dan dalil ini adalah yang paling kuat.

Hadits riwayat Ibnu Umar Radhiallahu 'anhuma bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, “Ketika perang khaibar:

مَنْ أَكَلَ مِنْ هَذِهِ الشَّجَرَةِ - يَعْنِى الثُّومَ - فَلاَ يَقْرَبَنَّ مَسْجِدَنَا.

“Siapa yang makan tumbuhan ini (bawang putih) maka jangan mendekati masjid kami.” [Hadits Riwayat: Al-Bukhari (853), Muslim (561)]

Kelompok ini menjelaskan bahwa hadits di atas hanya mempunyai satu pilihan dari dua kemungkinan 

Pertama: Boleh makan bawang putih dan shalat jama’ah tidak fardhu ‘ain atau shalat jama’ah fardhu ‘ain

Kedua: Shalat berjamaah wajib dan dilarang makan bawang. Mayoritas ulama mengatakan bahwa bawang putih dan sejenisnya boleh di makan dan hukum shalat jama’ah adalah bukan fardhu ‘ain karena boleh meninggalkannya yang disebabkan memakan bawang tersebut.

Dijawab: Bahwa shalat jama’ah adalah wajib dan hanya bisa dikerjakan dengan tidak memakan bawang putih maka wajib untuk tidak memakannya ketika hendak mengerjakan shalat. 

Dalil hadits yang menceritakan laki-laki yang shalat di belakang Mu’az radhiallahu 'anhu dengan memanjangkan bacaan sehingga memutuskan untuk shalat sendiri kemudian ia bercerita pada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam tentang hal tersebut. Nabi pun tidak menyalahkannya. Dalil ini bisa dibantah bahwa imam yang memanjangkan bacaan termasuk uzur yang boleh meninggalkan jama’ah.

Pendapat Yang Rajih (Kuat)

Tidak diragukan lagi bahwa menggabungkan dalil-dalil yang ada adalah ketentuan yang tepat. Melalui dalil-dalil tersebut dengan tanpa mengesampingkan satu dan lainya. Kesimpulan analisa menurut penulis bahwa hukum shalat jama’ah adalah fardhu kifayah seperti yang di ucapkan oleh imam Syafi’i. Pendapat ini adalah pendapat yang adil dan benar. Perlu diperhatikan bahwa orang yang meremehkan shalat jama’ah apalagi meninggalkan dengan tanpa uzur adalah orang yang terhalang dari rahmat dan celaka. Wallahu a’lam.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama