Empat Syarat Iman Kepada Taqdir

Fikroh.com - Menurut aqidah Ahlus-Sunnah berpendapat bahwa keimanan terhadap takdir tidak akan sempurna kecuali dengan mengimani empat tingkatan takdir atau disebut juga rukun takdir. 

Keempat tingkatan tersebut adalah: 

Al-‘Ilmu (ﺍﻟْﻌِﻠْﻢُ) Yaitu, beriman bahwa Allah ta’ala mengetahui segala sesuatu yang ada maupun yang tidak ada; yang mungkin maupun yang tidak mungkin (mustahil); yang telah terjadi, sedang terjadi, dan yang belum terjadi; serta mengetahui bagaimana terjadinya.

Dalilnya adalah firman Allah ta’ala:

 ﻟِﺘَﻌْﻠَﻤُﻮﺍ ﺃَﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻋَﻠَﻰ ﻛُﻞِّ ﺷَﻲْﺀٍ ﻗَﺪِﻳﺮٌ ﻭَﺃَﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻗَﺪْ ﺃَﺣَﺎﻁَ ﺑِﻜُﻞِّ ﺷَﻲْﺀٍ ﻋِﻠْﻤًﺎ “

Agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah, ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu” [QS. Ath-Thalaq : 12]

ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﺑِﻜُﻞِّ ﺷَﻲْﺀٍ ﻋَﻠِﻴﻢ ٌ “

Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu” [QS. At-Taubah : 115]

ﺫَﻟِﻚَ ﻣَﺒْﻠَﻐُﻬُﻢْ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻌِﻠْﻢِ ﺇِﻥَّ ﺭَﺑَّﻚَ ﻫُﻮَ ﺃَﻋْﻠَﻢُ ﺑِﻤَﻦْ ﺿَﻞَّ ﻋَﻦْ ﺳَﺒِﻴﻠِﻪِ ﻭَﻫُﻮَ ﺃَﻋْﻠَﻢُ ﺑِﻤَﻦِ ﺍﻫْﺘَﺪَﻯ “

Itulah sejauh-jauh pengetahuan mereka. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang paling mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia pulalah yang paling mengetahui siapa yang mendapat petunjuk” [QS. An-Najm : 30]

ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻋِﻨْﺪَﻩُ ﻋِﻠْﻢُ ﺍﻟﺴَّﺎﻋَﺔِ ﻭَﻳُﻨَﺰِّﻝُ ﺍﻟْﻐَﻴْﺚَ ﻭَﻳَﻌْﻠَﻢُ ﻣَﺎ ﻓِﻲ ﺍﻷﺭْﺣَﺎﻡِ ﻭَﻣَﺎ ﺗَﺪْﺭِﻱ ﻧَﻔْﺲٌ ﻣَﺎﺫَﺍ ﺗَﻜْﺴِﺐُ ﻏَﺪًﺍ ﻭَﻣَﺎ ﺗَﺪْﺭِﻱ ﻧَﻔْﺲٌ ﺑِﺄَﻱِّ ﺃَﺭْﺽٍ ﺗَﻤُﻮﺕُ ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻋَﻠِﻴﻢٌ ﺧَﺒِﻴﺮ ٌ “

Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal” [QS. Luqmaan : 30]

. ﻭَﻟَﻮْ ﺗَﺮَﻯ ﺇِﺫْ ﻭُﻗِﻔُﻮﺍ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ ﻓَﻘَﺎﻟُﻮﺍ ﻳَﺎ ﻟَﻴْﺘَﻨَﺎ ﻧُﺮَﺩُّ ﻭَﻻ ﻧُﻜَﺬِّﺏَ ﺑِﺂﻳَﺎﺕِ ﺭَﺑِّﻨَﺎ ﻭَﻧَﻜُﻮﻥَ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨِﻴﻦَ * ﺑَﻞْ ﺑَﺪَﺍ ﻟَﻬُﻢْ ﻣَﺎ ﻛَﺎﻧُﻮﺍ ﻳُﺨْﻔُﻮﻥَ ﻣِﻦْ ﻗَﺒْﻞُ ﻭَﻟَﻮْ ﺭُﺩُّﻭﺍ ﻟَﻌَﺎﺩُﻭﺍ ﻟِﻤَﺎ ﻧُﻬُﻮﺍ ﻋَﻨْﻪُ ﻭَﺇِﻧَّﻬُﻢْ ﻟَﻜَﺎﺫِﺑُﻮﻥ َ “

Dan jika kamu (Muhammad) melihat ketika mereka dihadapkan ke neraka, lalu mereka berkata: "Kiranya kami dikembalikan (ke dunia) dan tidak mendustakan ayat-ayat Tuhan kami, serta menjadi orang-orang yang beriman", (tentulah kamu melihat suatu peristiwa yang mengharukan). Tetapi (sebenarnya) telah nyata bagi mereka kejahatan yang mereka dahulu selalu menyembunyikannya. Sekiranya mereka dikembalikan ke dunia, tentulah mereka kembali kepada apa yang mereka telah dilarang mengerjakannya. Dan sesungguhnya mereka itu adalah pendusta-pendusta belaka” [QS. Al-An’aam : 27-28].

Dalam QS. Al-An’aam ayat 27-28 di atas bahkan menunjukkan Allah ta’ala mengetahui apa yang akan terjadi seandainya terjadi (padahal hal itu tidak terjadi). Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya tentang anak-anak orang musyrik yang meninggal dunia sewaktu kecil. Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam menjawab: ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺃَﻋْﻠَﻢُ ﺑِﻤَﺎ ﻛَﺎﻧُﻮﺍ ﻋَﺎﻣِﻠِﻴﻦ َ “Allah lebih mengetahui apa yang akan mereka lakukan” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 1384 & 6598 & 6599 dan Muslim no. 2658 & 2659].

Maksudnya : Allah ta’ala mengetahui apa yang akan mereka lakukan seandainya mereka hidup dan tidak meninggal meninggal dunia sewaktu masih kecil.

Al-Kitaabah (ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺑَﺔُ ) Yaitu, beriman bahwa Allah ta’ala telah menuliskan segala sesuatu di sisi-Nya, di Lauh Mahfuudh, 50.000 tahun sebelum Allah ta’ala menciptakan langit dan bumi. Maka, tidak ada sesuatu yang telah terjadi, sedang terjadi, dan akan terjadi luput dari Lauh Mahfuudh.

Dalilnya sudah diutarakan di atas.

Al-Iraadah wal-Masyii-ah ( ﺍﻟْﺈِﺭَﺍﺩَﺓُ ﻭَﺍﻟْﻤَﺸِﻴْﺌَﺔُ ) Yaitu beriman bahwa segala sesuatu yang ada hanya terjadi dengan keinginan dan kehendak Allah ta’ala. Tidak ada sesuatupun yang terjadi melainkan apa yang telah dikehendaki Allah. Apa yang dikehendaki Allah ta’ala pasti terjadi, dan apa yang tidak dikehendaki Allah ta’ala tidak akan terjadi.

Allah ta’ala berfirman :

ﺇِﻧَّﻤَﺎ ﺃَﻣْﺮُﻩُ ﺇِﺫَﺍ ﺃَﺭَﺍﺩَ ﺷَﻴْﺌًﺎ ﺃَﻥْ ﻳَﻘُﻮﻝَ ﻟَﻪُ ﻛُﻦْ ﻓَﻴَﻜُﻮﻥ ُ 

“Sesungguhnya perintah-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: "Jadilah!" maka terjadilah ia” [QS. Yaasiin : 82]

. ﻭَﻣَﺎ ﺗَﺸَﺎﺀُﻭﻥَ ﺇِﻻ ﺃَﻥْ ﻳَﺸَﺎﺀَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺭَﺏُّ ﺍﻟْﻌَﺎﻟَﻤِﻴﻦ َ

 “Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam” [QS. At-Takwiir : 29]

ﻭَﺭَﺑُّﻚَ ﻳَﺨْﻠُﻖُ ﻣَﺎ ﻳَﺸَﺎﺀُ ﻭَﻳَﺨْﺘَﺎﺭ ُ “

Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya” [QS. Al-Qashash : 68]

ﻫُﻮَ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﻳُﺼَﻮِّﺭُﻛُﻢْ ﻓِﻲ ﺍﻷﺭْﺣَﺎﻡِ ﻛَﻴْﻒَ ﻳَﺸَﺎﺀ ُ “

Dialah yang membentuk kamu dalam rahim sebagaimana dikehendaki-Nya” [QS. Ali ‘Imraan : 6].

Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda

ﺇِﻥَّ ﻗُﻠُﻮﺏَ ﺑَﻨِﻲ ﺁﺩَﻡَ ﻛُﻠَّﻬَﺎ ﺑَﻴْﻦَ ﺇِﺻْﺒَﻌَﻴْﻦِ ﻣِﻦْ ﺃَﺻَﺎﺑِﻊِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤَﻦِ ﻛَﻘَﻠْﺐٍ ﻭَﺍﺣِﺪٍ ﻳُﺼَﺮِّﻓُﻪُ ﺣَﻴْﺚُ ﻳَﺸَﺎﺀ ُ “

Sesungguhnya hati-hati Bani Adam (manusia) semuanya berada di antara dua jari dari jari-jari Ar-Rahmaan, seperti satu hati yang dapat dipalingkannya sesuai kehendak-Nya” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 2654].

Keinginan dan kehendak Allah ta’ala berporos pada rahmat dan hikmah-Nya. Allah ta’ala memberikan petunjuk kepada siapa saja yang Ia kehendaki dan menyesatkan siapa saja yang Ia kehendaki.

Allah ta’ala tidak ditanya tentang apa yang dilakukannya karena kesempurnaan hikmah dan kekuasaan-Nya, namun para hamba-Nya lah yang (kelak) akan ditanya untuk dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dilakukannya semasa di dunia

ﻭَﻟَﻮْ ﺷَﺎﺀَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻟَﺠَﻌَﻠَﻜُﻢْ ﺃُﻣَّﺔً ﻭَﺍﺣِﺪَﺓً ﻭَﻟَﻜِﻦْ ﻳُﻀِﻞُّ ﻣَﻦْ ﻳَﺸَﺎﺀُ ﻭَﻳَﻬْﺪِﻱ ﻣَﻦْ ﻳَﺸَﺎﺀُ ﻭَﻟَﺘُﺴْﺄَﻟُﻦَّ ﻋَﻤَّﺎ ﻛُﻨْﺘُﻢْ ﺗَﻌْﻤَﻠُﻮﻥ َ “

Dan kalau Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikan kamu satu umat (saja), tetapi Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan sesungguhnya kamu akan ditanya tentang apa yang telah kamu kerjakan” [QS. An-Nahl : 93]

ﻻ ﻳُﺴْﺄَﻝُ ﻋَﻤَّﺎ ﻳَﻔْﻌَﻞُ ﻭَﻫُﻢْ ﻳُﺴْﺄَﻟُﻮﻥ َ “

Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya dan merekalah yang akan ditanyai” [QS. Al-Anbiyaa’ : 23].

Al-Khalq (ﺍﻟْﺨَﻠْﻖُ) Beriman bahwa Allah ta’ala adalah Pencipta segala sesuatu, baik dzat maupun perbuatannya; semua yang bergerak dan gerakannya; serta yang ada, yang pernah ada, maupun yang belum ada.

Oleh karena itu, tidak ada sesuatupun di langit dan di bumi kecuali Allah ta’ala adalah Penciptanya. Allah ta’ala berfirman

ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺧَﺎﻟِﻖُ ﻛُﻞِّ ﺷَﻲْﺀٍ ﻭَﻫُﻮَ ﻋَﻠَﻰ ﻛُﻞِّ ﺷَﻲْﺀٍ ﻭَﻛِﻴﻞ ٌ

Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu” [QS. Az-Zumar : 62]

ﺃَﻭَﻟَﻴْﺲَ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﺧَﻠَﻖَ ﺍﻟﺴَّﻤَﺎﻭَﺍﺕِ ﻭَﺍﻷﺭْﺽَ ﺑِﻘَﺎﺩِﺭٍ ﻋَﻠَﻰ ﺃَﻥْ ﻳَﺨْﻠُﻖَ ﻣِﺜْﻠَﻬُﻢْ ﺑَﻠَﻰ ﻭَﻫُﻮَ ﺍﻟْﺨَﻼﻕُ ﺍﻟْﻌَﻠِﻴﻢ ُ “

Dan tidakkah Tuhan yang menciptakan langit dan bumi itu berkuasa menciptakan kembali jasad-jasad mereka yang sudah hancur itu? Benar, Dia berkuasa. Dan Dialah Maha Pencipta lagi Maha Mengetahui” [QS. Yaasiin : 81].

Dua tingkatan pertama (al-‘ilmu dan al-kitaabah) diingkari oleh kelompok Qadariyyah awal yang muncul di jaman shahabat radliyallaahu ‘anhum. Para shahabat radliyallaahu ‘anhum mengkafirkan mereka, karena mereka menisbatkan kepada Allah ta’ala sifat bodoh (al-jahl). Ibnu ‘Umar radliyallaahu ‘anhumaa pernah berkata tentang mereka

ﻓَﺈِﺫَﺍ ﻟَﻘِﻴﺖَ ﺃُﻭﻟَﺌِﻚَ، ﻓَﺄَﺧْﺒِﺮْﻫُﻢْ ﺃَﻧِّﻲ ﺑَﺮِﻱﺀٌ ﻣِﻨْﻬُﻢْ، ﻭَﺃَﻧَّﻬُﻢْ ﺑُﺮَﺁﺀُ ﻣِﻨِّﻲ، ﻭَﺍﻟَّﺬِﻱ ﻳَﺤْﻠِﻒُ ﺑِﻪِ ﻋَﺒْﺪُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺑْﻦُ ﻋُﻤَﺮَ، ﻟَﻮْ ﺃَﻥَّ ﻟِﺄَﺣَﺪِﻫِﻢْ، ﻣِﺜْﻞَ ﺃُﺣُﺪٍ ﺫَﻫَﺒًﺎ، ﻓَﺄَﻧْﻔَﻘَﻪُ ﻣَﺎ ﻗَﺒِﻞَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻣِﻨْﻪُ، ﺣَﺘَّﻰ ﻳُﺆْﻣِﻦَ ﺑِﺎﻟْﻘَﺪَﺭ ِ “

Apabila engkau berjumpa dengan mereka, beritahukanlah kepada mereka bahwa aku berlepas diri dari mereka dan mereka pun berlepas diri dariku. Demi Dzat yang ‘Abdullah bin ‘Umar bersumpah dengannya, seandainya salah seorang diantara mereka memiliki emas sebesar Uhud lalu ia menginfakkannya, Allah tidak akan menerimanya hingga ia beriman kepada takdir” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 8].

Dikatakan para ulama bahwa kelompok Qadariyyah jenis ini sudah punah. Namun sayangnya, di jaman sekarang pemikiran ini dihidupkan kembali – diantaranya – oleh kelompok Islam Liberal.

Kelompok Qadariyyah kedua – dan ini adalah keumuman Qadariyyah yang ada hingga sekarang - adalah mereka yang beriman pada dua tingkatan pertama (al-‘ilmu dan al-kitaabah), dan juga beriman kepada kehendak (al-iraadah) dan al-khalq (penciptaan), namun mereka mengingkari keumuman kehendak dan keumanan penciptaan, sehingga mereka mengeluarkan perbuatan para hamba darinya.

Kelompok Qadariyyah ketiga adalah Qadariyyah Mujbirah atau yang lebih dikenal dengan Jabriyyah. Mereka berkata : Sesungguhnya para hamba dipaksa dalam perbuatan-perbuatan mereka, dan mereka tidak mempunyai pilihan. Apabila suatu perbuatan disandarkan kepada makhluk, maka itu hanyalah majaziy saja, karena yang berbuat secara hakiki adalah Allah. Hamba tidak ubahnya seperti kayu yang hanyut di air atau daun yang tertiup angin.

Kelompok Qadariyyah keempat adalah Qadariyyah Musyrikiyyah, yaitu mereka yang berhujjah dengan takdir terhadap kemaksiatan yang mereka lakukan, seperti perkataan orang-orang musyrik dalam firman Allah ta’ala :

ﻟَﻮْ ﺷَﺎﺀَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻣَﺎ ﺃَﺷْﺮَﻛْﻨَﺎ ﻭَﻻ ﺁﺑَﺎﺅُﻧَﺎ ﻭَﻻ ﺣَﺮَّﻣْﻨَﺎ ﻣِﻦْ ﺷَﻲْﺀ ٍ “

Jika Allah menghendaki, niscaya kami dan bapak-bapak kami tidak mempersekutukan-Nya dan tidak (pula) kami mengharamkan barang sesuatu apa pun” [QS. Al-An’aam : 148].

Berhujjah dengan takdir atas pelanggaran terhadap syari’at adalah bathil. Barangsiapa yang melakukan perbuatan maksiat yang telah ditentukan hukumannya dalam syari’at, lalu ia berhujjah dengan takdir, maka ia tetap dihukum dengan hukuman tersebut dan dikatakan kepadanya : ‘Sesungguhnya balasanmu dengan hukuman ini juga berdasarkan takdir. Akan tetapi jika seseorang beralasan dengan takdir atas kemaksiatan dan pelanggaran yang ia telah bertaubat darinya, maka ini diperbolehkan.

Hal ini dikarenakan pengaruh akibat perbuatan maksiat tersebut telah hilang dengan taubat. Ia berhujjah dengan takdir bukan untuk tujuan membenarkan perbuatan maksiat dan pelanggaran yang dilakukan.

Dalil atas pembolehan ini adalah kisah perdebatan antara Adam dan Muusaa ‘alaihimas-salaam:

 ﺍﺣْﺘَﺞَّ ﺁﺩَﻡُ، ﻭَﻣُﻮﺳَﻰ، ﻓَﻘَﺎﻝَ ﻟَﻪُ ﻣُﻮﺳَﻰ : ﻳَﺎ ﺁﺩَﻡُ، ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺑُﻮﻧَﺎ ﺧَﻴَّﺒْﺘَﻨَﺎ ﻭَﺃَﺧْﺮَﺟْﺘَﻨَﺎ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ، ﻗَﺎﻝَ ﻟَﻪُ ﺁﺩَﻡُ : ﻳَﺎ ﻣُﻮﺳَﻰ، ﺍﺻْﻄَﻔَﺎﻙَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺑِﻜَﻠَﺎﻣِﻪِ ﻭَﺧَﻂَّ ﻟَﻚَ ﺑِﻴَﺪِﻩِ، ﺃَﺗَﻠُﻮﻣُﻨِﻲ ﻋَﻠَﻰ ﺃَﻣْﺮٍ ﻗَﺪَّﺭَﻩُ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻲَّ ﻗَﺒْﻞَ ﺃَﻥْ ﻳَﺨْﻠُﻘَﻨِﻲ ﺑِﺄَﺭْﺑَﻌِﻴﻦَ ﺳَﻨَﺔً، ﻓَﺤَﺞَّ ﺁﺩَﻡُ ﻣُﻮﺳَﻰ، ﻓَﺤَﺞَّ ﺁﺩَﻡُ ﻣُﻮﺳَﻰ ﺛَﻠَﺎﺛًﺎ 

“Aadam dan Muusaa saling berhujjah (berdebat). Muusaa berkata kepadanya (Aadam) : “Wahai Aadam, engkau adalah ayah kami, engkau telah mengecewakan kami dan mengeluarkan kami dari surga”. Aadam berkata kepadanya : “Wahai Muusaa, Allah telah memilihmu dengan firman-Nya dan telah menuliskan (Taurat) dengan tangan-Nya untukmu. Apakah engkau mencelaku atas perkara yang Allah telah mentakdirkannya untukku 40 tahun sebelum Allah menciptakanku ?”. Maka Aadam mengalahkan Muusaa, Aadam mengalahkan Muusaa” – sebanyak tiga kali [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 6614 dan Muslim no. 2652]. Wallaahu a’lam.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama