4 Keadaan yang Disunnahkan Mengangkat Tangan Saat Shalat

Fikroh.com - Ada beberapa hal yang disunnahkan untuk dikerjakan dalam shalat, agar bisa mencapai pahala yang diinginkan. Diantaranya adalah sunnah mengangkat tangan. Berikut ini akan diuraikan secara rinci mengenai kapan atau tempat yang disunnahkan Mengangkat kedua Tangan saat shalat.

Keadaan yang disunnahkan Mengangkat Kedua Tangan Mengangkat kedua tangan disunnahkan pada empat keadaan berikut ini: 

Pertama, ketika melakukan Takbiratul ihram

Ibnu al-Mundzir berkata: Tidak ada perbedaan pendapat di antara ulama, bahwa Nabi selalu mengangkat kedua tangannya ketika memulai shalat; Ditambahkan juga oleh al-Hafidh Ibnu Hajar, bahwa hadits mengenai mengangkat dua tangan pada permulaan shalat ini diriwayatkan oleh lebih dari 50 sahabat, termasuk di antaranya sepuluh orang yang telah dijamin masuk surga, Sedangkan al-Baihaqi menceritakan dari al-Hakim, katanya: Tidak pernah kita temukan sunnah yang disepakati bersumber dari Nabi dan diriwayatkan oleh empat khalifah sekaligus dan bersumber dari para sahabat yang telah dijamin masuk surga, lalu diikuti riwayatnya oleh para ulama setelahnya yang tersebar di berbagai negara, selain sunnah ini. Karena itulah al-Baihaqi mengatakan: Eksistensi sunnah ini begitu mengagumkan sebagaimana telah diterangkan oleh guru kita, Abu 'Abdillah. 

Cara Mengangkat Tangan 

Terdapat banyak riwayat mengenai cara mengangkat dua tangan tersebut. Cara yang paling utama dan dipakai oleh jumhur ulama adalah mengangkat kedua tangan sejajar dengan dua bahu, sehingga ujung-ujung jari sejajar dengan puncak kedua telinga, kedua ibu jari sejajar dengan ujung bawah telinga dan kedua telapak tangan sejajar dengan kedua bahu. 

An-Nawawi berkata: as-Syafi'i memilih cara ini sebagai hasil dari penyatuan beberapa hadits, dan akhirnya banyak diikuti oleh umat Islam. Ketika itu, juga disunnahkan mengembangkan jemari, berdasarkan riwayat Abu Hurairah: 

“Bahwasanya Nabi SAW apabila hendak melakukan shalat, beliau mengangkat tangannya sambil mengembangkan. (jemarinya)” (HR. al-Khamsah kecuali Ibnu Majah)

Waktu Mengangkat Tangan 

Mengangkat tangan itu disunnahkan dilakukan bersamaan dengan waktu mengucapkan Takbiratul ihram atau mendahuluinya, berdasarkan hadits dari Nafi’, katanya: “Bahwasanya Ibnu 'Umar, apabila memulai shalat, dia membaca takbir seraya mengangkat kedua tangannya. Perbuatan tersebut dinyatakan berasal dari Nabi SAW. (HR. al-Bukhari, an-Nasa'i dan Abu Dawud) Dan riwayat dari Nafi’ juga, katanya: “Bahwasanya Nabi SAW mengangkat kedua tangannya ketika membaca takbir, hingga tangannya sejajar dengan bahunya atau hampir sejajar dengannya”. (HR. Ahmad dan lainnya) 

Mengenai dibolehkannya mengangkat tangan lebih dulu dari pada Takbiratul ihram, bersumber dari riwayat Ibnu 'Umar, dia menyatakan: 

“Apabila Nabi SAW berdiri hendak melakukan shalat, beliau mengangkat kedua tangannya hingga sejajar dengan kedua bahunya, lalu membaca takbir." (HR. al-Bukhari dan Muslim) 

Ada juga hadits dari Malik bin Huwairits dengah redaksi demikian: “Beliau membaca takbir, lalu mengangkat kedua tangannya” (HR. Muslim) 

Hadits di atas memberi isyarat agar kita melafadhr kan takbir tedebih dahulu baru kemudian mengangkat tangan. Akan tetapi al-Hafidz lbnu Hajar membantah tidak pernah mendengar ada orang yang mengatakan dibolehkannya mendahulukan takbir daripada mengangkat tangan.

Kedua dan ketiga, ketika hendak dan bangkit dari rukuk

Mengangkat tangan ketika turun untuk rukuk dan ketika bangkit darinya juga disunnahkan. Ada dua puluh lua sahabat yang meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW melakukan demikian. Hadits tersebut diterima dari Umar, katanya: “Apabila Nabi SAW. berdiri hendak melakukan shalat, maka beliau mengangkat kedua tangannya sejajar dengan kedua bahunya sambil membaca takbir. Kemudian apabila beliau hendak rukuk, beliau mengangkat tangannya juga seperti sebelumunya, dan apabila beliau mengangkat kepala hendak bangkit dari rukuk, beliau juga melakukan demikian sambil mengucapkan: Sami’allahu Liman Hamidahu, Rabbana wa Laka aLHamdu (Allah Maha Mendengar pujian orang yang memuji-Nya, Wahai Tuhan Kami, dan hanya untuk-Mu semata segala pujian)”. (HR al-Bukhari, Muslim dan al-Baihaqi) 

Dalam hal ini al-Bukhari menambahkan: Mengangkat tangan tersebut tidak dilakukan Nabi ketika akan sujud dan ketika bangkit darinya. Dan Muslim menguatkan: Hal itu tidak dilakukan Nabi ketika mengangkat kepala dari sujud. Dia menambahkan pula: Nabi tidak melakukannya juga di antara dua sujud. Kemudian al-Baihaqi mengakhiri, perkataanya: Shalat Nabi senantiasa demikian itu, hingga beliau dipanggil menemui Allah SWT. 

Ibnu al-Madini berkomentar: Menurut pendapatku, hadits ini menjadi argumentasi semua orang. Karenanya, barangsiapa yang mendengarnya hendaklah dia mengamalkannya, karena sanad hadits ini tidak terdapat cacat sedikitpun. Bahkan al-Bukhari telah menulis hadits mengenai masalah ini secara khusus, yang diriwayatkannya dari Hasan dan Humeid bin Hilal, yang menyatakan bahwa para sahabat semuanya senantiasa mengangkat tangan pada tiga tempat tersebut, dan tidak seorang pun menyalahinya. 

Mengenai pendapat madzhab Hanafi yang menyatakan bahwa mengangkat tangan itu disyariatkan hanya pada Takbiratul ihram, adalah pendapat yang tidak kuat. Karena pendapat itu didasarkan pada hadits Ibnu Mas'ud yang mencontohkan shalat Rasulullah SAW, “Kemudian beliau shalat dan tidak mengangkat tangannya kecuali hanya sekali". Hadits ini banyak mendapat kecaman dari para ahli hadits. Bahkan Ibnu Hibban menceritakan sebuah cerita yang dianggapnya baik, yaitu penduduk Kufah pernah meriwayatkan berita tentang tidak adanya contoh mengangkat tangan ketika akan rukuk dan bangkit darinya. Padahal, hakikatnya, berita itu berdasarkan pada argumen yang lemah, karena terdapat cacat yang membatalkannya. Misalkan saja hadits tersebut dapat diterima, sebagaimana penegasan at-Turmudzi. tetapi tidak akan dapat menyalahi dan membatalkan hadits-hadits sahih yang mencapai derajat masyhur. Dalam hal ini, penulis buku “at-Tanqih” mengemukakan adanya kemungkinan lbnu Mas'ud tidak ingat masalah mengangkat tangan sebagaimana dia juga pernah lupa persoalan lainnya. 

Az-Zaila’i berkata dalam kitab “Nushbu ar-Rayah” yang dinukilnya dari kitab “athanqih”, katanya: Lupanya lbnu Mas'ud dalam hal ini tidak mengherankan, karena dia juga pernah lupa tentang beberapa ayat al-Qur'an yang tidak diperselisihkan umat Islam hingga saat ini, yaitu ayat al-Mu’awwidzatain. Dia juga telah lupa kesepatakan ulama mengenai penghapusan ayat, dia lupa bagaimana cara berdirinya dua makmum di belakang imam, Juga dia telah lupa sesuatu yang tidak diperselisihkan ulama bahwa Nabi SAW tetap melakansanakan shalat Subuh pada Waktunya di hari Nahr (qurban). Dia juga lupa cara Nabi menjama' shalat ketika di Arafah, begitu juga dia lupa hal-hal yang tidak diperselisihkan lagi tentang cara meletakkan siku dan lengan di lantai ketika sujud. Dia juga telah lupa cara Nabi membaca Wama Khalaqa adzDzakara wa al Untsa. Jikalau Ibnu Mas'ud pernah lupa dengan sesuatu yang berkaitan dengan perbuatan-perbuatan shalat sebagaimana disebutkan, maka apakah dia tidak mungkin juga lupa tentang cara Nabi mengangkat tangan? 

Keempat, ketika bangkit hendak berdiri pada rekaat ketiga 

Seorang yang bangkit dari duduk dan hendak melakukan rekaat ketiga juga disunnahkan mengangkat kedua tangannya. Ini berdasarkan riwayat dari Nafi' yang menceritakan cara shalat Ibnu 'Umar, katanya: 

“Bahwasanya Ibnu 'Umar, ketika bangkit dari rekaat kedua, dia mengangkat kedua tangannya. Dan Ibnu ‘Umar menyatakan bahwa cara ini bersumber dari Nabi SAW”. (HR. al-Bukhari, Abu Dawud dan an-Nasa'i) 

Ada juga riwayat menceritakan cara shalat Nabi dari Ali, katanya: “Bahwasanya, apabila bangkit dari dua sujud, Nabi mengangkat kedua tangannya sejajar dengan kedua bahunya lalu membaca takbir) (HR. Abu Dawud, Ahmad, athurmudzi dan menyatakan hadits ini sahih) Yang dimaksud dengan dua sujud adalah dua rekaat. 

Persamaan Cara Bertakbir Bagi Laki-laki dan Persamaan 

Cara Bertakbir Bagi Laki-laki dan Perempuan 

Asy-Syaukani mengatakan bahwa cara bertakbir sebagaimana dijelaskan di muka berlaku sama bagi laki-laki dan perempuan, dan tidak ada satupun keterangan yang membedakan cara mengangkat tangan berdasarkan jenis kelamin. Begitu juga tidak ada penjelasan yang membedakan ukuran mengangkat tangan bagi laki-laki dan perempuan.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama