3 Hukum Nikah dan Penjelasannya

Fikroh.com - Mengenai Hukum Pernikahan Kaum muslimin telah sepakat bahwa pernikahan merupakan perkara yang disyariatkan dalam agama Islam. Adapun tentang hukumnya, maka para ulama berbeda pendapat menjadi tiga pendapat. [Lihat kitab Al-Mughni (VI/446), dan al-Ifshah karya Ibnu Hubairah (II/110)]

Pertama: Nikah Hukumnya Wajib Bagi Yang Mampu Sekali Seumur Hidup. 

Ini pendapat Daud azh-Zhahiri dan Ibnu Hazm, salah satu pendapat yang diriwayatkan dari Imam Ahmad dan dari Abu ‘Awanah al-Isfirayini murid Imam Syafi‘i, serta pendapat sekelompok ulama dari kalangan Salaf. [Al-Muhalla (IX/440), al-Mughni (VI/446), Fath al-Bari (IX/110), al-Badai‘ (II/228), dan Raudhah ath-Thalibin (VII/18)]

Mereka berdalil dengan zahir perintah-perintah yang terdapat dalam sejumlah nash yang disebutkan di bagian “Anjuran untuk Menikah”. Mereka mengatakan bahwa hukum asal suatu perintah adalah wajib, dan dalam masalah ini tidak ada satu pun faktor yang memalingkan maknanya (kepada mustahab).

Kedua: Nikah Hukumnya Mustahab (Sunnah).

Ini adalah pendapat mayoritas ulama baik dari kalangan Imam yang Empat atau pun selainnya. [Ibnu ‘Abidin (III/7), ad-Dasuqi (II/214), Bidayah al-Mujtahid (II/23)]

Mereka memaknai perintah untuk menikah sebagai perintah yang mustahab. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

فَانكِحُوا مَا طَابَ لَكُم مِّنَ النِّسَاءِ مَثْنَىٰ وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ ۖ

“Maka nikahilah perempuan-perempuan (lain) yang kalian senangi: dua, tiga atau empat.” [Surat an-Nisa’:3]

Mereka berkata tentang ayat ini, “Allah Subhanahu wata’ala mengikat perintah menikah di sini dengan perasaan senang. Oleh karena itu, siapa saja yang belum merasa senang untuk menikah, maka tidak mengapa baginya (tidak menikah). Selanjutnya, Allah berfirman, ‘Dua, tiga atau empat.’ Menurut kesepakatan ulama, ini bukanlah wajib, maka itu menunjukkan bahwa perintah di sini bersifat anjuran.

Pendapat ini dijawab: bahwa yang diikat dengan perasaan senang di sini adalah perintah ber-ta‘addud (poligami) bukan perintah menikah yang pertama.

Jumhur ulama berkata, “Demikian pula halnya dengan firman Allah Subhanahu wata’ala:

فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۚ

‘Kemudian jika kalian takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (nikahilah) seorang saja, atau budak-budak perempuan yang kalian miliki.’ [Surat an-Nisa’:3]

Mengingat bahwa tasarri (mengawini budak perempuan) tidak wajib hukumnya menurut kesepakatan ulama, maka otomatis menikah (dengan perempuan merdeka) juga tidak wajib hukumnya karena tidak mungkin ada pilihan antara yang wajib dan yang mandub.”

Pernyataan ini bisa dikomentari: bahwa ulama yang menyatakan menikah itu wajib, mereka membatasinya dengan ketentuan jika hasrat seseorang belum sampai mendorong kepada persetubuhan melalui tassari.

Ketiga: Nikah Hukumnya Berbeda-Beda Sesuai Dengan Keadaan Tiap-Tiap Individu.

Ini pendapat yang masyhur di kalangan Malikiyah, dan terdapat di dalam pembicaraan kalangan Syafi‘iyyah dan Hanabilah. Mereka mengatakan bahwa pernikahan:

1. Wajib hukumnya bagi orang yang telah bergelora hasrat bersetubuhnya sehingga jika tidak menikah, dia khawatir dirinya akan terjatuh ke dalam perbuatan yang keji (zina). Orang ini wajib menikah karena dia berkewajiban menjaga kesucian dirinya dan menjauhkannya dari hal-hal yang haram, dan jalan untuk itu adalah menikah. Kaidah mengatakan bahwa jika suatu kewajiban tidak sempurna kecuali dengan sesuatu, maka sesuatu itu pun wajib juga hukumnya.

2. Mustahab hukumnya bagi orang yang memiliki syahwat yang menggelora tetapi masih merasa sanggup menahan diri dari terjatuh ke dalam perbuatan yang keji. Pernikahan jauh lebih utama bagi orang yang kondisinya seperti ini daripada mengerjakan ibadah-ibadah yang sunnah. Ini pendapat jumhur ulama, kecuali asy-Syafi‘i yang berpandangan bahwa fokus mengerjakan ibadah-ibadah sunnah jauh lebih utama bagi orang ini, karena menurut beliau pernikahan dalam kondisi seimbang (antara syahwat yang menggelora dan kemampuan mengendalikannya) adalah mubah.

3. Haram hukumnya bagi orang yang (sadar bahwa dirinya) akan melalaikan hak istri untuk mendapatkan nafkah lahir (sandang, pangan, dan papan) dan batin (persetubuhan dan kasih sayang), di samping tidak memiliki kemampuan dan juga hasrat (nafsu) untuk menikah.

4. Makruh hukumnya bagi orang yang keadaannya seperti pada poin 3, tetapi tidak sampai menimbulkan kemudharatan bagi istri, maka lebih utama baginya menyibukkan diri dengan mengerjakan ibadah atau mencari ilmu.

Penulis berkata: Pernikahan termasuk sunnah yang sangat dianjurkan dalam agama. Ia merupakan sunnah para rasul sebagaimana disebutkan dengan jelas dalam kumpulan ayat dan hadits yang menganjurkan menikah --yang sebagiannya telah disebutkan di atas--. Tidak ada keraguan bahwa hukumnya menjadi wajib ketika seseorang khawatir dirinya terjatuh dalam perzinaan padahal dia mampu menikah. Adapun menghukumi sebagian bentuk pernikahan sebagai mubah, maka hal itu sama saja menolak kandungan dalil-dalil yang ada dan membantah anjuran-anjuran menikah yang telah disebutkan di atas. Begitu pula, tidak sepatutnya menghukumi haramnya pernikahan bagi orang yang tidak punya syahwat (impoten) karena pernikahan tentulah memiliki tujuan-tujuan lain yang mungkin untuk terealisasi. Jika istri rela dengan keadaan suami yang seperti itu dan suami juga tidak memalsukan keadaannya, maka tidak ada yang haram dalam pernikahan tersebut. Wallahu a‘lam.

Pernikahan Tidak Wajib Bagi Perempuan

Hal ini berdasarkan hadits Abu Sa‘id radhiallahu ‘anhu di mana dia berkata, “Seorang laki-laki datang dengan membawa seorang anak gadisnya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam lalu berkata, Anak gadisku ini tidak mau menikah. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada gadis itu, Taatilah ayahmu. Gadis itu menjawab, Tidak mau, sebelum Anda memberitahu saya apa saja hak seorang suami atas istrinya.[1] Dia mengulang-ulang perkataannya itu kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

حَقُّ الزَّوْجِ عَلَى زَوْجَتِهِ: أَنْ لَوْ كَانَ بِهِ قُرْحَةٌ فَلَحِسَتْهَا أَوْ ابْتَدَرَ مِنْخَرَاهُ صَدِيداً أَوْ دَماً ثُمَّ لَحِسَتْهُ مَا أَدَّتْ حَقَّهُ

‘Hak seorang suami atas istrinya adalah andaikan di tubuh suami ada luka, kemudian si istri menjilatinya, atau hidung suami mengeluarkan nanah atau darah, kemudian si istri menjilatinya, si istri belum dianggap sempurna menunaikan hak suaminya.’

Gadis itu berkata, ‘Demi Zat yang mengutus Anda dengan kebenaran, saya tidak akan pernah menikah selama-lamanya.’ Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لَا تُنْكِحُوهُنَّ إِلَّا بِإِذْنِهِنَّ

‘Janganlah kalian menikahkan mereka (para gadis) kecuali dengan seizin mereka.” [Hasan. Hadits Riwayat: Ibnu Abi Syaibah (17116)]

Penulis berkata: Hadits ini mengindikasikan bolehnya tidak menikah karena suatu uzur. namun yang lebih utama adalah menikah berdasarkan dalil-dalil yang menganjurkan nikah dan juga karena pernikahan mengandung banyak sekali manfaat. Jika seorang perempuan khawatir dirinya terjatuh ke dalam perbuatan keji, maka tak ada keraguan sedikit pun bahwa menikah wajib baginya.

Footnote:

[1] Jami‘ Ahkam an-Nisa’ (III/30). Pendapat ini yang dipegang oleh Ibnu Hazm (IX/441) meskipun dia berpendapat akan wajibnya menikah atas laki-laki yang mampu

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama