Sejarah Penting Bulan Shafar dan Kesesatan Ritual Jahiliyyah

Fikroh.com - Bulan Shafar adalah salah satu dari dua belas bulan Hijriyah, yaitu bulan setelah Muharam. Sebagaimana dinukil oleh Ibnul Manzhur, “Dinamakan hal itu kerena kekosongan Mekkah dari penduduknya ketika mereka bepergian. Dikatakan juga bahwa dinamakan bulan Shafar karena mereka para kabilah pergi berperang dan meninggalkan siapa yang ditemuinya barang bawaannya tanpa sisa". (Lisanul Arab, 4: 462-463).

Dahulu orang Arab Jahiliyah pada bulan Shafar melakukan banyak kemungkaran besar, diantaranya dengan menjadikan bulan Shafar sebagai waktu Haji dan pengganti dari bulan ‘Muharam’, serta meyakini bahwa Umrah pada bulan Haji termasuk perilaku yang sangat buruk. Dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma berkata, “Mereka dahulu berpendapat bahwa Umrah di bulan Haji adalah kedurhakaan paling besar di muka bumi. Mereka menjadikan Muharam sebagai bulan Shafar. Mereka mengatakan: Jika unta jamaah Haji telah kembali, bekas-bekas tapak kakinya telah hilang, bulan Shafar telah habis, maka dihalalkan Umrah bagi yang ingin menunaikan Umrah.” (HR. Bukhari & Muslim).

Diantara kesesatan mereka yang masih banyak terwarisi sampai sekarang adalah sikap pesimis pada bulan Shafar. Hal itu telah dikenal pada penduduk Jahiliyah dan masih membekas kepada sebagian orang yang menyandarkan kepada Islam. Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, “Tidak ada penyakit menular, Thiyarah, burung hantu dan Shafar (yang dianggap membawa kesialan). Dan larilah dari penyakit kusta seperti engkau lari dari singa.” (HR. Bukhari & Muslim).

Sebagaimana dijelaskan oleh Syekh Muhammad Sholih Al-'Utsaimin, bahwa pendapat yang paling kuat tentang maksud Shafar dalam hadits tersebut adalah bulan Shafar, dimana orang Jahiliyah bersikap pesimis dengannya. Padahal waktu tidak ada pengaruhnya dalam takdir Allah Ta'ala. Bulan Shafar dibandingkan bulan lainnya sama saja, ditakdirkan di dalamnya kebaikan dan keburukan.

Penyimpangan lain yang dilakukan sebagian kaum Muslimin di bulan Shafar adalah meyakini adanya sholat khusus padanya. Yaitu sholat Sunnah yang dilakukan pada hari Rabu akhir bulan Shafar pada waktu shalat Dhuha empat rakaat dengan satu kali salam. Dibaca pada setiap rakaat Surat Al-Fatihah, surat Al-Kautsar tujuh belas kali, surat Al-Ikhlas lima puluh kali, Muawidzatain sekali, dan itu dilakukan pada setiap rakaat dan salam. Lalu ditambah dengan beberapa doa khusus.

Mereka berkeyakinan bahwa setiap tahun ada tiga ratus dua puluh ribu bencana. Semua itu terjadi pada hari Rabu akhir di bulan Shafar, sehingga hari itu termasuk hari yang tersulit dalam setahun. Maka siapa yang menunaikan shalat ini dengan cara tadi, maka Allah akan menjaga dengan kemulyaan-Nya dari semua bencana yang turun pada hari itu.

Tentu ini semua adalah keyakinan dan rangkaian ritual yang tidak ditemukan dasarnya dalam Al-Qur'an, Hadits, dan kesepakatan para Ulama. Padahal telah ada ketetapan dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, bahwa siapa yang mengamalkan suatu amalan ibadah yang tidak ada perintah dari Allah dan Rasul-Nya, maka ia tertolak. Termasuk siapa yang menyandarkan keyakinan dan ritual ini kepada salah satu dari para shahabat adalah termasuk kebohongan yang besar. (Fatawa Lajnah Daimah: 2/354).

Ada juga sebagian orang yang berkeyakinan salah dengan menulis ayat As-Salam seperti, “Semoga keselamatan terlimpahkan kepada Nuh di seluruh alam” atau semisal itu di Rabu akhir bulan Shafar, kemudian ditaruh di gelas dan mereka meminum serta mengambil barokahnya. Termasuk saling memberi hadiah secara khusus, dimana mereka berkeyakinan bahwa hal ini dapat menghindari keburukan bulan Shafar. Ini adalah keyakinan yang salah dan sifat pesimis yang tercela. (As-Sunan wal Mubtadi’at: 111-112).

Keyakinan dan ritual yang tidak berdasar ini justru hanya akan membuat kaum Muslimin lemah dan pesimis, serta terlupakan dari berbagai peristiwa sejarah penting yang terjadi pada bulan Shafar. Padahal banyak kejadian penting terjadi pada bulan ini, baik peperangan maupun peristiwa penting yang terjadi pada kehidupan Nabi dan para Sahabat, yang bisa kita ambil inspirasi, hikmah dan pelajaran darinya.

Diantaranya yang paling fenomenal adalah kemenangan kaum Muslimin atas kaum Yahudi. Pada bulan Shafar seperti sekarang ini, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan para Sahabat berhasil menaklukan wilayah Khaibar dan membebaskannya dari orang-orang Yahudi.

Al-Wâqidi menyatakan bahwa perang Khaibar terjadi pada bulan Shafar atau Rabi’ul Awwal pada tahun ke-7 Hijriyah, sekembalinya kaum Muslimin dari perjanjian Hudaibiyyah (Al-Maghazi: 2/634). Ibnu Qoyyim juga menjelaskan, “Sesungguhnya beliau berangkat ke Khaibar di akhir bulan Muharam, bukan di awalnya, dan ditaklukkan pada bulan Shafar.” (Zaadul Ma’aad: 3/339-340).

Khaibar adalah wilayah yang terletak sekitar 180 kilometer dari Madinah. Di wilayah tersebut, terdapat benteng pertahanan kaum Yahudi dari Bani Nadhir pimpinan Harits bin Abu Zainab yang terang-terangan memusuhi Islam. Dimana pada mulanya kaum Yahudi dan kaum muslimin hidup berdampingan secara damai di Kota Madinah. Tetapi karena kaum Yahudi banyak melakukan pelanggaran terhadap janji yang sudah disepakati, maka Rasulullah mengusir mereka untuk keluar dari Madinah. Setelah diusir oleh Rasulullah, kaum Yahudi menempati wilayah Khaibar tersebut.

Kaum Yahudi yang memiliki dendam terhadap kaum Muslimin tersebut terus menyusun strategi untuk melakukan pembalasan. Secara kuantitas jumlah mereka memang sedikit, tetapi kaum Yahudi terkenal sangat cerdik dalam menyusun strategi perang. Mereka membentuk benteng-benteng yang berlapis dan kokoh. Bahkan sekelas pasukan Romawi pun tidak sanggup menembus benteng-benteng Khaibar.

Pada tahun ketujuh Hijriyah, Rasulullah dan pasukan kaum Muslimin yang berjumlah 1400 berangkat menuju Khaibar. Pasukan kaum muslimin sudah tiba sebelum waktu subuh dan membuat orang-orang Yahudi terkejut. Awalnya Abu Bakar dan Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhuma memegang komando pasukan dan memegang bendera perang. Tapi mereka belum berhasil menembus benteng pertahanan Khaibar.

Hingga kemudian Rasulullah mengalihkan komando kepada Sahabat yang lain. Diriwayatkan bahwa malam hari menjelang peperangan, Rasulullah ‘alaihis sholatu wassalam bersabda, “Sungguh besok aku akan berikan panji ini kepada seseorang, yang melalui tangannya Alloh akan memberi kemenangan. Ia mencintai Alloh serta Rasul-Nya, dan Alloh serta Rasul-Nya pun mencintainya” (HR. Bukhari).

Mendengar sabda Rasulullah ‘alaihis sholatu wassalam tersebut, berdebar lah dada para sahabat. Semua berharap bahwa lelaki beruntung yang dijanjikan sang Rasul itu adalah mereka. Tapi ternyata keesokan harinya yang dipanggil untuk diberi panji adalah ‘Ali bin Abi Thalib, yang saat itu sedang sakit mata. Dan benar saja, kemudian hari pasukan pimpinan 'Ali bin Abi Thalib berhasil mendobrak benteng Yahudi Khaibar dan meraih kemenangan.

Setelah kaum Yahudi kalah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bermaksud untuk mengusir mereka dari Khaibar. Akan tetapi mereka memohon kepada beliau agar membiarkan mereka mengurusi pertanian dengan perjanjian bagi hasil. Rasulullah pun menerima permohonan itu, dengan syarat kapan saja beliau menghendaki maka beliau berhak untuk mengusir mereka. Hingga akhirnya mereka diusir di zaman kekhalifahan Umar bin Khaththab setelah beberapa kali mereka berbuat kejahatan terhadap kaum muslimin.

Demikian ulasan singkat mengenai bulan Shafar. Dimana padanya ada sejarah penting yang bisa menjadi inspirasi kemenangan umat, namun sering terkubur oleh keyakinan-keyakinan pesimistis dan berbagai ritual yang tidak berdasar. Semoga Allah menjaga kita semua dari belenggu Takhayyul, Bid'ah dan Khurafat, demi terwujudnya masyarakat Islam yang berkemajuan. Aamiin.

Oleh: DR. Hakimuddin Salim
Ditulis untuk Buletin Aisyiah PCA Jatinom, Klaten

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama