Hukum, Hikmah dan Tujuan Nikah dalam Islam

Fikroh.com - Maha suci Allah yang telah menciptakan dua jenis insan dengan sebaik-baik kejadian, yang masing-masing memiliki kelebihan. Diciptakanlah makhluk itu menjadi dua jenis, agar saling membina hubungan dan jalinan yang harmonis.

Disunnahkan nikah, agar manusia tidak tersesat dalam bertingkah dan tidak pula terjerumus dalam mengayunkan langkah. Allah SWT telah membekali al-Qur‘an sebagai pedoman, Muhammad Rasulullah SAW sebagai teladan dan panutan, agar jalinan dua insaan memiliki tanggung jawab dalam perilaku dan perbuatan; baik hari ini, esok, maupun hari kemudian. Baca juga: Macam-macam nikah yang Diharamkan dalam Islam.

Larangan Hidup Membujang

Pria dan wanita mempunyai naluri untuk saling bertemu, baik dalam rangka memenuhi kebutuhan biologis, rohaniyah, maupun sosialnya. Ini adalah fitrah.

Sebagai agama fitrah, Islam melarang keras ummatnya hidup membujang, sekalipun dengan dalih demi kosentrasi ibadah kepada Allah, demi lebih banyak dzikrullah, bisa lebih banyak shalat, demi bisa lebih banyak puasa, bertaqarrub kepada Allah SWT dan sebagainya. Karena pernikahan dengan segala aktivitasnya itu sendiri adalah ibadah. Nilai pahalanya tidak kalah dengan dzikrullah dan sebagainya itu. Dari hubungan biologis sampai-sampai suapan nasi, ada nilai ibadah. Statemen Rasulullah:

“Dalam kemaluan itu ada shadaqah (pahala). Karena seksualitasmu itu apabila jatuh ke tempat yang haram akan mendapatkan dosa. Maka begitu juga kalau jatuh ke tempat yang halal, ia akan mendapatkan pahala.” (HR Muslim)

Dan juga dalam sabda beliau yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad:

“Siapa menafkahi dirinya sendiri dengan tujuan supaya dengan nafkah itu ia dapat terpelihara dari perbuatan durhaka, maka nafkahnya itu adalah sedekah, dan siapa memberi nafkah kepada istrinya anak-anaknya dan keluarganya, maka nafkah itu adalah sedekah.”

Sebutan kata shadaqah di sini, maksudnya berpahala. Dengan pengertian disamakan dengan sedekah, yang juga berpahala. Dalam ilmu balaghah disebut “tasybih baligh”.

Atas dasar itulah, Islam tidak menyukai ummatnya membujang. Diriwayatkan, bahwa ada Tiga orang mendatangi tempat Rasulullah SAW. untuk menanyakan perihal ibadah beliau. Setelah diterangkan oleh Aisyah ra. betapa hebatnya ibadah beliau, maka salah seorang nyeletuk, “Kalau begitu saya tidak akan menikah selamanya.” Mendengar ucapan itu, Rasulullah SAW menyanggah dengan sabdanya,

“Ketahuilah, demi Allah saya ini adalah orang yang paling takut dan bertaqwa kepada Allah, namun saya juga puasa dan berbuka, shalat juga tidur, dan saya juga mengawini perempuan. Karena itu siapa yang tidak menyukai sunnahku berarti dia bukan dari golonganku.” (HR Bukhari dan Muslim).

Beliau juga bersabda,

“Sejelek-jelek kamu adalah orang yang hidup membujang, dan serendah-rendah mayitmu adalah orang yang hidup membujang.” (HR Bukhari).

Ketegasan sikap Rasulullah ini merupakan upaya beliau dalam mentarbiyah (mendidik) ummat Islam untuk menyalurkan naluri fitrahnya sesuai dengan aturan dan tatanan Islam yang lurus dan benar.

Anjuran Menikah

Hidup membujang laksana hidup dalam kesengsaraan dan kekeringan. Tak pernah merasakan siraman air kehangatan dan kedamaian. Rasulullah SAW sebagai tipe ideal dan panutan ummat secara tegas memerintahkan kepada para pemuda yang sudah memiliki kesiapan dan kecukupan untuk segera menikah. Karena nikah adalah perbuatan yang mulia dan bagian dari sunatullah. Sabda Rasulullah,

“Hai para pemuda, siapa yang telah mampu untuk menikah, hendaklah menikah. Sebab nikah itu dapat menundukkan pandangan dan menjaga kehormatannya. Tapi siapa yang belum mampu, hendaklah menahan diri dengan berpuasa sebagai penawarnya.” (HR Muslim)

Di samping itu Rasulullah juga mengingatkan bahwa nikah itu adalah amalan yang terpuji dan merupakan separuh kesempurnaan pelaksanaan diin.

“Siapa yang diberi rizki oleh Allah seorang istri yang shalihah, sesungguhnya telah ditolong separoh agamanya. Dan hendaklaah ia bertaqwa kepada Allah pada separoh yang lainnya.” (HR. Thabrany dan Hakim).

Seorang muslim yang baik tidak saja harus memahami hakikat pernikahan yang sesungguhnya, tapi juga harus merealisasikan dalam tahap kehidupannya. Sebab pernikahan merupakan kerangka pembentukan keluarga dan masyarakat Islam.

Kewajiban Mencarikan Jodoh

Semua pihak yang berkompeten seperti orang tua, majikan, pengurus organisasi dan siapa saja yang dituakan. oleh Islam diserukan untuk mencarikan jodoh atau menikahkan para bujangan yang sudah memiliki kesiapan dan kecukupan, baik pria maupun wanita. Sebagaimana firman Allah SWT,

“Dan nikahkanlah bujangan di antara kamu, dan orang-orang yang sudah layak nikah dari antara hamba shayamu yang laki-laki maupun yang perempuan. Jika mereka itu fakir, maka Allaah akan memberinya kecukupan dari anugerah-Nya. Dan Allah Maha Luas (anugerah-Nya) lagi Maha Tahu.” (QS. an-Nur: 32).

Sehubungan dengan ayat tersebut, Abu Bakar ash-Shiddiq pernah berkata, “Taatlah kepada Allah dan perintah-Nya kepdamu untuk kawin. niscaya kekayaan yang dijanjikan Allah kepadamu itu akan terpenuhi.”

Kalau kemiskinan tidak boleh dijadikan kendala untuk hidup berumah tangga. maka lebih-lebih bagi orang yang mampu, sebagaimana ditegaskan oleh Rasulullah,

“Siapa yang sudah mempunyai kemampuan untuk nikah, kemudian tidak mau menikah, maka bukanlah dari golonganku.” (HR. T habrani).

Alasan Nabi SAW, karena pernikahan itu dapat menundukkaan pandangan dan melindungi kemaluan. Mata menyebabkan kemaluan tidak terkendali, dan kemaluan yang tidak terkendali akan mendatangkan malapetaka di dunia ini.

Terbukti sudah pelecehaan terhadap lembaga pernikahan ini telah menimbulkan masalah yang serius; perzinahan atau yang sejenisnya. penyakit spilis, vietnam rose dan AIDS yang tidak syak lagi bahayanya. Belum lagi penyakit sosial; seperti pembunuhan, dekadensi moral. bahkan mungkin juga masalah korupsi dan kolusi. Pendek kata. hidup membujang banyak menimbulkan dampak negatif baagi individu maupun masyarakat.

Memehami Tujuan Pernikahan

Pernikahan dalam Islam bukanlah sekedar untuk memenuhi kebutuhan biologis atau sekedar formalisasi hubungan dua jenis anak manusia secara sah. Makna dan hakikat pernikahan yang disyari'atkan Islam mengandung nilai yang amat besar. karena menyangkut esensi nurani manusia. Sasaran pokok adalah terpeliharanya kesucian dan kehormatan (QS. 4: 25, 5:5) untuk mencapai kehidupan sakinah, mawaddah warahmah (QS. 30:21).

Dalam pernikahan Islam terdapat mata rantai perjuangan menegakkan kalimatul haq kalimatullah, memelihara nasab, menyelamatkan masyarakat dari kerusakan akhlak, menumbuhkan rasa keibuan dan kebapakan, mewujudkan kerja sama dalam keluarga serta memperbanyak jumlah umat Islam dengan lahirnya generasi shalih dan shalihah dalam rumah tangga sakinah, damai, dan teratur. 

Sebagai ummat yang bermoral, kaum muslimin memandang pernikahan mengandung nilai sakral, yang mengundang tanggung jawab sosial berdimensi luas. Secara ringkas dan jelas, ayat-ayat al-Qur'an telah menyitir bahwa tanggung jawab yang luas itu adalah rumah tangga sakinah (tenteram bahagia), masyarakat marhamah (penuh kedamaian dan kasih sayang), serta negara thayibah (negara paripurna), yakni negara yang mampu memenuhi kebutuhan material dan spiritual bagi rakyatya.

Untuk mencapai tujuan pernikahan tentunya tidak semulus yang dibayangkaan. Ujian dan tantangan akan senantiasa datang menghadang. Namun yakinlah bahwa semua ujian dan tantangan itu akan dapat diatasi dan dilampaui, asalkan tujuan pernikahan di atas sudah benar-benaar mantap dan menjadi tekad untuk diperjuangkan. Ingatlah janji Allah SWT:

“Ada tiga golongan yang pasti ditolong oleh Allah: seorang mujahid yang berjuang di jalan Allah, hamba mukatah yang berjanji akan memenuhi janjinya, dan seseorang yang menikah dengan niat untuk menjaga diri.” (HR. Hakim)

Potret Keluarga Muslim

Setiap pribadi muslim senantiasa mendambakan keluarga sakinah. Dalam keluarga inilah generasi shalih dan shalihah dabat diwujudkan. Dan dari keluarga ini pulalah. kelak mereka akan bertemu di surga.

Keluarga sakinah adalah keluarga yang senantiasa bermesraan di dunia dan juga di akhirat. bukan keluarga yang bermesraan di dunia tapi bersimpangan jalan di akhirat. Seorang suami dan istri, yang berhasil mewujudkan keluarga sakinah dalam pengertian ini, adalah keluarga yang sukses dalam pandangan Islam. Firman Allah:

“Tiap-tiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya kelak di hari kiamat kamu sekalian akan disempurnakan pahalamu. Lalu, barangsiapa yang diselamatkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sesungguhnya dia sukses (beruntung). Kehidupan dunia ini tidak lain adalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS. 3: 185).

Masuk ke dalam surga dan terhindar dari siksa neraka merupakan ukuran mutlak kesuksesan hidup seseorang; baik sebagai pribadi maupun sebagai unit keluarga (QS. 66: 6). Di sini diperlukan kerja keras antar suami istri, dengan menerapkan prinsip hak dan kewajiban, diimbangi dengan saling pengertian yang mendalam. 

Dalam membina keluarga, Islam telah menetapkan hak dan kewajiban setiap anggota keluarga dengan prinsip melaksanakan kewajiban sebelum menuntut hak. Kewajiban suami istri adalah menjaga dan memelihara kehidupan keluarga dengan tidak menebarkan aib keluarga, bermusyawarah, dalam menyelesaikan setiap permasalahan, saling menasihati dan berlaku jujur dalam kehidupan bersama. Kewajiban suami adalah qiwamah (leader, pioner) yang lebih banyak berorientasi keluar, sebagai tulang punggung keluarga. Sementara kewajiban istri adalah ath-tha'ah dan berorientasi ke dalam, mempersiapkan generasi shalih dan shalihah, generasi yang menjadi dambaan dan kebanggaan. Generasi yang menjadi pakarnya orang-orang yang taqwa (imaaman lil muttaqin).

Agar iklim rumah tangga senantiasa cerah dan bergairah, haruslah diciptakan iklim kebersamaan yang penuh pengertian. Rumah tangga yang harmonis selalu menolak iklim yang kaku dan selalu menonjolkan aku. Untuk itu masing-masing harus mampu membedakan mana yang prinsip dan mana yang tidak. Dan harus pula dihindari tuntutan hak.

Kerja keras yang harus dilakukan oleh suami istri adalah menjadikan rumah tangganya sebagai masjid dan madrasah. Sebagai masjid agar anggota keluarganya senantiasa berdzikir dan sujud kepada Allah, tempat bertadarus al-Qur‘an dan beribadah. Rasulullah pernah bersabda:

“Jadikanlah sebagian shalatmu itu di rumahmu.” (HR Bukhari).

Beliau juga bersabda sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim dan Abu Dawud:

“Janganlah kamu jadikan rumahmu laksana kuburan.”

Dan sebagai madrasah untuk mendidik dan mengajar anak-anak untuk menjadi manusia yang mandiri dan bertanggung jawab serta berguna bagi agama, negara.bangsa dan masyarakat. Mentarbiyah putra-putrinya sebagai penerus risalah (QS.25:74) dengan tarbiyah Islamiyah yang munadhamah dan mustamirah.

“Engkau mengharapkan agar sukses menggapai pantai kebahagiaan, akan tetapi enggan melalui sarana dan prasarana yang penuh tantangan, adalah tak ubahnya seperti mengharap kapal layar dapat berlayar melalui daratan.” (syair).

Teriring do'a semoga Allah SWT berkenan memberikan taufik dan hidayah kepada kedua mempelai yang tengah bahagia, sehingga mereka dapat menggapai pantai idaman dalam mengarungi bahtera rumah tangganya. Yakni kehidupan yang seia sekata, kehidupan yang serasa dan serasi, kehidupan yang sejalan dan sejalin, penuh kesan yang manis melalui hubungan yang harmonis. Menuju keluarga sakinah penuh mawaddah wa rahmah.

Semoga Allah memberkati anda berdua, baik dalam suasana yang menyenangkan, maupun dalam suasana yang tidak menyenangkan. Dan semoga Allaah senantiasa memadukan anda dalam kebaikan... Allahumma aamiin... [sumber: Majalah Ishlah, th 1995]

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama