Daging Sembelihan Ahlul Kitab dan Mesin Modern, Halalkah?

Fikroh.com - Seiring berkembangnya teknologi, berbagai kemudahan hidup bisa didapatkan. termasuk hadirnya alat pemotong ayam modern yang dianggap cukup membantu dalam proses penyembelihan (seperti ayam) terutama bagi perusahaan-perusahaan besar. Namun yang menjadi persoalan apakah alat pemotong hewan berupa mesin moderen itu halal hukumnya menurut pandangan agama dan jika tidak halal apakah statusnya sama dengan bangkai? Mengingat memotong hewan ada aturan yang harus dilakukan supaya hasil sembelihannya halal di konsumsi.

Pada kesempatan ini akan dibahas tentang hukum hewan hasil sembelihan alat modern atau mesin. Namun sebelum membahasnya terlebih dahulu kita ketahui pengertian hewan bangkai. Karena status hewan sembelihan yang tidak benar adalah seperti halnya bangkai.

Bangkai

Yang dimaksud dengan bangkai adalah hewan darat yang mati tanpa disembelih atau dibunuh dengan cara yang tidak sesuai dengan tuntunan syariat Islam.

Hukum Bangkai

Bangkai hewan yang hidup di darat dan mengalir darahnya saat dipotong tubuhnya (lahu nafsun sailah) disepakati. oleh para ulama bahwa hukumnya najis, sebagaimana dinukil dari Ibnu Rusyd.

Landasan ijma' di antaranya:  

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ

"Diharumkan bagimu bangkai". (Al Maidah: 3).

Allah mengharamkan bangkai, dan setiap benda yang diharamkan yang benda tersebut tidak memiliki nilai maka benda tersebut diharamkan karena sifat najisnya. Dan bangkai tidak memiliki nilai apapun, dengan demikian bangkai diharamkan karena sifat najisnya.

Dan sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam,

"Seluruh kulit hewan bila disamak niscaya menjadi suci". (HR N asa'i. Hadis ini dishahihkan oleh Al-Albani).

Bila seluruh kulit hewan menjadi suci karena disamak ini menunjukkan bahwa kulit hewan sebelum disamak adalah najis. Dan kulit yang disamak pastilah kulit hewan yang sudah mati. Dari hal ini, dapat dianalogikan najisnya bagian tubuh bangkai yang lain sebagaimana najisnya kulit bangkai."

Yang Termasuk Bangkai

Berikut ini beberapa hewan mati yang termasuk bangkai:

1. Hewan yang mati tanpa diputuskan urat saluran pernafasan dan urat saluran makanan di lehernya dengan pisau yang tajam, seperti: hewan yang mati karena sakit, tertimpa benda berat. terluka, jatuh dari tempat ketinggian, dipukul dan yang dimangsa oleh hewan lain.

وَالْمُنْخَنِقَةُ وَالْمَوْقُوذَةُ وَالْمُتَرَدِّيَةُ وَالنَّطِيحَةُ وَمَا أَكَلَ السَّبُعُ إِلَّا مَا ذَكَّيْتُمْ

“Diharamkan hewan yang mati tercekik, yang terpukul, yang jatuh: yang ditunduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang Sempat kamu menyembelihnya." (QS. Al-Maidah: 3).

2. Hewan Ternak yang Disembelih Tanpa mengucapkan "bismiIIah".

Para ulama berbeda pendapat tentang hukum hewan ternak yang disembelih tanpa mengucapkan "bismillah" dengan disengaja. Pendapat pertama: Mayoritas para ulama yang terdiri dari ulama mazhab Hanafi, Maliki dan Hanbali menghukumi sebagai bangkai. hewan yang disembelih oleh orang islam yang sengaja tidak mengucapkan lafaz "bismillah" saat penyembelihan. Berdasarkan Firman Allah

وَلَا تَأْكُلُوا مِمَّا لَمْ يُذْكَرِ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ وَإِنَّهُ لَفِسْقٌ ۗ

"Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan." (Al Ana'am: 121).

Pendapat kedua: para ulama yang menganut mazhab Syafi'i menghukumi halal daging hewan yang disembelih tanpa membaca "bismillah", mereka berpegang dengan hadis Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.

"Hewan sembelihan orang Islam halal, baik ia menyebut nama Allah ataupun tidak." (HR. Abu Daud).

Tanggapan: Hadis di atas tidak kuat, karena hadisnya mursal dan terdapat salah seorang perawinya yang tidak dikenal.

Dengan demikian pendapat mayoritas ulama dalam hal ini adalah yang terkuat. Yaitu hewan yang disembelih tanpa menyebut nama Allah adalah najis (bangkai).

3. Hewan Yang disembelih oleh Non Muslim

Non muslim (orang yang tidak menganut agama lslam), dikelompokkan menjadi dua bagian; non muslim yang memiliki kitab suci samawi yaitu: Yahudi dan Nasrani dan non muslim yang tidak memiliki kitab samawi, seperti: penganut agama Hindu, Buddha, Sintho dan lain-lain.

Bila non muslim yang tidak memiliki kitab samawi menyembelih hewan, para ulama sepakat bahwa daging sembelihannya termasuk bangkai.

Non Muslim Ahli Kitab (yang memiliki kitab samawi) bila menyembelih hewan, para ulama sepakat bahwa hewan sembelihannya halal dimakan oleh orang Islam, berdasarkan firman Allah taala,

"Pada hari ini dihalalkan bagimu yang baik-baik… Makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al-Kitab itu halal bagimu". (Al-Maidah: 5).

Akan tetapi, untuk keabsahan sembelihan ahli kitab disyaratkan beberapa hal berikut:

Syarat pertama:

Yahudi dan Nasrani tersebut adalah keturunan dari pemeluk agama Yahudi dan Nasrani sebelum kedatangan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam Muhammad. Para ulama berbeda pendapat tentang persyaratan ini, berikut rinciannya,

Pendapat pertama: Yahudi dan Nasrani tersebut haruslah keturunan dari pemeluk agama Yahudi dan Nasrani sebelum kedatangan Nabi Muhammad, maka jika seseorang memeluk agama Yahudi atau Nasrani pada dewasa ini sedangkan nenek moyang mereka bukan pemeluk Yahudi dan Nasrani pada masa sebelum kerasulan Nabi Muhammad maka sembelihannya termasuk bangkai, ini merupakan pendapat mazhab Syafi'i.

Asy Syirazi berkata, "Sembelihan Nashrani bani Taghlib (orang Kristen dari suku Arab) tidak halal, karena bani Taghlib masuk Kristen setelah masa terjadinya perubahan dalam agama Nashrani, dan tidak dapat dipastikan apakah bani Taghlib masuk Kristen yang telah diubah oleh para pendetanya, atau mereka masuk Kristen yang murni, maka status mereka sama dengan penganut agama Majusi, yaitu sembelihannya tidak halal"

Mereka berpegang kepada larangan Amirul mukminin Umar bin Khattab dan Ali bin abi Thalib agar tidak memakan sembelihan Nasrani dari Bani Taghlib (Nasrani yang berasal dari suku Arab).

Pendapat kedua: mayoritas para ulama menghalalkan hewan sembelihan seluruh ahli kitab, sekalipun nenek moyang mereka bukan pemeluk Yahudi atau Nasrani sebelum kedatangan Nabi Muhammad, berdasarkan firman Allah,

"Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi teman setia, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka“. (Al-Maidah: 51).

Ayat di atas menjelaskan bahwa Allah memasukkan orang yang setia dengan ahli kitab ke dalam golongan ahli kitab. Dengan demikian, orang yang memeluk agama Kristen dewasa ini termasuk golongan ahli kitab karena mereka setia dengan orang-orang ahli kitab, yang berarti sembelihannya menjadi halal”. Wallahu a'lam,

Pendapat mayoritas ulama dalam hal ini sangat kuat untuk diikuti, karena dalam ayat yang menjelaskan kehalalan hewan sembelihan ahli kitab mencakup semua ahli kitab, termasuk ahli kitab dewasa ini. Dan pendapat ini merupakan pendapat lbnu Abbas radhiyallahu anhuma dan Az Zuhri.

Syarat kedua:

Hewan yang disembelih oleh ahli kitab haruslah hewan yang halal dalam agama Islam.

Syarat ketiga:

Tidak diketahui bahwa mereka menyebut nama selain Allah saat penyembelihan, bila diketahui bahwa mereka menyebut nama Al Masih, Roh Kudus atau bunda Maria saat penyembelihan, maka hewan sembelihan mereka termasuk bangkai dan tidak halal dimakan oleh orang islam.

Berdasarkan firman Allah taala,

”Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah". (Al Baqarah: 173).

Ayat di atas menjelaskan dengan tegas bahwa hewan yang disembelih dengan menyebut nama selain Allah saat penyembelihannya maka hewan itu sama dengan bangkai sekalipun yang menyembelihnya seorang muslim apalagi non muslim.

Al Bukhari meriwayatkan bahwa Az Zuhri berkata, 'Tidak mengapa memakan sembelihan Nashrani dan suku Arab, dan jka engkau dengar ia membaca selain Asma Allah saat manyembelihnya janganlah engkau makan sembelihannyu, dan jika engkau tidak mendengarnya menyebut Asma Allah, sesungguhnya Allah telah menghalalkan sembelihan mereka bagimu, padahal Allah mengetahui kekafiran mereka"

Penjagalan Hewan dengan Cara Modern

Pertama Penjagalan Ayam 

Di beberapa negara maju, di mana kebutuhan akan daging hewan sangat besar, mereka menggunakan peralatan modern untuk mengakhiri nyawa hewan yang siap dikonsumsi manusia demi meningkatkan kwantitas pemotongan.

Seperti di Kanada, di sebuah tempat penjagalan ayam yang telah disahkan oleh komunitas muslim setempat, semua proses berlangsung secara otomatis, proses penjagalan ini berlangsung sebagai berikut:

"Ayam digantung kakinya, dengan demikian kepalanya mengarah ke tanah, lalu gantungan tersebut bergerak menuju tempat berikutnya, di tempat ini ayam disiram dengan air dingin, terkadang air tersebut dialiri muatan listrik, proses ini bertujuan untuk membersihkan ayam dari kotoran dan membius ayam dengan muatan listrik lalu ayam digerakkan ke tempat selanjutnya dimana tersedia besi tipis tajam berbentuk bundar sehingga puluhan ayam yang digantung bergerak mengitari pisau otomatis tersebut dapat disembelih dalam sesaat. kemudian setelah disembelih, ayam digerakkan ke tempat berikutnya, yakni bak besar berisi air hangat yang suhu panasnya kurang dari 100° C, lalu ayam direndam agar mudah untuk mencabuti bulu-bulunya, lalu prosesnya dilanjutkan untuk siap dipasarkan".

Tinjauan Syariat Tentang Penyembelihan Ayam Menggunakan Alat Modern

Dari penjelasan tentang cara penyembelihan ayam dengan alat modern di atas, dapat disimpulkan bahwa :

Penyiraman air yang bermuatan listrik untuk membius ayam, memang secara umum tidak menyebabkan kematian terhadap ayam, akan tetapi bila ayam dalam kondisi sakit mungkin saja penyiraman air itu menyebabkan kematian ayam sebelum disembelih, bila ini terjadi jelas bahwa hukum ayam tersebut adalah bangkai. 

Penyembelihan dengan menggunakan pisau otomatis, memungkinkan terjadinya ayam tidak terpotong urat saluran pernafasan dan saluran makanannya, dikarenakan ayam tersebut bergerak menjauh dari pisau otomatis, lalu kemudian ayam dicelupkan ke dalam air hangat dan mati di dalam tempat ini, hal tersebut menunjukkan ayam mati karena tenggelam dan bukan karena sembelihan. Dan ayam yang mati tenggelam adalah bangkai. 

Saat penyembelihan tidak diucapkan "bismillah", karena yang menggerakkan alat pemotong adalah listrik dan bukan manusia. Bagaimana seandainya saat menyalakan kontak mesin pemotong diucapkan "bismillah" dianalogikan dengan menyebut "bismillah" saat melepas anjing pemburu menuju hewan buruan, dimana hewan tersebut menjadi halal sekalipun mati tanpa disembelih, berdasarkan firman Allah ta'ala, 

 أُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبَاتُ ۙ وَمَا عَلَّمْتُمْ مِنَ الْجَوَارِحِ مُكَلِّبِينَ تُعَلِّمُونَهُنَّ مِمَّا عَلَّمَكُمُ اللَّهُ ۖ فَكُلُوا مِمَّا أَمْسَكْنَ عَلَيْكُمْ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهِ ۖ 

Dihalalkan bagimu yang baik-baik dan (buruan yang ditangkap) oleh binatang buas yang telah kamu ajar dengan melatihnya untuk berburu; kamu mengajarnya menurut apa yang telah diajarkan Allah kepadamu. Maka makanlah dari apa yang ditangkapnya untukmu, dan sebutlah nama Allah atas binatang buas itu [waktu melepaskannya](Al-Maidah:4).

Apakah dengan cara ini pemotongan itu menjadi halal? Kasus pemotongan dengan mesin tidak bisa dianalogikan dengan hewan buruan. karena terdapat perbedaan yang sangat mendasar di antara dua hal ini. Yaitu: ayam-ayam ditempat penjagalan tersebut tidak lagi hewan liar, karena kakinya sudah diikat, maka penyembelihannya haruslah dengan mengucapkan 'bismillah' oleh orang yang memotongnya dan bukan mesin yang memotongnya.

Sedangkan hewan buruan memang tidak memungkinkan untuk disembelih maka cukup dengan mengucapkan 'bismillah' saat melepas anjing pemburu. Kemudian apakah cukup sekali umpan 'bismillah' pada saat menyalakan mesin untuk memotong ribuan hewan? Tentu tidak, karena setiap hewan yang disembelih merupakan sebuah proses penyembelihan tersendiri yang mengharuskan pelafalan 'bismillah' pada setiap sembelihan.

Kesimpulan

Dua kemungkinan yang telah disebutkan di atas bahwa ayam mati sebelum disembelih dan tidak terwujudnya pengucapan 'bismillah' saat penyembelihan ayam-ayam itu, dapat diambil kesimpulan bahwa ayam-ayam tersebut adalah bangkai dan najis, haram dimakan dan haram dijual serta keuntungan penjualan ayam dan makanan olahannya. seperti: chicken, nugget, sosis, burger dan lainnya termasuk harta haram, sekalipun diimpor dari Negara-negara yang mayoritas penduduknya memeluk agama ahli kitab (Yahudi dan Nasrani).

Karena pada dasarnya setiap hewan yang mati adalah haram (bangkai), kecuali diyakini hewan itu mati melalui proses yang dibenarkan syariat. maka jika ragu apakah hewan ini mati melalui proses yang Islami atau tidak, hewan itu termasuk bangkai, berdasarkan hadis Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam,

"Apabila engkau memanah hewan buruan maka ucapkanlah 'bismillah', jika engkau dapat hewan tersebut mati makanlah! jika hewan tersebut engkau dapati jatuh ke dalam air dan mati maka janganlah engkau makan, karena engkau tidak tahu apakah hewan tersebut mati akibat tenggelam di air atau mati akibat anak panahmu'. (HR. Abu Daud dan ini dishahibkan oleh Al-Albani).

Hadis di atas menegaskan bahwa dalam keadaan ragu apakah hewan tersebut mati melalui proses yang dibenarkan syariat atau mati melalui proses yang diharamkan syariat maka hewan tersebut dianggap haram.

[Sumber Harta Haram Mu'amalat Kotemporer, Ust Erwandi Tarmizi MA]

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama