Adakah Doa Khusus untuk Jenazah Anak Kecil?


Fikroh.com - Penelitian kecil saya menunjukkan bahwa para ulama 4 mazhab bahkan zhahiriyyah dan ulama muhaqiqin menyebutkan ada lafazh khusus untuk doa sholat jenazah bagi anak kecil yang belum baligh, sekalipun kemudian mereka berbeda-beda didalam memilih teks doanya.

Yang melatarbelakangi hal ini adalah hadits Nabi shallallahu alaihi wa sallam :

وَالسِّقْطُ يُصَلَّى عَلَيْهِ، وَيُدْعَى لِوَالِدَيْهِ بِالْمَغْفِرَةِ وَالرَّحْمَةِ

"anak kecil yang lahir karena keguguran (prematur) disholatkan jenazahnya dan didoakan kedua orang tuanya dengan ampunan dan rahmat." (HR. Ahmad dan Abu Dawud, dishahihkan oleh al-Albani).

Dari hadits ini para ulama mengambil kesimpulan hukum bahwa khusus jenazah anak kecil, maka mereka tidak dimintakan ampunan, karena mereka belum sebagai mukallaf (terkena beban syariat). Asy-Syaikh Muhammad Shâlih al-Munajid hafizhahullah berkata :

إذا مات الطفل ، فإنه لا يدعى له بالمغفرة ، وذلك لأنه لم يكتب عليه ذنب ، والمغفرة هي ستر الذنب وعدم المؤاخذة عليه .
وأما الرحمة ، فلا حرج من الدعاء له به ، إذ رحمة الله تعالى يحتاجها كل مخلوق ، صغيراً كان أم كبيراً .

"Jika seorang anak kecil meninggal dunia, maka ia tidak didoakan dengan ampunan, karena belum ditulis untuknya dosa, sedangkan maghfirah itu untuk menutupi dosanya dan agar tidak disiksa atasnya.

Adapun rahmat, maka tidak mengapa berdoa dengannya, yangmana RahmatNya Allah Ta'âlâ itu sangat dibutuhkan semua makhlukNya baik yang kecil maupun yang besar." -selesai-.

Hal ini diperkuat juga dengan sebuah atsar dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu yang tatkala mensholati jenazah orang yang belum melakukan kesalahan sedikit pun (maksudnya anak kecil) beliau berdoa dalam sholat jenazahnya :

اللهُمَّ اجْعَلْهُ لَنَا سَلَفًا وَفَرَطًا وَذُخْرًا

"Yaa Allah jadikanlah ia bagi kami pendahulu yang terdahulu (yang menunggui kami di surga) dan juga simpanan (di surga nanti)." (HR. Baihaqi)

Asy-Syaikh al-Albani dalam kitabnya "Ahkâm al-Janâ`iz" menilai sanadnya hasan mauquf.

Al-Imam Ibnu Hazm rahimahullah dalam kitabnya "al-Muhallâ" (III/355) mengajukan lafazh doa dengan perkataannya :

فَإِنْ كَانَ صَغِيرًا فَلْيَقُلْ " اللَّهُمَّ أَلْحِقْهُ بِإِبْرَاهِيمَ خَلِيلِك " لِلْأَثَرِ الَّذِي صَحَّ أَنَّ الصِّغَارَ مَعَ إبْرَاهِيمَ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - فِي رَوْضَةٍ خَضْرَاءَ.

"Jika jenazahnya anak kecil, maka berdoalah dengan : "Yaa Allah ikutkan ia dengan Ibrahim, kekasihMu".

Berdasarkan atsar yang shahih bahwa anak-anak kecil bersama dengan Ibrahim alaihis salâm di taman-taman hijau." -selesai-.

Begitu juga dengan ulama-ulama mazhab lainnya mereka mengajukan doa-doa yang barangkali ini adalah teks doa yang mereka susun sendiri untuk memenuhi konten sebagaimana hadits diatas yaitu mengganti tempat doa memohon ampunan kepada jenazah sebagaimana yang datang dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam terkait doa-doa dalam sholat jenazah. Al-'Allamah al-Buhûtiy al-Hanbali rahimahullah dalam kitabnya "Kasyâf al-Qinâ'" berkata :

وإنما لم يسن الاستغفار له ؛ لأنه شافع غير مشفوع فيه ولا جرى عليه قلم ، فالعدول إلى الدعاء لوالديه أولى من الدعاء له

"anak kecil itu tidak disunnahkan memohonkan ampunan kepadanya, karena ia pemberi syafaat bukan yang diberi syafaat dan belum dicatat oleh pena (perbuatan kesalahannya), maka menggantinya dengan mendoakan kedua orang tuanya lebih utama dibandingkan berdoa untuknya." (Faedah dari asy-Syaikh Muhammad Shalih al-Munajid).

Akan tetapi melihat pengkhususan doa jenazah untuk anak kecil ini tidak datang secara sharih (gamblang) dari orang yang diberi otoritas membuat syariat yaitu Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, maka ada sebagian ulama tetap memandang doa-doa yang datang dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam diterapkan juga untuknya. Al-'Allamah Muhammad Asyraf rahimahullah dalam kitabnya "Aun al-Ma'bûd" berkata :

وَأَمَّا الصَّلَاةُ عَلَى الطِّفْلِ الَّذِي لَمْ يَبْلُغِ الْحُلُمَ فَكَالصَّلَاةِ عَلَى الْكَبِيرِ وَلَمْ يَثْبُتْ عَنِ النبي بِسَنَدٍ صَحِيحٍ أَنَّهُ عَلَّمَ أَصْحَابَهُ دُعَاءً آخَرَ لِلْمَيِّتِ الصَّغِيرِ غَيْرَ الدُّعَاءِ الَّذِي عَلَّمَهُمْ لِلْمَيِّتِ الْكَبِيرِ بَلْ كَانَ يَقُولُ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِحَيِّنَا وَمَيِّتِنَا وَصَغِيرِنَا وَكَبِيرِنَا كَمَا عَرَفْتَ

"Adapun sholat jenazah kepada anak kecil yang belum baligh, maka sholatnya seperti sholat untuk orang dewasa dan tidak shahih dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam dengan sanad yang shahih bahwa Beliau mengajarkan kepada para sahabatnya doa yang lain untuk mayit anak kecil selain doa yang diajarkan kepada mereka untuk mayit dewasa, bahkan (salah satu doa Beliau) : "Yaa Allah ampunilah orang yang hidup diantara kami dan yang mati diantara kami, orang dewasanya kami dan anak kecilnya kami...", sebagaimana yang engkau sudah tahu (lafazh lengkapnya).

Penulis Syarah Sunan Abu Dawud ini memperkuat hujjahnya dengan atsar Abu Hurairah radhiyallahu anhu juga dalam Muwatha' Imam Malik dimana al-Imam Malik berkata :

يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ أَنَّهُ قَالَ : سَمِعْتُ سَعِيدَ بْنَ الْمُسَيَّبِ يَقُولُ : صَلَّيْتُ وَرَاءَ أَبِي هُرَيْرَةَ عَلَى صَبِيٍّ لَمْ يَعْمَلْ خَطِيئَةً قَطُّ، فَسَمِعْتُهُ يَقُولُ : اللَّهُمَّ أَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ

"Dari Yahya bin Sa'id ia berkata, aku mendengar Sa'id bin al-Musayyid berkata, aku pernah sholat dibelakang Abu Hurairah -mertuanya- yang sedang mensholati jenazah anak kecil yang belum melakukan kesalahan sedikit pun, aku mendengar beliau berdoa : "Yaa Allah lindungilah ia dari azab kubur." (Sanadnya shahih).

Maka atsar ini mengisyaratkan bahwa doa jenazah itu umum berlaku bagi orang dewasa maupun anak kecil, sebagaimana barangkali pemahaman shahabi Abu Hurairah radhiyallahu anhu bahwa fitnah kubur itu berlaku umum juga bagi orang dewasa maupun anak kecil.

Kemudian hadits diatas yang berisi bahwa anak kecil itu "didoakan kedua orang tuanya dengan ampunan dan rahmat", maka yang dimaksud bisa jadi adalah doa takziyah untuk orang tua yang ditinggal mati buah hatinya, bukan doa sholat jenazah, karena dalam lafazh hadits yang diriwayatkan oleh Ashabus sunannya dalam konteks hadits tersebut hanya disebutkan :

وَالطِّفْلُ يُصَلَّى عَلَيْهِ

"Anak kecil disholati jenazahnya."

Wallahu A'lam.

Imam al-Albani bersikap toleran dalam masalah ini tatkala beliau mengomentari pernyataan al-Imam asy-Syaukani rahimahullah :

قلت: حديث أبي هريرة عند البيهقي إسناده حسن، ولا بأس في العمل به في مثل هذا الموضع، وإن كان موقوفا، إذا لم يتخذ سنه، بحيث يؤدي ذلك الى الظن إنه عن النبي - صلى الله عليه وسلم -، والذي أختاره أن يدعو في الصلاة على الطفل بالنوع «الثاني» لقوله فيه: «وصغيرنا ... اللهم لا تحرمنا أجره، ولا تضلنا بعده».

"Hadits Abu Hurairah radhiyallahu anhu (yang dibawakan oleh Imam Syaukani) diriwayatkan oleh Baihaqi dengan sanad hasan dan *TIDAK MASALAH MENGAMALKANNYA* dalam hal ini, sekalipun statusnya mauquf, asalkan tidak dijadikan sunah dalam artian menimbulkan persangkaan bahwa itu datangnya dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan *yang aku pilih untuk doa sholat jenazah bagi anak kecil dengan doa jenis kedua* dengan lafazh yang didalamnya : "anak kecil kami....Yaa Allah janganlah engkau haramkan pahalanya dan jangan engkau sesatkan kami sesudahnya." (Sama dengan pilihan penulis 'Aun al-Ma'bûd diatas). -selesai-.

Ini sekaligus menunjukkan betapa konsistennya Imam al-Albani rahimahullah berpegang dengan sunnah Nabi shallallahu alaihi wa sallam, beliau tetap memilih lafazh doa yang jelas-jelas matsur dari teladan kita bersama yaitu Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Dan aku tidak mentazkiyyah seorang pun dihadapan Allah Ta'âlâ.

Abu Sa'id Neno Triyono

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama