Adab Ziarah Kota Madinah, Masjid Nabawi dan Makam Rasulullah

Fikroh.com - Madinah adalah kota suci yang sangat erat kaitannya dengan dakwah dan kehidupan Rasulullah SAW hingga wafatnya. Satu diantara tiga tempat istimewa yang termaktub dalam hadits Nabi, yaitu Makkah, Madinah dan Al-Quds. Keistimewaan kota Madinah bukan tanpa alasan. Berikut ini beberapa riwayat yang menyebutkan keutamaan Madinah dari kota lainnya.

Hadits Keutamaan Madinah

1. Madinah kota wangi

Dari Jabir bin Samurah -radhiyallahu `anhu- berkata:

إِنَّ اللهَ تَعَالَى سَمَّى الْمَدِينَةَ طَابَةَ

“Aku mendengar Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda: Allah -subhanahu wa ta`ala- menamakan Madinah sebagai Thabah (wangi)[4].

2. Kota Madinah laksana pandai besi

Dari Abu Hurairah -radhiyallahu `anhu- bahwa Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:

إِنَّ الْمَدِينَةَ كَالْكِيرِ، تُخْرِجُ الْخَبِيثَ، لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَنْفِيَ الْمَدِينَةُ شِرَارَهَا، كَمَا يَنْفِي الْكِيرُ خَبَثَ الْحَدِيدِ

“Sesungguhnya Madinah seperti pandai besi yang mengeluarkan kotoran-kotoran besi, tidak akan datang hari kiamat hingga kota Madinah menghilangkan kotoran-kotorannya, seperti pandai besi yang mengeluarkan kotoran besi[1].

Keutamaan Masjid Nabawi Dan Shalat Di Dalamnya

Setelah dijelaskan keutamaan Madinah secara umum, berikut ini adalah beberapa hadits tentang Masjid Nabawi,

Dari Abu Hurairah -radhiyallahu `anhu- , disampaikan dari nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam-:

لاَ تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلَّا إِلَى ثَلاَثَةِ مَسَاجِدَ: المَسْجِدِ الحَرَامِ، وَمَسْجِدِ هذا ، وَمَسْجِدِ الأَقْصَى

“Janganlah kamu bepergian kecuali kepada tiga masjid: masjidku ini, masjidil haram, dan masjidil Aqsha[2].

Abu Hurairah -radhiyallahu `anhu- berkata: Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:

صَلاَةٌ فِي مَسْجِدِي هَذَا خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ صَلاَةٍ فِيمَا سِوَاهُ، إِلَّا المَسْجِدَ الحَرَامَ

“Shalat di dalam masjidku ini lebih baik dari seribu shalat di masjid lain, kecuali masjidil haram[3].

Dari Abdullah bin Zaid bahwa Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:

مَا بَيْنَ بَيْتِي وَمِنْبَرِي رَوْضَةٌ مِنْ رِيَاضِ الجَنَّةِ

“Yang di antara rumahku dan mimbarku terdapat taman dari taman-taman surga[4].

Adab-adab Menziarahi Masjid Dan Kubur Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam

Keutamaan yang dikhususkan pada masjid Nabawi As-Syarif, masjidil haram, dan masjidil Aqsha adalah penghormatan dari Allah subhanahu wa ta’ala kepada ketiga masjid tersebut, dan pengutamaan bagi shalat di dalamnya atas shalat pada selainnya, bagi siapa yang mendatanginya maka dia telah datang dengan keinginan untuk mendapatkan pahala dan memenuhi panggilan nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- di dalam anjuran bepergian kepadanya dan menziarahinya.

Tidak ada adab khusus bagi ketiga masjid ini di antara masjid-masjid yang lainnya, selain bahwa kerancuan bercampur di sebagian orang, mereka menjadikan adab-adab khusus bagi masjid nabawi, dan kerancuan ini tidak akan terjadi kalau bukan karena keberadaan kuburan nabi di dalamnya.

Seorang muslim yang berziarah ke masjid nabawi di Madinah dan makam nabi, hendaklah ia memperhatikan adab-adab ziarah sebagai berikut:

1. Masuk dengan kaki sebelah kanan kemudian membaca doa:

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَسَلَّمَ, اللهُمَّ افْتَحْ لِي أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ

“Ya Allah…, shalawat serta salam kepada junjungan nabi Muhammad, ya Allah…, bukakanlah pintu-pintu rahmat-Mu untukku.[1]

Atau doa lainnya:

(أعوذ بالله العظيم, و بوجهه الكريم, و سلطانه القديم, من الشيطان الرجيم)

“Aku berlindung dengan Allah Yang Maha Agung, dengan wajah-Nya Yang Maha Mulia dan kekuasaan-Nya yang kuat, dari syaitan yang terkutuk.[2]

2. Shalat dua rakaat tahiyatul masjid sebelum duduk.

3. Berhati-hati agar tidak shalat dan berdoa menghadap ke arah makam Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam.

4. Kemudian pergi ke makam Nabi untuk memberi salam kepada nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam-, jangan meletakkan tangan di dada, menundukkan kepala, merendahkan diri –yang tidak seharusnya kecuali hanya kepada Allah- dan jangan meminta pertolongan kepada nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam-. Maka hendaklah memberi salam kepada nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- dengan kalimat dan lafazh-lafazh yang digunakan untuk memberi salam kepada penduduk baqi’, yang telah dibenarkan oleh nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- beberapa versi, di antaranya:

السَّلَامُ عَلَى أَهْلِ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَيَرْحَمُ اللهُ الْمُسْتَقْدِمِينَ مِنَّا وَالْمُسْتَأْخِرِينَ، وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللهُ بِكُمْ لَلَاحِقُونَ

“Semoga kesejahteraan padamu wahai penduduk negeri, orang-orang mukmin dan orang-orang islam, semoga Allah merahmati orang-orang yang telah mendahului kami dan yang setelah kami, dan sesungguhnya insyaa' Allah kami akan menyusul kalian.[3]

Memberi salam kepada kedua sahabatnya: Abu Bakar dan `Umar dengan salam yang sama.

5. Bukan bagian dari adab dengan mengeraskan suara di dalam masjid, atau di makam nabi Shallallahu 'alaihi wasallam, maka pelankanlah suara. Seperti itulah adab bersama Rasulullah ketika beliau masih hidup dan setelah wafatnya.

6. Hendaknya menjaga shalat berjamaah di shaf-shaf pertama, karena di dalamnya terdapat keutamaan dan pahala yang besar.

7. Jangan karena ingin shalat di raudhah, ia tidak mendapatkan shalat pada shaf pertama, sementara tidak ada dalil keutamaan shalat di raudhah yang membedakannya dari shalat di bagian masjid Nabi yang lain.

8. Tidak termasuk bagian dari sunnah menjaga shalat arbain (empat puluh shalat) di dalam masjid selama berturut-turut karena hadits yang terkenal beredar di antara manusia:

من صلى في مسجدي أربعين صلاة لا يفوته صلاة كتبت له براءة من النار, و نجا من العذاب, و برئ من النفاق

“Bagi siapa yang shalat di masjidku sebanyak empat puluh shalat yang tidak terlewatkan satu shalatpun dituliskan baginya keterbebasan dari neraka, dan selamat dari siksaan, dan dibersihkan dari sifat munafik[1]. Hadits ini dha’if dan tidak shahih

9. Tidak disyariatkan memperbanyak ziarah ke makam nabi Shallallahu 'alaihi wasallam untuk memberi salam kepada Rasulullah, dan salam kepadanya akan sampai dimanapun berada, walaupun berada di bagian dunia terjauh maka dia dan orang yang berada di depan kuburan sama dalam pahala bershalawat dan memberi salam kepada Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam-.

10. Kemudian jika keluar dari masjid tidak berjalan mundur, dan keluar dengan kaki sebelah kirinya, lalu membaca doa:

اللهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ, اللهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ

“Ya Allah.., curahkanlah shalawat dan salam kepada Muhammad, ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu berupa karunia-Mu.

Ziarah Masjid Quba’

Disunnahkan bagi yang mendatangi Madinah agar mendatangi masjid Quba’ dan shalat di dalamnya, mengikuti petunjuk nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam-, dimana -shallallahu ‘alaihi wasallam- baik berjalan dan berkendara, beliau mendatanginya pada hari sabtu dan shalat di dalamnya dua rakaat[3]. Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:

مَنْ تَطَهَّرَ فِي بَيْتِهِ ثُمَّ أَتَى مَسْجِدَ قُبَاءَ، فَصَلَّى فِيهِ ، كَانَ لَهُ كَأَجْرِ عُمْرَةٍ

“Bagi siapa yang bersuci di rumahnya kemudian mendatangi masjid quba’ dan shalat di dalamnya, maka baginya seperti pahala umrah[4].

Ziarah Baqi’ Dan Uhud

Baqi’ adalah kawasan kuburan kaum muslimin di Madinah, dikuburkan di dalamnya banyak dari para sahabat, dan masih dikuburkan di dalamnya orang-orang muslim hingga hari ini.

Kebanyakan mereka adalah orang-orang yang mendatangi Madinah karena antusias meninggal disana dan dikuburkan di Baqi’.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

أحد جبل يحبنا و نحبه

“Uhud adalah gunung yang mencintai kita dan kita mencintainya[1]

Dalam lereng gunung uhud ini telah dikuburkan tujuh puluhan syuhada’, yang syahid dari perang yang terjadi disekitar gunung uhud. Dengan demikian peperangan itu disebut perang uhud.

Jika seseorang mendatangi Madinah dan ingin menziarahi baqi’ atau para syuhada’ uhud maka tidak ada larangan. Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam- pernah melarang ziarah kubur kemudian mengizinkannya, untuk mengingat akhirat dan mengambil pelajaran dengan kejadian di dalamnya. Akan tetapi diwajibkan untuk menghindari tabarruk (meminta berkah) di kubur, meminta pertolongan kepada penghuninya, mengambil keuntungan dengannya terhadap orang yang masih hidup, dan bertawasul dengannya kepada Allah.

Tidak disyariatkan bagi yang mendatangi uhud dengan tujuan bahwa tempat itu adalah tempat ibadah nabi –shallallahu ‘alaihi wasallam- di kaki gunung untuk shalat ditempat itu, atau untuk menaiki uhud sebagai tabarruk, atau menaiki gunung rimat mengikuti jejak para sahabat, maka hal itu dan yang lainnya berasal dari ajaran selain islam. Berdoa bagi para syuhada’ tidak disyariatkan dan tidak juga dianjurkan secara syariat, tetapi merupakan bagian dari hal-hal yang baru yang dilarang darinya. Dalam hal itu `Umar -radhiyallahu `anhu- berkata:

(إنما هلك من كان قبلكم بتتبعهم آثار أنبيائهم)

“Adapun kaum sebelum kalian dihancurkan dengan mengikuti jejak nabi-nabi mereka (secara membabi buta).

Maka jadikanlah bagi kita ucapan 'Umar sebagai keyakinan yang tetap.

Al Mazaaraat (Tempat Yang Biasa Dikunjungi)

Ada beberapa tempat lain di Madinah munawwarah disebut dengan al Mazaaraat, seperti tujuh masjid yang dekat dari tempat perang khandaq, masjid qiblatain, sebagian peninggalan, masjid ghammaamah, masjid-masjid yang dinasabkan kepada Abu Bakar, `Umar, dan `A'isyah-radhiallaahu ‘anhum jami’an-. Maka seluruh tempat-tempat itu tidak disyariatkan pengkhususannya dengan ziarah, dan janganlah seseorang berharap bahwa dengan mengunjunginya akan mendapatkan tambahan pahala. Maka jika mengikuti jejak para sahabat dan orang-orang shalih merupakan penyebab dari dihancurkannya umat-umat sebelum kita, dan tidak layak bagi orang muslim untuk melawan hidayah nabi mereka Muhammad -shallallahu ‘alaihi wasallam- dan hidayah para sahabatnya –radhiallahu 'anhum- sesungguhnya kebaikan yang paling baik ada di dalam hidayahnya dan hidayah mereka, dan keburukan yang paling buruk terletak di dalam perlawanan dari hidayahnya dan hidayah mereka.

Dua catatan penting!

Pertama: Kebanyakan orang menetap di Madinah berhari-hari lebih daripada menetap di Makkah, sedangkan shalat di masjidil haram sebanding dengan seratus ribu shalat di masjid yang lainnya. Adapun shalat di masjid nabawi maka seperti seribu shalat di masjid lain.

Perbedaan yang besar ini di dalam keutamaan antara shalat di Makkah dan shalat di Madinah maka seharusnya ada keyakinan bagi para haji sekalian untuk menjadikan tinggalnya mereka di Makkah lebih banyak daripada di Madinah.

Kedua: Kebanyak dari para jemaah haji mengira bahwa mengunjungi masjid nabawi adalah bagian dari manasik haji, oleh karena itu mereka menjaganya seperti mereka menjaga manasik haji, bahkan jika seorang lelaki berhaji dan tidak mengunjungi Madinah maka menurut mereka hajinya kurang!

Riwayat dalam hal itu hadits-hadits maudhu’, seperti “bagi siapa yang berhaji dan tidak mengunjungiku maka telah menjauh dariku”.

Sebenarnya tidak seperti yang mereka sangka, dan ziarah ke masjid nabawi adalah sunnah yang disyariatkan oleh nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- untuk mendirikan shalat di dalamnya, akan tetapi tidak ada hubungan antara ziarah dan haji, menziarahi masjid tidak menyebabkan sahnya haji, bahkan tidak merupakan kesempurnaan baginya, karena ziarah masjid nabawi bukanlah bagian dari manasik haji, tetapi disyariatkan khusus yang tidak ada hubungannya dengan haji.

Footnote:

[3]Irsyaadus Saari dari al Wajiiz (296-273).

[4]Shahih, dikeluarkan oleh Muslim (1385).

[1]Shahih, Hadits riwayat: Muslim (1381).

[2] Muttafaq ‘alaih, disalin oleh Al-Bukhariy (1189), dan Muslim (1397).

[3]Muttafaq ‘alaih, disalin oleh Al-Bukhariy (1190), dan Muslim (1394).

[4]Muttafaq ‘alaih, disalin oleh Al-Bukhariy (1195), dan Muslim (1390).

[1]Idem.

[2]Idem.

[3]Idem.

[1] Lihat ad Dha’iifah (364).

[2] Idem.

[3]Shahih, Hadits riwayat: Al-Bukhariy (1193), dan Muslim (1399).

[4]Dihukum shahih oleh Albani: Hadits riwayat: Ibnu Majah (1412).

[1]Muttafaq ‘alaih, Hadits riwayat: Al-Bukhariy (4083), dan Muslim (1393).

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama