Fikroh.com - Usianya baru 16 tahun ketika itu. Usia yang sangat belia. Usia yang ulama menyebutnya “qariib minal fithrah” alias (masih) dekat dari fithrah, yakni meskipun sudah bergeser, tetapi masih dekat dari fithrah yang suci, yakni tauhid yang murni. Bermula dari terjemahan sebuah buku bertajuk “Dinul Haq” (Agama yang Benar), ia sangat terusik dengan nukilan “إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ” dan pembahasan mengenai firman Allah ‘Azza wa Jalla:⁣

إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ ۗ وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ إِلَّا مِن بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ ۗ وَمَن يَكْفُرْ بِآيَاتِ اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ ⁣

“Sesungguhnya (satu-satunya) agama (yang benar) di sisi Allah adalah Islam. Tidaklah berselisih orang-orang yang telah diberi Al-Kitab, kecuali setelah mereka memperoleh ilmu, karena kedengkian di antara mereka. Barangsiapa yang ingkar terhadap ayat-ayat Allah, maka sesungguhnya Allah sangat cepat perhitungan-Nya.” (QS. Ali ‘Imran, 3: 19). ⁣


Ayat ini sangat bertentangan dengan keyakinannya. Bukan saja bahwa ia bukan seorang muslim, tetapi lebih mendasar lagi ia mendapati dalam agamanya bahwa semua agama merupakan jalan untuk menuju tuhan yang sama. Tetapi firman Allah Ta’ala tersebut menolak tegas keyakinan yang dipeganginya selama ini. Maka anak muda ini pun mendatangi sejumlah guru senior dan pemuka agama Hindu, “Dapat engkau menerangkan bahwa Hindu benar agar saya dapat membantah Islam?” ⁣

Banyak yang ia datangi, tetapi tidak pernah memperoleh jawaban memuaskan. Pada saat yang sama ia juga mendatangi orang yang menurutnya dapat menjelaskan tentang Islam, hingga suatu ketika sesuai memperoleh penjelasan atas berbagai keresahannya, dibacakanlah kepadanya firman Allah ‘Azza wa Jalla:⁣

مَثَلُ ٱلَّذِينَ ٱتَّخَذُوا۟ مِن دُونِ ٱللَّهِ أَوْلِيَآءَ كَمَثَلِ ٱلْعَنكَبُوتِ ٱتَّخَذَتْ بَيْتًا ۖ وَإِنَّ أَوْهَنَ ٱلْبُيُوتِ لَبَيْتُ ٱلْعَنكَبُوتِ ۖ لَوْ كَانُوا۟ يَعْلَمُونَ ⁣

“Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui.” (QS. Al-Ankabut, 29: 41).⁣

Ayat ini menghentak, meruntuhkan bangunan keyakinan kepada agamanya yang selama ini telah goyah, sekaligus semua keraguannya kepada Islam. Banke Laal, nama pemuda dari keluarga pebisnis terkemuka di Uttar Pradesh tersebut, memutuskan masuk Islam. Keputusan yang mengundang kemarahan besar pada keluarganya. Selama keluarga dari kasta Brahmana ini dikenal sebagai keluarga yang sangat kuat dan militan memegangi agamanya. ⁣

Tak pelak, Banke Laal terusir. Hidupnya berubah total, dari menikmati kemewahan berbalik menjadi orang yang mencari perlindungan dengan segala keterbatasan. Tetapi ini tak mematahkan tekadnya. Ia semakin gigih mempelajari agama ini. Kegigihan itu pula yang memudahkannya belajar agama di saat ia masih dalam keraguan. Hanya dalam beberapa bulan, ia sudah mampu membaca Al-Qur’an dengan benar, fasih dan lancar. Padahal belum masuk Islam.⁣

Ringkas cerita, kelak ia memperoleh kesempatan belajar di Fakultas Syari’ah Universitas Islam Madinah. Begitu lulus, ia memperoleh banyak tawaran untuk berkarir di Eropa dan sejumlah negara. Tetapi ia lebih memilih melanjutkan pendidikan di Ummul Qura Makkah dan menulis tesis S-2 tentang pembelaan ilmiah terhadap segala tuduhan terhadap Abu Hurairah radhiyaLlahu ‘anhu. Dan ia menyelesaikan S-3 di Universitas Al-Azhar Cairo, Mesir.⁣

Kelak kita mengenalnya dengan Syaikh Abu Ahmad Muhammad ‘Abdullah al-A’zami atau dalam lingkungan akademik lebih dikenal dengan Syaikh Dr. Muhammad Diya’ al-Rahman al-A’zami (محمد ضیاء الرحمن اعظمی). Jangan bingung dengan beragam cara penulisan namanya dalam transliterasi yang berbeda-beda sesuai cara negara yang menuliskannya, semisal Zia ur Rahman, Zia er Rahman atau yang lain. Sempat menjadi dekan di Universitas Islam Madinah, Syaikh Diya’ al-Rahman menghabiskan masa tuanya dengan mengajar Masjid Nabawi.⁣

Saya sebenarnya sangat ingin bercerita berdasarkan apa yang saya pelajari mengenai penulisan kitabnya yang paling fenomenal (bukan mengenai isi kitabnya, ya…), tetapi sepertinya perlu dituturkan tersendiri di lain waktu. Di antara banyak tulisannya, kitabnya yang bertajuk الجامع الكامل في الحديث الصحيح الشامل merupakan karyanya yang paling berpengaruh. Beliau menghimpun 16.800 hadis shahih, tanpa ada satu kalipun perulangan. Sebuah karya monumental.⁣

Maka wafatnya beliau tepatnya di hari Arafah, 30 Juli 2020 lalu benar-benar merupakan kehilangan yang sangat besar.
$ads={2}
Oleh: Ustadz Mohammad Fauzil Adhim, Pakar Parenting Islam

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama