Fikroh.com - Pada kesempatan ini penulis akan membahas tentang hukum sekufu dalam pernikahan. Tulisan ini mencakup : Definisi Kufu, Hukum Sekufu, Kedudukan Kufu Dalam Syariat, Faktor Parameter Kafaah Dan Penjelasan para ulama terkait masalah hukum kufu/kafaah dalam pernikahan. Dan berikut ini penjelasan selengkapnya.

Definisi Kufu'

Kufu' dalam bahasa arab tertulis (كُفْءٌ) biasa pula disebut kafa`ah (كَفَاءَةٌ) artinya secara bahasa adalah bandingan atau persamaan pasangan. Secara istilah dalam pernikahan berarti suami yang sepadan dengan istri dalam hal kedudukan, agama, keturunan, rumah dan lain-lain.[1]

Dalam kenyataan memang kesetaraan itu dipandang sebagai ukuran untuk menerima pinangan seorang pria terhadap seorang wanita, misalnya dalam hal kedudukan di tengah masyarakat, masalah ekonomi, intelektualitas, pendidikan dan profesi.

Islam memang menganjurkan adanya kesetaraan karena itu adalah salah satu faktor pelanggeng kehidupan rumah tangga dan supaya tak terjadi sesal di kemudian hari. Dalam hadits Rasulullah SAW disebutkan

تَخَيَّرُوا لِنُطَفِكُمْ ، وَانْكِحُوا الْأَكْفَاءَ ، وَانْكِحُوا إلَيْهِمْ

”Pilihlah tempat untuk air mani kalian, menikahlah dengan yang sekufu` dan nikahkanlah mereka.” (HR. Ibnu Majah, Ad-Daraquthni dan Al-Hakim)[2]

Kedudukan Kafa'ah dalam Pernikahan

Sebagian ulama ada yang menganggap bahwa kafa`ah adalah syarat sah pernikahan. Dengan kata lain, pernikahan dianggap tidak sah bila antara pria dan wanita tidak sederajat. Ini adalah salah satu riwayat dari Ahmad, sebagian ulama Hanafiyyah dan Malikiyyah.

Ibnu Qudamah mengatakan, ”Ada perbedaan riwayat dari Ahmad tentang apakah kafa`ah ini menjadi syarat sah pernikahan. Ada sebuah riwayat darinya yang menyatakan bahwa kafa`ah adalah syarat sah. Dia (Ahmad) berkata, ”Bila seorang mawla (keturunan budak) menikahi seorang wanita arab maka mereka dipisahkan.” Ini adalah pendapat Sufyan.

Ahmad berkata pula tentang seorang laki-laki peminum suatu jenis minuman (yang dianggap memabukkan –penerj), ”Dia tidak sekufu` (setara, sederajat) dengan wanita itu maka mereka berdua harus dipisahkan.”

Ahmad juga pernah berkata, ”Kalau si mempelai pria menderita penyakit gatal niscaya aku akan memisahkan mereka berdua, berdasarkan perkataan Umar, ”Sungguh aku akan melarang wanita dinikahi kecuali dengan laki-laki sekufu`.” Ini diriwayatkan oleh Al-Khallal dengan isnadnya.

Juga diriwayatkan dari Abu Ishaq Al-Hamdani, dia berkata, ”Salman dan Jarir melakukan sebuah perjalanan (safar), lalu diqamatkanlah shalat, maka Jarirpun berkata kepada Salman, ”Silahkan kamu menjadi imam.” Salman menjawab, ”Kamulah yang harus maju, karena kalian ini wahai sekalian orang arab, tidak ada yang boleh mengimami kalian dan wanita kalian tidak boleh dinikahi bangsa lain. Sesungguhnya Allah melebihkan kalian dengan adanya Muhammad shallallaahu 'alaihi wa sallam di antara kalian.”

Selain itu, proses menikahkan tanpa disertai kesetaraan sama artinya melakukan tindakan tanpa persetujuan sang wali dan itu tidak sah, sama halnya dengan menikahkan si wanita tanpa izinnya.

Juga ada riwayat dari Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda,

لَا تُنْكِحُوا النِّسَاءَ إلَّا مِنَ الْأَكْفَاءِ، وَلَا يُزَوِّجُهُنَّ إلَّا الْأَوْلِيَاءُ

”Janganlah kalian nikahkan wanita kecuali dengan lelaki yang setara (sekufu`) dan jangan ada yang menikahkan mereka kecuali para wali.”

Ini diriwayatkan oleh Ad-Daraquthni. Hanya saja Ibnu Abdil Barr mengatakan, ”Ini dha’if, tidak ada asalnya dan yang sepertinya tidak bisa dijadikan hujjah.” Selesai nukilan dari Al-Mughni[3].

Selain riwayat dari Ahmad, pendapat senada juga diperoleh dari sebagian ulama Hanafiyyah dan beberapa ulama kalangan Malikiyyah.[4]

Dalil lain yang juga dijadikan dasar akan syarat kafa`ah ini adalah:

Hadits Ibnu Umar, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

الْعَرَبُ أَكْفَاءٌ بَعْضُهَا بَعْضًا قَبِيلٌ بِقَبِيلٍ، وَرَجُلٌ بِرَجُلٍ وَالْمَوَالِي أَكْفَاءٌ بَعْضُهَا بَعْضًا قَبِيلٌ بِقَبِيلٍ، وَرَجُلٌ بِرَجُلٍ إِلَّا حَائِكٌ أَوْ حَجَّامٌ

“Orang arab itu sekufu` satu sama lain, suku dengan suku, lelaki dengan lelaki, sedangkan mawali (para mantan budak) sekufu` dengan sesama mereka, suku dengan suku, lelaki dengan lelaki, kecuali tukang tenun dan tukang bekam.”

Hadits senada juga diperoleh dari Aisyah dan Mu’adz bin Jabal.

Ada riwayat lain dari Hisyam bin Urwah dari ayahnya dari Aisyah ra, secara marfu’:

تَخَيَّرُوا لِنُطَفِكُمْ لَا تَضَعُوهَا إِلَّا فِي الْأَكْفَاءِ

“Pilihlah tempat untuk mani kalian, jangan letakkan dia kecuali pada tempat yang setara.”[5]

Pendapat kedua:

Akan tetapi riwayat lain dari Ahmad –dan inilah yang menjadi pegangan dalam madzhab- serta mayoritas kalangan Hanafiyyah dan Malikiyyah serta Syafi’iyyah sendiri mengatakan bahwa kafa`ah bukanlah syarat sah. Melainkan hanya syarat luzum (syarat keberlangsungan), kalau mau bisa diteruskan, tapi kalau tidak bisa dihentikan.

Maksudnya, bila ada yang menikahkah putrinya dengan yang tidak sekufu maka akad awalnya sah, tapi kalau ternyata ada wali yang menolak maka akad tersebut bisa langsung difasakh (dibatalkan). Tapi kalau semua setuju maka boleh diteruskan sehingga langgeng bersuami istri.

Beberapa dalil yang dikemukakan oleh jumhur seperti dituliskan oleh Ibnu Qudamah sendiri dalam Al-Mughni membantah riwayat yang mengatakan itu adalah syarat sah antara lain:

1. Abu Hudzaifah bin Utbah bin Rabi’ah menikahkan anak angkatnya yaitu Salim yang merupakan mawla (keturunan budak) dengan adik sepupunya yaitu Hindun binti Al-Walid bin Utbah.[6]

2. Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam juga memerintahkan Fathimah binti Qais seorang wanita keturunan Quraisy dengan Usamah bin Zaid yang merupakan anak dari mantan budak Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam.[7]

3. Sabda Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam kepada para bangsawan Arab, ”Wahai keturunan putih nikahkanlah Abu Hind dengan putri-putri kalian.” Padahal Abu Hind hanyalah seorang tukang bekam.[8]

4. Ibnu Mas’ud pernah berkata kepada saudarinya, ”Aku mohon kepada Allah agar kau menikahi pria muslim, baik dia berkulit merah Romawi, ataupun hitam Habasyi.”

5. Juga Bilal bin Rabah seorang mantan budak keturunan Habasyah dinikahkan dengan

6. Salah satu isi khutbah Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam di haji wada’:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ، أَلَا إِنَّ رَبَّكُمْ وَاحِدٌ، وَإِنَّ أَبَاكُمْ وَاحِدٌ، أَلَا لَا فَضْلَ لِعَرَبِيٍّ عَلَى عَجَمِيٍّ ، وَلَا لِعَجَمِيٍّ عَلَى عَرَبِيٍّ، وَلَا أَحْمَرَ عَلَى أَسْوَدَ، وَلَا أَسْوَدَ عَلَى أَحْمَرَ، إِلَّا بِالتَّقْوَى

“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Tuhan kalian satu, sesungguhnya bapak kalian juga satu (Adam –penerj). Ingatlah tidak ada kelebihan orang arab atas ajam (non arab), atau ajam atas arab, atau si kulit merah atas si kulit hitam atau si kulit hitam di atas si kulit mereka kecuali lantaran takwa.”[9]

Tarjih:

Dalil-dalil yang dikemukakan oleh jumhur yang menganggap kafa`ah bukanlah syarat sah lebih kuat. Sedangkan dalil yang menganggap kafa`ah adalah syarat sah sebagiannya lemah tak bisa dijadikan hujjah, dan yang kuat sanadnya tidak dengan tegas menunjukkan pensyaratan kafa`ah tersebut:

Hadits:

لَا تَنْكِحُوا النِّسَاءَ إِلَّا الْأَكْفَاءَ وَلَا يُزَوِّجُهُنَّ إِلَّا الْأَوْلِيَاءُ وَلَا مَهْرَ دُونَ عَشَرَةِ دَرَاهِمَ

”Janganlah kalian nikahkan wanita kecuali dengan lelaki yang setara (sekufu`) dan jangan ada yang menikahkan mereka kecuali para wali, serta mahar tidak boleh kurang dari sepuluh dirham.”

Ini adalah hadits yang sangat lemah seperti yang dikatakan oleh Ibnu Abdil Barr.

Hadits ini diriwayatkan oleh Ad-Daraquthni[10] dan Al-Baihaqi[11] dari Jabir bin Abdullah ra. Dalam sanadnya terdapat Mubasysyir bin Ubaid yang dikatakan oleh Ad-Daraquthni setelah dia mengeluarkan hadits ini: ”Mubasysyir bin Ubaid matrukul hadits, hadits-haditsnya tidak ada yang menguatkan.”[12]

Atsar mauquf dari Umar bin Khaththab dengan kalimat senada,

لَأَمْنَعَنَّ تَزَوُّجَ ذَاتِ الْأَحْسَابِ إِلَّا مِنَ الْأَكْفَاءِ

”Sungguh aku akan melarang wanita dinikahi kecuali dengan laki-laki sekufu`.”[13]

Sanadnya tidak shahih sampai ke Umar, karena diriwayatkan dari jalan Ibrahim bin Muhammad bin Thalhah dari Umar, padahal dia tidak pernah bertemu dengan Umar, sehingga sanad ini terputus (munqathi’).[14]

Sedangkan atsar dari Salman, memang secara zahir adalah shahih sanadnya sampai kepada Salman. Tetapi, hanya merupakan pendapat pribadi yang bisa ditafsirkan sebagai bentuk tawadhu’nya Salman dalam mengutamakan bangsa Arab di atas bangsanya. Lagi pula perbuatan para sahabat dan perbuatan Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam sendiri menunjukkan bahwa hal itu tidak berlaku sebagai syarat sah sebagaimana terungkap dari dalil-dalil kelompok yang mengatakan kafa`ah ini bukan syarat sah pernikahan.

Hadits-hadits dari Ibnu Umar, Aisyah dan Mu’adz bin Jabal yang mengatakan bahwa orang arab sekufu` satu sama lain adalah hadits munkar yang sangat lemah. diterangkan panjang lebar oleh Syekh Al-Albani dalam Irwa` Al-Ghalil jilid 6 hal. 268 – 270, dimana setelah menyebutkan kesemua jalur hadits-hadits tersebut beliau berkesimpulan:

Kesimpulannya bahwa jalur-jalur hadits ini kebanyakan sangat lemah, sehingga hati tidak tenang menguatkannya dengan riwayat ini. Apalagi para hafizh telah memvonisnya sebagai hadits palsu seperti Ibnu Abdil Barr dan lannya. Adapun masalah pen-dhaif-annya maka ini telah menjadi kesepakatan, tapi hati ini malah cenderung menganggapnya palsu karena kandungannya sangat jauh dari nash-nash yang telah dipastikan keshahihannya.

Al-Albani tidak sendirian. Jauh sebelumnya para ulama rujukan di bidang hadits dan fikih telah melemahkan hadits ini dengan sangat. Ibnu Abdil Bar misalnya, dia mengatakan hadits ini munkar maudhu’. Sebelum Ibnu Abdil Barr ada Abu Hatim yang menganggap hadits ini bathil, tidak ada asalnya. Di lain waktu dia mengatakan, ”hadits munkar”.[15]

Hadits Aisyah yang diriwayatkan dari jalur Hisyam bin Urwah dari ayahnya, dari Aisyah. Banyak orang yang meriwayatkannya dari Hisyam antara lain Al-Harits bin Imran Al-Ja’fari, Abu Umayyah bin Ya’la Ats-Tsaqafi, Ikrimah bin Ibrahim, Ayyub bin Waqid, Muhammad bin Marwan As-Suddi, Shalih bin Musa, Hisyam mawla Utsman, Al-Hakam bin Hisyam[16]. Semuanya adalah perawi yang bermasalah kecuali Al-Hakam bin Hisyam yang haditsnya hasan. Dengan begitu maka hadits Aisyah ini shahih sebagaimana dikatakan oleh Syekh Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah vol. 3 hal. 56-57, nomor hadits, 1067.

Riwayat tersebut ada dalam Tarikh Dimasyq oleh Ibnu ’Asakir dengan isnadnya sampai kepada Abu Bakr Ahmad bin Al-Qasim, Abu Zur’ah memberitakan kepada kami, Abu An-Nadhr mengabarkan kepada kami, Al-Hakam bin Hisyam mengabarkan kepada kami, Hisyam bin Urwah menceritakan kepadaku, dari Urwah, dari Aisyah yang berkata, Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda,

تَخَيَّرُوْا لِنُطَفِكُمْ فَانْكِحُوا الْأَكْفَاءَ وَاخْطُبُوْا إِلَيْهِمْ

”Pilihlah untuk mani kalian, menikahlah (putri kalian) dengan lelaki yang sekufu’ dan lamarlah (putri-putri) mereka.”

Isnad ini mulai dari Abu Zur’ah sampai ke Al-Hakam adalah shahih atau minimal hasan. Sedangkan Abu Bakar Ahmad bin Al-Qasim di sini adalah Ahmad bin Al-Qasim bin Ma’ruf karena memang dalam Tarikh Dimasyq banyak ditemukan riwayat dengan jalur seperti ini darinya dan dia dianggap tsiqah oleh Abdul Aziz Al-Kattani sebagaimana yang dinukil oleh Ibnu ’Asakir sendiri dalam Tarikh Dimasyq 5/174.

Akan tetapi Syekh Al-Albani sendiri memberikan tafsiran bahwa yang dimaksud sekufu` di sini adalah masalah agama dan akhlak. Tapi bisa saja dipahami bahwa ini adalah anjuran sunnah, bukan syarat sah, karena memang secara logikapun seorang wanita hendaklah dinikahkan dengan yang setaraf dalam hal kedudukan, harta, pekerjaan suku bangsa dan lain sebagainya. Tidak ada yang membantah bahwa itu lebih baik, hanya saja dalam riwayat yang shahih ini tidak secara tegas menunjukkan bahwa itu adalah syarat sah, bahkan untuk syarat luzum (sebagaimana yang akan dibahas nanti)pun tidak. Wallahu a’lam.

Kafa'ah Adalah Hak Mempelai Wanita.

Kafa'ah adalah hak wanita, bukan pria. Artinya, hanya pihak wanitalah yang berhak mengajukan syarat kesetaraan dimaksud. Sedangkan dari pihak pria tidak ada syarat demikian, sehingga dia bebas menikahi wanita dari kalangan paling bawah dan paling hina sekalipun, asal bukan wanita-wanita yang terlarang untuk dinikahi, seperti non ahli kitab atau pelacur.

Hal ini baru akan menjadi masalah bila ada salah satu wali dari pihak wanita tidak menyetujui. Misalnya, si wanita ingin menikah dengan pria pujaannya, lalu si wali tidak menyetujui dengan alasan pria itu tidak sekufu` dengan keluarga mereka. Bagi pendapat yang mengatakan kafa`ah itu adalah syarat keberlangsungan maka wali berhak melarang anak perempuannya untuk melanjutkan pernikahan dan tidak dianggap ’adhil (menghalang-halangi pernikahan). Akibatnya, wali hakim tidak berhak mencabut perwalian dari wali nasab bila alasannya adalah kafa`ah.

Sedangkan bagi pendapat yang tidak mensyaratkan kafa`ah sama sekali, maka selama tidak dilarang dalam agama dan si wanitanya sudah bersedia menikah, maka si wali tidak berhak melarang. Bila masih bersikeras melarang berarti dianggap ’adhil dan hak perwaliannya bisa dicabut oleh hakim (penguasa yang berwenang).

Lalu apa yang menjadi ukuran kesetaraan itu?

Para ulama sepakat bahwa yang menjadi ukuran kesetaraan seorang wanita dan pria untuk bisa menikah adalah agama, sehingga seorang pria diharuskan beragama Islam. Hal lain adalah akhlak, sehingga menjadi hak wanita untuk minta hanya dinikahi oleh pria yang berakhlak mulia.

Selanjutnya ada perbedaan dalam beberapa hal antara lain, keturunan. Dalam literatur klasik disebutkan bahwa orang Arab lebih tinggi derajatnya daripada non Arab sehingga itu menjadi salah satu pertimbangan dalam kafa`ah untuk menikah. Juga masalah kesukuan, misalnya antara Quraisy dengan non Quraisy, dan antara Bani Hasyim dengan orang selain mereka.

Juga dibahas masalah harta, apakah wanita kaya boleh menikah dengan pria miskin, dan seterusnya.

Yang jadi persoalan, bolehkah tetap menikah dengan yang tidak sekufu`, andai terjadi pernikahan yang tidak sekufu` apakah wali sang wanita (bila memiliki lebih dari satu wali) berhak mengajukan keberatan dan membatalkan pernikahan?


Dari buku yang belum terbit "Ranjang Ternoda" Karya Ust. Anshari Taslim Lc.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama