Fikroh.com - Sidang Umum ke-80 Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tahun ini memanas bukan hanya karena situasi global yang makin genting, tetapi juga karena pidato-pidato para pemimpin dunia yang semakin berani dan tegas.
Di tengah banyak suara yang mengutuk kekejaman di Gaza, satu tokoh mencuat dengan suara paling lantang: Presiden Kolombia, Gustavo Petro.
Pidato Petro yang membara mengejutkan hadirin dan memicu ketegangan diplomatik.
Ia bukan hanya menyebut Israel melakukan genosida terhadap rakyat Gaza, tetapi juga secara terang-terangan menuding Amerika Serikat, khususnya Presiden Donald Trump sebagai kaki tangan kejahatan tersebut.
Dalam pidatonya yang disiarkan langsung melalui kanal YouTube resminya, Petro tidak menahan diri dalam menyampaikan kritik.
Ia menuduh Trump bukan hanya diam terhadap kekejaman di Gaza, tetapi juga secara aktif terlibat.
“Trump tak berbicara soal demokrasi, krisis iklim, atau kehidupan. Dia hanya mengancam dan membunuh serta membiarkan puluhan ribu orang terbunuh,” kata Petro.
Pidatonya sontak membuat delegasi Amerika Serikat keluar dari ruang sidang sebagai bentuk protes.
Petro melanjutkan dengan menyebut bahwa serangan Israel terhadap Gaza adalah bentuk genosida yang “direstui” oleh Amerika.
Ia bahkan menyalahkan NATO karena dinilai turut mendukung tragedi kemanusiaan yang sedang berlangsung.
“Tak ada ras yang unggul. Tak ada umat pilihan Tuhan. Bukan AS atau Israel. Umat pilihan Tuhan adalah seluruh umat manusia,” tegasnya.
Tidak berhenti pada kritik, Petro mengambil langkah lebih jauh yang memicu perdebatan global: ia menyerukan intervensi militer internasional untuk menghentikan genosida di Gaza.
“Diplomasi sudah gagal di Gaza. Sekarang saatnya PBB bertindak. Kita butuh pasukan kuat dari negara-negara yang menolak genosida,” ujarnya.
Seruan ini menggaungkan pernyataan Presiden Indonesia Prabowo Subianto yang sebelumnya menawarkan pengiriman 20.000 pasukan perdamaian ke Gaza.
Namun Petro melangkah lebih jauh dengan menyerukan pembentukan aliansi militer dari negara-negara Asia, Slavia, dan Amerika Latin untuk membebaskan Palestina.
“Kita sudah cukup bicara. Saatnya untuk pedang kebebasan atau kematian Bolívar!” teriak Petro, menyitir semangat revolusioner tokoh Amerika Latin Simón Bolívar.
Gustavo Francisco Petro Urrego adalah presiden pertama beraliran kiri dalam sejarah Kolombia.
Masa mudanya diwarnai keterlibatan dalam kelompok gerilya Marxis M-19, yang membawanya ke penjara pada 1985.
Namun, perjalanan hidupnya berubah ketika ia menjadi simbol rekonsiliasi, mendorong perdamaian antara M-19 dan pemerintah Kolombia.
Karier politiknya meroket sejak 1991, dari anggota parlemen, senator, hingga akhirnya terpilih sebagai Presiden Kolombia pada 2022.
Pidatonya di Sidang Umum PBB ke-80 kali ini disebut-sebut sebagai pidato terakhirnya di forum tersebut, dan ia menjadikannya panggung untuk menyampaikan sikap politik yang paling keras dan tak kenal kompromi sepanjang kariernya.
Masa mudanya diwarnai keterlibatan dalam kelompok gerilya Marxis M-19, yang membawanya ke penjara pada 1985.
Namun, perjalanan hidupnya berubah ketika ia menjadi simbol rekonsiliasi, mendorong perdamaian antara M-19 dan pemerintah Kolombia.
Karier politiknya meroket sejak 1991, dari anggota parlemen, senator, hingga akhirnya terpilih sebagai Presiden Kolombia pada 2022.
Pidatonya di Sidang Umum PBB ke-80 kali ini disebut-sebut sebagai pidato terakhirnya di forum tersebut, dan ia menjadikannya panggung untuk menyampaikan sikap politik yang paling keras dan tak kenal kompromi sepanjang kariernya.

