Fikroh.com - Kanker payudara merupakan salah satu penyakit yang paling sering menyerang wanita di Indonesia, dengan angka kejadian yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Menurut data terbaru dari Global Cancer Observatory (Globocan) pada 2022, kanker payudara menjadi penyebab utama kematian akibat kanker di kalangan wanita Indonesia, dengan lebih dari 66.300 kasus baru dan sekitar 22.600 kematian setiap tahunnya. Fenomena ini tidak hanya dipengaruhi oleh faktor biologis, tetapi juga oleh kondisi sosial, ekonomi, dan lingkungan yang unik di Indonesia. Dalam artikel ini, kita akan menguraikan penyebab utama berdasarkan data dan fakta terkini, termasuk statistik insidens, faktor risiko, serta tantangan dalam pencegahan dan pengobatan. Informasi ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat untuk deteksi dini dan gaya hidup sehat.
Statistik Prevalensi Kanker Payudara di Indonesia
Menurut laporan Globocan 2022, Indonesia mencatat lebih dari 408.661 kasus kanker baru secara keseluruhan, dengan kanker payudara menduduki peringkat teratas di kalangan wanita. Tingkat insidens age-standardized rate (ASR) untuk kanker payudara di Indonesia mencapai 42.1 per 100,000 wanita, sementara tingkat mortalitasnya berada di angka 16.6 per 100,000. Data ini menunjukkan peningkatan signifikan sejak tahun 1991, ketika ASR hanya 15.2 per 100,000, hingga mencapai 40.6 per 100,000 pada 2020, dengan rata-rata peningkatan tahunan (AAPC) sebesar 4.1%.
Di tingkat regional Asia Tenggara, kanker payudara menjadi penyebab utama insidens kanker pada wanita, dengan proyeksi hingga 2.03 juta kasus baru per tahun pada 2050—peningkatan 89.2% pada pria dan 65.6% pada wanita. Secara global, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat 2.3 juta kasus baru kanker payudara pada 2022, yang menyebabkan 670.000 kematian, dengan Indonesia berkontribusi signifikan di wilayah Asia. Fakta ini menegaskan bahwa kanker payudara bukan hanya masalah lokal, tetapi juga bagian dari tren global yang dipengaruhi oleh perubahan demografi dan gaya hidup.
Faktor Risiko Umum yang Berkontribusi pada Tingginya Kasus Kanker Payudara
Kanker payudara dipengaruhi oleh berbagai faktor risiko, baik yang tidak dapat diubah maupun yang dapat dikendalikan. Berdasarkan data WHO, sekitar setengah dari kasus kanker payudara terjadi pada wanita tanpa faktor risiko spesifik selain jenis kelamin dan usia di atas 40 tahun. Berikut adalah faktor utama:
- Usia dan Faktor Reproduksi: Wanita Indonesia didiagnosis pada usia lebih muda, dengan median 48 tahun dibandingkan 68 tahun di Eropa. Faktor seperti menstruasi dini, menopause lambat, tidak menyusui, atau paritas rendah meningkatkan risiko, sebagaimana diidentifikasi dalam studi kasus-kontrol di Indonesia.
- Gaya Hidup dan Obesitas: Diet tinggi lemak, indeks massa tubuh (BMI) tinggi, dan kurang aktivitas fisik menjadi pendorong utama. Di Yogyakarta, peningkatan insidens kanker payudara dikaitkan dengan perubahan pola makan dan urbanisasi. Selain itu, penggunaan alkohol, merokok, dan terapi hormon pascamenopause juga berkontribusi, meskipun prevalensinya lebih rendah di Indonesia dibandingkan negara Barat.
- Riwayat Keluarga dan Genetik: Sekitar 5-10% kasus bersifat herediter, terkait mutasi gen seperti BRCA1 dan BRCA2. Namun, di Indonesia, faktor ini kurang dominan dibandingkan pengaruh lingkungan.
- Paparan Lingkungan: Studi di Indonesia menunjukkan bahwa paparan bahan kimia, radiasi ultraviolet, dan polusi udara di daerah urban meningkatkan risiko, terutama pada wanita yang bekerja di lingkungan berisiko. Infeksi virus seperti Epstein-Barr juga disebut sebagai faktor penyumbang.
Faktor Khusus yang Meningkatkan Kasus di Indonesia
Di Indonesia, tingginya angka kanker payudara tidak hanya karena faktor biologis, tetapi juga tantangan struktural dan sosial. Berikut penjelasan berdasarkan data:
- Diagnosis Terlambat dan Kurangnya Skrining: Banyak kasus didiagnosis pada tahap lanjut, dengan odds ratio (OR) 1.908 untuk wanita dengan pendidikan rendah atau tinggal di luar Jawa dan Bali. Kurangnya kesadaran, akses fasilitas kesehatan terbatas, dan biaya out-of-pocket seperti transportasi menjadi penghalang utama. Studi menunjukkan bahwa usia, pendapatan rumah tangga, agama, dan pengetahuan tentang risiko menjadi determinan praktik skrining.
- Disparitas Sosiodemografi: Wanita di daerah pedesaan atau dengan pendidikan rendah memiliki risiko lebih tinggi untuk diagnosis tahap akhir. Selain itu, perbedaan hormon dan reproduksi antar gender dan etnis di Indonesia turut berkontribusi, sebagaimana dianalisis dalam studi sex-disaggregated.
- Perubahan Demografi dan Urbanisasi: Peningkatan populasi kota membawa perubahan gaya hidup, seperti konsumsi makanan cepat saji dan kurang olahraga, yang meningkatkan obesitas—faktor risiko utama.Proyeksi hingga 2034 menekankan perlunya rencana nasional untuk mengatasi lonjakan kasus ini.
Dampak dan Upaya Pencegahan Kanker Payudara di Indonesia
Diagnosis terlambat menyebabkan mortalitas tinggi, dengan proporsi reseptor estrogen/progesteron positif yang lebih tinggi di Indonesia, mempersulit pengobatan. Namun, WHO merekomendasikan deteksi dini melalui mammografi untuk wanita usia 50-69 tahun, yang dapat mengurangi mortalitas hingga 40% di negara maju. Di Indonesia, inisiatif seperti National Cancer Plan 2024-2034 dari Kementerian Kesehatan fokus pada promosi kesehatan, diagnosis tepat waktu, dan pengelolaan komprehensif.
Untuk pencegahan, masyarakat disarankan menjaga berat badan ideal, menghindari alkohol dan rokok, serta melakukan pemeriksaan rutin. Dengan kesadaran yang lebih tinggi, angka kanker payudara di Indonesia dapat ditekan, sebagaimana terbukti di negara-negara dengan program skrining efektif.
Kesimpulannya, tingginya kasus kanker payudara di Indonesia disebabkan oleh kombinasi faktor risiko global dan tantangan lokal seperti diagnosis terlambat serta akses kesehatan yang tidak merata. Data terbaru menunjukkan urgensi aksi kolektif untuk pencegahan. Jika Anda mengalami gejala seperti benjolan di payudara, segera konsultasikan ke dokter. Bagikan artikel ini untuk meningkatkan kesadaran tentang kanker payudara di Indonesia!
