Fikroh.com - Segala puji hanya bagi Allah, yang dengan kehendak-Nya orang sehat bisa jatuh sakit dan orang sakit bisa kembali sembuh. Dia membagi hamba-hamba-Nya ke dalam dua golongan: ada yang taat dan ada pula yang durhaka. Maka, siapa yang menaati-Nya termasuk golongan orang-orang yang beruntung, sedangkan siapa yang durhaka kepada-Nya termasuk golongan orang-orang yang merugi. Ada pula yang berada di antara keduanya, dan sesungguhnya amal perbuatan itu tergantung pada penutupnya (akhir hayat).
Nabi Musa ‘alaihissalam pernah keluar dalam keadaan takut dan penuh kewaspadaan, lalu ia kembali kepada keluarganya sebagai seorang yang diajak bicara langsung oleh Allah (al-Kalīm). Dzun-Nun (Nabi Yunus ‘alaihissalam) pergi dalam keadaan marah, lalu ia ditelan oleh ikan besar dalam keadaan tercela. Muhammad ﷺ hidup sebagai seorang yatim, namun kemuliaan justru diberikan kepada anak yatim itu. Semua itu terjadi dengan ketentuan dari Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Mengetahui.
Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya, pilihan-Nya dari sekian makhluk-Nya, kekasih dan khalil-Nya. Semoga shalawat senantiasa tercurah kepadanya—selama pena menuliskan tinta, selama awan menurunkan hujan, dan selama air mengalir di lembah-lembah—juga kepada keluarganya, sahabatnya, dan orang-orang yang mengikuti jalan mereka, selama bintang beredar di peredarannya.
Pembaca yang Budiman...
Imam Ahmad meriwayatkan dalam Musnad-nya dengan sanad yang dinilai hasan oleh al-Albani, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
«من يأخذ عني هؤلاء الكلمات فيعملَ بهن أو يُعلِّمهن من يعمل بهن» ؟ قال: قلت: أنا يا رسول الله، قال: فأخذ بيدي فعَدَّ فيها خمسًا، وقال: «اتَّقِ المحارمَ تَكُنْ أعْبَدَ النَّاس، وارضَ بما قسم الله لك تَكُنْ أغنى الناس، وأحْسِنْ إلى جارك تكن مؤمنًا، وأحبَّ للناس ما تحب لنفسك تكن مسلمًا، ولا تُكْثِر الضَّحِكَ؛ فإن كثرة الضحك تُميت القلب»
“Siapa yang mau mengambil dariku beberapa kalimat ini, lalu ia amalkan atau ia ajarkan kepada orang yang mau mengamalkannya?” Aku (Abu Hurairah) berkata: “Aku, wahai Rasulullah.” Beliau pun memegang tanganku dan menghitung lima perkara, lalu bersabda: “Jauhilah perkara yang diharamkan, niscaya engkau menjadi hamba yang paling taat. Ridhalah dengan apa yang Allah tetapkan untukmu, niscaya engkau menjadi manusia yang paling kaya. Berbuat baiklah kepada tetanggamu, niscaya engkau menjadi seorang mukmin. Cintailah untuk manusia apa yang engkau cintai untuk dirimu sendiri, niscaya engkau menjadi seorang muslim. Jangan terlalu banyak tertawa, karena banyak tertawa dapat mematikan hati.”
(Hadis ini termasuk jawami‘ al-kalim – kalimat singkat penuh makna – dari Rasulullah ﷺ, karena memuat lima wasiat agung yang termasuk sebaik-baik nasihat seorang muslim untuk saudaranya. Wasiat-wasiat ini menunjukkan keindahan ajaran Islam dan keutamaannya)
Wasiat Pertama: Menjauhi Hal-Hal yang Diharamkan
Larangan-larangan (المحارم) adalah dosa besar dan segala yang diharamkan Allah. Semuanya telah dijelaskan dalam Al-Qur’an dan Sunnah Nabi ﷺ. Allah berfirman:
“Katakanlah: Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan keji, baik yang tampak maupun yang tersembunyi, dosa, perbuatan zalim tanpa alasan yang benar, mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak turunkan hujjah tentang itu, dan mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. Al-A‘raf: 33)
Makna sabda Nabi ﷺ “Jauhilah yang haram, niscaya engkau menjadi hamba yang paling taat” adalah bahwa meninggalkan larangan-larangan Allah adalah ibadah yang paling tinggi nilainya. Nabi ﷺ juga bersabda:
“Apa yang aku larang, maka jauhilah. Dan apa yang aku perintahkan, maka lakukanlah sesuai kemampuanmu.”
Allah sangat murka apabila hamba-Nya berani melanggar hal-hal yang diharamkan-Nya. Dalam shahihain, Nabi ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya Allah memiliki rasa cemburu. Dan kecemburuan Allah adalah apabila seorang mukmin melakukan perkara yang Allah haramkan atasnya.”
Karena itu, menjauhi larangan adalah bentuk pengagungan terhadap kehormatan Allah. Allah berfirman:
“Demikianlah, barang siapa mengagungkan larangan-larangan Allah, maka itu lebih baik baginya di sisi Tuhannya." (QS. Al-Hajj: 30)
Ibnu Katsir menafsirkan ayat ini: barang siapa menjauhi larangan-larangan Allah dan merasa bahwa melanggarnya adalah perkara besar, maka Allah akan memberinya pahala besar, sebagaimana Dia memberi pahala atas ketaatan.
Hasan al-Bashri berkata: “Tidak ada ibadah yang lebih utama daripada meninggalkan apa yang Allah larang.”
Umar bin Abdul Aziz berkata: “Takwa itu bukan hanya shalat malam dan puasa siang, lalu bermaksiat di sela-selanya. Tapi takwa adalah melaksanakan kewajiban dan meninggalkan yang haram. Jika setelah itu masih ada amal tambahan, maka itu adalah kebaikan di atas kebaikan.”
Nabi ﷺ juga memperingatkan bahwa amal ibadah yang banyak tidak akan bermanfaat jika seseorang masih berani melanggar larangan Allah. Beliau bersabda:
“Sungguh akan datang suatu kaum dari umatku pada hari kiamat dengan membawa pahala sebesar gunung-gunung putih, namun Allah menjadikannya debu yang beterbangan. Mereka adalah saudara kalian, sebangsa dengan kalian, mereka juga shalat malam sebagaimana kalian shalat malam. Akan tetapi bila mereka sendirian, mereka melanggar larangan-larangan Allah.”
Contoh keteguhan menjaga kehormatan Allah dapat kita lihat pada Nabi Yusuf ‘alaihissalam. Beliau digoda dengan segala rayuan, namun menjawab:
“Aku berlindung kepada Allah! Sesungguhnya Dia adalah Tuhanku yang telah memberiku tempat yang baik.” (QS. Yusuf: 23)
Beliau memilih penjara bertahun-tahun daripada terjerumus dalam dosa. Ibnul Jauzi berkata: “Di sinilah letak hakikat penghambaan kepada Allah.”
Wasiat Kedua: Ridha dengan Ketentuan Allah
Sabda Nabi ﷺ: “Ridhalah dengan apa yang Allah tetapkan untukmu, niscaya engkau menjadi manusia paling kaya.”
Artinya, jangan selalu menoleh kepada apa yang dimiliki orang lain. Pandanglah mereka yang lebih sedikit nikmatnya, bukan yang lebih banyak. Yakinlah bahwa rezeki dijamin oleh Allah, dan tak akan pernah tertukar. Allah berfirman:
“Sekiranya Allah melapangkan rezeki bagi hamba-hamba-Nya, niscaya mereka akan berbuat melampaui batas di bumi. Tetapi Allah menurunkan rezeki sesuai kadar yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Melihat keadaan hamba-hamba-Nya.” (QS. Asy-Syura: 27)
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Kekayaan bukanlah dengan banyaknya harta benda, melainkan kekayaan adalah kaya hati.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dan beliau juga bersabda:
“Sungguh beruntung orang yang masuk Islam, diberi rezeki secukupnya, dan Allah menjadikannya qana‘ah dengan apa yang diberikan kepadanya.” (HR. Muslim)
Wasiat Ketiga: Berbuat Baik kepada Tetangga
Nabi ﷺ bersabda: “Berbuat baiklah kepada tetanggamu, niscaya engkau menjadi seorang mukmin.”
Jibril terus-menerus mewasiatkan Nabi ﷺ agar berbuat baik kepada tetangga, hingga beliau mengira tetangga akan mendapat bagian warisan. Bahkan Nabi ﷺ menegaskan:
“Lebih baik seseorang berzina dengan sepuluh wanita daripada berzina dengan istri tetangganya. Dan lebih ringan baginya mencuri dari sepuluh rumah daripada mencuri dari rumah tetangganya.”
Betapa besarnya hak tetangga dalam Islam. Bahkan ada orang yang rajin shalat malam dan puasa siang, namun suka menyakiti tetangganya. Nabi ﷺ bersabda:
“Tidak ada kebaikan pada wanita itu. Dia termasuk ahli neraka.”
Sedangkan orang yang hanya mengerjakan shalat wajib dan sedekah sedikit, namun tidak mengganggu tetangganya, Nabi ﷺ bersabda:
“Dia termasuk ahli surga.”
Wasiat Keempat: Mencintai Sesama
Nabi ﷺ bersabda: “Cintailah untuk manusia sebagaimana engkau mencintai untuk dirimu sendiri, niscaya engkau menjadi seorang muslim.”
Prinsip ini adalah salah satu asas persaudaraan dalam Islam. Bahkan Allah memuji kaum Anshar karena mereka lebih mendahulukan tamu daripada diri mereka sendiri, walaupun mereka sendiri sangat membutuhkan. (QS. Al-Hasyr: 9)
Wasiat Kelima: Jangan Terlalu Banyak Tertawa
Nabi ﷺ menutup dengan sabdanya: “Jangan terlalu banyak tertawa, karena banyak tertawa dapat mematikan hati.”
Dalam Shahih Bukhari, Nabi ﷺ bersabda:
“Wahai umat Muhammad, demi Allah, seandainya kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan banyak menangis dan sedikit tertawa.”
Tawa yang berlebihan membuat hati keras dan lalai dari akhirat. Hasan al-Bashri pernah menegur seorang pemuda yang banyak tertawa dengan berkata: “Apakah engkau sudah melewati jembatan shirath? Apakah engkau sudah tahu apakah engkau akan masuk surga atau neraka? Jika belum, mengapa engkau banyak tertawa?”
Sejak itu pemuda tersebut tak lagi terlihat tertawa berlebihan.
Akhirnya, marilah kita amalkan lima wasiat agung Nabi ﷺ ini: menjaga larangan Allah, ridha dengan rezeki-Nya, berbuat baik kepada tetangga, mencintai sesama, dan menghindari tawa berlebihan. Semoga Allah meneguhkan hati kita untuk hidup dengan takwa dan husnul khatimah.
