Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Pengertian Shalat Zawal, Hukum dan Tata Caranya

Pengertian Shalat Zawal, Hukum dan Tata Caranya

Fikroh.com - Shalat Zawal adalah shalat sunnah yang dikerjakan sebelum shalat dzuhur. Tak berbeda dengan shalat pada umumnya. Hanya waktunya saja yang harus diperhatikan. Berikut kami sajikan uraian lengkap mengenai tata cara shalat zawal berdasarkan dalil-dalil dari As-Sunnah.

Dalil Pensyariatannya

Berdasarkan hadits Abu Ayyub al-Anshari radhiyallahu anhu secara marfu’ bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda :

أَرْبَعٌ قَبْلَ الظُّهْرِ لَيْسَ فِيهِنَّ تَسْلِيمٌ تُفْتَحُ لَهُنَّ أَبْوَابُ السَّمَاءِ

“Empat rakaat sebelum Zhuhur yang tidak (dipisahkan oleh salam), dibuka untuknya pintu-pintu langit.” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah, dihasankan oleh al-Albani).

Al-Imam Tirmidzi dalam kitabnya “asy-Syamâil al-Muhamadiyyah” (no. 295) meriwayatkannya dengan lafazh yang lebih lengkap :

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُدْمِنُ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ عِنْدَ زَوَالِ الشَّمْسِ فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّكَ تُدْمِنُ هَذِهِ الْأَرْبَعَ رَكَعَاتٍ عِنْدَ زَوَالِ الشَّمْسِ فَقَالَ: «إِنَّ أَبْوَابَ السَّمَاءِ تُفْتَحُ عِنْدَ زَوَالِ الشَّمْسِ فَلَا تُرْتَجُ حَتَّى تُصَلَّى الظُّهْرُ، فَأُحِبُّ أَنْ يَصْعَدَ لِي فِي تِلْكَ السَّاعَةِ خَيْرٌ» قُلْتُ: أَفِي كُلِّهِنَّ قِرَاءَةٌ؟ قَالَ: «نَعَمْ» . قُلْتُ: هَلْ فِيهِنَّ تَسْلِيمٌ فَاصِلٌ؟ قَالَ: «لَا»

“Bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam senantiasa mengerjakan 4 rakaat ketika Zawâl Matahari.

Lalu aku bertanya : “wahai Rasulullah, engkau senantiasa mengerjakan 4 rakaat tersebut ketika Zawâlnya Matahari.”

Maka Beliau menanggapi : “sesungguhnya pintu-pintu langit dibuka ketika Zawâlnya Matahari, ia tidak ditutup sampai diselenggarakan sholat Zhuhur, maka saya senang dinaikkan (amalan baikku) pada waktu tersebut.”

Lanjutku : “apakah semua rakaatnya membaca (surat)?”.

Beliau menjawab : “iya”.

Sambungku : “apakah dipisahkan dengan salam?”.

Beliau menjawab : “tidak.”

(Hadits ini dishahihkan oleh Imam al-Albani rahimahullah dalam Mukhtashar asy-Syamâil).

Dalam riwayat al-Imam ath-Thabaraniy rahimahullah dalam kitabnya “al-Mu’jam al-Ausath” (III/121) dihasankan sanadnya oleh al-Albani, lafazhnya menerjemahkan kata “تُدْمِنُ” dan “تُرْتَجُ” :

لمَّا نزَل علَيَّ رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم رأَيْتُه يُديمُ أربعًا قبْلَ الظُّهرِ فقُلْتُ يا رسولَ اللهِ إنِّي رأَيْتُكَ تُديمُ أربعًا قبْلَ الظُّهرِ فقال إنَّها ساعةٌ تُفتَحُ فيها أبوابُ السَّماءِ فلا يُغلَقُ منها بابٌ حتَّى يُصلَّى الظُّهرُ فأُحِبُّ أنْ يُرفَعَ لي في تلكَ السَّاعةِ خيرٌ

“Tatkala Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tinggal di rumahku, aku melihatnya senantiasa melaksanakan sholat 4 rakaat sebelum Zhuhur, maka aku bertanya : “wahai Rasulullah, engkau senantiasa mengerjakan 4 rakaat sebelum Zhuhur.”

Maka Beliau menanggapi : “itu adalah waktu ketika pintu-pintu langit dibuka, ia tidak ditutup sampai diselenggarakan sholat Zhuhur, maka saya senang dinaikkan (amalan baikku) pada waktu tersebut.”

Pendapat para Ulama tentang hukumnya

Penulis “‘Aun al-Ma’bud” menukil bahwa sholat ini adalah sholat tersendiri bukan sholat Qabliyyah Zhuhur :

وتسمى هذه سنة الزوال وهي غير سنة الظهر، صرح به الغزالي. قاله المناوي.

“Sholat ini dinamakan dengan Sunnah az-Zawâl, yakni bukan Sunnah (qabliyyah Zhuhur), ditegaskan oleh al-Imam al-Ghazâliy rahimahullah, sebagaimana dikatakan oleh al-Munâwiy.”

DR. Husain Laid menukil beberapa ulama Syafi’iyyah yang menetapkan adanya sholat sunnah Zawâl sebagai sholat sunnah tersendiri. Dalam kitab “Nihâyah al-Muhtâj” (V/351) tertulis :

(قَوْلُهُ : وَهِيَ {سنة الزوال} رَكْعَتَانِ أَوْ أَرْبَعٌ) وَهِيَ غَيْرُ سُنَّةِ الظُّهْرِ كَمَا يُعْلَمُ مِنْ إفْرَادِهَا بِالذِّكْرِ بَعْدَ الرَّوَاتِبِ … قَالَ الْعَلْقَمِيُّ: هَذِهِ يُسَمُّونَهَا سُنَّةَ الزَّوَالِ، وَهِيَ غَيْرُ الْأَرْبَعِ الَّتِي هِيَ سُنَّةُ الظُّهْرِ.

“(Ucapannya, yaitu Sunnah Zawâl dua rakaat atau empat rakaat) yaitu sholat sunnah yang bukan qabliyyah Zhuhur, sebagaimana diketahui dari penyendiriannya dengan menyebutkannya setelah sholat rawâtib….al-‘Alqamiy berkata : “ini dinamakan dengan sunnah Zawâl, yaitu bukan 4 rakaat sunnah (qabliyyah Zhuhur).”

Syaikhul Islam Ibnul Qayyim rahimahullah juga berkata :

هذه الأربع صلاة مستقلة كان يصليها بعد الزوال

“Ini adalah 4 rakaat sholat tersendiri yang dikerjakan setelah Zawâl.”

Sebagian ulama lainnya menganggap itu adalah sholat Sunnah Qabliyyah Zhuhur. Namun berdasarkan dalil yang kami bawakan sebelumnya bahwa ini adalah sholat tersendiri sebagaimana yang dibela oleh DR. Husain.

Tata Cara Shalat Zawal

Sholat ini dikerjakan pada waktu Zawâl, yakni sebagaimana diketahui bahwa Matahari itu terbit dari sebelah Timur lalu naik sedikit demi sedikit sampai di titik puncaknya, sesaat sebelum Zhuhur, kemudian Matahari akan tergelincir bergerak ke sebelah barat sampai tenggelam nanti di barat. Waktu Matahari tergelincir itulah disebut dengan waktu Zawâl yang ini menjadi waktu bagi sholat sunnah yang kita bahas.

Kemudian sebagaimana hadits yang lalu sholat ini dikerjakan 4 rakaat dengan satu kali salam. Al Hafizh al-‘Iraqiy – gurunya Al Hafizh Ibnu Hajar – rahimahumâllah tatkala menjelaskan sabda Nabi “لَيْسَ فِيهِنَّ تَسْلِيم” (tidak ada padanya salam)

ٌأَيْ لَيْسَ بَيْنَ كُلِّ رَكْعَتَيْنِ مِنْهَا فَصْلٌ بِسَلَامٍ

“Yakni tidak dipisah setiap dua rakaat dengan salam.”

Dalam hadits yang lalu terdapat isyarat bahwa Nabi mengerjakannya di rumah dan ini sesuai dengan keumuman bahwa sholat sunnah afdholnya dikerjakan di rumah.

Penulis: Ust Neno Triyono