Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Razia Sultana: Ketika Cinta Menjatuhkan

Razia Sultana: Ketika Cinta Menjatuhkan

Fikroh.com - Razia (Radhiyyah) adalah Sultanah pertama dunia Islam, 15 tahun sebelum Sajaratud Duur menjadi Malikah. Keduanya berasal dari mamluk (budak) Turki dan dalam keindahan Tauhid, keduanya menjadi bintang bersinar di dunia Islam. Islam tidak hanya menyelamatkan mereka dari kapal budak Viking, namun juga mengantarkan mereka ke singgasana kekuasaan dinasti Islam pada abad 13.

Razia, adalah anak Altumish, yang menjadi budak Qutbuddin Aibak, Sultan Turki di Delhi. Karena karir militernya cermelang, dia dinikahkan dengan anak perempuan Qutbuddin Aibak dan selanjutnya mewarisi kekuasaannya (1211). Lewat tangan dinginnya, invasi Mongol berhasil ditahan di perbatasan India (1219) sebagaimana Mamluk di Mesir kemudian juga berhasil menahan serbuan Mongol di Ayn Jalut, Palestina (1260). 

Altumish mempunyai tiga anak lak-laki dan seorang perempuan. Namun, hanya Razia yang tampak menonjol dalam kepemimpinan. Ketika anak laki-lakinya tidak kompeten memimpin. Mereka lebih menyukai perempuan dan pesta ketimbang memerintah. Altumish mewasiatkan Razia sebagai penggantinya, di tengah tantangan  para penasehat dan qadhi kerajaan. 

Sepeninggal Altumish, intrik dan perebutan kekuasaan terjadi. Para jenderal Turki lebih memilih mengangkat saudaranya, Ruknuddin. Alih-alih, dia bukan pemimpin yang cakap seperti dikatakan ayahnya. Urusan negara terbengkalai dan penduduk sangat marah. Hanya enam bulan, dia dipaksa turun dan kemudian dieksekusi. Atas desakan rakyat, Razia diangkat menjadi Sultanah seperti wasiat ayahnya. 

Razia adalah seorang pemimpin yang cakap ayahnya. Dia sering mengunjungi Masjid Raya Delhi, mendengarkan keluhan rakyat dan memutuskan perselihan di antara mereka. Razia sering memimpin langsung perang, menaklukan wilayah-wilayah baru. Namanya disebut dalam khutbah-khutbah Jum’at dan tercetak dalam mata uang. 

Sebagaimana tradisi Sunni, dia harus meminta ijin atas posisi barunya sebagai penguasa Hindustan. Berbeda dengan Shajarat yang permohonan sesudahnya yang ditolak Khalifah, permohonan Razia dikabulkan Khalifah  dan mendapatkan gelar Malikah Delhi (1237). 

Para sejarawan berpendapat Khalifah menerima permohonan Razia sebagiannya karena kepentingan geopolitik. Dia membutuhkan benteng Sunni di wilayah timur dalam menghadapi Mongol dan sosok itu ada pada kepemimpinan Razia.  

Eksistensinya mengundang kagum dan sekaligus cemburu banyak orang. Banyak bangsawan yang hendak melamarnya. Rupanya, hatinya terpikat kepada Jamaluddin Yaqut, seorang budak Afrika yang merawat kuda-kuda istana. Tuduhan dilayangkan kepadanya. Pengadilan memutuskan bahwa kedekatannya melanggar Syariah, diturunkan dari jabatan, menikah dan tinggal di istana. Adiknya, Muizzudin Bahram menggantikannya.  

Tidak terima, Razia melawan, namun dikalahkan. Dia ditawan oleh Altuniya, salah seorang jenderal Turki, yang menurunkannya, namun kemudian jatuh hati, menikah dan berbalik bersekutu dengannya. 

Dalam pertempuran memperebutkan kembali tahtanya di Delhi, pasukannya dikalahkan. Suaminya tewas dan dia berhasil meloloskan diri. Dalam keadaan kelaparan, dia bersembunyi di sebuah gubug. Seorang petani Hindu membunuhnya ketika sedang terlelap tidur dengan pakaian perangnya. 

Razia dimakamkan di samping suaminya bersama dua makam anak kecil yang tidak diketahui namanya. Ibnu Batutah (1335-1340) menyebutkan makamnya banyak diziarahi penduduk dan dalam tradisi India yang mistis, sosok Razia menjadi salah satu dari sosok yang disucikan.  

Razia adalah seperti bintang yang bersinar terang, namun  juga meteor yang dengan cepat meluncur jatuh. Namanya harum dikenang dalam syair dan cerita rakyat tentang perjuangan eksistensial seorang perempuan di tengah pandangan sosial dan politik yang tidak mendukung.

Penulis: Ahmad Dzakirin