Proud To Be Muslim Psychologists

Fikroh.com - Dalam sebuah bukunya pakar psikologi islam Prof. Malik Badri menulis sebuah paragraf yang berbunyi:

"Unthinking repetition of Western Theories and practices in the discipline of psychology probably presents one of the most serious threats to the status Islamic ideology Aming our Muslim scholars and laity. Western psychologists propound theories about man's personality, motivation and behaviour which are on many ways contradictory to Islam. These theories and their applications are carefully sugar-coated with the attractive cover of 'science'. Muslim psychologists, like there colleagues in other parts of the world, have an anxious zeal to be introduced under the prestigious umbrella of the sciences. This motivation unfortunately leads many of them to consciously or unconsciously accept blindly, and at Times dogmatically, theories and practices that are, to say the least, unsuitable for application in their Muslim theories. In this book, I shall limit myself to a simplified, non-pedantic discussion about the dangers of this blind copying among Muslim psychologists and I shall try to give some concrete examples from my own experiences both as a university professor and a psychotherapist." (Malik Badri, The Dilemma of Muslim Psychologists, 2016: 2-3. Buku ini pertama kali dicetak tahun 1979)

"Pengulangan tanpa pemikiran kembali terhadap teori-teori Barat dan praktek dalam disiplin psikologi mungkin merupakan salah satu ancaman yang paling serius terhadap status ideologi Islam di antara sarjana Muslim dan orang awam kita. Para psikolog Barat mengemukakan teori-teori tentang kepribadian, motivasi, dan tingkah laku yang dalam banyak hal bertentangan dengan Islam. Teori-teori dan terapannya ditutupi dengan sampul yang menarik, yaitu 'ilmu pengetahuan.' Para psikolog Muslim seperti halnya dengan koleganya di belahan bumi lainnya, mempunyai keinginan yang kuat untuk dikenal di bawah panji-panji yang berprestise, yaitu ilmu pengetahuan. Dorongan ini membuat kebanyakan dari mereka, secara sadar maupun tidak sadar, menerima begitu saja teori-teori dan praktek yang sebenarnya tidak sesuai bila diterapkan di negara-negara Islam. Dalam buku ini saya merasa perlu membatasi diri para sebuah diskusi yang sederhana tentang bahaya penjiplakan membabi buta yang dilakukan para psikolog Muslim. Di sini saya ingin memberikan beberapa contoh kongkret yang berasal dari pengalaman saya sendiri, baik sebagai seorang profesor maupun psikoterapis." (Malik B. Badri, Dilema Psikolog Muslim, 1996: 2)

Dalam tulisan ini saya tidak akan membahas seputar konsep psikologi dalam Islam menurut Prof. Malik Badri. Tapi dari perkataan beliau di atas, satu hal yang bisa kita ambil: "Berbanggalah menjadi psikolog Muslim,  berbanggalah dengan konsep psikologi yang berlandaskan pandangan alam Islam, dan berhentilah mengekor konsep ilmu peradaban lain khususnya Barat." Cukuplah buku "The Dilemma of Muslim Psychologists" menjadi bukti usaha Badri dalam melakukan islamisasi psikologi dan bukti akan bangga dan berpegang teguhnya ia pada keislamannya lewat ilmu psikologinya.

Pelajaran tersebut bukannya hendak memberi perintah untuk menutup diri serapat mungkin. Tapi hanya bermaksud supaya bersikap adil terhadap Barat dengan mengamalkan apa kata Imam Al-Zarnuji dalam Ta'lim Muta'allim-nya: "Khudz ma shafa wa da' ma kadar" (Ambil yang baik tinggalkan yang buruk). Cakap dalam memilih dan tepat dalam memilah. Bukan "asal comot" demi gengsi dan kepuasan diri semata. 

Namun, kalau tidak mampu dan dirasa konsep yang kita miliki sudah utuh, menyeluruh, bahkan lebih baik, untuk apa lagi meniru Barat? Lebih-lebih ketika worldview Barat (sebagai tantangan besar umat Islam saat ini) sudah menghegemoni banyak sekali ilmu pengetahuan, khususnya lewat kampus-kampus. Sehingga tak aneh jika tantangan terbesar umat Islam saat ini adalah tantangan ilmu. Bukan sekadar "ignorance" tapi "confusion" (kekacauan) ilmu itu sendiri sebab serangan pandangan alam Barat.

Al-Attas pernah mengatakan: "Ingatlah, bahwa kita adalah umat yang tidak terbiasa dan tidak dibenarkan untuk kehilangan harapan dan kepercayaan diri, maka tidak mungkin bagi kita untuk tidak melakukan sesuatu melainkan bertengkar sesama kita sendiri dan meneriakkan slogan kosong dan aktivisme yang negatif sementara kita membiarkan tantangan zaman yang sebenarnya kita tanpa perlawanan yang positif. Tantangan yang sebenarnya adalah yang bersifat intelektual dan perlawanan positif harus ditingkatkan melalui kekuatan benteng yang bukan hanya berdasarkan kekuatan politik namun oleh kekuatan yang didasarkan pada ilmu yang benar." (Syed Muhammad Naquib al-Attas, Islam dan Sekularisme, 2011: XXIX).

Oleh sebab itu, kalaupun masih "ngotot" mau mengambil dari Barat namun tidak cakap memilah dan memilih, jangan sampai menerima begitu saja teori para filosof Barat seperti John Locke, David Hume, Immanuel Kant, Friedrich Hegel, Edmund Husserl, Hans-George Gadamer, Jurgen Habermas, Michel Foucault, Jacques Derrida, Ferdinand De Saussure, Jean Jacques Rousseau, Charles Robert Darwin, Karl Marx, ataupun Marie Curie. Tapi cukuplah kita mencontoh bagaimana kesungguhan mereka dalam menciptakan satu teori yang pengaruhnya sampai ke hampir penjuru negeri. 

Dan jangan sampai menerapkan sekularisme sebagai basis pertumbuhan budaya ilmu di Barat, sebab Islam berbeda dengan Barat. Cukuplah sejarah Islam, mulai dari masa Nabi Muhammad, kekhalifahan yang empat, sampai masa Turki Utsmani membuktikan bahwa pengikutsertaan Islam menjadi faktor utama pertumbuhan budaya ilmu dalam peradaban Islam secara masal.

Atau dalam bahasa Muhammad Asad (cendekiawan Muslim berdarah Yahudi), “Kita harus punya kemauan untuk belajar dan untuk maju dan menjadi efisien seperti bangsa-bangsa Barat dalam bidang ilmu pengetahuan dan ekonomi. Tetapi yang tidak boleh dikehendaki kaum Muslimin yalah melihat dengan mata Barat, berpikir dengan pikiran Barat; mereka tidak boleh, kalau mereka berhasrat untuk tetap Muslim, berkehendak untuk menukar peradaban spirituil Islam dengan eksperimen-eksperimen Barat yang materialistik.” (Muhammad Asad, Islam di Simpang Jalan, 1983: 80-81).

Tentu amanah penulis  buku "The Dilemma of Muslim Psychologists" ini bukan hanya terikat dengan ilmu psikologi. Mesti dikiaskan ke ilmu-ilmu lain. Itulah mengapa Islamisasi ilmu pengetahuan kontemporer, sebagaimana yang selalu digembar-gemborkan Prof. Al-Attas, Prof. Wan dan murid-muridnya sampai detik ini, sangat dibutuhkan. Sebab, satu-satunya cara membangkitkan peradaban Islam adalah dengan menumbuhkan budaya ilmu, yang ilmunya sesuai dengan Pandangan alam Islam.

'Ala kulli haal, semoga pesan psikolog Muslim luar biasa ini bisa diamalkan. Semoga kita lebih bangga dan percaya diri lagi dengan ilmu pengetahuan "milik kita sendiri" (yang berasas pandangan alam Islam). Dan semoga kita semakin bangga dengan Islam sebagai akidah dan dasar pemikiran dalam mengkaji berbagai macam ilmu. Ingatlah dalam buku yang sama, Asad mengatakan bahwa, salah satu syarat eksis dan langgengnya sebuah peradaban adalah dengan menumbuhkan rasa bangga dalam diri umatnya terhadap agama dan peradabannya sendiri.

Semoga Prof. Malik B. Badri diberikan rahmat dan sebaik-baik tempat di sisi Allah SWT.

Oleh: Fatih Madini (Mahasiswa At-Taqwa College)

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama