Mengukir Sejarah, Ribuan Etnis Tionghoa Masuk Islam di Masjid Lautze

Fikroh.com - Di lantai 3 Masjid Lautze, tepatnya di ruang sekretariat terpampang foto Abdul Karim bersama Buya Hamka dan Soekarno,. Masjid Lautze menyisakan sejarah panjang.

Pendirinya Abdul Karim Oei Tjeng Hien merupakan sahabat dekat Presiden Pertama Indonesia Soekarno dan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) pertama Buya Hamka.

Suasana Masjid Lautze yang terletak di kawasan Pasar Baru, Jakarta Pusat, Sabtu (2/5/2020). Masjid Lautze tidak hanya unik karena memiliki arsitektur khas bangunan Tionghoa, tetapi juga karena terdapat beberapa potong ayat Al-Quran yang ditulis dalam bahasa Arab, bahasa Mandarin, dan bahasa Indonesia. Tribunnews/Jeprima (Tribunnews/JEPRIMA)

Abdul Karim Oei adalah pendiri organisasi warga etnis Tionghoa Indonesia Islam yang disebut Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI). Masjid Lautze didirikan oleh Yayasan Haji Karim Oei, yang kini diketuai oleh anak bungsu Abdul Karim Oei, yakni Ali Karim Oei (65 tahun).

"Beliau (Abdul Karim) orang Indonesia etnis Tionghoa. Tahun 1930an masuk Islam jadi mualaf," kata Ali kepada Tribun.

Masjid Lautze berlokasi di Jalan Lautze 87-89, Sawah Besar, Jakarta Pusat. Masjid didirikan di daerah pecinan. Di masjid ini warga etnis Tionghoa dibantu dan dibimbing jika akan memeluk atau memahami agama Islam, belajar Salat, dan membaca Al Quran.

"Di sini juga sebagai pusat informasi, sekaligus menjadi tempat pembelajaran tentang Islam bagi warga etnis Tionghoa," tutur Ali.

Semangat Abdul Karim Oei memperkenalkan Islam kepada warga etnis Tionghoa ini yang kemudian diteruskan. Sejak 1997-2019 Masjid Lautze telah memberikan pelayanan kepada masyarakat yang ingin memeluk agama Islam. Bahkan hingga kini jumlahnya sudah 1.531 orang, yang mayoritas dari etnis Tionghoa.

"Kita bikin Masjid Lautze kita kasih lihat banyak juga Islam itu yang bawa orang  Tionghoa. Karena kita mendakwah untuk orang-orang tionghoa. Sudah ribuan kita mengislamkan," katanya.

Ali mengatakan Islam itu Rahmatan Lil Alamin, rahmat untuk semesta alam. Tak membedekan suku. "Karena itu kita dakwah di lingkungan Tionghoa," sambungnya.

Di lantai 3 Masjid Lautze, tepatnya di ruang sekretariat terpampang foto Abdul Karim bersama Buya Hamka dan Soekarno. Bertiga mengenakan jas dalam foto hitam putih tersebut.

Jika diperhatikan dari dekat, sosok Buya Hamka terlihat mengenakan sarung dengan setelan jas yang terlihat kebesaran atau tidak sesuai dengan proporsional badan.

"Bung Karno sesi foto syaratnya harus pakai jas. Terpaksa (Buya Hamka) minjem baju dan jasnya kedodoran bawahnya sarung. Ini foto resmi di studio," kata Ali seraya memperlihatkan foto tersebut.

Sosok Oei, merupakan tokoh nasional yang turut memperjuangkan kemerdekaan Indonesia bersama dengan Soekarno dan Buya Hamka. Meski memiliki paham yang berbeda, kata Ali, ketiganya tetap berteman. Jika Buya Hamka dan Abdul Karim Masyumi, sementara Soekarno adalah Nasakom. "Politik berbeda tapi tetap berteman," tutur Ali Karim.

Ali menceritakan persahabatan ketiganya erat ketika Soekarno dibuang ke Bengkulu. Bahkan Soekarno pernah bekerja di perusahaan meubel milik Oei.

"Sampai dia yang mengawinkan Soekarno dan Fatmawati," tuturnya. Sampai Soekarno menjadi presiden, mereka tetap bersahabat. Bahkan Oei kerap dipanggil ke Istana Merdeka.

"Bapak saya selalu dipanggil ke Istana. Makan siang di Istana, ngobrol soal negara. Dia ditawarkan oleh Soekarno macam-macam tapi tidak mau," ujarnya. (ny/Sumber: Tribunnews.com)

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama