Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Jejak Khilafah Ustmani di Nusantara

 

Jejak Khilafah Ustmani di Nusantara

Fikroh.com - Interaksi Indonesia dengan Turki Ustmani dimulai pada awal abad 16 ketika Portugis mendominasi jalur perdagangan maritim di Samudera Hindia. Angkatan laut Portugis tidak hanya mengancam perdagangan rempah antara Kesultanan Aceh dengan negara-negara lain, namun juga keselamatan perjalanan Haji Aceh ke Mekkah. 

Pada 1538, Sultan Aceh, Alauddin Riayat meminta bantuan Khalifah Sulaiman Agung menghadapi ancaman Portugis. Khalifah tidak hanya mengirim senjata dan amunisi, namun juga para instruktur militer, spesialis bangunan dan pakar lainnya.

Ini menjadi awal kerjasama  panjang antara Khilafah Ustmani dengan Kesultanan Aceh. Pertukaran diplomatik pertama dilakukan pada 1547.

Aceh menjadi kekuatan regional. Ustmani mengajari rakyat Aceh cara membuat meriam pelbagai ukuran. Setelah itu, pembuatan meriam menyebar ke seluruh wilayah Nusantara. Model meriam Ustmani dapat dijumpai di Makasar, Mataram, Jawa, Minangkabau, Malaka dan Brunei.

Pada puncak kejayaannya (abad 17), Aceh memiliki 1200 meriam berukuran sedang serta 800 meriam kecil dan senapan. Kapal-kapal Aceh diperbolehkan memakai bendera Ustmani. Karena itu, Aceh mengendalikan jalur perdagangan rempah-rempah lebih banyak ketimbang Portugis. Portugis menyerang Aceh dan Laut Merah namun gagal karena kekurangan sumber daya.

Setelah abad 16, hubungan Ustmani dan Aceh mengalami stagnasi seiring melemahnya Ustmani. Angkatan laut meninggalkan Samudera Hindia untuk selamanya setelah lepasnya Yaman dan penutupan semua akses pelabuhan pada pertengahan abad 17. Hanya saja, pengaruh Turki di Sumatera dan beberapa kepulauan lainnya di Nusantara masih berlangsung.

Pada abad 19 di Asia Tenggara menjadi ajang petualangan kolonial Barat. Beberapa kesultanan seperti Aceh dan Riau meminta perlindungan Ustmani dalam menghadapi dominasi kekuatan Kristen. Misi diplomatik pertama di Asia Tenggara dibuka di Singapura (1864) dan Batavia (1883). Misi ini menjadi bagian upaya Ustmani untuk mempromosikan persatuan Islam.

Meskipun pemerintahan Hindia Belanda tidak keberatan dengan pembukaan konsulat di Jakarta, namun mereka khawatir dan membatasi aktivitas Ustmani di nusantara. Dalam banyak hal, upaya Belanda berhasil.

Ketika Sultan Ustmani menyerukan ”Jihad” kepada umat Islam  dalam Perang Dunia Pertama (PD I), Duta Besar Belanda di Istanbul protes karena posisi Belanda netral sehingga tidak dibutuhkan mobilisasi Muslim Indonesia. Pemerintah Ustmani merevisi seruannya dan mengeluarkan Muslim Indonesia dari mobilisasi tersebut.

Sumber: Murat Mert dan Wikipedia