Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Sultanah Tajul Alam Safiyatuddin Shah: Perempuan Berdaulat di Nusantara

Sultanah Tajul Alam Safiyatuddin Shah: Perempuan Berdaulat di Nusantara

Fikroh.com - Jika India memiliki Razia, sultanah Mamluk yang berkuasa di Delhi (1205-1240), dan Mesir memiliki Syajarad Dur, Sultanah Mamluk di Kairo (1250), maka sejarah Nusantara (1250) memiliki sosok perempuan tangguh, Putri Seri Alam. 

Putri Seri Alam menjadi sultanah pertama, bergelar Tajul Alam Safiyatuddin Shah (Mahkota Dunia, Kemurnian Agama) di antara empat sultanah lainnya. Sultanah Nur Alam Naqiatuddin (1675–1678), Sultanah Inayat Zakiatuddin (1678–1688), dan Sultanah Kamalat Zainatuddin Syah (1688–1699).

Dia adalah puteri tertua Sultan Iskandar Muda (1607-1636). Suaminya, Sultan Iskandar Tsani wafat tanpa keturunan. Pengangkatannya ditolak sebagian ulama, namun didukung ulama besar, Syaikh Nuruddin ar Raniri.

Era kepemimpinannya yang cukup panjang, 35 tahun jelas menunjukkan derajat kepiawaiannya memerintah di tengah kemunduran Aceh pasca Sultan Iskandar Muda atau dalam potretnya yang lebih besar kemunduran dunia Islam. 

Di dalam negeri, dia harus berhadapan dengan pelbagai kelompok kepentingan yang saling berebut pengaruh. Kelompok  orang-orang kaya yang pragmatis, elemen anti Belanda dan kalangan agamawan yang pernah menolak kepemimpinannya.

Berbeda dengan kepemimpinan ayahnya yang kuat dan otokratik, dia berupaya memitigasi pelbagai kelompok kepentingan tadi dengan pola kepemimpinan yang merangkul. Di tengah beragam kepentingan, sultanah dianggap sebagai figur penyeimbang. Dia selalu melibatkan para orang kaya dalam proses pengambilan keputusannya, tanpa meninggalkan eksistensi para ulama dan kelompok anti asing. Menurut Sher Banu Khan, dia selalu memiliki keputusannya sendiri.

Sultanah mengangkat Nuruddin ar Raniri dan Abdurauf as Singkili sebagai penasehatnya. Nuruddin adalah ulama tasawwuf yang sukses melawan penyebaran ajaran Wihdatul Wujudnya Hamzah Fansuri di Aceh dan Jawa. Sedangkan Abdurauf as Singkili dikenal karena kitab Fiqhnya, Mir’atul Tullab, yang menjadi dasar hukum para qadhi (hakim) kerajaan.

Di mata ulama, sultanah dilihat sebagai penguasa yang memperhatikan syariah dan tradisi keagamaan masyarakat. Dia dapat mengatasi stigma perempuan di tengah dominasi patriarki. Sultanah pandai menempatkan diri di depan khalayak di istana, tempat umum atau di masjid. Dia selalu tampak menutupi muka atau berada di belakang tirai, belakang pintu, atau jendela.

Di era kepemimpinannya, perdagangan mengalami kemajuan pesat, walau dia gagal mempertahankan  Perak di Semenanjung Malaya dan Sumatera Barat dari tangan Belanda. Aceh menjadi eksportir emas dan gajah sehingga makmur dan murah pangan. 

Aceh memang tidak lagi kuat seperti era ayahnya, namun era kepemimpinannya setidaknya menunjukkan: 

Pertama, kemampuannya menghadapi pergulatan di tengah dominasi patriarkis. Safiatuddin relatif lebih berhasil ketimbang Sultanah Razia India, atau tidak mengenaskan seperti Syajaratuddur, Mesir. Meskipun masih di bawah Elizabeth I, yang sukses mentransformasi Inggris menjadi imperium dunia.  

Kedua, kemampuannya yang relatif baik dalam memerintah dan mematuhi baik hukum Islam sehingga menciptakan kemakmuran dalam masyarakat.

Oleh: Ahmad Dzakirin