Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Menyelami Hakikat Sufi dan Tasawuf

Menyelami Hakikat Sufi dan Tasawuf

Fikroh.com - Sebuah derajat di mana seorang hamba telah sampai pada titik, ia tidak lagi melihat dirinya melainkan hanya sorang hamba dari Tuhan yang Maha Kuasa. Setelah cukup lama meniti jalan berislam dengan menjalankan segala kewajiban dan meninggalkan segala larangan, seorang hamba mulai merasakan kelezatan beribadah, bahkan melihat semua yang Allah swt perintah merupaan hobi dan kebahagiaan baginya. Aturan-aturan Allah yang dulunya dirasa hambatan, pengekangan, baginya merupakan kebahagiaan, bahkan kebutuhan.

Nabi Muhammad Saw adalah qudwah (tauladan) termulia dalam berinteraksi dengan Tuhannya. Ketika dilanda kesusahan, kegentingan, beliau kembali kepada Allah dengan melaksanakan shalat.

( ﺃﺭﺣﻨﻲ ﺑﺎﻟﺼﻼﺓ ﻳﺎ ﺑﻼ )

“Buatlah aku tenang dengan sholat wahai Bilal..”.

Rasa tenang yang didapatkan di dalam shlat inilah, yang membuat orang-orang solih lupa akan segala hal di sekitarnya. Diceritakan bahwa ada seorang sahbat nabi, yang tertusuk panah di tengah melaksanakan solat. Ia tidak meraskan kesakitan apapun, meski darahnya mengalir deras. Panah itu dicabut dari tubuhnya, ketika ia dalam keadaan solat. Hingga rasa sakit itu baru terasa setelah sahabat tadi menyelsaikan sholatnya.

Tingkatan dalam beragama, ini juga dijelaskan oleh Nabi Muhammad dalam hadis Jibril, saat bertanya kepada Nabi Muhammad: “Wahai Muhammad, apakah itu Ihsan?”. Nabi menjawab: “Ihsan adalah, agar engkau beribadah untuk-Nya dengan keyakinan bahwa engkau melihat Allah, jika tidak mampu, katahuilah bahwa Dia melihtmu”. Beribadah seakan melihat Allah, disebut (maqam Musyahadah), dan merasa dilihat oleh Allah adalah (maqam Muraqabah).

Musyahadah artinya, seorang hamba tidak lagi melihat dirinya, ibadahnya, dan segala hal di dunia. yang ia lihat adalah Allah semata, bumi dan langit mengingatkannya kepada Allah, tidak ada yang wujud secara mutlak (absolut), keculi Allah Swt. Dan makna Muraqabah , adalah melihat bahwa dirinya tidak pernah luput dari pengawasan Allah, tidak ada yang bisa disembunyikan dari Allah, dan keyakinan bahwa Allah Maha Mengetahui segala hal. Sehingga seorang hamba enngan untuk melakukan apapun yang membuat Tuhannya marah dan murka.

Dalam Solat, kita selalu membaca:

ﺇﻥ ﺻﻼﺗﻲ ﻭﻧﺴﻜﻲ ﻭﻣﺤﻴﺎﻱ ﻭﻣﻤﺎﺗﻲ ﻟﻠﻪ ﺭﺏ ﺍﻟﻌﺎﻟﻤﻴﻦ

"Sesungguhnya Salatku, dan ibadahku, hidupku dan matiku, hanyalah untuk Allah Swt."

Hubungan rohani-etika seorang hamba dengan Tuhannya, manusia lainnya, bahkan diriya sendiri, sudah masuk dalam cakupan maqam ihsan yang disebutkan di dalam hadist. Termasuk segala hal yang berkaitan dengan penataan hati, kebersihan jiwa, dan jernihnya akal.

Tingkatan Ihsan inilah yang -oleh para ulama- kemudian disebut “Tasawwuf” dan pelakunya disebut “Sufi” atau “Mutashawwif”. Terlepas dari perbedaan atau sejarah asal kata “Tasawwuf”, namun yang menjadi sorotan kita adalah subsatansi dari penjelasan di atas.

Segala disiplin ilmu keislaman, memang tidak tercatat di era Nabi Muhammad saw dan sahabantnya, seperti akidah, fikih, tafsir, hadis dan sebagainya. Semua perangkat imu-ilmu di atas, masih melekat dan mendarah-daging bagi beliau-beliau. Hingga pada akhirnya muncul era di mana semua disiplin ilmu dikodifikasikan, kemudian diajarkan secara metodelogis. Termasuk di dalamnya ilmu Tasawwuf.

Maka mucullah beberapa istilah-istilah, yang kerap kali kita temukan dalam buku Tasawwuf. Seperti misalnya “Takhalli, Tahalli, dan Tajalli”.

Takhalli (ﺍﻟﺘﺨﻠﻲ ) yang artinya “pengkosongan/penyucian”, adalah fase seorang hamba membersihan hatinya dari segala penyakit hati dan jiwa.

Penyakit yang dimaksud adalah hal yang maknawi, seperti rasa ingin dipuji, sombong, hasud, iri, dengki, dsb, yang harus dibersihkan terlebih dahulu. Caranya adalah dengan banyak berlatih (riyadhah ), berzikir dan meminta perlindungan kepada Allah dari sifat-sifat keji di atas.

Setelah hati kosong dari penyakit-penyakit, barulah dimulai fase Tahallai (ﺍﻟﺘﺤﻠﻲ) yang artinya “penghiasan”. Menghiasi hati dan perbuatan dengan segala sifat mulia dan terpuji, seperti ikhlas, tawakal, sabar, rendah hati, istiqamah dll .

Habis gelap terbitlah terang, setelah dua fase ini otomatis mencapai Tajalli (ﺍﻟﺘﺠﻠﻲ) yang artinya “menjadi terang bercahaya”. Di fase iniah seorang dikatakan sudah mencapai tingkatan ihsan, di manapun ia berada, apapun yang terjadi, orang yang sudah mencapai derajat ini akan mejadi penerang jalan menuju Allah swt. Dalam ibadah, sosial, rohani maupun kejernihan akal.

Ini hanya segelitir dari Tasawwuf, masih banyak hal yang disalahpahami tentang tasawwuf bahkan disesatkan karena kurang membaca perihal tasawwuf dari sumbernya yang otentik. Atau menilai tasawwuf dari orang-orang yang mengaku dirinya sufi, tapi perbuatannya sangat jauh untuk dikatakan sufi. jika ingin menganal Tasawwuf lebih jauh, seperti dikatakan para Ulama adalah dengan banyak menghadiri majlis orang solih, dan mendengatkan nasihat-nashat, serta banyak berbadah, membaca al-Quran dan sabda Baginda Nabi Muhammad saw. wallahualam.

Oleh: Ali Afifi Al-Azhari