Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Koreksi Atas Viralnya Poster: Makan Permen Fasilitas Bank Haram

Koreksi Atas Viralnya Poster: Makan Permen Fasilitas Bank Haram

Fikroh.com - Sebuah poster viral di media sosial. Poster dengan tulisan: Terlihat sepele? Makan permen fasilitas BANK, Permen ini haram hukumnya dimakan begitu juga air minum, makanan hadiah tas jam dinding, dari BANK, karena seluruh hutang berbuah Manfaat, mau itu permen atau yang lainnya maka hukumnya RIBA. (Selesai kutipan)

Lalu apa hukum yang sebenarnya?

Menurut Penjelasan Ustadz Abdullah Al-Jirani keharaman pada tambahan manfaat dari hutang piutang adalah jika adanya akad sebelumnya:

"Dalam akad hutang-piutang, tambahan manfaat yang haram karena termasuk riba, hanyalah tambahan yang dimasukkan dalam akad dan bersifat lazim (harus)." Jelasnya.

Maka jika tidak ada kesepakatan yang mengikat dan bersifat lazim, hukumnya boleh bahkan mustahab.

"Adapun yang tidak, maka bukan riba dan hukumnya boleh, bahkan bisa mustahab (dianjurkan) bagi orang yang berhutang sebagai bentuk rasa terima kasih kepada yang menghutangi." Tambahnya.

Lebih lanjut Ustadz Abdullah mengatakan bahwa fasilitas yang tersedia di Bank tidak semuanya termasuk dalam akad hutang piutang.

"Berbagai fasilitas yang ada di bank, seperti permen, air minum, makanan, tempat duduk, AC, tempat parkir dll, tidak termasuk dalam akad hutang-piutang."

Ustadz Al-Jirani juga memperjelas maksud dan tujuan seseorang ke Bank tidak semuanya untuk urusan hutang piutang, maka tidak bisa dihukumi sama rata.

"Di samping itu, tidak setiap orang yang ke bank tujuannya untuk hutang. Ada yang mau transfer, ambil gaji, ambil tunjangan atau bantuan, buka rekening dan lain-lain. Lalu bagaimana bisa semua itu dikatakan riba? Ini sebuah kekeliruan." Tandasnya.

Menurut Ustadz alumni Darul Hadits Yaman ini, bahwa harta yang dimiliki bank tidak semuanya haram ada pula yang halal. Sehingga boleh bermuamalah dengan mereka (pegawai bank)

"Harta yang dimiliki bank ada yang haram seperti bunga dari pinjaman, dan ada yang halal seperti fee dari jasa transfer. Menurut jumhur ulama dan pendapat mu'tamad dalam mazhab Syafi'i, dibolehkan untuk bermuamalah dengan pihak seperti ini (yang hartanya campur antara yang halal dan haram)." Ungkapnya.

Baca juga: Hukum Bermu'amalah Dengan Para Pegawai Bank

Solusi terbaik bagi orang yang menganggap itu haram karena alasan wara' (Berhati-hati) silahkan saja tapi untuk kalangan sendiri saja.

"Jika tidak mau menggunakan semua fasilitas atau makanan yang disediakan bank sebagai bentuk sifat wara' (sifat hati-hati) sebagaimana pendapat Imam Ghazali, jadikan itu untuk pendapat pribadi saja, jangan sampai menyatakan hal itu haram secara umum, apalagi sampai mengharuskannya kepada orang lain. Itu pun dasarnya bukan karena riba." Tambahnya.

Semoga bermanfaat. Wallahu a'lam bish shawab.