Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Kisah Heroik Syekh Adil Surur Menjaga Al-qur'an

Kisah Heroik Syekh Adil Menjaga Al-qur'an

Fikroh.com - Tak asing lagi di telinga kita sekalian bahwa penghafal al-Qur'an memiliki keistimewaan tersendiri dibanding lainnya, tentu alasan utamanya adalah fakta bahwa al-Qur'an, lafadz dan maknanya langsung dari sang pencipta 'azza wa jalla disamping keistimewaan lain yang dijelaskan dalam al-Qur'an, hadits nabi dan kalam ulama.

Dan tak perlu diragukan lagi bahwa al-Qur'an terjaga kemurniannya hingga waktu yang Allah kehendaki, hal ini langsung dijelaskan dalam ayatnya yang berbunyi :

"إنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْر وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ.

Ummat nabi Muhammad yang telah Allah pilih sebagai ummat terbaik memiliki peran yang sangat penting dalam menjaga kitab suci ini. (Al-Hijr : 09)

Sejak zaman beliau hidup hingga sekarang Al-Qur'an masih tetap terjaga, baik lewat hafalan luar kepala maupun tulisan.

Cerita-cerita heroik tentang kehebatan ulama dalam menjaga Al-Qur'an pun tak asing lagi di telinga kita, terlebih bagi yang nyantri di pondok Tahfidz.

Di tulisan sederhana ini, saya ingin ceritakan suatu kenyataan yang saya saksikan dengan mata kepala sendiri, yang artinya kisah-kisah heroik tersebut tidak hanya terjadi dimasa lampau, namun juga terjadi disekitar kita.

Saya punya seorang guru, Syekh Adil Surur namanya, sekarang beliau menginjak usia 51. Sudah bertahun-tahun beliau mengidap penyakit ginjal yang tidak bisa disembuhkan (menurut diagnosa dokter), sehingga beliau harus mencuci darah seminggu dua kali.

Beliau mengajar di universitas tempat kami belajar, meluangkan 3 hari untuk kami dan orang arab yang mau baca Al-Qur'an (Kamis, Jumat dan Sabtu). Beliau berangkat dari rumah menggunakan angkutan umum dihari Rabu menuju rumah sakit untuk cuci darah, baru kemudian menuju ke kampus kami. Pada sholat ashar beliau selalu sudah standby di barisan pertama belakang imam, seringkali kami melihat beliau sangat letih dan capek, mungkin efek samping dari cuci darah (pikir kami). Seusai mengajar Al-Qur'an di hari sabtu maghrib beliau masih menginap satu malam disini, agar besoknya bisa ke rumah sakit dan pulang ke rumah di pinggiran Damaskus.

Beliau pernah menceritakan--dan ini yang harusnya membuat kami semangat dalam menjaga Al-Qur'an--bahwa sebelum terkena penyakit yang diderita, beliau hanya murojaah 5 Juz setiap hari, namun setelah beliau diuji dengan penyakit ini beliau malah muroja'ah 10 Juz setiap hari. Beliau menjelaskan bahwa setelah terkena penyakit tersebut beliau lebih cepat lupa, akhirnya beliau mengambil keputusan untuk menambah muroja'ahnya (10 juz).

Di samping itu, beliau adalah orang yang sangat menjaga shalat berjamaah, seringkali saya dititipi tasbih atau syalnya agar ditaruh dishaff pertama belakang imam. Beliau juga sekarang masih mengaji al-Qur'an dengan sanad yang lebih tinggi. 

Saya tutup tulisan ini dengan pertanyaan saya terhadap beliau, "Bagaimana kita bisa mencintai Al-Qur'an?" Beliau terdiam sejenak, lalu menjawab dengan pertanyaan yang serupa yang hanya diganti maf'ul bih-nya, "Bagaimana kamu bisa mencintai ibumu?" Beliau terdiam lagi sejenak merubah posisi duduknya dan melanjutkan, "Kalau kamu tau bahwa Qur'an mendidik, merawat dan menyelamatkanmu di dunia dan nanti di akhirat kamu tentu akan mencintainya". Kurang lebih seperti itu yang saya pahami. 

Oleh: Fajrul Izat

Referensin:

  • Penuturan beliau.
  • Biografi beliau yang ditulis kementrian wakaf Suriah. 
  • Informasi umum yang kami ketahui langsung.