Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Ketika Kaisar Manchu Ngebucin Pada Seorang Muslimah

Ketika Kaisar Manchu Ngebucin Pada Seorang Muslimah

Fikroh.com - Setelah bangsa Manchu Menaklukkan Dzungar tahun 1755 M, Pemberontakan Altishahr pecah dipimpin Khawaja-I Jahan ( 小和卓; Xiǎo Hézhuō ) dan Khawaja Burhanuddin ( 大和卓; Dá Hézhuō ) untuk menguasai cekungan Tarim. Pasukan Manchu berhasil memadamkan pemberontakan itu tahun 1759 M, menandakan rampungnya ekspansi Manchu atas Turkestan timur. Kemudian Dinasti Qing menamakan wilayah itu sebagai Perbatasan baru ( 新疆; Xīnjiāng ) dan para pemberontak yang tertangkap digiring ke Beijing untuk dieksekusi.

Diantara para tawanan tersebut tampaklah Nur Ela Nurhan yang disebut Epar khan ( 伊帕尔汗; ئىپارخان ), istri dari mendiang Khwaja-I Jahan. Kaisar Qianlong tertarik padanya dan memerintahkan Epar khan dilepaskan untuk dibawa ke Hareem sebagai selir. Karena tubuhnya yang harum meski tidak memakai wewangian, kaisar memberinya julukan Selir Harum ( 香妃;Xiāng Fēi ). Walau berada dalam kemewahan kekaisaran Tiongkok, Xiangfei tak sudi tinggal bersama orang yang telah membantai bangsanya dan malah memunculkan kebencian kepada kaisar.

Kaisar Qianlong mencari cara agar dapat menaklukkan hati wanita Uyghur itu. Ia menceritakan keluh kesahnya kepada Heshen, Menteri urusan Perang saat itu soal kegundahan hatinya. Menteri Heshen menyarankan agar Kaisar Qianlong memberikan hadiah kejutan agar menyenangkan hati Xiangfei. Maka kaisar berinisiatif membangun Menara Baoyue ( 宝月楼; Bǎoyuè lóu ) agar Xiangfei dapat melihat pemandangan sekitar, lengkap dengan pemandian uap serta mendatangkan perempuan-perempuan Hui untuk menemani Xiangfei. Pemukiman suku Hui bergaya Uyghur dan masjid yang diberi nama Masjid Puning ( 普宁清真寺; Pǔníng Qīngzhēnsì ) ditambahkan di seberang menara. Padahal sejak Dinasti Qing berkuasa segala hal tentang muslim dihilangkan dari istana. Semua itu kaisar lakukan dengan harapan Xiangfei luluh hatinya dan betah tinggal di Beijing.

Namun semua itu tak dapat memenangkan perasaan Selir Xiangfei. Kaisar Qianlong hanya bisa menunggu waktu agar cucu Afaq Khoja itu mau membuka hatinya, dia tak berani menyentuhnya walau status Xiangfei telah menjadi selirnya. Di suatu malam saat kaisar sedang mabuk tanpa sengaja ia masuk ke kamar Xiangfei. Xiangfei yang terkejut segera mengeluarkan belati dan melukai tangan kaisar. Membahayakan nyawa sang putra langit adalah kejahatan besar, pelakunya bisa dihukum dengan hukuman Seribu luka ( 凌遲; Lìngchì ). Seluruh penghuni istana geger, mereka menunggu hukuman apa yang hendak dijatuhkan kepada Selir Xiangfei. Tetapi karena rasa cintanya yang mendalam, kaisar Qianlong memaafkannya karena menurutnya itu tak sengaja.

Melihat bahaya yang mengancam Kaisar Qianlong, ibu suri takut jika suatu saat Xiangfei akan membunuh kaisar. Ia kemudian menyuruh selir Xiangfei menghadap saat kaisar menghadiri upacara Tahunan. Ibu suri bertanya kepada Xiangfei mengenai apa yang sebenarnya dia inginkan. Xiangfei menjawab bahwa ia hanya ingin pulang ke kampung halamannya. Dengan tenang ibu suri mengatakan tidak mungkin ia dibolehkan keluar dari kota terlarang. Xiangfei kemudian meminta agar ia dibunuh saja seperti tawanan lain demi mempertahankan kesuciannya. Dengan berat hati, ibu suri menganggukkan kepalanya sembari menyuruh Kasim membawa Xiangfei ke sebelah barat Gerbang Yuehua men. Di sana sang Selir dicekik hingga meninggal dunia.

Seorang kasim yang melihat kejadian tersebut berlari melaporkannya kepada kaisar. Mendengar hal itu kaisar kaget, ia segera meninggalkan tempat upacara. Sesampainya di istana, kaisar melihat tubuh selir Xiangfei tak bergerak lagi. Ia memanggil-manggil Xiangfei sembari merangkulnya, tapi sayang nyawanya tidak tertolong, Xiangfei telah dipanggil Allah ﷻ  untuk berkumpul dengan keluarga Xinjiang-nya di keabadian. Air mata mengalir deras di wajah kaisar Qianlong meratapi kepergian Xiangfei sampai membasahi jubahnya. Selir pujaannya kini meninggalkan sang kaisar dalam kepiluan hati serta cinta yang bertepuk sebelah tangan.

Kaisar Qianlong pun melepaskan pelukannya dari tubuh Xiangfei setelah seorang Kasim berkali-kali membujuk kaisar agar segera kembali ke istana. Kemudian kaisar Qianlong mengambil cincin Xiangfei sebagai kenang-kenangan supaya ia tetap mengingat sang Selir dan memerintahkan pegawai istana mengurus jenazah Xianfei lalu menempatkannya dalam sebuah peti yang indah berukirkan ayat Al-Qur'an lalu dimakamkan di Taman selir Yuling (裕陵妃园寝; Yù líng fēi yuán qǐn).

Banyak hal yang didramatisir dalam kisah ini sehingga tampak seolah hanya cerita fiktif belaka. Selain itu dalam catatan resmi Dinasti Qing memang tidak ada selir bernama Xiangfei. Sosok Selir Xiangfei sebenarnya merujuk kepada Selir Rong ( 容妃; Róngfēi) muslimah Uyghur dari Xinjiang yang diserahkan Turdu Khoja, panglima Uyghur yang memihak Dinasti Qing saat pemberontakan Altishahr sebagai persembahan kepada Kaisar. Mungkin ini dikarenakan ada kekeliruan dalam penulisan atau pembacaan partikel 容 (Róng) dengan 香 (Xiāng).

Berdasarkan kisah tutur bangsa Han, selir Rong awalnya merasa tidak nyaman tinggal di kota terlarang, namun setelah kaisar memberikan pohon zaitun emas dari Xinjiang akhirnya hati Selir Rong pun luluh dan mencintai kaisar hingga akhir hidupnya. Selir Rong wafat tanggal 24 Mei 1788 akibat penyakit yang dideritanya, ada juga yang mendiagnosis bahwa Selir Rong meninggal karena overdosis. Dari sini kemungkinan muncul rumor Selir Rong diracuni Ibu suri seperti yang ada dalam versi cerita lain.

Benar atau tidaknya cerita roman di atas, nyatanya keberadaan selir Rong tanpa disadari telah membawa kembali nuansa Islam ke dalam tembok-tembok kota terlarang setelah bangsa Manchu menghapusnya. Padahal Dinasti Qing di bawah kaisar Qianlong sangat keras menekan kaum muslimin daripada kaisar Kangxi dan Yongzhen yang toleran. Wallahu A'lam Bisshawab.

Oleh: Abu Bakar Ibn Ghazali Al-Kailandari

Referensi:

  • Wicaksono, Michael. 2015. Dinasti Qing : Sejarah Para Kaisar Berkuncir. Jakarta: Elex Media Komputindo.
  • Xiaotian, Xu. 2010. Qinggong Shisan Chao Yayi. Shanghai: Shanghai Kexue Jishu Wenxia Chuban She.
  • Ying-Ma, H. Ibrahim Tien. 1979. Perkembangan Islam di Tiongkok. Jakarta: Bulan Bintang.