Belajar Tegar Dari Syaikh Al-Mujahid Umar Abdurrahman Saat Disiksa di Penjara

Fikroh.com - Ulama Robbaniy adalah orang yang telah teruji keimanannya. Sabar atas penyiksaan dan penindasan kaum durjana semakin menguatkan imannnya. Tak gentar apalagi tunduk pada kezaliman. Merekalah para teladan umat islam.

DR. Umar Abdurrahman wafat di penjara Amerika pada 22 jumadal ula 1438 H - 18 februari 2017 M. Beliau menghabiskan sisa hidupnya di penjara amerika selama lebih dari 20 tahun. Seorang ulama Al-Azhar yang tegar melawan Thaghut Mesir sejak tahun 1980-an. Beberapa pelajaran sabar dari beliau layak kita aktualkan. Simak berikut ini:

كان الشيخ عمر عبد الرحمن - رحمه الله - يردد ويقول أيام تعذيبه في مصر عام 1981 : ( ذق أيها الجسد الفاني ... ذق ) 

Saat tahun 1981 almarhum disiksa oleh petugas Mesir, beliau hanya mengulang-ulang kalimat: Rasakanlah wahai jasad yang fana... Rasakan (siksaan itu). 

وقوله : إنني مسلم أحيا لديني وأموت في سبيله ، ولا يمكن بحال أن أسكت والإسلام يحارب في كل مكان ، أو أن أهدأ وأمواج الشرك والضلالة تتلاطم وتغمر كل اتجاه ، { كظلمات في بحر لجي يغشه موج من فوقه موج من فوقه سحاب} ) 

Beliau juga memancangkan tekad perlawanan yang hebat:

Aku muslim, aku hidup untuk agamaku, aku mati untuk agamaku. Tidak mungkin aku diam saat Islam diperangi di seluruh tempat. Aku tak akan tenang saat gelombang syirik dan kesesatan menghantam Islam dari segala penjuru, laksana kegelapan di laut dalam, tertutup lapisan gelombang, di atasnya tertutup lapisan gelombang lagi, dan di atasnya tertutup awan.

( أنا لا يرهبني السجن ولا الإعدام ، ولا أفرح بالعفو أو البراءة ، ولا أحزن حين يحكم علي بالقتل ؛ فهي شهادة في سبيل الله ، وعندئذ أقول ؛ فزت وربِّ الكعبة ، وعندئذ أقول أيضا :ولست أبالي حين أقتل مسلماً على أي جنب كان في الله مصرعي )

Penjara sama sekali tidak menakutkan bagiku. Tidak juga pembunuhan. Aku tidak menjadi senang lantaran dimaafkan oleh tiran atau dibebaskan. Aku tidak sedih karena mendengar vonis mati. Sebab aku paham hal itu akan bermakna mati syahid di jalan Allah. Saat itu tiba, aku akan berucap: Aku menang demi Allah. Aku juga akan berkata: jika aku mati sebagai muslim, aku tak peduli dengan bagaimana cara kematianku di jalan Allah. 

Semoga Allah merahmatimu wahai syaikh kami yang tercinta. Semoga Allah menerimamu sebagai syahid dan memberimu surga yang tertinggi. Anda telah mengajarkan keteguhan dan keberanian padahal Anda seorang tunanetra. Matamu buta namun hatimu melihat dengan pandangan bashirah.

Teladanmu menyinari hati kami, sungguh engkau adalah wadi di tengah gurun dan pelita dalam kelamnya syubhat. Semoga kami dapat mengikuti jejak perjuangan, keberanian dan kesabaranmu. Semoga Allah merahmatimu.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama