Hukum Imam Mengeraskan Basmalah Dalam Shalat Jahriyah


Fikroh.com - Pembahasan mengenai Hukum Imam Mengeraskan Basmalah Dalam Shalat Jahriyah termasuk masalah yang terkenal, permasalahan fikih yang sulit, paling banyak diperdebatkan dan banyak disinggung dalam tulisan. [Nasbu Rayah (1/336)] Karena itu sebagian ulama mengarang satu kitab khusus yang membahas masalah ini. Ada dua pendapat ulama tentang masalah ini.

Pertama: Sunnah tidak mengeraskan membaca basmalah. 

Ini pendapat Mazhab Hanabilah, ahlul ra’yi dan dipilih oleh Syaikhul Islam. Imam at-Tirmidzi mengatakan bahwa pendapat ini diamalkan oleh sebagian besar para sahabat dan tab’in seperti Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali. Hal ini diriwayatkan dari Ibnu Mundzir dari Ibnu Mas’ud, Ibnu Zubair dan ‘Ammar.

Pendapat ini juga dikuatkan oleh ‘Awza’i, ats-Tsauri dan Ibnul Mubarak. [Al Mabsuth (1/15), Al Mughni (1/345), Kasyaf Al-Qonna’ (1/335)] Dalil-dalil mereka adalah sebagai berikut

Diriwayatkan dari Anas radhiallahu 'anhu, ia berkata :

أَنَّ النَّبِىَّ صلى الله عليه وسلم وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ رضى الله عنهما كَانُوا يَفْتَتِحُونَ الصَّلاَةَ بِالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

“Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam, Abu Bakar dan Umar mereka memulai shalat dengan membaca hamdalah.”[Hadits Riwayat: Al-Bukhari (743), Muslim (399)]

Dalam riwayat Muslim dari Anas radhiallahu 'anhu ia berkata:

صَلَّيْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم وَأَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ فَلَمْ أَسْمَعْ أَحَدًا مِنْهُمْ يَقْرَأُ (بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ ).

“Aku shalat bersama Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam, Abu Bakar, Umar dan Utsman. Aku tidak mendengar salah seorang dari mereka membaca basmalah.”[Hadits Riwayat: Muslim (399)]

Penjelasan hadits di atas yaitu makna dari hadits “Mereka memulai shalat dengan alhamdulillahi Rabbil ‘alamin” adalah surat al-Fatihah sebelum surat lainnya. Dalam hadits tersebut tidak ada penafian untuk membaca basmalah atau penetapannya.

Namun dalam riwayat kedua walaupun sanadnya shahih sebagian ulama mengatakan bahwa riwayat ini merupakan hasil dari pemahaman perawi dari hadits yang pertama, dan ia keliru dalam memahaminya. Dan lafal yang benar adalah riwayat pertama. [Lihat Fathul Bari (2/266-267)]

Diriwayatkan dari Aisyah Radhiallahu 'anha ia berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَسْتَفْتِحُ الصَّلاَةَ بِالتَّكْبِيرِ وَالْقِرَاءَةَ بِ (الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ).

“Bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam memulai shalat dengan takbir dan membaca alhamdulillahi Rabbil ‘alamin.” [Hadits Riwayat: Muslim (498)]

Mereka mengatakan bahwa hadits ini menunjukan tidak mengeraskan ketika membaca basmalah dan hadits ini menguatkan hadits riwayat Anas sebelumnya.

Diriwayatkan dari Ibnu Abdillah Bin al-Mughaffal ia berkata:

سَمِعَنِى أَبِى وَأَنَا فِى الصَّلاَةِ أَقُولُ: (بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ) فَقَالَ: مُحْدَثٌ إِيَّاكَ وَالْحَدَثَ. وَلَمْ أَرَ واحَدًا مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم كَانَ أَبْغَضَ إِلَيْهِ الْحَدَثُ فِى الإِسْلاَمِ -يَعْنِى مِنْهُ-فإني صَلَّيْتُ مَعَ النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم وَمَعَ أَبِى بَكْرٍ وَ عُمَرَ وَ عُثْمَانَ فَلَمْ أَسْمَعْ أَحَدًا مِنْهُمْ يَقُولُهَا فَلاَ تَقُلْهَا إِذَا أَنْتَ صَلَّيْتَ فَقُلِ (الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ).

“Bahwa ayahku mendengar dariku ketika aku sedang shalat membaca basmalah kemudian ayahku berkata, “Ini bid’ah hati-hatilah kamu dengan perkara bid’ah. Aku tidak melihat satupun dari sahabat rasul Shallallahu 'alaihi wasallam yang lebih membenci perbuatan bid’ah dalam islam. Aku pernah shalat bersama Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam , Abu Bakar, Umar dan Utsman. Tidak ada satu pun dari mereka mengucapkan basmalah ketika shalat, maka janganlah engkau mengucapkan basmalah. Jika engkau shalat bacalah, “alhamdulillahi rabbil ‘alamin.”[Hadits Riwayat: At-Tirmidzi (244), An-Nasa`i (2/135). Dhaif]

Dijawab. Hadits tersebut dha’if dan tidak bisa dijadikan landasan.

Firman Allah Subhanahu wata'ala dalam hadits Qudsi:

قَسَمْتُ الصَّلاَةَ بَيْنِى وَبَيْنَ عَبْدِى نِصْفَيْنِ وَلِعَبْدِى مَا سَأَلَ فَإِذَا قَالَ الْعَبْدُ ( الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ). قَالَ اللَّهُ تَعَالَى حَمِدَنِى عَبْدِى

“Aku membagi shalat antara Aku dengan hamba-Ku menjadi dua bagian dan hamba-Ku akan mendapat apa yang diminta. Apabila hamba-Ku mengatakan hamdalah. Allah berkata, “Hamba-Ku telah memuji-Ku.”[Hadits Riwayat: Muslim (395), Abu Daud (821), At-Tirmidzi (2953), An-Nasa`i (2/135), Ibnu Majah (838)]

Hadits ini menjadi dalil bagi orang yang mengatakan bahwa basmalah sama sekali tidak diucapkan dalam shalat.

Tidak diragukan lagi bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam tidak pernah membaca basmalah dengan keras setiap melaksanakan shalat lima waktu baik di rumah ataupun di perjalanan. hal ini juga dilakukan oleh Khulafa’ ar-Rasyidin, jumhur sahabat dan penduduk negeri pada kurun waktu yang utama tersebut.'[Zadul Ma’ad (1/206-207)]

Kedua: Sunnah membaca basmalah dengan keras. 

Ini pendapat Mazhab Imam Syafi’i dengan dalil-dalil sebagai berikut:

Diriwayatkan dari Nu’aim Al Majmar ia berkata:

صَلَّيْتُ وَرَاءَ أَبِى هُرَيْرَةَ فَقَرَأَ (بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ) ثُمَّ قَرَأَ بِأُمِّ الْقُرْآنِ حَتَّى إِذَا بَلَغَ (غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّالِّينَ) فَقَالَ آمِينَ. فَقَالَ النَّاسُ آمِينَ. وَيَقُولُ كُلَّمَا سَجَدَ اللَّهُ أَكْبَرُ وَإِذَا قَامَ مِنَ الْجُلُوسِ فِى الاِثْنَيْنِ قَالَ: اللَّهُ أَكْبَرُ وَإِذَا سَلَّمَ قَالَ: وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ إِنِّى لأَشْبَهُكُمْ صَلاَةً بِرَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم.

“Aku shalat di belakang Abu Hurairah, ia membaca basmalah dan surat al-Fatihah. ketika pada kalimat “Ghairul maghdhu bi ‘alaihim waladdhalin” ia membaca amin yang diikuti oleh para sahabat. Saat sujud ia membaca Allahu Akbar dan ketika bangun dari duduk yang kedua ia membaca Allahu Akbar. Selesai salam ia mengatakan, “Demi dzat yang menguasai jiwaku. Sesungguhnya aku meniru shalatnya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam.” [Hadits Riwayat: An-Nasa`i (2/134), Ahmad (2/497), Ibnu Khuzaimah (4990), Ibnu Hibban (1797). Shahih]

Diriwayatkan dari Qatadah bahwa Anas ditanya:

كَيْفَ كَانَتْ قِرَاءَةُ النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ: كَانَتْ مَدًّا . ثُمَّ قَرَأَ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ ، يَمُدُّ بِبِسْمِ اللَّهِ ، وَيَمُدُّ بِالرَّحْمَنِ ، وَيَمُدُّ بِالرَّحِيمِ.

“Bagaimana bacaan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam?” Ia menjawab bahwa bacaannya panjang kemudian membaca basmalah. Memanjangkan Bismillah, Ar Rahman dan Ar Rahim.” [Hadits Riwayat: Al-Bukhari (5046)]

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiallahu 'anhuma:

كَانَ النَّبِىُّ صلى الله عليه وسلم يَفْتَتِحُ صَلاَتَهُ بِ (بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ ).

“Bahwa Rasul Shallallahu 'alaihi wasallam memulai shalat dengan basmalah.” [Hadits Riwayat: At-Tirmidzi (245)]

Dijawab. Bahwa hadits tersebut dha’if, sehingga tidak bisa dijadikan dalil dan masih ada kemungkinan bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam membaca dengan keras atau pelan.

Pendapat Yang Rajih (Kuat)

Dari pembahasan di atas kita melihat bahwa hadits Anas tentang membaca basmalah dengan pelan lebih shahih dan rajih daripada hadits yang menerangkan bacaan basmalah dengan keras ketika shalat. Namun apa yang dibaca pelan terkadang disarankan untuk dibaca keras karena ada kemaslahatan seperti memberi pelajaran kepada makmum. Begitu pula kita terkadang tidak menggunakan yang afdhal untuk meluluhkan hati dan menyatukan pandangan demi menjaga agar manusia tidak lari dari sesuatu yang bermanfaat. [Majmu’ Fatawa (22/436), lihat Nasbu Rayah (1/328)]

Catatan Penting:

Perlu diketahui bahwa pembahasan ini adalah masalah fikih yang diperselisihkan (khilafiyah). Karena itu hendaknya tidak terlalu fanatik pada satu pendapat. Syaikhul Islam berkata, “Bahwa fanatik terhadap masalah ini merupakan tanda-tanda perselisihan yang dilarang karena dapat menyebabkan benih-benih perpecahan umat. Pembahasan ini termasuk masalah ringan yang tidak patut untuk diperselisihkan lebih dalam, seandainya bukan karena dorongan setan yang akan mendorong sebab-sebab perpecahan. [Majmu’ Fatawa (22/405)]

Termasuk persoalan yang berkaitan dengan shalat berjamaah adalah masalah, apakah Sutrah (Pembatas) Imam Adalah Sutrah Bagi Makmum juga?

Jumhur ulama menyatakan bahwa batas garis bagi imam juga batas bagi orang di belakangnya. Hal ini ada dua arti yaitu:

1. Apabila tidak terdapat sesuatu yang berada diantara imam dan pembatas shafnya yang dapat memutus shalat maka shalat makmum tetap sah walaupun ada sesuatu yang berjalan di depan mereka. Juga sah apabila hal ini terjadi diantara ma’mum dan imam.

Hadits riwayat Ibnu Abbas Radhiallahu 'anhuma berkata:

أَقْبَلْتُ رَاكِبًا عَلَى حِمَارٍ أَتَانٍ ، وَرَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يُصَلِّى بِالنَّاسِ بِمِنًى إِلَى غَيْرِ جِدَارٍ ، فَمَرَرْتُ بَيْنَ يَدَىْ بَعْضِ الصَّفِّ ، فَنَزَلْتُ وَأَرْسَلْتُ الأَتَانَ تَرْتَعُ ، وَدَخَلْتُ فِى الصَّفِّ ، فَلَمْ يُنْكِرْ ذَلِكَ عَلَىَّ أَحَدٌ.

“Aku datang dengan mengendarai keledai ketika itu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam melaksanakan shalat dengan para sahabat di luar tembok Mina. Aku berjalan di depan sebagian shaf kemudian turun dengan membiarkan keledai tersebut makan rumput. Aku masuk kedalam shaf dan tidak ada satu pun yang menegurku.”[Hadits Riwayat: Al-Bukhari (76), Muslim (504)]

2. Apabila ada sesuatu yang berjalan diantara imam dan pembatas yang dapat memutuskan shalat maka terputuslah shalat imam dan makmum.

Diriwayatkan dari 'Amru bin Syu'aib dari ayahnya dari kakeknya radhiallahu 'anhum ia berkata:

هَبَطْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم مِنْ ثَنِيَّةِ أَذَاخِرَ فَحَضَرَتِ الصَّلاَةُ يَعْنِى فَصَلَّى إِلَى جِدَارٍ فَاتَّخَذَهُ قِبْلَةً وَنَحْنُ خَلْفَهُ فَجَاءَتْ بَهْمَةٌ تَمُرُّ بَيْنَ يَدَيْهِ فَمَا زَالَ يُدَارِئُهَا حَتَّى لَصِقَ بَطْنُهُ بِالْجِدَارِ وَمَرَّتْ مِنْ وَرَائِهِ.

"Kami bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menuruni lembah Tsaniyah Adzakhir, kemudian tibalah waktu shalat, lantas beliau shalat menghadap ke dinding dan menjadikannya sebagai arah kiblat, sedangkan kami shalat di belakang beliau, tiba-tiba seekor hewan ternak lewat di depan beliau, beliau berusaha menghalaunya hingga perut beliau hampir menempel ke dinding, akhirnya hewan tersebut lewat di belakang beliau."[Hadits Riwayat: Abu Daud (708), Ibnu Majah (3603), Ahmad (2/196)]

Apabila batasan shaf imam bukan batasan shaf bagi makmum maka tidak ada perbedaan antara berjalannya segerombolan orang di depan imam atau belakangnya. Wallahu a'lam.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama