Gontor, Kaderisasi & Boneka Rusia

Fikroh.com - Hal tersulit dalam mengelola usaha dalam bentuk apapun adalah "mengelola orang". Merekrut, melatih, memotivasi, dan mempertahankan orang sangat penting tapi menantang. 

Sebuah survey yang melibatkan 100an lebih CEO di AS menemukan bahwa untuk merubah perusahaan mereka from good to great, hal pertama dan terpenting yang harus mereka lakukan bukanlah menulis visi dan strategi, tapi menemukan orang yang tepat untuk  bergabung, mendepak orang yang tidak cocok, dan menempatkan orang yang tepat di kursi yang tepat. 

Ungkapan lama "orang bukanlah aset terpenting anda" ternyata keliru. Orang bukanlah aset terpenting Anda. Orang-orang yang tepatlah aset terpenting Anda. *Rahasia sukses Harvard Business School.

David Ogilvy, suhu periklanan legendaris dan pendiri agensi periklanan global utama Ogilvy and Mather, meyakini bahwa merekrut orang yang tepat bahkan dapat berarti merekrut orang yang lebih cakap daripada merekrut. 

konon, manakala seseorang ditunjuk untuk mengepalai satu kantor di firmanya, Ogilvy akan memberinya sebuah boneka Rusia. Boneka ini kalau dibuka akan berisikan sebuah boneka yang lebih kecil, yang kalau dibuka akan berisikan boneka yang lebih kecil lagi dan demikian seterusnya. 

Di dalam boneka terkecil ada secarik catatan dari Ogilvy: "Jika setiap dari kita merekrut orang yang lebih kecil daripada kita, kita akan menjadi perusahaan orang orang kerdil. Tapi jika setiap dari kita merekrut orang-orang yang lebih besar daripada kita, kita akan menjadi perusahaan para raksasa.

Inilah rupanya yang menjadi salah satu rumus bagaimana Pondok Modern Gontor sebagai Pondok Pesantren yang membawa pembaharuan pola pendidikan di Indonesia bisa menjaga kualitas pendidikannya hingga hampir satu abad lamanya. 

Bisa dibilang, Gontor telah melampaui proses dari Good menjadi Great dalam menjaga visinya sebagai lembaga kaderisasi pemimpin. Banyak lembaga pendidikan, khususnya Pondok Alumni dan pondok-pondok alumni alumninya, yang mencapai lebih dari 600 pondok pesantren di Indonesia, dan di luar sana, melakukan langkah ini.

Di umurnya yang mendekati satu abad ini, tak terhitung produk alumninya yang mampu memimpin dan mewarnai masyarakat dan lingkungannya, dalam segala bidang, baik di tingkat lokal, regional, bahkan nasional internasional. 

Suatu saat (alm) Kyai Syukri Zarkasyi menyampaikan rahasia bagaimana Gontor bisa mempertahankan kualitas pendidikan lembaga yang beliau asuh di hadapan guru-guru. Gontor hanya mengambil SDM dari hasil proses internal lembaga pendidikan itu sendiri. Beliau juga menyatakan hanya memilih 10% alumni terbaik dari lulusannya setiap tahunnya untuk mengabdi di Pondok Modern Gontor itu sendiri. Mereka merekrut hanya kader kadernya yang sudah sangat mereka kenal kualitasnya dan bisa dibilang memiliki potensi yang lebih cakap dari diri mereka sendiri.

Proses kaderisasi di pondok ini memang luar biasa efektif dan terbukti bisa menjaga keberlangsungan lembaga dan menjaga kualitasnya. Dedikasi Gontor dalam melahirkan generasi Indonesia yang siap memimpin patut mendapat apresiasi lebih. Saya pernah mendengar langsung Kyai Syukri berujar: "90% waktu hidup saya habis untuk mengkader". 

Mengkader orang, seperti yang diungkapkan oleh para CEO diatas, justru adalah tugas tersulit dan yang paling menantang dalam mengelola sebuah lembaga. Gontor dengan sengaja mengambil peran itu, mengetahui dampak strategisnya dalam menentukan arah masa depan Bangsa Indonesia.

Mendekati satu abad umur pondok wakaf ini, tak ada indikasi pondok akan melambat setelah ditinggal pergi Kyainya. 

Kyai Syukri Zarkasyi wafat 22 Oktober 2020 dan Kyai Syamsul Hadi di bulan mei 2020, dua pimpinan pondok wafat dari 3 Trimurti kedua.

Justru dalam kondisi itu lompatan lompatan perkembangan kuantitas maupun kualitas terus diprogram oleh kader kader yang siap melanjutkan kepemimpinan beliau. Kader kader pondok melimpah dan siap mengemban amanah jika diminta.

Tahun 1985 setelah wafatnya KH Imam Zarkasyi sebagai Trimurti Pertama, dengan hanya satu kampus Gontor, saat ini ada 20 Kampus Gontor dan 1,700 hektar lahan waqf. Jumlah santri 2,400 di tahun 1985, saat ini menembus angka 32,320.

Gontor barupun siap terbang dengan visi Universitas Islam Darussalamnya.

Pemimpin sejati memang selalu melahirkan pemimpin pemimpin lainnya.

Sebagai pengasuh sebuah pondok alumni, Darunnajah, saya pun terhenyak menyadari kenyataaan tak banyak santri kami yang bersedia mengabdi di pondok tempat ia menuntut ilmu dengan berbagai alasan.

Alumni-alumni terbaik bahkan biasanya telah direkrut dan diterima untuk melanjutkan studi mereka di lembaga Pendidikan Tinggi terkemuka. Tak sampai hitungan jari sisanya yang benar-benar bersedia mengabdi memperjuangkan pondok yang melahirkannya.

Tak ingin menjadi boneka Rusia, kami pun mengambil jalan pintas berusaha membuat permohonan kepada Kyai Gontor, KH Hasan Abdullah Sahal untuk bisa dikirim guru alumni pengabdian terbaik dari Gontor untuk mengabdi di pondok kami. 

Beliau menjawab sambil tertawa lebar.  "Gaweono dewe!" (Buatlah sendiri..!)

Mendidik kami untuk melakukan proses kaderisasi untuk ummat dan bangsa yang lebih baik. 

Saya pun hanya bisa tersenyum masam. Mau tak mau mulai berfikir keras bagaimana caranya mengelola pondok kami dengan lebih benar dan bisa melahirkan santri-santri berkualitas dan siap mengabdi seperti mereka. 

Begitulah cara Gontor mendidik santri alumninya.

Disadur dari tulisan asli. Cidokom, 23/10/2020

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama