6 Hal Penghalang Warisan

Fikroh.com - Waris atau warisan termasuk masalah fiqh mu'amalah yang cukup komplek pembahasannya. Para ulama telah memberikan batasan-batasan yang jelas berdasarkan nash-nash yang shahihah. Diantara persoalan penting dalam fikih mawaris adalah mengetahui hal-hal yang menghalangi terjadinya waris. Namun untuk sampai pada bab tersebut ada dua pembahasan yang memiliki ikatan penting untuk kita ketahui yaitu Sebab-sebab Warisan dan Syarat-syaratnya.

Pertama, Sebab-sebab Orang yang Berhak Mendapat Warisan 

Seseorang tidak berhak mendapatkan warisan, kecuali karena salah satu di antara sebab-sebab berikut: 

1. Nasab (keturunan), yakni kerabat. Ahli warisnya adalah: bapak dari orang yang mewarisi, atau anak-anaknya atau hasyiyahnya, seperti saudara-saudaranya dan anak-anak mereka, paman-paman dari jalur bapak dan anak-anak mereka. Berdasarkan firman Allah.

“Bagi tiap-tiap harta peninggalan dari harta yang ditinggalkan ibu bapak dan karib kerabat, Kami jadikan pewaris-pewarisnya...” (An-Nisa': 33) 

2. Pernikahan. Yaitu akad yang sah yang menghalalkan hubungan dengan istri, meskipun suami belum menggauli atau dilakukan khalwat (berduaan untuk bersenang-bersenang). Berdasarkan firman Allah,

“Dan bagimu (suami-suami) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh istri-istrimu...” (An-Nisa' [4]: 12) 

Dan suami istri itu saling mewarisi pada talak raj‘i, dan talak ba’in (talak tiga) jika suami mencerainya ketika dia sedang sakit yang mengantarkan pada kematiannya. 

3. Wala', yaitu seseorang yang memerdekakan budak laki-laki atau budak perempuan. Karenanya, ia berhak mendapatkan hak atas wala'nya (memerdekakan budak). Apabila budak yang dimerdekakan itu meninggal dunia dan dia tidak meninggalkan ahli waris, maka hartanya diwarisi oleh orang yang memerdekakannya. Berdasarkan sabda Nabi SAW.

فَإِنَّمَا الْوَلاَءُ لِمَنْ أَعْتَقَ ‏

“Wala' itu bagi orang yang memerdekakan. ” (HR. Al-Bukhari: 3/200, 250, An-Nasa'i: 30, kitab Ath-Thalaq, Ibnu Majah: 2076, 2079, dan Ahmad: 1/281) 

Kedua, Hal-hal yang Menghalangi Menerima Harta Warisan 

Dengan sebab-sebab diatas seorang mendapatkan harta warisan, akan tetapi jika terdapat penghalang, maka seseorang tidak bisa mendapatkannya. Adapun penghalang-penghalang itu adalah: 

1. Kekafiran 

Seorang muslim tidak dapat mewarisi kerabatnya yang kafir, dan begitu pula seorang kafir tidak dapat mewarisi kerabatnya yang muslim. Berdasarkan sabda Nabi SAW

لَا يَرِثُ الْمُسْلِمُ الْكَافِرَ وَلَا يَرِثُ الْكَافِرُ الْمُسْلِمَ

"Orang kafir tidak dapat mewarisi orang muslim, dan orang muslim tidak dapat mewarisi orang kafir.” (HR. Ahmad: 5/202, Ad-Daruquthni: 4/69, dan Al-Hakim: 4/345)

2. Pembunuhan. 

Seorang pembunuh tidak dapat menerima harta warisan dari orang yang dibunuhnya, sebagai bentuk hukuman atas kejahatannya, jika pembunuhan dengan sengaja. Berdasarkan sabda Nabi 

“Seorang pembunuh tidak berhak mendapatkan harta warisan sedikitpun dari orang yang dibunuhnya. ” (HR. Ibnu Abdul Barr dan dishahihkannya)

3. Perbudakan 

Seorang budak tidak menerima dan tidak pula memberi harta warisan, baik budak secara sempurna, atau budak yang berstatus kurang (tidak sempurna), seperti mub‘adh (sebagian merdeka), mukatab (budak yang sedang memproses kemerdekaan dirinya dengan membayar sejumlah uang), dan ummul walad (budak perempuan yang menjadi ibu anak dari tuannya). Seluruh kategori tersebut masuk dalam wilayah perbudakan. 

Sebagian ulama mengecualikan mub‘adh, mereka mengatakan bahwa (mub'adh) bisa mendapatkan harta warisan dan mewarisi sesuai dengan status merdekanya. Berdasarkan hadits dari Ibnu 'Abbas bahwasanya Nabi SAW bersabda kepada seorang hamba yang status merdekanya baru sebagian, 

“Dia berhak mewarisi dan diwarisi sesuai dengan kadar status merdekanya.” (Disebutkan oleh penulis kitab Al-Mughni (Ibnu Quddamah) 

4. Perbuatan zina 

Anak hasil perzinaan tidak bisa saling mewarisi dengan ayahnya, tapi dia hanya berhak untuk saling mewarisi dengan ibunya. Berdasarkan sabda Nabi SAW

“Anak itu dinisbatkan kepada yang memiliki tempat tidur (ibunya), dan bagi laki-iaki pezina itu batu (dirajam dengan batu).” (HR. Al-Bukhari: 5/192, Abu Daud: 2273, Ibnu Majah: 2000, 2007, dan At-Tirmidzi: 1157)

5. Li'an 

Anak dari pasangan suami istri yang melakukan li'an tidak dapat menerima harta waris dari ayahnya yang memungkiri dirinya (hasil dari hubungannya dengan istrinya), demikian juga ayahnya tidak dapat menerima harta waris darinya. Hal ini diqiyaskan dengan anak hasil perbuatan zina. 

6. Bayi yang meninggal saat lahir 

Bayi yang dilahirkan ibunya dalam keadaan mati dan tidak sempat menangis waktu lahir, dia tidak berhak mendapat harta warisan dan tidak pula mewarisi. Karena dia mati yang mana jika hidup, dia berhak mendapat harta warisan. 

Ketiga, Syarat-syarat Warisan 

Warisan ditetapkan menjadi sah, jika mengandung syarat-syarat sebagai berikut: 

1. Tidak ada penghalang untuk mendapat harta waris seperti yang disebutkan di atas. Karena dengannya menghalangi seseorang untuk mendapatkan warisan. 

2. Orang yang mewarisi harta warisan meninggal dunia meskipun ditetapkan secara hukum. Seperti hakim memutuskan meninggalnya seseorang yang menghilang, karena secara ijma' orang yang hidup itu tidak mati. 

3. Ahli warisnya dalam keadaan hidup pada hari meninggalnya orang yang meninggalkan waris. Jika ada seorang perempuan yang mengandung, kemudian salah satu anaknya meninggal dunia, maka janin itu berhak mendapatkan harta warisan dari saudaranya jika janin itu sempat bergerak-gerak (hidup di dalam kandungan), karena adanya kehidupan pada hari ketika saudaranya meninggal dunia. Jika ibunya mengandung setelan saudaranya meninggal dunia, maka bayi yang dikandungnya itu tidak berhak mendapat harta waris dari saudaranya yang telah meninggal, karena pada saat itu dia belum tercipta dan belum hidun.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama