Status Bangkai Hewan yang Tidak Memiliki Peredaran Darah

Fikroh.com - Mungkin kita pernah mendapati bangkai cicak di rumah kita. Tentu kita sering bingung bagaimana cara memperlakukannya. Apakah ia najis atau suci. Menurut pendapat yang rajih (kuat) dalam hal ini adalah bangkai hewan yang tidak memiliki sistem peredaran darah hukumnya suci secara mutlak. Diantara dalilnya adalah Firman Allah Ta'âlâ :

يَخْرُجُ مِنْ بُطُونِهَا شَرَابٌ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ فِيهِ شِفَاءٌ لِلنَّاس

"Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia." (An-Nahl: 69).

Imam al-Jashshôsh rahimahullah dalam kitabnya "Ahkâm al-Qur`an" (III/273) berkata :

"Dalam ayat ini terdapat dalil sucinya madu dan telah diketahui bahwa madu tersebut tidak terlepas dari lebah yang mati dan ada disitu, namun Allah Ta'âlâ menghukuminya  dengan kondisi yang demikian sucinya madu, lalu memberitahukan bahwa madu tersebut terdapat khasiat obat bagi manusia. Maka hal ini menunjukkan bahwa binatang yang tidak memiliki peredaran darah tidak merusak (membuatnya menjadi najis) karena hewan yang mati padanya." (Via Maushû'ah Ahkâm ath-Thahârah, XIII/70).

Shahabi Jalîl Abu Hurairah radhiyallahu anhu meriwayatkan bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam pernah bersabda :

إِذَا وَقَعَ الذُّبَابُ فِي إِنَاءِ أَحَدِكُمْ فَلْيَغْمِسْهُ كُلَّهُ، ثُمَّ لِيَطْرَحْهُ ؛ فَإِنَّ فِي أَحَدِ جَنَاحَيْهِ شِفَاءً، وَفِي الْآخَرِ دَاءً

"Jika seekor lalat jatuh ke bejana kalian, maka tenggelamkanlah seluruh badannya, lalu buang, karena di salah satu sayapnya ada obatnya dan di satu sayapnya lagi ada penyakitnya." (HR. Bukhari).

Al-Imam Baihaqi rahimahullah meriwayatkan bahwa al-Imam asy-Syafi'i rahimahullah mengomentari hadits ini dengan berkata :

أنه صلى الله عليه وسلم لا يأمر بغمس ما ينجس الماء إذا مات فيه؛ لأن ذلك إفساد

"Nabi shallallahu alaihi wa sallam tidak (mungkin) memerintahkan menenggelamkan sesuatu yang dapat menajiskan air jika mati padanya, karena hal ini bisa merusak kesucian air." (Via Fathul Bari).

Asy-Syaikh Abdullah ibnu Jibrîn rahimahullah dalam pelajaran syarah "Manâr as-Sabîl" berkata :

الأشياء الصغيرة التي لا يسيل منها الدم، فهي لا تنجس إذا ذبحت أو قتلت؛ ولو وقعت ميتتها في الماء فهي لا تنجسه.

"Hewan kecil yang tidak memiliki peredaran darah, maka ia tidak najis jika disembelih atau mati, seandainya bangkainya jatuh di air, maka ia tidak najis."

Diantara hewan yang banyak berada di rumah kita, yaitu cicak, maka hukumnya adalah sebagaimana keterangan diatas, yaitu bangkainya suci secara mutlak. Asy-Syaikh Abdullah ibnu Jibrîn berkata :

وألحقوا بذلك الوزغ

"Para ulama juga menerapkan hukum diatas pada cicak." -selesai-.

Bahkan sebelum beliau, al-Imam Ibnu Qudâmah rahimahullah juga telah membahas tentang status cicak dalam kitabnya "al-Mughni" (I/35), dimana beliau rahimahullah berkata :

فَصْلٌ وَفِي الْوَزَغِ وَجْهَانِ: أَحَدُهُمَا لَا يَنْجُسُ بِالْمَوْتِ؛ لِأَنَّهُ لَا نَفْسَ لَهُ سَائِلَةً

"Terkait dengan cicak ada dua pendapat, yang pertama adalah tidak najis bangkainya, karena ia tidak memiliki peredaran darah."

Adapun pendapat yang kedua mengatakan bangkai cicak najis, sebagaimana yang beliau sampaikan dalam lanjutan nukilan diatas :

وَالثَّانِي أَنَّهُ يَنْجُسُ؛ لِمَا رُوِيَ عَنْ عَلِيٍّ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ - أَنَّهُ كَانَ يَقُولُ. إنْ مَاتَتْ الْوَزَغَةُ أَوْ الْفَأْرَةُ فِي الْجُبِّ يُصَبُّ مَا فِيهِ، وَاذَا مَاتَتْ فِي بِئْرٍ فَانْزَحْهَا حَتَّى تَغْلِبَك

"Pendapat kedua bahwa cicak najis, karena diriwayatkan dari Ali radhiyallahu anhu berkata : "jika cicak dan tikus mati di lubang, maka disiram, adapun jika matinya di sumur, maka kuraslah, sampai airnya sudah kembali normal lagi."

Akan tetapi saya belum berhasil menemukan sanad atsar diatas, kecuali jika lafazhnya tanpa cicak, hanya tikus, yang ini diriwayatkan dengan sanadnya yang bersambung sampai kepada beliau radhiyallahu anhu dalam kitab "Syarh Ma'âniy al-Atsar", karya al-Imam ath-Thâhawiy rahimahullah.

Oleh sebab itu, karena najis adalah hukum syar'i yang penentuannya harus dilandaskan dengan dalil syar'i, maka jika disana tidak ada keterangan yang shahih lagi sharih (gamblang) akan kenajisannya, maka kembali kepada hukum asal, sucinya hal tersebut. Wallahu A'lam.

Penulis: Abu Sa'id Neno Triyono

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama