Sederet Jendral Asia yang Berhasil Mengalahkan Raksasa Pasca Perang Dunia II

Fikroh.com - Seperti halnya kita ketahui bahwa setelah PD II banyak negara Asia yang bergolak menuntut kemerdekaan. Jendral-jenderal yang di bawah ini termasuk terbaik di bidangnya mereka telah mengalahkan para raksasa yang punya pengalaman di PD II siapa sajakah mereka?

Jenderal Vo Nguyen Giap (Vietnam)


Arsitek kehancuran Prancis di Dien Bhien Pu. Tentara Prancis yang dihancurkan oleh Giap adalah para Legionaree, pasukan Vietminhnya berhasil menghancurkan tentara Prancis yang memicu kemerdekaan Vietnam. Di kemudian hari ia juga mengepung tentara Amerika di Khe Sanh, hanya saja pengepungan ini gagal. Amerika setidaknya harus mengerahkan B-52 untuk menghancurkan pasukannya yang cuma bermodalkan artileri dan tank

Jendral Peng De Huai (RRC)


Jendral ini berhasil mempermalukan tentara Sekutu di Korea terutama Jendral legendaris Mac Arthur. Taktik Peng De Huai adalah memaksa tentara AS bertempur jarak dekat pada malam hari sehingga artileri dan pesawat tak dapat digunakan. Di awal perang mereka cuma mengandalkan satuan infantri, namun mereka bisa mengusir kembali tentara AS dan sekutunya yang telah mencapai sungai Yalu untuk kembali ke Korea Selatan. Itulah sebabnya Infantri dalam dalam kedudukan di PLA (AB China) mendapat tempat khusus mereka dijuluki sebagai Lao Ta Ko (Kakak Lelaki tertua). Gara2 taktiknya ini Jendral Mc Arthur meminta 6 buah bom Nuklir untuk membumihangsukan China. Keinginannya ditolak dan berakhir dengan pemecatannya sebagai komandan di Korea.Sekalipun dianugrahi pangkat Marsekal, Jendral Peng De Huai kemudian di penjara gara2 mengecam kebijakan Mao Zedong.

Jendral Soeharto (Indonesia)


Dengan taktiknya membiarkan posisi pulau Peleng,Sulsel yang saat itu dipenuhi kapal angkut untuk operasi Jayawijaya, diintai oleh U-2 AS menyebabkan Belanda ketar-ketir dan buang handuk di meja diplomasi dan mengembalikan Papua ke Indonesia. Beliau kemudian seperti yang kita ketahui menjadi Presiden kedua negara kita.

Jendral Chen Xillian (RRC)

Perencana pendudukan pulau Damanskii Uni Sovyet selama 16 jam dalam konflik perbatasan Sino-Sovyet pada tanggal 15 Maret 1969. Hal ini membuat RRC menjadi negara pertama yang menginvasi Sovyet setelah PD II. Akibat peristiwa ini Uni Sovyet sempat minta ijin untuk membom nuklir China, tapi ditolak Amerika. Setahun kemudian dengan diplomasi Pingpong, AS membina hubungan diplomatik dengan RRC. Dalam pertempuran tersebut Sovyet mengerahkan BM-21 Grad untuk pertama kalinya. Uniknya se-dekade kemudian tentara China baru dapat merebut senjata ini dalam penyerbuan ke Vietnam di tahun 1979. Pulau Damanskii (Zhenbao) kemudian kembali kepada RRC di tahun 1991. Hal ini dilakukan oleh Boris Yeltsin untuk menarik simpati RRC yang melakukan belanja senjata gila-gilaan sebesar 10 Milyar Dollar/tahun ke Rusia

Jendral Ahmad Yani (Indonesia)

Dalam rangka menumpas pemberontakan PRRI yang didukung oleh AS secara diam-diam. Pemerintah menugaskan Kolonel Ahmad Yani untuk menangani hal ini. Dirancanglah Operasi 17 Agustus untuk membungkam PRRI di Sumatra. Saat itu opini dunia yang digiring AS menunjukkan bahwa militer Indonesia itu memble dan bahkan mereka tak akan punya kekuatan untuk menumpas PRRI. Operasi 17 Agustus membungkam hal ini. Dengan didukung oleh (kemudian menjadi Laksamana) John Lie. Operasi ini dilakukan, untuk menunjang operasi maka perahu ponton yang dibuat dari drum-drum digelar. Pada hari H selain operasi Amfibi yang mendaratkan TNI-AD dan Marinir di Palembang membuat AS menelan ludah sendiri. Dengan buru-buru beberapa pasukan bayaran cepat-cepat minta perlindungan TNI dengan alasan mereka pegawai Caltex, seorang di antaranya hampir ditangkap LB Moerdani. Operasi cepat ini dengan segera menghabisi sisa-sisa PRRI, padahal kapal induk AS dari armada ke 7 sudah siap menggelar ops amfibi di Padang dengan tujuan melindungi warga dan aset AS di Caltex.

Jend A Yani juga bertanggung jawab dalam pengadaan alat sisa dari Sovyet dan Ceko, menurut Amelia Yani, Jend A Yani tidak menyukai senjata dari Polandia karena kalah halus sama punya Ceko. Senjata BTR, PT 76 dan MiG itu adalah hasil kerja A Yani

Marsekal Omar Dhani, perencana Dwikora. Sekalipun ia kemudian jadi tapol.Perannya tak sedikit dalam menghadapi Inggris. Begitu takutnya Inggris ama Indonesia, sampai mereka berencana untuk mengebom Indonesia.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama