Pentingnya Akhlak Malu bagi Seorang Muslim

Fikroh.com - Seorang muslim itu menjaga kesucian diri dan pemalu. Malu itu adalah akhlaknya. Betapa memprihatinkan, saat manusia tidak lagi memiliki rasa malu. Berbuat sesuka hati tanpa peduli akan perasaan orang lain yang melihat kelakuannya. Malu itu bagian dari iman, dan iman itu akidah seorang muslim dan pondasi hidupnya. Rasulullah bersabda: 

“Iman itu ada tujuh puluh cabang lebih atau enam puluh cabang lebih. yang paling tinggi adalah (kalimah tauhid) la ilaha illallah (tidak ada ilah yang diibadahi dengan hak kecuali Allah), dan yang paling rendah adalah menyingkirkan sesuatu yang mengganggujalan. dan malu itu merupakan cabang dari iman." (HR. Muslim, Bab Iman no. 58) 

“Malu dan iman itu dua hal yang saling berhubungan, apabila salah satunya diangkat maka yang lainnya pun diangkat.” (HR. Hakim dan disahihkan sesuai dengan syarat Muslim: 1/2 ) 

Kesamaan antara iman dan malu adalah sama-sama mengajak pada kebaikan dan menjauhi kejahatan. Iman itu mendorong orang mukmin untuk mengerjakan ibadah dan meninggalkan perbuatan maksiat. 

Sedangkan malu itu mencegah pelakunya dari malas bersyukur kepada Allah Yang Maha Pemberi kenikmatan, dan dari sikap meremehkan dari memenuhi hak kepada yang berhak. Apabila seorang muslim memiliki rasa malu, ia tidak akan berbuat jahat dan berkata buruk karena takut akan mendapat celaan. Malu itu tidak mendatangkan apapun kecuali kebaikan. Sebagaimana riwayat shahih dari Rasulullah, yang menyebutkan: 

“Malu itu tidak muncul kecuali dengan membawa kebaikan. ” (HR. Al-Bukhari: 8/35, dan Muslim, Bab Iman no. 60) 

Rasulullah bersabda dalam riwayat Muslim: 

“Malu itu baik semuanya.” 

Lawan dari sifat malu adalah sifat keji. Sifat keji adalah jorok dalam perkataan dan perbuatan, serta kasar dalam berbicara. Seorang muslim bukanlah orang yang jorok atau orang yang suka berkata jorok, dan bukan pula orang yang keras dan kasar. 

Sifat seperti itu adalah sifat-sifat penghuni neraka. Seorang muslim itu adalah penghuni surga, insya Allah. Hal ini seperti apa yang disabdakan oleh Rasulullah :

“Malu itu bagian dari iman, dan (ahli) iman itu masuk surga, dan sifat tidak malu itu bagian dari kekejian, dan (ahli) keji itu masuk neraka. ” (HR. Muslim Bab Iman no. 59, dan imam Ahmad: 912, 501) 

Teladan bagi seorang muslim dalam hal akhlak mulia ini adalah Rasulullah. Karena Rasulullah, jauh lebih pemalu daripada seorang gadis yang dipingit. Sebagaimana sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al Bukhari, dari Abu Sa'id yang berbunyi, “Apabila beliau melihat sesuatu yang ndak disukainya, kami mengetahuinya dari raut wajahnya.” 

Ketika seorang muslim mengajak untuk memelihara dan menumbuhkan akhlak malu pada diri manusia, sebenarnya dia sedang mengajak pada kebakan. Karena sifat malu itu bagian dari iman dan iman adalah pusat segala keutamaan dan pokok dari segala kebaikan. 

Dalam riwayat shahih, Rasulullah pemah melewati seorang laki-laki yang sedang menasihati saudaranya karena dia sangat pemalu, lalu beliau bersabda: 

“Biarkanlah dia, karena sifat malu itu bagian dari iman." (HR. Al-Bukhari: 1/12, 8/35, Abu Daud: 4795, dan An-Nasa'i: 8/121) 

Dengan demikian, beliau telah mengajak seorang muslim untuk tetap memiliki sifat malu dan melarang menghilangkannya, meskipun sifat malu menghalangi pelakunya untuk dapat memenuhi sebagian hak-haknya Karena hilangnya sebagian hak-hak seseorang itu lebih baik daripada kehilangan sifat malu yang merupakan bagian dari imannya. 

Semoga Allah merahmati seorang perempuan yang telah kehilangan anaknya, lalu dia berdiri di hadapan orang banyak sambil menanyakan mereka tentang anaknya, salah seorang dari mereka berkata, “Dia menanyakan tentang anaknya, sedangkan dia mengenakan kain tutup muka (cadar)." 

Perempuan itu mendengar perkataannya, lalu dia berkata, " sungguh, aku kehilangan anakku itu lebih baik daripada aku kehilangan sifat maluku wahai laki-laki!" (HR. Abu Daud: 2488). 

Akhlak malu pada seorang muslim itu bukan berarti melarangnya untuk mengatakan kebenaran, meminta ilmu, menyuruh pada kebaikan, dan melarang kemungkaran. 

Sebagai contoh, Usamah bin Zaid pernah memintakan syafaat untuk seseorang kepada Rasulullah Akan tetapi, sifat malu itu tidak mencegah Rasulullah untuk berkata kepada Usamah dengan nada marah:

“Apakah kamu hendak meminta pertolongan dalam salah satu pekkara hukuman qisas, wahai Usamah, demi Allah, seandainya sifulanah (dalam riwayat lain Fatimah putri Muhammad) itu terbukti mencuri pasti aku akan memotong tangannya.” (HR. Al-Bukhari: 4/213, Abu Daud 4373, dan At-Tirmidzi: 1430) 

Demikian juga, sifat malu itu tidak mencegah Ummu Sulaim Al-Anshariyah untuk bertanya, “Wahai Rasulullah! Seaungguhnya Allah tidak malu dengan kebenaran, apakah seorang perempuan itu wajib mandi apabila dia telah mimpi basah?”, Rasululah pun tidak malu untuk menjawab: 

“Ya, apabila dia melihat adanya cairan.” (HR. Al-Bukharl: 1/ 78, 4/160) 

Umar pernah mengisi khutbah satu kali, lalu beliau menyinggung tentang mahalnya mas kawin bagi seorang wanita. Kemudian ada seorang perempuan berkata kepada beliau, “Apakah Allah memberikan kepada kami, dan engkau mencegahnya, wahai Umar, bukankah Allah telah berfirman: 

“Sedang kamu telah memberikan kepada seseorang di antara mereka harta yang banyak, maka janganlah kamu mengambil kembali dari padanya barang sedikitpun” (An-Nisa' [4]: 20) 

Sifat malu perempuan itu tidak mencegahnya untuk membela hak seorang perempuan, dan juga tidak mencegah Umar untuk berkata dengan perasaan bersalah. 

Suatu ketika ada seseorang yang berkata pada Umar, “Semua orang lebih paham darimu, wahai Umar.” Sebagaimana beliau juga pernah mengisi khutbah satu kali di hadapan orang-orang muslim dan ketika itu beliau memakai dua baju dalam khutbah itu. 

Beliau menyuruh kepada jamaahnya untuk mendengar dan taat, tibatiba salah seorang dari mereka ada yang berkata, “Kami tidak akan mendengar dan tidak akan taat wahai Umar. Engkau memakai dua baju dan kami hanya memakai satu baju.” Lalu Umar memanggil dengan suara keras, “wahai Abdullah bin Umar!” Putra beliau menjawab, “Ya, Ayah." Lalu beliau berkata kepadanya,” Aku bersumpah kepada Allah, bukankah salah satu bajuku ini adalah bajumu yang kamu berikan kepadaku?” Putra beliau menjawab, “Ya benar, demi Allah." Lalu orang laki-laki itu berkata, “Sekarang, kami dengar dan kami taat, wahai Umar.” Perhatikanlah bagaimana sifat malu itu tidak mencegah orang itu untuk berkata, dan tidak pula mencegah Umar untuk memberikan pengakuan. Ketika seorang muslim mempunyai rasa malu, ia tidak akan membuka auratnya, tidak mengurangi hak yang diwajibkan kepadanya, tidak memungkiri 

kebaikan yang diberikan kepadanya, tidak memberikan pembicaraan yang buruk, dan tidak memberikan sesuatu yang tidak disukai. 

Demikian juga, dia merasa malu kepada Sang Khaliq. Karena itu, dia tidak bermalas-malasan dalam hal ibadah kepada-Nya dan dalam hal mensyukuri nikmat-Nya. Hal itu karena dia mengetahui akan kekuasaan-Nya dan pengetahuan-Nya tentang dirinya. 

Ibnu Mas'ud berkata: “Malulah kepada Allah dengan sebenar-benamya, jagalah kepala serta apa yang ada di dalamnya, dan perut serta isinya, dan ingat-ingatlah kematian dan bencana.”(Dikeluarkan oleh Ibnu Al-Mundziri secara marfu’ dan lebih menguatkan mauquf atas Ibnu Mas'ud) 

Rasulullah bersabda: 

Allah lebih berhak untuk dimalui daripada manusia (tutuplah auratmu sebagai ketaatan kepada-Nya dan mencari keridhaan-Nya).” (HR. Al-Bukhari [Abu Daud: 4017, dan At-Tirmidzi: 2794])

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama