Masjid Jogokariyan, Masjid Percontohan

Fikroh.com - Secara fungsional, Masjid tidak hanya sebagai tempat ibadah. Masjid adalah pusat aktivitas untuk membangun peradaban. Untuk mengembalikan fungsi dan peranan mesjid seperti pada masa keemasan islam tentunya sulit untuk diwujudkan 100% pada masa kini. Masjid multi fungsi yang pernah tercipta pada masa Rasullullah sekarang mulai pudar. Fungsi masjid pada masa Rasullullah SAW bukan hanya sekedar tempat penyaluran emosi religious semata ia telah dijadikan pusat aktifitas umat. Maka tidak heran jika kejayaan umat tercipta melalui masjid.

Masjid Jogokariyan kini menjadi tempat yang banyak diperbincangkan. Bahkan keberadaannya sudah banyak diketahui di banyak negara. Di samping memiliki fungsi utama sebagai kebanyakan tempat ibadah umat Islam, masjid Jogokariyan memiliki keistimewaan lain yang tidak dimiliki mayoritas masjid di Nusantara.

Seperti dimuat dari situs resmi Masjid Jogokariyan, ada beberapa program dan gagasan menarik yang dirancang oleh para pengurus. Dengan mengusung Visi terwujudnya masyarakat sejahtera lahir bathin yang diridhoi Allah melalui kegiatan kemasyarakatan yang berpusat di Masjid, kini Jogokariyan terus bergerak merealisasikannya. Apa saja program unggulan masjid Jogokariyan? Berikut uraiannya.

1. Menjadikan masjid sebagai pusat ibadah berjamaah terutama sholat 5 waktu. Di masjid Jogokaryan, umat Islam yang ada di wilayah pelayanan masjid diberi undangan untuk sholat Subuh berjamaah disertai nama penceramah dan hidangan yang disediakan serta teks tentang fadilah sholat subuh berjamaah. Undangannya dibuat bagus seperti undangan resepsi pernikahan dan spesial.

2. Pemetaan wilayah pelayanan masjid dan database umat. masjid Jogokaryan memiliki database warga dan peta dakwah detail. Dalam peta itu juga tercantum warna-warna dan ikon-ikon. Warna hijau berarti sangat mendukung dakwah, hijau muda berarti cukup mendukung dakwah, warna kuning berarti netral terhadap dakwah, warna merah berarti penentang dakwah. Ikon ka’bah berarti pernah berhaji, unta berarti sudah ber-Qurban, koin berarti sudah berzakat, dsb. Ada data siapa yang sudah sholat dan belum sholat, yang aktif di masjid dan yang tidak aktif. Ada analisis potensi dan kebutuhan, analisis peluang dan tantangan, analisis kekuatan dan kelemahan serta sensus tahunan untuk wilayah pelayanan masjid


3. Dana masjid diusahakan optimal penggunaannya dan tidak menumpuk karena jamaah lebih suka infaq mereka digunakan. Tidak masalah jika diinfokan, dana masjid porsinya untuk kesejahteraan para ta'mir atau petugas Masjid yang diangkat untuk memenuhi jobdesk nya dan ada "Key performance Index" untuk mengukur kinerja petugas supaya lebih bertanggungjawab


4. Untuk mensiasati Fiqh yang ketat soal pemakaian dana masjid di luar , bisa dibuatkan pos-pos peruntukan berbeda yang diinfokan ke jamaah. Misalnya Pos penerimaan Zakat, Pos Infaq khusus fisik dan operasional masjid, infaq khusus petugas masjid, infaq khusus pemberdayaan, infaq beasiswa, infaq khusus syiar, tabungan kurban, infaq khusus donasi bencana atau luar negeri, pos penerimaan . Jika memang dirasa sulit, masjid membuat unit usaha yang dananya kembali ke jamaah


5. Ada informasi untuk jamaah tentang kebutuhan masjid tahunan, biaya per tahun dibagi 52 didapat biaya per minggu. Biaya per minggu dibagi biaya per kapita jamaah. Diinfokan bahwa kebutuhannya per pekan demikian. Kemudian ada informasi jamaah mandiri, jamaah pensubsidi, maupun jamaah tersubsidi. Di masjid Jogokaryan banyak jamaah yang komitmen donasi karena ada yang malu apabila ibadah disubsidi


6. Muballigh datang ke rumah, rutin berkunjung ala jamaah tabligh mengajak ke masjid. Di masjid jogokaryan muballigh datang memberi hadiah perlengkapan sholat, warga yang didatangi biasanya malu dan akhirnya mau belajar sholat dan mau ke masjid


7. Masjid ramah wanita, terpisahnya toilet, kamar mandi, tempat wudhu dan tertutup agar wanita terjaga auratnya. Ada pula tempat khusus menyusui bahkan kids corner yang ada penjaganya sehingga sang ibu bisa tenang beribadah


8. Ada presensi untuk jamaah masjid. Di masjid jogokaryan presensi menggunakan sidik jari. Terdata siapa yang rajin sholat lima waktu berjamaah disana. Secara diam-diam ada reward Umroh bagi yang terpilih.


9. Masjid ramah anak-anak dan remaja. Di lingkungan masjid Jogokaryan ada karambol, pingpong, sandsack, domino, bahkan disediakan teh panas dan gorengan. Anak-anak senang bermain disana sehingga bermain pun tidak lupa waktu sholat. Disediakan serambi untuk anak-anak jika dirasa bergabung dengan orangtua mengganggu jamaah. Penting agar anak-anak tidak trauma ke masjid karena dimarahi dan dibentak.

10. Ada tempat berdonasi dalam bentuk fisik bagi jamaah masjid seperti di masjid nabawi zaman Rasulullah. Misalnya kelebihan tepung atau sayur-sayuran bisa menyumbangkan di masjid, sedangkan bagi yang memerlukan bisa mengambilnya kesana

Oleh: Muhammad R. Ridho

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama