Konsep Hakim dalam Hukum Islam


Fikroh.com - Hakim atau dikenal juga dengan istilah Qadhi masuk dalam ranah mu'amalah. Qadhi merupakan isim fa'il dari kata qadha-yaqdhi. Qadha' secara istilah fikih adalah penjelasan tentang hukum-hukum syariat dan pelaksanaannya. Maka Qadhi adalah seorang hakim yang secara yurisdiksi berhak memerintah menurut hukum-hukum syariat dalam menyelesaikan perselisihan antara dua belah pihak dan bertindak sebagai pimpinan.

 A. Hukum Qadha' dalam Islam

Qadha' adalah termasuk salah satu dari fardhu kifayah, maka menjadi kewajiban atas seorang imam (penguasa) di setiap negara dan wilayah untuk mengangkat seorang hakim di wilayah kekuasaannya sebagai wakil baginya di dalam menjelaskan hukum-hukum syariat dan mewajibkan bagi rakyatnya untuk mentaatinya. Sebagaimana sabda Rasulullah:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : لَا يَحِلُّ لِثَلَاثَةٍ يَكُوْنُوْنَ بِفَلَاةٍ مِنَ الْأَرْضِ إِلَّا أَمَّرُوْا عَلَيْهِمْ أَحَدَهُمْ (رواه أحمد، صحيح لغيره)

“Tidaklah halal bagi tiga orang yang tinggal di satu wilayah dari belahan bumi, melainkan mereka mengangkat salah seorang di antara mereka menjadi pemimpinnya” (HR. Imam Ahmad: 1/181, 203, dan Abu Daud: 3589) 

B. Pentingnya Jabatan Qadha' 

Jabatan qadha' adalah sesuatu jabatan yang sangat penting dan sangat besar tanggung jawabnya, karena kedudukannya sebagai wakil dari Allah dan khalifah Rasulullah sehingga Rasulullah pun memperingatkan akan pentingnya kedudukan hakim. Beliau bersabda:

من جعل قاضيا فقد ذبح بغير سكين

“Barangsiapa yang diangkat menjadi qhadhi (hakim) diantara manusia, maka sungguh dia telah di sembelih tanpa menggunakan pisau.” (HR. Imam Ahmad: 2/212, dan Ibnu Majah: 2313) Dalam hadits yang lain Rasulullah, bersabda: 

القضاة ثلاثةٌ قاضيانِ في النارِ وقاضٍ في الجنةِ فأما الذي في الجنةِ فرجلٌ عرفَ الحقّ فقضَى بهِ فهو فِي الجنةِ ورجلٌ عرفَ الحقَ فلم يقضِ به وجارَ في الحُكمِ فهو في النارِ ورجل لم يَعرِفِ الحق فقضَى للناسِ على جهلٍ فهو للنارِ

“Qadhi (hakim) ada tiga golongan: satu kelompok akan dimasukkan ke surga, dan dua kelompok akan dimasukkan ke neraka. Adapun qadhi yang masuk surga ialah qadhi yang mengetahui kebenaran dan memutuskan kebenaran tersebut, sedangkan qadhi yang mengetahui kebenaran dan dia bertindak lalim dalam menetapkan hukum, maka ia akan dimasukkan ke neraka, dan juga qadhi yang memutuskan perkara manusia dengan kebodohannya, maka ia berada di dalam neraka” (HR. Abu Daud: 10, dalam Al-kharaj, dan Al-Hékim: 1/23)

Dan Rasulullah : bersabda kepada Abdurrahman : 

يَا عَبدَالرَّحمن بن سمُرَةَ، لا تَسْأَل الإمارَةَ؛ فَإنَّكَ إن أُعْطِيتَها عَن غَيْرِ مسأَلَةٍ أُعِنْتَ علَيها، وَإنْ أُعْطِيتَها عَن مسأَلةٍ وُكِلْتَ إلَيْها

“Wahai Abdurrahman bin Samurah, janganlah kamu meminta jabatan karena sesungguhnya jika kamu diberikan jabatan tersebut tanpa memintanya, maka kamu ditolong olehnya, dan jika kamu diberikan jabatan dengan memintanya, kamu telah membebani diri dengannya.” (HR. Al-Bukhéri: 8/159, Muslim: 13, Abu Daud: 2929, At-Tirmidzi: 1529, dan Imam Ahmad: 5/62)

تَحْرِصُونَ عَلَى الإِمَارَةِ، وَسَتَكُونُ نَدَامَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ، فَنِعْمَ الْمُرْضِعَةُ وَبِئْسَتِ الْفَاطِمَةُ ‏"‏‏.‏

“Suatu saat mereka akan rakus (berlomba-lomba) akan memperoleh jabatan dan akan menjadi penyesalan pada hari kiamat, alangkah bahagianya ketika masa hidup mereka, dan alangkah buruknya setelah kematian mereka.” (HR. Al-Bukhari: 9/79) 

C. Jabatan Qadhi tidak Diberikan kepada Orang yang Memintanya 

Jabatan qadhi tidak selayaknya diberikan kepada orang yang memintanya atau kepada orang yang benar-benar (ambisius) untuk menjabatnya, karena jabatan qadhi memiliki tanggung jawab yang besar, dan merupakan amanah yang besar, sehingga tidak ada orang yang memintanya kecuali orang yang merendahkan keberadaannya atau meremehkannya, yang menghianatinya, dan menyia-nyiakannya. Yang akhirnya akan menimbulkan kerusakan bagi agama, negara, dan masyarakat. Rasulullah bersabda: 

“Demi Allah, sesungguhnya kami tidak akan memberikan jabatan ini kepada seseorang yang memintanya, atau seseorang yang berambisi mendapatkannya.” (HR. Al-Al-Bukhari: 7, dalam kitab Al-Ahkam, dan Muslim: 14, dalam kitab Al-Imarah) Rasulullah bersabda: 

“Sesungguhnya kami tidak akan pernah mempekerjakan orang yang menginginkan jabatan kami ini.” (HR. Al-Bukhari: 2/789, Muslim: 3/1456) 

D. Syarat menjadi Hakim

Seseorang tidak berhak menjabat sebagai seorang qadhi kecuali orang yang memenuhi syarat-syarat sebagai berikut: Islam, berakal, baligh, merdeka, memahami Al-Qur'an dan As-Sunnah, mengetahui kaidah dalam menentukan hukum, adil, dan bisa mendengar, bisa bicara, dan bisa melihat. 

E. Adab-adab Seorang Hakim

Seorang qadhi harus senantiasa memiliki adab-adab sebagai berikut: 

  1. Seorang qadhi harus tegas tapi tidak kejam, lembut-lembut tapi tidak karena lemah, sehingga tidak dimanfaatkan orang yang zhalim, dan agar tidak menjadikan orang yang punya hak merasa takut. 
  2. Harus memiliki sifat murah hati bukan menghinakan diri, sehingga musuh tidak berani memanfaatkannya. 
  3. Memiliki kesabaran dan pertimbangan yang kuat sehingga tidak menunda dan mengabaikan setiap masalah. 
  4. Memiliki kecerdasan dan pandangan yang luas dengan tidak menjadi sombong, dan tidak merendahkan yang lain. 
  5. Hendaknya kantor (tempat kerjanya) terletak di pusat kota dan luas sehingga bisa menampung semua pihak yang berperkara dan para saksi. 
  6. Senantiasa berlaku adil terhadap pihak yang bertikai, dalam memperhatikan, memandang, menentukan tempat duduk, dan masuknya, dan tidak boleh mengutamakan salah satu pihak yang beperkara. 
  7. Hendaknya majlisnya di hadiri para fuqaha' (ahli fiqih), dan orang-orang yang memahami Al-Qur'an (ahli tafsir), dan As-Sunnah (ahli hadits), dan hendaknya bermusyawarah dengan mereka dalam masalah yang sulit baginya. 

F. Hal-hal yang Harus Dijauhi oleh Qadhi 

Seorang qadhi harus menjauhi hal-hal sebagai berikuit: 

1. Menetapkan hukum dalam keadaan marah, atau dalam keadaan sakit, atau keadaan lapar, haus, panas, dingin, merasa bosan, atau merasa malas. 

Sebagaimana sabda Rasulullah: 

“janganlah seorang hakim memutuskan perkara diantara dua orang (yang bersengketa) sedangkan dia dalam keadaan marah.” (HR. Imam Ahmad: 2/ 177) 

2. Memutuskan perkara tanpa dihadiri para saksi. 

3. Memutuskan perkara dengan sekehendak sendiri, atau untuk orang yang tidak diterima kesaksiannya bagi mereka seperti anak, ayah, dan istri. 

4. Menerima uang suap dalam memutuskan hukum, sebagaimana sabda Rasulullah: 

“Laknat Allah terhadap penyuap dan penerima suap dalam menetapkan hukum” (Musnad Imam Ahmad: 2/ 177, 388) 

5. Menerima hadiah dari orang yang belum pernah memberikan hadiah padanya sebelum dia diangkat menjadi qadhi, (gratifikasi) sebagaimana sabda Rasulullah,: 

“Barang siapa yang kami angkat untuk satu pekerjaan, kemudian dia kami beri rezeki (gaji), maka sesuatu yang didapatkannya setelah itu adalah sebuah Penghianatan.” (HR. Abu Daud: 3573, dan Ibnu Majah: 2315) 

G. Otoritas Seorang Qadhi 

Wilayah kekuasaan (Otoritas) seorang qadhi mencakup wilayah-wilayah tertentu dalam menetapkan hukum, sebagai berikut: 

  1. Memutuskan perkara dari dua belah pihak yang bersengketa, dengan hukum yang tepat dan efektif, atau dengan memberikan jalan damai yang diridhai kedua belah pihak, jika bukti yang disampaikan saling berlawanan atau alasan yang dikemukakan lemah. 
  2. Menundukkan kezhaliman dan kebathilan, dan menolong orang yang benar dan yang dizhalimi, memberikan hak kepada orang yang berhak menerimanya. 
  3. Menegakkan had dan hukuman dalam perkara pembunuhan dan perkara yang menimbulkan luka-luka. 
  4. Menangani pernikahan, talak, nafkah, dan lain sebagainya. 
  5. Menangani pengelolaan harta orang-orang yang belum dewasa, dari kalangan anak yatim, orang gila, orang hilang, dan orang yang mendapatkan hukuman al-hajr. 
  6. Memiliki pandangan dalam kemaslahatan umum di dalam negeri wilayah kerjanya dari berbagai jalan-jalan dan sarana-sarana umum dan lain sebagainya. 
  7. Senantiasa mengajak kepada kebaikan (amar ma'ruf) dan mendorong manusia untuk melaksanakannya, kemudian mencegah dari kemungkaran dan berusaha merubah dan menghilangkannya dari wilayah tersebut. 
  8. Menjadi imam untuk shalat Jum'at dan shalat hari raya ('Ied).

Itulah penjelasan tentang hakim atau qadhi dalam pandangan islam. Semoga kita dikaruniai para hakim yang adil bijaksana dalam memutuskan hukum. Hakim yang hanya berpihak pada kebenaran dan keadilan sesuia syariat.

Ref. : Kitab Minhajul Muslim, Syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama