Bolehkah Menggunakan Sabun untuk Membersihkan Najis Anjing dan Babi?

Fikroh.com - Pertanyaan mendasar dalam masalah bab thaharah adalah apakah boleh menggunakan sabun sebagai ganti debu / tanah untuk menghilangkan najis babi dan anjing?

Pertama-tama perlu kita ketahui hukum najisnya anjing menurut syariat. Sesungguhnya  kenajisan anjing dinyatakan dalam hadits berikut.

((طَهُوْرُ إِنَاءِ أَحَدِكُمْ إِذَا وَلَغَ فِيْهِ الكَلْبُ أَنْ يَغْسِلَهُ سَبْعَ مَرَّاتٍ، أُولَاهُنَّ بِالتُّرَابِ))

“Sucinya bejana salah seorang diantara kalian -jika anjing menjilatnya- yakni dengan cara dia mencuci bejana nya sebanyak tujuh kali cucian, diawali dengan tanah”. (HR. Muslim [3/183])

Ucapan Rasulullaah : “Sucinya bejana kalian...” menunjukkan bahwa bejana tersebut dalam keadaan najis [bekas jilatan anjing]. Seandainya tidak najis, maka tidak akan dikatakan demikian karena hukum asal sesuatu itu tetap pada asalnya, jika tidak ada faktor lain yang mengubah keadaannya [ibqaa maa kaana 'alaa maa kaana]. Jilatan anjing tersebut mengubah status bejana dari asalnya suci, menjadi bernajis.

Di hadits lain disebutkan perintah untuk membuang air dalam wadah bekas jilatan anjing.

إِذَا وَلَغَ الكَلْبُ فِيْ إِنَاءِ أَحَدِكُمْ فَلْيُرِقْهُ ثُمَّ لِيَغْسِلْهُ سَبْعَ مِرَارٍ

“Jika anjing menjilat wadah berisi air milik salah seorang di antara kalian, maka buanglah air tersebut dan cucilah wadah tersebut sebanyak tujuh kali”. (HR. Muslim No. 279)

Al-Imam An-Nawawi berkata :

فَفِيْهِ دَلَالَةٌ ظَاهِرَةٌ لِمَذْهَبِ الشَّافِعِيْ وَغَيْرِهِ رَضِيَ الله عَنْهُ مِمَّنْ يَقُوْلُ بِنَجَاسَةِ الكَلْبِ لِأَنَّ الطَّهَارَةَ تَكُوْنُ عَنْ حَدَثٍ أَوْ نَجَسٍ وَلَيْسَ هُنَا حَدَثٌ فَتَعَيَّنَ النَّجَسُ فَإِنْ قِيْلَ المُرَادُ الطَّهَارَةُ اللُّغَوِيَّةُ فَالجَوَابُ أَنَّ حَمْلَ اللَّفْظِ عَلَى حَقِيقَتِهِ الشَّرْعِيَّةِ مُقَدَّمٌ عَلَى اللُّغَوِيَّةِ وَفِيْهِ أَيْضًا نَجَاسَةُ مَا وَلَغَ فِيْهِ وَأَنَّهُ إِنْ كَانَ طَعَامًا مَائِعًا حَرُمَ أَكْلُهُ لِأَنَّ إِرَاقَتَهُ إِضَاعَةٌ لَهُ فَلَوْ كَانَ طَاهِرًا لَمْ يَأْمُرْنَا بِإِرَاقَتِهِ بَلْ قَدْ نُهِيْنَا عَنْ إِضَاعَةِ المَالِ وَهَذَا مَذْهَبُنَا

“Dan di dalamnya [hadits tentang penyucian bejana yang dijilat anjing] terdapat dalalah/petunjuk yang terang bagi madzhab Syafi'I dan selainnya radhiyallaahu 'anhu, yang berpandangan bahwa anjing itu najis.

Sebab, kesucian itu bisa diraih dengan menghilangkan hadats atau najis. Dan tidak ada dalam hadits tersebut tentang hadats. Maka, [kesucian] yang dimaksud adalah dari najis.

Jika dikatakan bahwa kesucian itu maknanya adalah kesucian secara bahasa [sebatas bersih karena dianggap jilatan anjing itu kotor, bukan najis], maka jawabannya : bahwa membawa makna lafadz yang sesuai dengan maksud syara' nya lebih di dahulukan ketimbang membawa makna lafadz pada sisi bahasa.

Di dalam hadits tersebut juga terdapat petunjuk bahwa apa yang dijilatnya menjadi najis. Seandainya yang dijilat anjing berupa makanan encer, maka makanan tersebut haram untuk di makan. Kemudian [kita tahu] bahwa tindakan membuang makanan encer tersebut adalah bagian dari menyia-nyiakan nikmat, karena itu seandainya makanan tersebut suci, tidak akan diperintahkan untuk dibuang, sebab Rasulullah melarang menyia-nyiakan harta/nikmat. Inilah pendapat kami/madzhab Syafi'I”. (Syarh Shahih Muslim, 3/184)

Najis anjing termasuk ke dalam najis berat [najaasah mughalladzah], sama seperti babi. (Al-Mu'tamad fi Al-Fiqh As-Syafi'I, 1/46)

Pendapat kenajisan anjing juga merupakan pendapat madzhab Hanbali.

فصل : ولا يختلف المذهب، في نجاسة الكلب والخنزير، وما تولد منهم

“Pasal : Dan pendapat madzhab tidak ada perselisihan, tentang kenajisan anjing dan babi, serta peranakan dari keduanya”. (Al-Kafi fi Fiqh Al-Imam Ahmad, 1/159)

Kemudian pertanyaannya, apakah seluruh badan anjing najis?

Ada beberapa pendapat. Madzhab Hanafi berpendapat bahwa kenajisan anjing hanya pada air liurnya dan segala hal menyangkut cairan tubuhnya [keringat, dsb] jika anjing tersebut masih hidup, dan jika dalam keadaan mati maka seluruh tubuhnya najis.

Madzhab Maliki berpendapat bahwa anjing menjadi najis jika telah mati. Adapun jika hidup, maka tidak najis termasuk air liurnya. Tapi tetap dibasuh apa-apa yang dijilat anjing sebanyak tujuh kali meski tidak wajib tujuh kali dan tidak perlu menggunakan tanah.

Sedangkan madzhab Hanbali dan Syafi'I, berpandangan bahwa anjing merupakan najis secara 'ain [dzat nya], termasuk bulu-bulu nya. Baik keadaan hidup atau mati. (Al-Jaziri, Al-Fiqh 'Ala Al-Madzahib Al-Arba'ah, 1/13-14; Al-Mausu'ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah, 35/129-130)

Guru-guru kami mengatakan bahwa mulut anjing adalah bagian terbersih dari anjing. Oleh karena itu badan dan bulu anjing lebih-lebih lagi kenajisannya [Qiyas Awlawi].

Kita juga mengetahui bahwa air liur berasal dari mulut dan dalam perut. Dan bagian dalam perut adalah asal dari daging, darah, kulit, dsb. Otomatis cabang dari benda najis 'ain adalah najis juga.

Cara membersihkan najis anjing pun terdapat ikhtilaf. Semuanya bermuara pada riwayat-riwayat hadits berkenaan dengan masalah tersebut yang memiliki beragam redaksi.

Al-Imam As-Syaukani memberi rincian :

“Hadits Nabi [pertama-tama dibersihkan dengan tanah/debu] menurut lafadz hadits Tirmidzi dan Al-Bazzar dengan redaksi “pertama-tama atau yang terakhir dengan tanah”, sedangkan lafadz hadits riwayat Imam Abu Dawud “yang ketujuh dengan tanah”, dan di dalam riwayat shahih dari Syafi'I “pertama-tama atau terakhir dengan tanah”. Hadits yang sama dengan redaksi riwayat As-Syafi’I adalah hadits menurut riwayat Abu Ubaid Al-Qasim Ibn Salam di dalam kitab At-Tahuur.

Kemudian teks hadits [Jika anjing menjilat bejana salah seorang di antara kalian maka ia dibasuh dengan tujuh kali basuhan, yang pertama atau salah satunya dengan tanah], dalam riwayat Ad-Daraquthni disebutkan, “salah satu nya dengan tanah”. Sanadnya dha'if. Di dalam nya ada perawi bernama Al-Jarud Ibn Yazid, dan ia berstatus matruk.

Sedangkan di dalam riwayat Abdullah Ibn Mughaffal yang terdapat di hadits [pertama] bab [di kitab Al-Muntaqa] ini : “lumurilah yang ke delapan dengan tanah”, riwayat ini lebih shahih ketimbang riwayat yang menyebut “salah satunya dengan tanah”. (Nailul Authar, 1/55)

Walhasil, banyak riwayat menyebut tujuh kali, dengan diawali/diakhiri/salah satunya dengan tanah. Ada juga riwayat yang menyebut, “yang kedelapan kali dengan tanah”.

Madzhab Syafi'i kemudian menggabungkan berbagai riwayat, dan menyimpulkan bahwa penyucian daripada najis anjing di lakukan dengan tujuh kali basuhan, dan salah satu basuhan dicampur dengan tanah. Itu berarti mengakomodir pendapat yang mengatakan basuhan sebanyak tujuh kali basuhan, ditambah dengan tanah di ke delapan kali. Madzhab Syafi'I berpendapat tanah dicampur dengan air. Tidak terpisah.

Ibarot kitabnya :

مَسْأَلَةٌ: فَإِنْ وَلَغَ فِي الإِنَاءِ كَلْبٌ أَيَّ إنَاءٍ كَانَ وَأَيَّ كَلْبٍ كَانَ كَلْبَ صَيْدٍ أَوْ غَيْرَهُ, صَغِيرًا أَوْ كَبِيرًا فَالْفَرْضُ إهْرَاقُ مَا فِي ذَلِكَ الإِنَاءِ كَائِنًا مَا كَانَ ثُمَّ يُغْسَلُ بِالْمَاءِ سَبْعَ مَرَّاتٍ, وَلاَ بُدَّ أُولاَهُنَّ بِالتُّرَابِ مَعَ الْمَاءِ, وَلاَ بُدَّ, وَذَلِكَ الْمَاءُ الَّذِي يُطَهَّرُ بِهِ الإِنَاءُ طَاهِرٌ حَلاَلٌ

“Masalah: jika seekor anjing–anjing mana pun baik anjing pemburu maupun yang lain, baik besar maupun kecil–menjilat di dalam sebuah bejana jenis apa pun, maka wajib membuang seluruh isi bejana tersebut, lalu membasuhnya sebanyak tujuh kali. Dan tidak boleh tidak, diawali dengan debu bersama air. Tidak boleh tidak bahwa air yang dipakai untuk membasuh adalah air yang suci dan halal”. (Jalaluddin Al-Mahalli, Kanzur Raghibin fi Minhajit Thalibin, 1/109)

Tujuh kali basuhan dengan salah satunya dicampur tanah/debu.

Kemudian terkait pertanyaan : Apakah boleh, penyucian najis anjing/babi ini digantikan dengan sabun [dan tidak menggunakan tanah]?

وهل يقوم الصابون والأشنان مقام التراب؟ فيه أقوال:

أحدها : نعم كما يقوم غير الحجر مقامه في الإستنجاء، وكما يقوم غير الشب والقرظ في الدباغ مقامه، وهذا ما صححه النووي في كتابه رؤوس المسائل. والأظهر في الرافعي والروضة وشرح المهذب : أنه لا يقوم، لأنها طهارة متعلقة بالتراب فلا يقوم غيره مقامه كالتيمم.

والقول الثاني : إن وجد التراب لم يقم، وإلا قام. وقيل : يقوم فيما يفسده التراب كالثياب دون الأواني. وشرط التراب أن يكون طاهرا فلا يكفي النجس على الراجح كالتيمم.

“Apakah sabun dan kayu penghilang kotoran itu bisa menduduki posisi tanah/debu? Di sini terdapat beberapa pendapat.

Salah satu nya : Ya, bisa sebagaimana selain batu bisa digunakan untuk cebok/istinja. Dan sebagaimana tawas dan daun penghilang kotoran bisa digantikan yang lain di dalam penyamakan/dibagh. Ini adalah pendapat yang dibenarkan oleh An-Nawawi di dalam kitabnya Ru-us Al-Masa'il.

Dan yang adzhar [nampak penisbatannya] bagi pendapat Ar-Rafi'i dan di dalam Ar-Raudhah serta Syarh Al-Muhadzdzab : Hal tersebut tidak dapat menggantikan tanah/debu. Sebab penyucian najis itu terkait langsung dengan tanah [sesuai lafadz hadits], maka tidak bisa digantikan yang lain sebagaimana kedudukan tanah dalam tayammum yang tidak bisa diganti.

Pendapat kedua : selama masih ada tanah tidak bisa digantikan apa pun. Namun apabila tidak ada tanah, boleh. Dikatakan : selain tanah boleh digunakan asalkan seumpama memakai tanah bisa merusak objek seperti pakaian. Berbeda dengan bejana [maka tanah tidak bisa digantikan sama sekali]. Dan syarat bagi tanah yang digunakan adalah suci, maka tidak memenuhi syarat jika tanah tersebut najis menurut pendapat terkuat, sebagaimana tayammum”. (Taqiyuddin Al-Hishni, Kifayatul Akhyar, hal. 75. Fashl fi Bayan An-Najasat wa Izalatiha)

Pendapat mu'tamad dalam madzhab Syafi'I [terbukti dengan lafadz “adzhar” bagi pendapat Rafi'I dan Nawawi] dan yang terkuat adalah tetap menggunakan tanah/debu. Tidak boleh menggunakan sabun, kecuali jika memang kondisi nya darurat yang tidak memungkinkan untuk menggunakan tanah/debu.

Para ulama mengatakan bahwa perintah untuk mencuci bekas jilatan anjing dengan tujuh kali dan salah satunya dicampur tanah, merupakan taghlidz [pemberat] dari syari'at agar ummat Islam tidak dekat-dekat dengan anjing. Kebutuhan akan anjing sama sekali tidak mendesak, kecuali untuk zaman sekarang dijadikan alat mengendus dan mencium benda-benda yang menjadi objek pencarian aparat keamanan. Tidak layak ada di dalam rumah muslim hewan peliharaan anjing. Wallaahul musta'an.

Penulis: Muhammad Rivaldy

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama